Kuliner Khas Penang – Street Food Paradise of Asia [PART 2]

Berburu kuliner di Penang masih belum berakhir. Ada beberapa makanan pinggir jalan yang akan kami kunjungi. Tentu saja tidak dengan rencana, istilahnya sih seperti kata seorang sahabatku Faisol yaitu the plan is no plan. Ya apa kata nanti dah! Jajanan atau makanan apa lagi ya yang akan kami makan?

Sebelum melanjutkan ceritanya, mungkin pembaca perlu melihat terlebih dahulu cerita sebelumnya. KLIK DI SINI!

********

Pagi yang  cerah ini agak melegakan. Pada awalnya kami bingung mau kemana, dengan siapa, semalam berbuat apa? Halah kok nyanyi. Eason tidak dapat meninggalkan pekerjaannya, jadi dia tetep harus bekerja ke luar pulau. Beruntunglah Eason memberitahu kedatangan kami kepada seorang temannya. Aswin namanya. Ia adalah kawan baru yang sangat-sangat ramah. Kami dijemputnya untuk mencari sarapan pagi ke suatu tempat.

Nama tempat sarapan pagi kami adalah Pasar & Balai Rakyat Gelugor. Makanannya sebagian besar adalah makanan khas Melayu. Mirip-mirip sih dengan makanan yang ada di Indonesia. Akupun memilih menu makanan yang hampir mirip dengan nasi campur yang ada di Jember. Rupanya Aswin memilih tidak sarapan karena kurang terbiasa dengan sarapan, jadi ia membeli beberapa kue basah untuk dimakan bersama. Makanannya sih lagi-lagi hampir mirip dengan di tempat kita.

Pasar Rakyat Gelugor

Pasar Rakyat Gelugor

 

Nasi Campur

Nasi Campur

 

Kue Basah

Kue Basah

 

Amunisi energi tubuh kami sudah ada. Siap mengeksplor beberapa tempat untuk hari ini. Setelah mengisi bensin yang ternyata waktu itu lebih murah dengan yang ada di Indonesia, kami melanjutkan perjalanan ke sisi Utara Pulau Penang. Di tengah perjalanan kamipun mengobrol dengan Aswin, eh ternyata ia mengambil cuti kerjanya hanya untuk menemani kami. Wah jadi sungkan deh, mungkin lain kali kami juga akan melakukan hal yang sama jika ia berkunjung ke rumah kami.

Tempat yang kami kunjungi sebentar lagi adalah Kuil Kek Lok Si. Eh tapi, kalau ingin seperti apa tempat ini ya ditunggu aja. Soalnya lagi fokus bahas kuliner dulu aja ya. Skip skip skip.

Perjalanan kami berlanjut menuju kawasan George Town. Kawasan ini dapat dikatakan sebagai salah satu kota tua yang juga dilestarikan oleh pemerintah setempat. Ini ternyata hari Jumat, Andre dan Aswin harus melakukan kewajibannya untuk ibadah sholat Jumat di sebuah masjid. Lah terus kamu ngapain Ron? Ya jalan-jalan sendiri aja sambil lihat-lihat dan tiduran di sebuah taman bengong bego.

Yuuukkk kita makan siang dulu dengan makanan khas Penang yang ada di George Town dengan berbau budaya orang Tamil. Pemilik dan pelayannya adalah orang dengan keturunan Tamil atau India. Menu makanan yang kami pilih adalah roti canai dan mie goreng.

Roti canai adalah makanan favorit di Malaysia. Gaya roti datar India-muslim, roti canai terasa sempurna dengan kari pedas. Roti canai lembut, mentega dan halus tapi renyah dan serpihan di luar, sangat mirip dengan kue Eropa. Terbuat dari tepung terigu, telur, air dan lemak nabati. Adonan diolah sedemikian rupa sebelum dilempar dan diputar di udara sampai menjadi lembaran sangat tipis. Kemudian dilipat menjadi bentuk melingkar. Kadang-kadang, roti canai disebut sebagai roti terbang karena ada aksi melempar dan berputar. Adonan lalu digoreng di wajan besi panas dengan minyak banyak atau mentega sampai lapisan luar menjadi renyah. Roti canai biasanya disajikan dengan potongan daging lezat yang tebal, kari ayam atau bahkan sambal ikan teri. Untuk ledakan rasa, cobalah kombinasi dari daging dan sambal ikan teri dengan roti canai Anda.

