Candi Deres Jember – Angkor Wat Era Majapahit

Siapa bilang Jember tidak memiliki candi? Di sebuah desa yang berada di Kecamatan Gumukmas ada salah satu candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Desa itu adalah Desa Purwoasri. Kebetulan kami akan mengunjungi Pantai Nyamplung Kobong yang juga berada di Gumukmas untuk menikmati tenggelamnya matahari. Namun akan merasa kurang nggreget jika jauh-jauh dari kota hanya untuk melihat matahari terbenam. Aku pun memutar otak, destinasi mana lagi yang ada di Gumukmas. Hmm aku pun ingat beberapa waktu yang lalu melihat sebuah postingan Instagram yang berisikan warisan budaya dan sejarah Indonesia. Akun ini bernama @Indonesiantreasure. Pada salah satu postingannya, ada sebuah candi yang berada di Gumukmas. Candi tersebut bernama Candi Deres. Sepertinya cukup menarik untuk dikunjungi. Ideku ini direspon dengan angguk-angguk dari teman-teman tanda setuju.

Brum! Brum! Brum! Motor kami bersuara dan siap berangkat menuju Gumukmas. Ada Syifa, salah satu teman kami yang sudah menunggu di Gumukmas. Dia akan membantu kami untuk menemukan Candi Deres.

Sekitar 40 menit akhirnya kami bertemu dengan Syifa di depan Masjid Baitul Rohmah. Tepat di samping masjid ada sebuah jalan yang melewati perkampungan dan sawah-sawah. Tak jauh dari sana tampak ada kompleks candi persis di tepi jalan. Wah! Inikah Candi Deres!

Jember Traveler Candi Deres 02

Papan Larangan

Papan Larangan

****

Raden Wijaya beserta sahabat dan ksatria sisa-sisa dari pasukan Kerajaan Singosari melarikan diri dari kejaran Kerajaan Gelang-gelang (Daha). Mereka menuju Rembang dan Kerajaan Sumenep di Madura. Arya Wiraraja menerima pelarian perang itu dengan tangan terbuka. Tuan rumah tak hanya memberikan jamuan hidangan makanan dan minuman saja, namun juga memberikan nasehat, stategi perang dan siasat politik kepada Raden Wijaya. Wah Arya Wiraraja adalah orang yang baik ya teman-teman!

Melihat kebaikan dari Arya Wiraraja, Raden Wijaya sangat berterima kasih. Ia berjanji jika dapat menguasai Pulau Jawa maka akan membagi wilayah kekuasaannya menjadi 2 yaitu bagian Barat menjadi miliknya, dan wilayah Timur yaitu Lamajang (Lumajang) Utara, Lamajang  Selatan dan Tigang Juru (Jember Selatan, Situbondo Utara, hingga Banyuwangi) menjadi hak Arya Wiraraja.

Cita-cita Raden Wijaya terwujud dengan lahirnya Kerajaan Wilwatikta (Majapahit), Arya Wiraraja mendapatkan haknya seperti yang telah dijanjikan oleh Raden Wijaya. Walaupun secara hukum Majapahit Timur adalah milik Arya Wiraraja, tapi kenyataannya tetap tunduk pada Majapahit yang beribukota di Trowulan. Pu Nambi yang menjadi pengganti dari Arya Wiraraja juga sama mengikuti pendahulunya yaitu tetap setia kepada Majapahit dengan memberikan pajak ke Trowulan.

Tak selamanya kerajaan yang kuat itu berjalan dengan damai. Pasti ada konflik-konflik yang terjadi entah konfrik dari luar maupun dari dalam kerajaan. Hal ini juga menyebabkan beberapa pengikut setia kerajaan tewas karena dianggap menjadi pemberontak. Semuanya berasal dari tipu muslihat dari dalam kerajaan, yaitu dari Halayuda yang serakah dengan kekuasaan. Kebenaran juga pasti dapat ditemukan pada akhirnya.

Setelah gugurnya Pu Nambi, daerah Lamajang dan Tigang Juru selanjutnya diintegrasikan kembali dengan Majapahit. Hingga kemudian dikembalikan kepada keturunan Pu Nambi dan Arya Wiraraja. Jadi saat ini mengapa daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi itu mayoritas dihuni oleh orang-orang dari Madura? Yaitu tadi jawabannya.

