Sekolah Alam Bersama Berbagi Happy Jember

 

Sekolah Alam Raya

Sekolah Alam Raya

Sebelum mengikuti kegiatan ini, aku sudah mengenal Komunitas Berbagi Happy dari media sosial yaitu dari facebook. Aku lihat kegiatannya cukup menarik seperti yang sekolah alam yang lainnya. Tapi yang berbeda dari komunitas ini adalah berada di Jember. Wow banget kan bagi yang memiliki tanah kelahiran di Jember. Pasti akan senang melihat perkembangan yang terjadi di kotanya. Sekolah alam ini memiliki tujuan yang baik yaitu mengenalkan alam kepada anak-anak sehingga dapat menghadapi segala persoalan yang ada. Selain itu sekolah alam juga dapat menimbulkan kondisi psikologis yang baik kepada anak-anak. Perlu kita ketahui sih, anak-anak yang belajar di luar rumah memiliki emosi yang baik. Gampangnya sih mereka bisa lebih hidup bahagia daripada anak-anak yang menghabiskan waktunya di rumah maupun bermain gadget saja.

Seketika itu ada broadcast message yang nyasar di BBM (BlackBerry Messenger)-ku tentang kegiatan dari Komunitas Berbagi Happy dari Andi, dia dulu pernah jadi relawan bersamaku saat kegiatan Jember Fashion Carnival tahun 2015. Nah kebetulan juga Andi merupakan relawan di Komunitas Berbagi Happy. Wah serba kebetulan semua nih.

Ah iseng-iseng forward broadcast message tadi ke grup Whats App Jember Backpacker, eh sepertinya pada banyak yang gak bisa ikut karena kegiatan itu bersamaan dengan hari kerja. Wah dalam hatiku, jika tidak ada yang ikut mungkin saja aku juga gak hadir di kegiatan Berbagi Happy itu. Ternyata ada teman yang mengirim pesan kepadaku dan besok minta dijemput supaya berangkat bersama menuju lokasi kegiatan tersebut. Aku maklumi saja karena dia perantauan di Jember yang belum memiliki sepeda motor sendiri. Itu bukan masalah bagiku, yang patut aku apresiasikan adalah semangatnya untuk datang ke sekolah alam itu. Amzi nama panggilannya.

Pagi ini kami berdua bersemangat menuju lokasi sekolah alam ini diadakan. Dengan mengendarai sepeda motor, kami mencari lokasinya yang cukup terpencil dari keramaian lalu lintas. Sekolah alam ini berada di Desa Curah Kates, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember. Untunglah Andi mengirimkan petunjuk arah yang detail kepadaku sehingga kami dapat sampai di sekolah alam itu dengan benar. Lokasi ini merupakan “kampus kedua” dari Komunitas Berbagi Happy. Kampus pertamanya ada di daerah Glantangan.

Ternyata kami datang kepagian. Sekolahnya masih kosong, hanya ada relawan dan pengurus tempat itu saja. Ah tidak apa-apalah, tempat ini memang cocok untuk penikmat fotografi khususnya foto-foto macro. Itu tuh memotret kehidupan yang menurut kita itu kecil. Contohnya seperti capung, kupu-kupu, serangga, dan lain sebagainya lah.

Siput

Siput

 

Amzi dengan alat penangkap kupu-kupu

Amzi dengan alat penangkap kupu-kupu

Kami bertemu dengan Andi maupun rekan relawannya. Di saat itu juga kami dikenalkan kepada Bapak Riyadi Arianto. Beliau merupakan “ayah”-nya dari Komunitas Berbagi Happy Jember. Selain sebagai motivator yang baik, ada satu idenya yang aku kagumi yaitu tentang taman bacaan tepi sawah yang dibuatnya. Aku akui sih memang kurang suka membaca, tapi kalau bacaannya banyak gambarnya ya boleh lah baru tambah suka bacanya. Hahaha.

Sebuah bus DAMRI datang dan parkir di pinggir jalan yang sepi. Mereka adalah murid-murid dari SD Al Irsyad yang ada di Jalan Karimata Jember, mereka berasal dari kelas 1 dan kelas 2. Tampaknya mereka cukup senang bergandengan tangan memasuki sekolah alam ini. Raut wajah mereka berseri-seri sambil bernyanyi ketika disambut oleh Pak Riyadi yang sedang bernyanyi dan memetik dawai ukulele.

