Teropong Bintang di Observatorium Bosscha

Aku bersyukur dapat mengunjungi Kota Bandung untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ada orang baik bernama Wiky Eko Jusmar yang membantuku. Target utamaku kali ini adalah mengunjungi Observatorium Bosscha yang ada di Lembang. Iya, tempat untuk melihat bintang itu loh! Tempat dulu syutingnya film “Pertualangan Sherina”! Hahaha hanya anak generasi 90an yang mengerti film ini.

*****

Namun ada DRAMA saat menuju Bandung. Pada Jumat sore, aku masih berkutat dengan pekerjaanku di JALAN MAGELANG Dari kantor aku harus menuju percetakan di JALAN GEJAYAN untuk mencetak buku-buku sekaligus antri dan mencocokkan desain dengan settingan percetakan. Ribet dan panjang kalau mau dijelasin deh! Waktu semakin mepet dengan jadwal tiket kereta yang sudah kubeli dengan online. HANYA 30 MENIT sebelum berangkat, aku kembali menuju kos di JALAN KALIURANG untuk mandi kilat dan packing. Akupun langsung menuju STASIUN LEMPUYANGAN, motor aku letakkan di penitipan motor. Waktu melewati sudah melewati jadwal keberangkatan, akupun berlari terbirit-birit memasuki stasiun. Eh ternyata kereta belum datang, kata petugas stasiunnya kemungkinan terlambat setengah jam lebih. Fiuuhhh akhirnya masih bisa bernapas dengan tenang.

Ada kereta datang, aku pun memotretnya hanya untuk sekedar update status di sosmed. Ya sambil menunggu kereta KAHURIPAN yang menuju Bandung. Perlahan-lahan kereta itu mulai berjalan. Aku melihat tiketku lagi untuk melihat nama keretanya. LOH LOH KOK SAMA DENGAN KERETA YANG SEDANG BERJALAN INI! Hiyaaaaaaa!!! Aku berlari kencang untuk masuk ke dalam sebuah gerbong! Di dalam gerbong, antriannya penuh sesak. Aku melihat tiket dengan cepat, ternyata SALAH GERBONG! Gerbong yang kupesan selisih dua gerbong berada di depan gerbong ini! Aku pun keluar gerbong dan berlari menyusul kereta ini menuju gerbong yang tepat!

APAKAH YANG TERJADI?

Ya jelas berhasil menyusul kereta itu lah! Siapa dulu dong! Hahaha. Sumpah ini bukan reality show settingan seperti yang ada di tipi-tipi! Ok! Cukup sekian senam jantungnya. Akupun duduk di kursi sesuai dengan nomor kursi yang tertera pada tiketnya. Lalu apa yang aku lakukan? Update status di sosmed! Huahahahaha kekinian buangeeettt!

Perjalanan ke Bandung dimulai!

Kereta Kahuripan

Kereta Kahuripan

*****

Menjelang subuh, kereta sudah sampai di Stasiun Kiaracondong Bandung. Puji Tuhan, akhirnya nyampai Bandung juga. Udara pagi ini cukup dingin gerrrrr!!! Aku mondar-mandir di depan stasiun sambil menunggu Eko yang akan menjemputku dengan sepeda motor. Rupanya warung-warung di depan stasiun menyajikan minuman hangat. Gak beli minum Ron? Dengan rendah hati aku hanya menelan ludah saja. Hahaha hemat lah! Tak lama kemudian orang baik ini datang menjemputkan dan mengajak istirahat di kosannya. Grooookkkk!! Tidur dulu di kasur!

Woi bangun! Bangun! Bangun! Hari sudah menjelang siang hari. Kami menuju ke Lembang dengan menggunakan sepeda motor. Matahari terlihat sayu-sayu melirik dengan genit dan berpoleskan maskara di kelopak matanya. Sebenarnya mau nulis apa sih Ron? Cuacanya mendung gitu maksudnya. Sok puitis aja sih biar artikelnya banyak kata-katanya. Modus banget kan!

Ternyata jalanan menuju Lembang cukup macet. Lah namanya juga hari Sabtu, orang Bandung sukanya main ke Lembang. Hmm yang sabar aja lah. Biasanya aku menggunakan GPS yang ada di telpon selulerku jika sedang berkendara di kota yang kurang aku kenal, namun kali ini tidak perlu. Kan sudah ada Si Eko sebagai GPS berjalan. Ternyata cukup mudah menuju Observatorium Bosscha. Pengunjung yang tertib harus membeli tiket masuk dong! Harga tiket pengunjung cukup bersahabat. | Bersahabat dengan apaan? | Bersahabat dengan dompet. Hahaha.

Landmark Bosscha

Landmark Bosscha

Tahun 1923 mulai dibangun

Tahun 1923 mulai dibangun

Dari tempat tiket masuk menuju teropong-teropong, mata kita dimanjakan dengan dekorasi taman yang bernuansakan Belanda. Segeeerrr! Weerrr!!! DAN SEMUANYA BERUBAH KETIKA NEGARA AIR MENYERANG!!!

GERIMIS gaes! Kami segera berjalan cepat menuju ruang edukasi tentang astrologi.

BENTAR! BENTAR! KOK ASTROLOGI? ASTROLOGI ITU KAN YANG HOROSKOP ITU KAN!

