Puncak B29 Argosari di Musim Kemarau

Tak terasa sudah beberapa tahun yang lalu aku mengunjungi puncak B29 yang berada di Desa Argosari, Lumajang. Apakah ada perubahan yang terjadi? Jika ingin mengetahui keadaan sebelumnya bisa melihat di link berikut ini.

Kesempatan kali ini aku bersama Anin dan adiknya berkunjung ke rumah Ireng yang tinggal di Kota Lumajang. Sekaligus halal bihalal dan bersilaturahmi. Dari Jember kami bertiga mengendarai sepeda motor, perjalanan sekitar 1 jam. Seketika di alun-alun Lumajang, Ireng menjemput kami untuk istirahat sejenak di rumahnya. Biasa lah, makan camilan khas Lebaran. Toples kaleng dan kaca dibuka semua. Eits tunggu dulu, kami tidak bisa terlalu lama beristirahat. Kami harus mengunjungi air terjun Manggisan dan bukit B29.

Jember Traveler B29 Argosari 10

Untuk air terjun Manggisan nanti akan aku ceritakan pada kesempatan selanjutnya.

SKIP SKIP SKIP

Kami berempat mengendarai sepeda motor menuju puncak B29 melalui jalan di Senduro. Papan petunjuk arah sudah banyak terpampang di pinggir jalan. Jadi siapa saja dapat dengan mudah menuju kesana. Meskipun sudah musim kemarau, suasana penduduk Suku Tengger masih diselimuti kabut yang cukup dingin. Jalanan menuju Desa Argosari sudah mengalami perbaikan oleh pemerintah Lumajang meskipun belum sempurna tapi tetap sudah ada perkembangan yang signifikan.

Di gerbang masuk Desa Argosari saat ini sudah memiliki pos-pos ojek untuk pengunjung yang ingin menuju B29. Ternyata wisata memberikan dampak perbaikan ekonomi bagi warganya. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya warga yang membeli sepeda motor untuk berprofesi sebagai tukang ojek. Harga ojek per orang dahulu Rp 50.000,- sekarang berubah menjadi Rp 80.000,- PP dari pusat Desa Argosari ke puncak B29. Untuk lebih amannya mobil sebaiknya berhenti di pusat desa lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek lokal karena jalan cukup sempit dan kecil.

Gerbang masuk Desa Argosari

Gerbang masuk Desa Argosari

Perbukitan di Desa Argosari

Perbukitan di Desa Argosari

Ada dua jalan menuju puncak B29 jika kita sudah sampai di pusat Desa Argosari. Yang pertama mengikuti jalanan beraspal dan berpaving dengan jalan memutar yang relatif landai. Sedangkan yang kedua adalah jalanan lurus dengan jalan bebatuan dan tanah yang cukup naik dengan curam. Untuk kendaraan matic ataupun 4 tak, aku sarankan untuk mengikuti jalan pertama yang landai. Karena cukup aman baik untuk pengendara maupun bagi kendaraannya. Medan yang dilalui cukup berat karena menanjak.

Jalanan landai menuju B29

Jalanan landai menuju B29

Papan petunjuk arah di kampung dari Suku Tengger

Papan petunjuk arah di kampung dari Suku Tengger

Saat ini jalan menuju puncak B29 sudah diportal dan ditarik retribusi tiket masuk. Tak seperti pengalamanku sebelumnya ketika masih gratis dan belum dikenal oleh orang banyak. Kami meletakkan kendaraan kami di rumah warga yang dekat dengan portal. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1,5 km. Saranku sebelum kalian berjalan kaki ke puncak B29, alangkah baiknya kalian latihan berjalan yang agak jauh. Walaupun dekat hanya 1,5 km saja, berjalan kaki sejauh itu ke puncak B29 ternyata cukup menguras tenaga. Dan yang terpenting, bawa makanan dan minum untuk naik ke atas meskipun di sana sudah ada warung-warung yang berjualan aneka makanan dan minuman. Kabut khas pegunungan masih melekat di pori-pori kulit kami. Ojek juga hilir mudik mengantar pengunjung dengan menerbangkan debu-debu dari tanah. Namun tak seperti dulu tanah yang sedikit berlumpur karena musim hujan, sedangkan kali ini tanah lumpur itu kering menjadi tumpukan debu yang tebal. Ketebalan debu di jalan setinggi betis kaki orang dewasa atau sekitar tinggi 20cm dari tanah. Tebal kan?!

Jalanan berkabut dan berbatuan

Jalanan berkabut dan berbatuan

Portal pendakian B29

Portal pendakian B29

Rupanya kami beruntung saat berada di puncak B29, matahari mulai beranjak menuju tempat peristirahatannya. Kami mencoba naik menuju tempat yang disebut puncak B30, tak jauh dari pura kecil Khas Tengger yang menghadap ke Gunung Bromo. Di puncak ini banyak sekali para pecinta ketinggian yang sedang camping beramai-ramai. Asap kawah dari Gunung Bromo bercampur dengan matahari yang akan tenggelam menjadi pemandangan yang indah. Sungguh besar keagungan Yang Maha Kuasa.

Awan dan kabut tebal mulai turun di lautan pasir dan menyelimuti puncak B30, matahari sudah mulai meredup dan bintang-bintang mulai menampakkan diri. Kami bergegas turun menuju tempat parkir untuk menghangatkan diri dengan menyeduh segelas kopi lalu melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah masing-masing.

Pura Suku Tengger yang menghadap Gunung Bromo

Pura Suku Tengger yang menghadap Gunung Bromo

Asap kawah Gunung Bromo

Asap kawah Gunung Bromo

Para pendaki yang bermalam di puncak B30

Para pendaki yang bermalam di puncak B30

Sebuah perjalanan singkat yang cukup mengagumkan. Jadi syukuri aja setiap perjalanan yang dilalui, pasti akan ada pengalaman dan pemandangan yang tidak akan kalian lupakan. Dan tentu saja, berbagilah cerita perjalananmu kepada orang lain. Mungkin saja cerita singkat tersebut dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Salam!

JT 2015 22July

Advertisements

5 responses to “Puncak B29 Argosari di Musim Kemarau

  1. Pingback: Air Terjun Manggisan di Lumajang | Jember Traveler Indonesia·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s