Pada abad ke-14, Hayam Wuruk yang telah diangkat mengganti raja itu melakukan perjalanan dengan misi persahabatan dan cinta kasih menuju Mahapahit Timur. Ia didampingi oleh Mpu Prapanca dan pasukan pengawal yang cukup banyak. Candi Deres di Gumukmas adalah salah satu bukti perjalanan dari Hayam Wuruk.

Keberadaan Candi Deres menyisakan sedikit bangunan yang masih tegak dengan reruntuhan batu bata besar khas Majapahit di sekitarnya, membuat penulis dan komunitas Bhattara Saptaprabhu sangat prihatin. Candi yang mungkin sudah runtuh bila tidak ditopang dan dicengkeram oleh pohon kepuh (Sterculia foetida) serta ditumbuhi pohon apak panggang (Ficus reptan) dan wuni (Antidesma bunius) itu masih menampilkan kewibawaannya sebagai sebuah bekas tempat ritual pendharmaan.

Pelataran candi seluas lebih kurang 5000 m2 yang ditemukan sekitar tahun 80-an telah dipenuhi rumput liar dan dijadikan lahan tegalan oleh keluarga juru kunci. Tak jarang kadang beberapa ekor ular berbisa melintas di areal sekitar candi yang berangin sepoi-sepoi dan berhawa sejuk yang membuat kita sangat betah berlama-lama tinggal di sana.

Sungguh suatu bangunan yang luar biasa meski hanya tinggal puing-puing. Kehebatan bangunan berbatu bata merah dengan mutu pembakaran tinggi dan kualitas tanah liat pilihanlah yang membuatnya bertahan hingga lebih dari enam ratus tahun.

Jember Traveler Candi Deres 03

 

Batu bata peninggalan Majapahit

Batu bata peninggalan Majapahit

Jember Traveler Candi Deres 05

Jember Traveler Candi Deres 07

Di daerah Jember dan Lumajang yang masuk wilayah Majapahit timur maupun di Banyuwangi dan sekitarnya, tidak banyak peninggalan Majapahit yang utuh. Semuanya sudah tergerus, terkubur lahan tegalan, pekarangan dan persawahan penduduk dan sangat muskil untuk menggali kembali. Rendahnya kesadaran masyarakat serta ketidaktahuan pada pentingnya cagar budaya yang diatur dalam Undang-Undang Nomer 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang selama ini tidak pernah disosialisasikan.

Selain itu maraknya pencurian di areal situs yang berburu harta karun, artefak, benda-benda pusaka dan selanjutnya dijual ke kolektor barang antik. Mereka tidak berpikir bagaimana kelak generasi muda yang akan datang mencari bukti kebesaran nenek moyang di masa lalu. Selain manfaat untuk kegiatan para ilmuwan mengadakan riset sejarah, juga sebagai monumen kekayaan bangsa dan penghargaan terhadap karya budaya pendahulu kita.

Sumber : http://saptaprabhu.blogspot.co.id/

****

Jember Traveler Candi Deres 06

Pepohonan yang rindang di kawasan candi membuat kita terbuai dengan alunan angin. Rupa-rupanya ini merupakan tempat yang cocok untuk meminum kopi dengan teman-teman, namun tetap harus berhati-hati karena kawasan candi ini kadang-kadang dilewati oleh ular-ular berbisa. Hari sudah menjelang sore, kami harus segera bergegas menuju Pantai Nyamplung Kobong untuk bertemu dengan sahabat kami yang sedang mengampanyekan konservasi penyu. Tetap jagalah warisan sejarah bangsa Indonesia sesuai aslinya dan tempatnya agar anak cucu kita dapat mengetahui juga.

Salam!

JT 2015 01August

Advertisements

12 responses to “Candi Deres Jember – Angkor Wat Era Majapahit

  1. Selain baru tau kalo Jember punya candi,, saya juga baru tau ada Pantai Nyamplung Kobong. Orang Jember yg nggak #jemberbanget, kebanyakan ngelayap di kota orang.

  2. Cerita sejarah yang menarik dan baru tahuuuu kalau Jember punya candi peninggalan Majapahit! Tapi miris juga kondisinya nggak diperhatikan pihak berwajib, bahkan dirimu menuliskan ada banyak yang sudah terkubur tegalan dan pekarangan. Ahh sayang banget…

  3. Meskipun tidak terlalu besar, tapi candi satu ini unik banget ya. Terutama karena adanya lilitan akar pohon pada tubuh candinya. Mungkin juga karena materialnya yang terbuat dari batu bata merah membuat candi-candi di daerah Majapahit menjadi tidak terlalu tahan terhadap gerusan waktu … Nice article, menambah pengetahuan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s