Sendunya Kawah Putih Bonus Sejuknya Danau Situ Patengan

Kawah Putih

Kawah Putih

Perjalanan di Bandung terus berlanjut dong! Masa hanya di Taman Jomblo aja? Kurang afdol lah jika belum mengunjungi Kawah Putih! Benar saja kawasan itu sudah kumasukkan ke daftar tempat yang akan kukunjungi. Emang ada misi pribadi yang berkaitan dengan masa lalu. Terus apa misi pribadinya? Ya pengen tau aja sih. Doenk! Doenk! Doenk!

Kebetulan hari Sabtu, Si Eko lagi libur bekerja. Eko ini adalah pemuda yang waktu itu bekerja di perusahaan yang sedang gencar-gencarnya mempromosikan wisata di Bandung. Dia mencintai Bandung meski bukan kelahiran dari Bandung. Buktinya dia sekarang mengantarkan kami menuju Kawah Putih. Good person, right?!

Dari kota Bandung, kami naik angkot turun angkot sampai lupa berapa kali naik angkot dan rute mana aja. Cerita singkatnya kami sampai di Terminal Leuwi Panjang. Kami menaiki angkutan sejenis minibus untuk menuju Ciwidey. Kebetulan waktu itu hujan, beruntungnya penumpang menuju ke Ciwidey relatif penuh sehingga suhu di dalam angkutan cukup hangat. Bobok dulu gaes! Hasyeekkk!!!

Mendekati Terminal Ciwidey aku terbangun, kebetulan di kursi depan pak supir duduk dengan dua orang mahasiswa dari Malang. Pak supir menawari kami paket wisata untuk melanjutkan perjalanan menuju Kawah Putih dan Situ Patengan. Jadi kami bisa dibilang menyewa angkutan tersebut dan tidak perlu repot membayar tiket masuk maupun parkir, terima beres wes. Lalu aku berdiskusi dengan Andre tentang biaya urunannya. Emang cukup dan rasional menurut kami. Sebelum setuju dengan pak supir, aku membangunkan Eko yang tertidur. Katanya sih hanya Ok Ok saja. OK pak supir! Kami memakai jasa anda!

Sebetulnya dari pintu gerbang menuju Kawah Putih sudah disediakan angkutan khusus oleh pengelola wisata, namun mereka memberi kesempatan bagi pak supir kami untuk mendapatkan pemasukan.

****

Kawah putih berada di ketinggian 2.090 m dpl di bawah puncak Gunung Patuha. Dahulu kala semenjak Gunung Patuha meletus, kawasan ini ditakuti oleh masyarakat karena burung-burung yang terbang melintas akan mati. Pada tahun 1837, Dr Franz Wilhem Junghuhn muda yang masih berkewarganegaraan Jerman menuju Gunung Patuha untuk melakukan penelitian tentang tumbuh-tumbuhan. Ketika berada di puncak gunung, Junghuhn melihat danau berwarna putih dengan bau menyengat. Desas-desus keberadaan Kawah Putih mulai menyebar ke masyarakat luas hingga 150 tahun kemudian pemerintah merintisnya sebagai kawasan wisata pada 1987.

****

Ketika itu Kawah Putih yang kami kunjungi sedang berkabut, angin berhembus dengan hawa dingin, dan sesekali sengatan belerang menyeruak penciuman kami. Pak supir meminjamkan kami payung untuk melindungi dari rintik-rintik air hujan yang turun. Ada beberapa larangan yang harus dipatuhi oleh pengunjung saat berada di Kawah Putih. Disarankan juga memakai masker untuk mengurangi efek dari belerang.

Yuk kita lihat beberapa gambar yang telah kami ambil saat berada di Kawah Putih!

Menanjak menuju Kawah Putih

Menanjak menuju Kawah Putih

Ada tumbuhan yang berdiri tegak

Ada tumbuhan yang berdiri tegak

Dilarang berenang!

