Agro Wisata Tamansuruh Banyuwangi in New Normal

Agro Wisata Tamansuruh berada di Dusun Wonosari, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Glagah. Kawasan seluas sekitar 10,6 hektare ini berada di lereng Pegunungan Ijen. Pada awalnya, kabupaten yang menggenjot perekonomian dengan pariwisata ini melakukan event tahunan Expo hasil pertanian di Banyuwangi Kota. Berhubung animo pengunjung yang tinggi, maka lokasinya dipindahkan ke Desa Tamansuruh. Jadi kita tidak perlu menunggu satu tahun sekali untuk melihatnya.

*******

Ok baiklah dimulai aja ceritanya.

Pada awalnya, eh maaf revisi. Soalnya ini adalah cerita mendekati dari akhir perjalanan. Dibilang awal juga keliru, dibilang akhir juga bukan. Gimana cara mulainya ya?

Ah sudahlah, langsung ke ceritanya aja deh. Bingung juga pemilihan katanya.

Kami ke sini untuk akhir perjalanan seharian bersama teman-teman kos. Kami rombongan berlima yang terdiri dari 2 orang yang sudah bekerja (Alfian dan aku), dan 3 anak mahasiswa. Sepulang dari keliling Pegunungan Ijen.

Mana aja coba?

Hmm. Kawah Wurung, Blawan, Jampit, dan Air Terjun Kalipait.

Nah sepulangnya kita sudah turun dan berada di Desa Jambu, Kecamatan Licin. Seorang teman, Alfian bertanya kepadaku.

Ada tempat wisata apalagi yang sejalan pulang?

Kebetulan daerah Licin dan Glagah adalah daerah kelilingku untuk mencari nafkah. Wilih bahasanya ketinggian kalik, daerah kerja gitu aja loh! Upsss!

Bingung juga merekomendasikan suatu tempat meskipun setiap harinya keliling di sana. Wisata Kalibendo belum buka, Air Terjun Lider masih ditutup.

Muncullah ide untuk ke Agro Wisata Tamansuruh. Walaupun belum yakin, tapi sehari sebelumnya sudah baca dari beberapa akun social media sudah buka. Kebetulan juga salah satu pelangganku yang mengerjakan beberapa rumah joglo untuk agrowisata itu, pernah bilang kalau sudah dibuka.

Aku sih belum pernah kesana. Okelah kita ke sana aja!

Kami memasuki gerbang masuk yang sekaligus parkiran untuk pengunjung. Wait wait cek duit di dalam dompet dulu dong. Hmm hanya ada 24 ribu rupiah aja. Oh cukup. Lanjut aja sudah!

Sebagai tempat wisata yang baru dibuka dengan konsep New Normal, pengunjung diwajibkan untuk memakai masker. Cuci tangan sebelum masuk. Petugas agrowisata juga sudah memenuhi standar keamanan, mereka memakai faceshield. Salah seorang mendatangiku untuk menarik tiket masuk seharga 20 ribu rupiah per orang. Oh aman, uang masih sisa 5 ribu rupiah. Segera kumasukkan dompet ke dalam tas. Motor dinyalain dan segera bergegas ke tempat parkir.

Eh ladalah, petugasnya mendatangiku lagi. Mas, parkir motornya 3 ribu. Hekkk!!! Ya terpaksa mengeluarkan dompet dari tas. Dua lembar terakhir 2 ribuan berubah wujud menjadi 1 koin seribu haaii!! Semua tiket langsung dicetak dengan menggunakan printer portable yang terkoneksi dengan Bluetooth, jadi mudah dan cepat untuk masuk.

Eit-eit gimana dengan kondisi 3 anak mahasiswa ya? Moga-moga aja kalau uangnya gak cukup, ya bilang aja deh. Biar batal sekalian, jadi kan aku gak beban moral ngajakin mereka ke sini. Eh tapi ternyata mereka punya uang lebih yang juga uang terakhir mereka di dompet. Fiuuhh!!!

Jangan bersenang hati dulu meskipun sudah memegang tiket. Untuk memasuki kawasan agro tersebut kita harus melewati pos untuk pengukuran suhu badan dengan menggunakan termo gun. Setelah melewatinya, kita bisa bebas masuk ke dalam kawasan agrowisata.