Roti Canai

Roti Canai

 

Perut kenyang lalu ngapain? Jalan kaki menikmati mural-mural yang ada di pelosok-pelosok George Town. Seperti apakah mural-mural unik yang ada di sana? Skip dulu ya! Kan fokusnya bahas makanan. Weekkkk!!!

Lanjuuuutt!!! Perjalanan berlanjut ke Pantai Batu Feringgi. Terus ceritanya di-skip juga Ron? Ya pasti dong! Hahahaha. Kamipun kembali ke Selatan yaitu ke Bayan Lepas sambil menunggu kedatangan Eason dari tempat kerjanya. Kebetulan malam ini ada Gathering Couchsurfing (CS) di George Town, Eason pasti mengajak kami ke sana. Kebetulan lagi ada member CS asal Singapura yang juga menginap di rumah Eason. Ia bernama Stephen.

Acara Gathering CS-nya di-skip juga Ron? Gak deh! Kalau yang kali ini diceritain. Ternyata member CS yang muda-muda dan baru di Penang cukup kompak untuk bertemu dan saling mengajak yang lainnya. Kami berkumpul pada suatu tempat makan yang lupa namanya. Hehehe tapi cukup menarik lah. Di sini aku dan Andre pada bengong sambil lirik-lirikan gak jelas, mereka pada ngobrol dengan bahasa Inggris dan mandarin dengan cepat. Daripada bengong karena roaming dengan mereka, kami pun memesan spagheti. Spagheti seperti yang ada di luaran sih tapi rasanya enak lah untuk menambal perut yang udah kelaparan karena belum makan malam. Tempat makannya juga cukup foto-able lah, di sini kamu bisa membawa papan yang biasa dipakai para tahanan untuk difoto sebelum dimasukkan ke penjara. Ah hari ini cukup padat beraktivitas di pulau ini, bolehlah diakhiri.

Spagheti

Spagheti

 

Ualaayyy di Gathering CS

Ualaayyy di Gathering CS

 

Keesokan paginya kami pergi ke pasar dimana mama dari Eason juga berjualan di sana (Bayan Lepas). Kami mengunjungi warung yang ada di dalam pasar. Ternyata masakannya cukup beragam juga di sana. Nah menu yang kami coba kali ini adalah Char Koay Kak dan Wan Tan Mee.

Pasar Rakyat di Bayan Lepas

Pasar Rakyat di Bayan Lepas

 

Penjual gorengan

Penjual gorengan

 

Kedai makan

Kedai makan

 

Penang Koay Kak, sering ditulis sebagai Char Koay Kak, adalah populer Penang. Makanan ini dapat ditemukan di pusat jajanan maupun coffee shop. Ini adalah kue nasi goreng kecap hitam tebal, dengan telur, tauge dan bumbu-bumbuan. Tauge dan bumbunya menambahkan kegaringan ke kue beras yang mengental di kecap hitam. Sambal memberikan beberapa kepedasan sesuai selera. Makanan laut seperti udang dan cumi-cumi cincin sering ditambahkan juga. Hmmmm.

Char Koay Kak

Char Koay Kak

Wan Tan Mee mendapatkan namanya dari wan tan, babi atau udang pangsit, yang datang dengan hidangan mie ini. Dapat disajikan baik kering atau dengan sup bening. Yang membedakan wan tan mee daripada hidangan mie lainnya adalah mie telur kenyal yang disajikan dengan baik sup babi-kaldu atau ganti kecap hitam, kecap asin dan lemak babi. Mie ini baik tebal atau tipis, sangat kenyal dan ketika dikunyah, membuat tekstur yang sangat menarik cukup seperti cumi-cumi. Ada versi basah dan kering dengan hiasan irisan daging babi panggang, sawi dan daun bawang. Wan tan mee terbaik dimakan dengan bumbu cabai hijau acar dengan saus. Cocok dimakan pada hari-hari ketika Anda ingin sesuatu yang sehat dan bergizi, serta menyenangkan lidah terutama penyuka pedas.

Wan Tan Mee

Wan Tan Mee

Gimana? Udah laper apa belum? Hehehe… Jangan baca postingan ini di waktu mendekati jam makan siang ya! Jangan sampai nyasar di artikel ini disaat sedang lapar! Cukup di sini dulu ya pengalaman tentang makanan yang ada di Penang. Masih banyak lagi sebenernya tapi waktunya masih belum memungkinkan untuk dicoba semua.

JT 14 16May

Advertisements

2 responses to “Kuliner Khas Penang – Street Food Paradise of Asia [PART 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s