Teluk Biru – The Hidden Bay in South East Java

Teluk Biru berada di sisi Timur kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Keeksotisan lokasi ini tidak mudah untuk disinggahi lewat jalur darat karena sulit akses jalannya. Hanya ada satu cara untuk menuju ke Teluk Biru, yaitu melalui jalur laut. Nelayan sekitar menyebut Teluk Biru dengan sebutan Senggrong.

********

Dari judul artikelnya pasti ada yang nanyain, kenapa sih kok bukan hidden paradise?

Males aja sih, namanya aja kita kan baru tahu paradise atau surga setelah sudah tidak ada lagi. Jadi gak mau aja kalau berlebihan dengan bikin judul surga segala. Yang lebih rasional aja.

Terus gimana kalau ada yang nanya kalau judul dengan kata “paradise” kan lebih menarik orang baca?

Ada orang baca atau tidak itu kagak ada masalah. Orang nulis yang dibaca kan content-nya, bukan judulnya ya kan. Terserah yang baca aja. Kalau aku pribadi sih kagak terlalu mengejar pembaca yang banyak.

Woi woi bahas aja cerita perjalannya kapan?

Hehe baiklah aku mau cerita aja deh.

Cerita perjalanan ini bermula ketika ada beberapa temen dari Jember Backpacker yang sudah kemari setelah mencari info dan sudah mengunjungi Teluk Biru. Emang sih aku pada awalnya diajak, namun kesibukan dan tanggung jawab kerjaan yang belum bisa ditinggal. Jadi aku memilih untuk pending dulu ajakan tersebut hingga menunggu waktu yang tepat dan luang dari tanggung jawab itu lah. Kerjaan kan utama ya kan! Eh jalan-jalan kan juga utama. Tuh kan jadi bingung toh!

Kami berangkat dari Jember dengan mengendarai sepeda motor. Rombongan ini seperti biasanya berhenti sejenak di Garahan sambil menikmati pecel legendaris khas kearifan local beserta teh hangat untuk bahan bakar tubuh kami. Perjalanan ini lumayan panjang sih, untuk menuju Pelabuhan Muncar  dengan jarak sekitar 95 km membutuhkan waktu sekitar 2,5 hingga 3 jam.

Menjelang sore hari sampai juga akhirnya di Pelabuhan Muncar. Kami berhenti dan singgah di Kantor Kelautan dan Perikanan Kecamatan Muncar yang merupakan “basecamp” Komunitas Gemuruh (Gerakan Muncar Rumahku). Komunitas ini yang mengatur dan akan mengantarkan kami menuju Teluk Biru.

Sekilas tentang Gemuruh, komunitas ini sebagian besar beranggotakan nelayan sekitar. Mereka berkumpul menjadi satu dan sadar akan melindungi ekosistem laut. Pelabuhan Muncar dahulu terkenal dengan ikan yang melimpah, namun penangkapan ikan tidak diimbangi dengan perawatan lingkungan sehingga kurang maksimal hingga pernah paceklik ikan berbulan-bulan. Hal ini disebabkan oleh penangkapan ikan besar-besaran dengan menggunakan bom ikan yang menghancurkan terumbu karang. Padahal terumbu karang merupakan rumah utama dari ikan-ikan di laut.

Komunitas ini memulai aktivitas-aktivitas positif pelestarian lingkungan seperti transplantasi terumbu karang, penanaman fish apartement, penanaman pohon mangrove, dan yang paling utama yaitu penyuluhan kepada nelayan-nelayan lain untuk berhenti menggunakan alat penangkapan ikan yang dapat merusak kelestarian ekosistem laut.

Sekitar jam 5 sore kami berangkat dari Pelabuhan Muncar. Sebagian besar nelayan juga berangkat di sore hari karena mereka menangkap ikan dan bermalam di kapal maupun di tepi pantai manapun yang ditemui. Pemandangan sore hari cukup keren karena ditemani oleh matahari terbenam. 3 jam berada di lautan membuat beberapa teman menjadi mabuk laut, dan kami akhirnya sampai di Teluk Biru. Langsung aja pasang tenda dan menyiapkan logistic untuk makan malam. Udara malam ini tidak terlalu dingin tapi tetap aja sih nelayan membantu membuat api unggun supaya hangat. Langit malam hari cukup berawan sehingga kurang cocok untuk hunting foto milky way. Ya sudah lah, abis kenyang makan ya tidur sudah lah.

 

Yuk berangkat!