Ups sorry sorry! Wah penulisnya perlu belajar lagi. Iya iya maksudnya astronomi. Ilmu yang mempelajari benda-benda yang ada di luar angkasa.

Mahasiswa dari ITB (Istitut Teknologi Bandung) dengan piawai memberi edukasi kepada pengunjung yang ada di dalam ruangan gelap itu. Proyektor untuk presentasi juga menyala. Hore hore!!! Ternyata bumi itu kecil ya! Matahari juga kecil jika dibandingkan dengan planet-planet lain yang berada di galaksi Bimasakti maupun galaksi lainnya. Ada juga planet berwarna biru yang lebih besar dan lebih panas daripada matahari kita. Api biru lebih panas gaes! Pernah lihat iklan kompor-kompor yang memiliki api biru yang dijual di online shop kan!

Wah seru juga! Ada kehidupan di luar sana dengan jarak yang cukup-cukup jauh! LDR aja kalah gaes! Jaraknya jutaan tahun cahaya! Halah gak tau dah! Pokoknya jauh banget.

Ruang presentasi

Ruang presentasi

*****

Siapa sih yang kurang kerjaan membangun Observatorium Bosscha ini?

Dari namanya aja sudah jelas. Pasti namanya ada Bosscha-nya.

Betul. Nama lengkapnya adalah Karel Albert Rudolf Bosscha.

Bosscha adalah seorang berkewarganegaraan Belanda yang lahir di Den Haag. Dia menghabiskan hidupnya di Malabar sebagai juragan teh. Nuraninya tergerakkan ketika melihat warga asli di Bandung yang kurang mengenyam pendidikan yang layak. Toleransi kemanusiaan dan kemiskinan hanya dapat diatasi dengan pendidikan. Oleh sebab itu Bosscha mendirikan sekolah yang dikhususkan untuk warga sekitar. Pendidikan di sekolah itu tanpa dipungut biaya alias gratis terutama untuk anak-anak pegawai dan buruh di perkebunan teh.

Lalu siapakah pencetus ide pembangunan itu?

Joan George Erardus Gijsbertus Voûte lah orangnya. Dia adalah seorang astronom Belanda yang ingin melihat bumi dari sisi Selatan. Nah beruntunglah dia bersahabat dengan Rudolf Albert Kerkhoven dan Karel Bosscha yang kaya sehingga memuluskan rencana pembangunan observatorium.

Tanah di Lembang, tempat observatorium dibangun ini adalah sumbangan dari Ursone bersaudara yang merupakan pengusaha sapi perah Baroe Adjak.

Namun setelah bertahun-tahun membangun observatorium dan membeli peralatan teleskop dari Jerman, Karel Bosscha meninggal dunia sebelum observatoriumnya selesai. Untuk menghormati jasa-jasanya. Observatorium ini diberi nama Observatorium Bosscha.

*****

Untuk memasuki kubah yang berisi teleskop raksasa itu, jumlah pengunjung yang masuk dibatasi. Selain untuk keselamatan pengunjung, juga untuk keselamatan peralatan teleskop itu sendiri. Perlu kita ketahui bahwa observatorium ini sudah termasuk dalam benda cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah.

JemberTraveler Observatorium Bosscha 08

JemberTraveler Observatorium Bosscha 07

JemberTraveler Observatorium Bosscha 10

Mahasiswa dan tim dari ITB mendemostrasikan cara penggunaan teleskop raksasa itu kepada pengunjung. Ternyata tidak sembarangan dalam mengoperasikan teleskop itu. kubah dapat dibuka saat melakukan peneropongan. Lantai di tengah kubah juga dapat dinaik-turunkan sesuai kehendaknya. Di dekat teleskop itu ada sebuah kursi klasik yang sengaja diletakkan untuk menikmati bintang-bintang.

Isi dalam kubah

Isi dalam kubah dan teleskop raksasanya

Sayangnya pertumbuhan penduduk di sekitar observatorium tidak dikendalikan dengan baik oleh pemerintah sehingga lampu-lampu rumah yang banyak menjadi polusi cahaya untuk melakukan peneropongan. Masyarakat yang paham akan polusi itu, akhirnya memberi payung kecil di atas lampu sehingga cahaya tidak terpancar ke langit. Untuk mengatasi kondisi tersebut, maka pihak observatorium akan membuat observatorium baru yang berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Perbedaan observatorium yang awal dengan tahun 1980 yang padat penduduk

Perbedaan observatorium yang awal dengan tahun 1980 yang padat penduduk

Tertarik dengan melihat bintang dan teleskop raksasa? Observatorium Bosscha di Bandung mungkin adalah jawabannya. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Observatorium Bosscha, kalian dapat mencarinya di web http://bosscha.itb.ac.id/ ini.

Salam

JT 2014 08Nov

Advertisements

17 responses to “Teropong Bintang di Observatorium Bosscha

  1. Dulu jaman aku masih SD, Bosscha ini masih sepiii bgt dan tamannya gak keurus. Dulu ada demonstrasi dibuka gitu si kubahnya, tapi katanya iya, polusi cahaya ngeganggu banget. Aku juga baru tau kalo lampu-lampu dipayungin gitu wkwk.

  2. Pingback: Dusun Bambu bukan Sekedar Dusun | Jember Traveler·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s