Baliho himbauan
Tempat cuci tangan sebelum masuk dengan bentuk yang unik

Di agrowisata ini banyak sekali spot-spot selfie yang dapat memanjakan feed para Instagramers untuk mencari follower dan fakir like. Secara garis besar ada 2 (dua) zona di sini, yaitu zona pertanian dan zona peternakan.

Setelah lolos pemantauan dari para petugas, kami memasuki awal dari agrowisata ini. Kami disambut oleh bidadari-bidadari yang cantik. Teeettt!!! Itu adalah pikiran liar kami yang dikuasai oleh dehidrasi setelah seharian melakukan perjalanan. Berhenti sejenak merupakan sebuah solusi. Ada sebuah joglo di depan kami dengan tanaman yang ditata bagus. Rupa-rupanya joglo ini untuk beristirahat sejenak.

Joglo pertama

Zona pertanian, kelihatannya sih seperti tanaman pertanian biasa tapi penataannya yang rapi dan rumit membuatnya menjadi lebih indah. Seakan mengingatku saat masa-masa di bangku SMA yang di dalamnya ada ektrakurikuler pertamanan.

Kamu dulu ikut ekskul pertamanan Ron?

Kagak! Dulu pernah bercanda dengan teman sih, kejar-kejaran dan dorong-dorongan hingga jatuh di tanaman yang sudah ditata rapi. Eh apesnya, waktu jatuh ketahuan sama guru yang mengajar pertamanan. Bangkitlah aura super saiya Dragon Ball di dalam diri guru tersebut dan datang memarahi kami hingga bikin kegaduhan ke seluruh sekolah. Hahahaha!!!

Terus apa yang kamu ingat dari ekskul itu? Tanamannya yang tertata rapi yang indah juga?!

Kagak juga sih! Apa ya yang diinget? Hmm.. Waktu ekskul itu sih pesertanya cantik-cantik yang takut hitam kepanasan kalau ikut ekskul lain yang rata-rata adalah olahraga.

Stop! Stop! Stop! Kembali ke cerita semula Ron!!!

Kami sangat antusias untuk mencoba beberapa spot selfie. Untuk selfie-selfiean pastinya?! Bukan lah! Untuk istirahat berteduh pastinya! Maklum lah kami berada di sana tepat pukul 2 siang dimana matahari masih tersenyum manis menggigit kulit kami.

Untuk menuju ke zona peternakan, kami harus turun dari zona pertanian lalu naik ke zona perternakan. Air minum sudah habis, beruntungnya kita bisa melihat hewan-hewan yang manis di tempat yang teduh. Ya skalian aja mengatur ritme napas dan menghilangkan rasa haus.

Perlahan-lahan kami melangkah mengelilingi kawasan ini, ada sebuah panggung yang sedang dibangun. Aku duga panggung itu nantinya akan dipakai untuk pementasan kesenian tapi entah kapan. Panggungnya aja belum jadi, dan pandemic juga belum berakhir. Kan masih belum dibolehkan untuk keramaian.

Rasa haus sudah mulai datang tapi matahari sudah mulai meredup sinarnya. Eh kok di sebuah joglo, ada seorang pelanggan yang menyapaku. Namun aku lupa, dia pelangganku di daerah mana. Bukannya sombong atau jual mahal sih, pelangganku banyak tuh dan toko-toko yang aku layani ada di daerah yang luas. Ternyata dia membawa keluarganya untuk makan bersama di sana. Aku diajaknya untuk makan bersama di sana sekedar basa-basi. Setelah kuintip, makanannya juga sudah hampir habis. Gak bakal cukup untuk kami berlima orang. Ya sudah lah, dengan sopan aku menolaknya dengan berbohong bahwa kami sudah makan. Padahal sudah lapar dan masih kehausan.

Sebagai catatan, di dalam kawasan agro wisata waktu ini belum ada warung atau tempat makan. Jadi sebaiknya kita membawa bekal dari rumah saat kemari.

Yuk sudah! Kita pulang sajalah! Hahaha!!!

June 27 2020

6 responses to “Agro Wisata Tamansuruh Banyuwangi in New Normal

  1. Sekarang makin apik, kayake pas aku dulu kesana biasa aja, mungkin pas musim hujan
    Tambahan tempat cuci tangan dan baliho Segede itu untuk tetep ikuti aturan new normal oke juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s