Anak-anak yang baru saja keluar dari bus

Anak-anak yang baru saja keluar dari bus

 

Senang hati memasuki lokasi

Senang hati memasuki lokasi

 

Andi Kurniawan yang menjadi relawan di Komunitas Berbagi Happy

Andi Kurniawan yang menjadi relawan di Komunitas Berbagi Happy

 

Bapak Riyadi Arianto yang bernyanyi sambil bermain ukulele

Bapak Riyadi Arianto yang bernyanyi sambil bermain ukulele

 

Di dalam ruang outdoor yang rindang dengan pepohonan. Pak Riyadi memberikan arahan kepada anak-anak supaya mereka melepaskan sepatu dan bebas berekspresi dengan lepas riang gembira. Mereka tidak perlu berbaris dan dibiarkan bebas mengikuti hati mereka. Yup kali ini anak-anak akan menuju ke sawah, mereka akan diajarkan cara menanam padi di sawah. Pak Riyadi, relawan, dan guru-guru tidak hanya sendiri dalam mengantar anak-anak ke sawah. Ada seorang petani yang membimbing jalan anak-anak.

Di sawah sudah banyak petani yang rata-rata adalah ibu-ibu sedang menanam padi. Sawah yang siap ditanami padi biasanya berair dan penuh lumpur. Kami melewati pematang sawah untuk menuju sawah kosong yang memang sudah disiapkan untuk menanam padi. Anak-anak berbaris saat melewati pematang sawah hingga pada akhirnya mereka melewati pematang sawah yang licin penuh lumpur. Byooorrr!!! Pada banyak yang terjatuh ke dalam sawah penuh lumpur.

Ibu-ibu petani yang sedang menanam padi

Ibu-ibu petani yang sedang menanam padi

 

Ibu-ibu petani tak tega melihat anak-anak terpeleset. Mereka lebih dulu membantu anak-anak daripada menanam bibitnya. Wueehhh naluri keibuannya muncul.

Ibu-ibu petani tak tega melihat anak-anak terpeleset. Mereka lebih dulu membantu anak-anak daripada menanam bibitnya. Wueehhh naluri keibuannya muncul.

 

Beberapa anak ada yang menangis karena takut melewatinya, namun sebagian besar anak malah riang gembira dan tertawa saat mereka terjatuh. Ibu-ibu petani yang sedang menanam padi tergerak hatinya untuk menolong mereka, aku pun yang awalnya hanya ingin melihat-lihat juga akhirnya ikut membantu. Jadi relawan juga dong! Meskipun pakaian dan tas juga terkena lumpur. Ah biarin aja deh! Gak kotor berarti gak belajar! Kata iklan tempo dulu sih begitu.

Akhirnya ikutan jadi relawan dadakan. Photo by : Amzi

Akhirnya ikutan jadi relawan dadakan.
Photo by : Amzi

 

Kotor yang menyenangkan

Kotor yang menyenangkan

Pada saat anak-anak berkumpul di sebuah sawah dengan benih padi yang sudah siap untuk ditanam, anak-anak melihatnya tapi hanya sedikit yang ikut menanam pohon. Tau apa yang lebih suka mereka lakukan? Mereka lebih suka untuk seluncuran di sawah dan membiarkan badan mereka penuh lumpur. Hahahaha dasar anak-anak!

Anak-anak sudah siap melihat cara menanam bibit padi

Anak-anak sudah siap melihat cara menanam bibit padi

 

Mereka mengetahui bibit padi dan menanamnya, tapi mereka lebih suka bermain lumpur

Mereka mengetahui bibit padi dan menanamnya, tapi mereka lebih suka bermain lumpur

Agenda utamanya sudah selesai. Kami semua kembali menuju lokasi pertama untuk mandi dan ganti baju. Lah gimana lagi, aku kan gak bawa baju ganti. Ya dibasahi aja lumpurnya lalu berjemur terlebih dahulu hingga agak kering. Eh ternyata sudah disiapkan jus strawberry dan makanan ringan khas desa. Wah benar-benar kembali ke alam nih ceritanya.

Makanan tradisional

Makanan tradisional

 

Bangga juga loh di Jember ada sekolah alam seperti ini. Semoga aja ada perhatian dari pemerintah maupun swasta sehingga anak-anak di perkotaan pada khususnya dapat berinteraksi dengan alam dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

GOOD JOB BERBAGI HAPPY JEMBER!

 

JT 15 16Desember

Advertisements

6 responses to “Sekolah Alam Bersama Berbagi Happy Jember

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s