 

Sunset di dekat mercusuar Pelabuhan Muncar

 

Nelayan sudah siap mau berangkat

 

Membuat api unggun

 

Tidurlah kita

 

Pagi hari sebelum jam 5, ternyata banyak juga temen-temen yang sudah bangun untuk menikmati sunrise. Namun apa daya, cuaca kurang mendukung. Hoaaamm. Lanjut tidur aja lah dengerin cuitan burung-burung rangkong liar, sambil menunggu waktunya makan.

Eh yaelaaah tidur belum kelar 1 jam, sudah dibangunin untuk membantu teman-teman yang membuat sarapan dan berkemas-kemas. Perjalanan akan dilanjutkan lagi.

 

Berkemas

 

Tepat pukul 7.20 kami meninggalkan pantai berpasir putih tempat menginap. Warna air teluk menjadi indah berwarna hijau tosca terkena garis-garis sinar matahari. Kami dibawa ke spot snorkeling. Byuuurr seneng banget kan mainan air, maklum lah kami belum sempat mandi pagi. Hahaha. Kita kan ada di hutan, jadi gak ada kamar mandi dan air tawarnya.

 

 

Nelayan yang memandu kami juga menunjukkan lokasi pelestarian terumbu karang. Meskipun terumbunya masih kecil, aku pribadi menghargainya. Mereka sudah memulai aksi untuk melestarikan ekosistem. Di saat ini lah juga sekalian membawa bibit terumbu karang untuk dilepas di laut. Yang penting kan action, bukan hanya ngomong doang ya kan! Di sini kita juga snorkeling lagi, skalian aja deh nambah-nambahin stok foto di bawah laut.

 

 

 

 

Melepaskan bibit terumbu karang

 

Ikan Badut dan bukan badut

 

Snorkling

Waktu terasa begitu cepat ketika kami menikmati pemandangan bawah laut. Sudah waktunya pulang meskipun tidak rela karena kurang puas menikmatinya. Akupun dan beberapa teman pria yang lainnya masih tidak memakai kaos ketika kapal menuju ke Pelabuhan Muncar. Padahal sinar matahari begitu terik mengenai kulit kami. Namanya juga senang dengan pengalaman ini, jadi lupa dan menghiraukannya. Sekitar 2,5 jam perjalanan kami menuju pelabuhan.

Akhirnya perjalanan kami pun usai sudah. Pulang pulang pulang… Kami kembali ke Jember untuk beraktivitas keesokan harinya. Namun ketika aku mau tidur di kasur terasa agak aneh dan perih di punggungku. Ternyata kulit punggung gosong terpanggang sinar matahari selama 2,5 jam tadi. Wah jadi gak nyaman hanya tidur tengkurap. Pakai bedak juga masih perih, akhirnya kualasi plastik pada kasurku dan kutaburi es batu. Lumayan nyaman lah, keadaan berubah es batu mencair dan tidak dingin lagi. Ya sudah lah, kuberesi plastiknya. Tidur tengkurap aja sambil menahan cubitan perih di kulit punggung yang mulai mengelupas. Gini nih jadinya kalau tidak pakai lotion anti UV.

Oh iya ini ada beberapa tips dari aku untuk menghindari mabuk laut :

  1. Makan yang banyak. Sedialah minyak angin atau balsam. Mabuk laut kadang disebabkan oleh badan yang kurang fit karena masuk angin.
  2. Bawa dan minum air minum yang cukup. Ketika di laut, ga ada warung yang jualan makanan dan air minum loh. Kita bisa dehidrasi yang menyebabkan mabuk laut.
  3. Lihatlah langit di atas. Langit yang luas membuat pandangan kita menjadi stabil sehingga terhindar mabuk. Beberapa pengalaman mengajarkan bahwa kalau kita memandang ke laut dan sekitarnya menyebabkan kita pusing dan mual. Hal ini disebabkan ombak laut yang bergoyang-goyang sehingga pandangan kita. Otak kita lelah mencerna informasi gambar yang ditangkap mata kita.

Info tentang Pokmaswas Gemuruh :

Alamat : Jl Pantai Satelit Sumbermas. Desa Tembokrejo. Kecamatan Muncar. Kabupaten Banyuwangi.

Pusat informasi : Email ismailsyaid@gmail.com

Contact Person (CP) :

  1. Ismail (085336434544)
  2. Vindy (082331141709)
  3. Ratri (082231007722)
  4. Eko (087857404128)

Teluk Biru, 24-25 Oktober 2015

2 responses to “Teluk Biru – The Hidden Bay in South East Java

  1. Wowwww trip yg lama sekali pada jamannya dan aku seperti biasa tak ikut serta
    Ini jaman sebelum teluk biru ramai dibicarakan di timeline sosial media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s