Dilarang berenang!

Dilarang menginjak lumpur!

Dilarang menginjak lumpur!

Batuan yang dibangun tapi tak dipakai

Batuan yang dibangun tapi tak dipakai

Gua yang berisi asap belerang

Gua yang berisi asap belerang

Andre dan Eko

Andre dan Eko

****

Sesuai kesepakatan dengan pak supir, kami pun beranjak menuju ke Situ Patengan berketinggian sekitar 1.600 mdpl yang masih berada di kawasan Ciwidey. Perjalanan menuju danau ini cukup mempesona, hamparan kebun teh yang hijau menyegarkan mata. Udaranya pun sejuk karena masih berada di kawasan pegunungan.

Situ Patengan menyimpan sebuah cerita rakyat yang patut kita ketahui. Situ Patengan berasal dari bahasa Sunda yaitu “situ = danau” dan “Patengan = saling mencari”. Diceritakan ada sepasang yang telah lama menyimpan rindu karena tidak bertemu. LDR-an nih! Ciyeeee! Mereka adalah Ki Santang dan Dewi Rengganis. Berhubung dulu belum ada SMS, telpon, ataupun sosmed. Ya akhirnya mereka saling mencari. Dooorrr!!! Mereka bertemu di sebuah tempat yang kini disebut sebagai Batu Cinta. Dewi Rengganis meminta untuk dibuatkan sebuah danau dan perahu agar mereka dapat berlayar berdua. Sim salabim jadi apa? Prookk!! Proookk!! Prookk!! Danau dan perahu sudah dibuatkan, mereka berdua berlayar bersama dengan bahagia.

Mitosnya jika ada sepasang kekasih yang mengunjungi Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara dengan perahu maka cinta mereka akan langgeng. Ah emang aku pikirin? Namanya juga mitos. Kalau aku sih prinsipnya menolak percaya, percaya sama Yang Maha Kuasa aja. Boleh kan memiliki prinsip sendiri. Hahaha.

Jadi apa yang dilakukan oleh kami berlima saat berada di Situ Patengan? Naik perahu melewati danau dan menuju Batu Cinta atau mengelilingi Pulau Asmara? Ya jelas tidak lah! Lima jejaka tanpa kekasih kok mau naik perahu. Hahaha. Amit-amit jabang bayi! Ik ol san! *ketok-ketok meja*.

Kami menyebar dan menikmati suasana Situ Patengan di mana ada kios-kios kaki lima yang menjual aneka hidangan dan kerajinan setempat. Bisa saja sih duduk santai di tepi danau atau di gazebo. Yang menarik menurutku di sini adalah lagu-lagu khas Sunda yang merdu dan identik dengan seruling bambu ternyata enak didengar.

Ini sekilas tentang Situ Patengan yang kami kunjungi.

Hamparan kebun teh

Hamparan kebun teh

Cerita rakyat di Situ Patengan

Cerita rakyat di Situ Patengan

Perahu di tepi danau

Perahu di tepi danau

Kios-kios di dekat danau

Kios-kios di dekat danau

Salah satu pemandangan di Situ Patengan

Salah satu pemandangan di Situ Patengan

Andre, Aaron, Eko, dan dua mahasiswa dari Malang

Andre, Aaron, Eko, dan dua mahasiswa dari Malang

Lucunya ketika kami kembali di Terminal Leuwi Panjang, Eko protes ke pak supir karena harganya mahal daripada jika bepergian sendiri. Loh tadi kan sudah setuju dengan tawarannya, kok baru sekarang protesnya? Hahaha. Aku pun mengajak Eko dan Andre untuk kembali ke Bandung Kota. Masih ada tempat yang akan kami kunjung. Pasti ada cerita dari semua perjalanan. Jadi, ya nikmati saja.

JT 2014 18 Jan

Advertisements

7 responses to “Sendunya Kawah Putih Bonus Sejuknya Danau Situ Patengan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s