Embrio Ekowisata Mangrove di Jember (+Video)

Jember punya mangrove??!! Sebagai orang kelahiran Jember jika mengetahui ada perkembangan yang baik dengan tempatnya, ya jelas bangga lah. Sekecil apapun itu tetap perlu dihargai dan diberi motivasi yang konkrit. Contohnya bagaimana ya? Cukup datangi tempat tersebut nikmati fasilitas yang ada dan berikan kritik sarannya. Mudah kan? Begitulah cara termudah yang bisa dilakukan. Mau kontribusi yang lebih besar? Bisa kok! Coba aja jadi investornya! Hahaha kalau tahap itu, aku pun masih belum bisa, diaminin aja yak! Amin!

Sebentar. Sebentar. Jember punya mangrove? Masih belum yakin kan! Yuk kita simak ulasanku di bawah ini! Essih bahasamu loh Ron!

****

Perjalananku kali ini karena ada seorang abdi negara yang bertugas di bidang lingkungan yang biasa kami kenal dengan sebutan Cak Oyong yang tiba-tiba meng-invite-ku dalam sebuah multi chat BBM. Lah emang siapa aku? Cuma seorang yang baru aja berstatus sebagai unemployed alias pengangguran yang baru saja tiba di Jember.Perjalanan ini dalam rangka melakukan survey ekowisata mangrove. Tersanjung tinggi lah! Seperti jamannya Ari Wibowo ketemu dengan Lulu Tobing. Ron Ron itu sinetron Tersanjung! Ayo tolong yang tertib! Emang sih baru saja resign dari dari LSM yang bergerak di lingkungan juga. Jadi diajak karena itu? Hahahaha emboh aku dewe yo gak yakin!

Cak Oyong, Yudha, Bang Jhon, dan aku berkumpul di alun-alun Puger sambil membeli bekal untuk camping pada malam hari. Perjalanan ke Barat untuk mencari kitab suci. Halahnglanyar maneh Sun Go Kong! Perjalanan menuju Getem ini melewati kawasan eks-lokalisasi. Hmmm wajah mesum pasti baca sambil tersenyum kan! Raine loh! Jalanan lintas Selatan Pulau Jawa yang masih hamparan jalan kapur itu menjadi santapan ban karet dari motorku. Di tengah perjalanan ada mercusuar yang cukup eksotis untuk dipandang.

Mercusuar Puger

Mercusuar Puger

Motor-motor kami berhenti pada sebuah rumah yang dihuni oleh anggota Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Bahari Lestari. Pokmaswas ini adalah salah satu wadah untuk mengelola wisata dengan berbasis masyarakat mandiri. Maksudnya ya dikelola oleh masyarakat itu sendiri. Rumah ini terletak di depan Rawa Getem. Kami menitipkan barang-barang bawaan ke rumah tersebut. Di sebuah gang yang ada di samping rumah, ada Pak Jamil yang sudah menyiapkan ban karet yang akan kami pakai mengelilingi Rawa Getem.

Pak Gio dan Bibit Mangrove

Pak Gio dan Bibit Mangrove

Aku dan teman-teman mencoba mengelilingi Rawa Getem dengan mengapung dengan bantuan ban karet. Semilir lembut angin laut yang sejuk, langit berwarna biru, dan matahari tersipu malu dengan riasan awan tipis menambah eksotis mangrove berwarna hijau jamrud. Cocok dah buat sedikit menghitamkan kulit. Kan uda item Ron?! *hakdes.

Menyusuri Rawa Getem. Photo by : Jhon R. Tambunan

Menyusuri Rawa Getem. Photo by : Jhon R. Tambunan

Dengan ban karet menikmati air. Photo by : Jhon R. Tambunan

Dengan ban karet menikmati air. Photo by : Jhon R. Tambunan

Di rawa ini aku melihat seorang anak yang sedang membawa kotak gabus yang dipakainya untuk tempat rumput. Dengan celurit kecil di tangan mungilnya, ia memotong rumput untuk makanan sapi piaraannya. Mangrove yang sudah tertanam memiliki variasi umur dari yang baru hingga umur 5 tahun ke atas. Awal Rawa Getem itu bagaimana sih? Rawa ini terbentuk pada beberapa tahun lalu karena tiupan angin kencang selama beberapa hari. Tiupan angin ini membuat pasir menutupi aliran sungai sehingga membentuk rawa. Dulunya sungai tersebut menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan yang mencari ikan di Samudra Hindia. Rupa-rupanya tempat ini akan menjadi tempat yang indah dalam anganku pada suatu saat nanti.

Tengah hari kami melanjutkan perjalanan ke salah satu rumah anggota Pokmaswas yang lain. Huwoooww ternyata ibunya menjual rujak petis! PUJI TUHAAAAANNN!!!! Setelah tinggal setahun di Jogja tidak makan rujak petis yang enak, akhirnya keturutan juga. Okay sip! Aku pesan satu porsi ya, Bu! Nom nom nom nom. Nambah 1 porsi lagi ya, Bu! Hahahaha.

Di belakang rumah tempatku makan rujak ternyata sudah siap sebuah kapal jukung yang akan membawa kami berlayar. Popeye si pelaut! Tuuttt Tuuttt! Bruutt!! *dikeplak

Kapal jukung dengan menggunakan mesin diesel menyusuri muara yang di tepinya didiami oleh kerbau-kerbau liar yang sedang minum air, sesekali bangau-bangau putih beterbangan di atas muara seraya menangkap ikan-ikan yang melompat-lompat di atas air, dan penangkap ikan dengan pancing maupun dengan jaringnya. Rupa-rupanya mangrove memiliki manfaat yang cukup terasa bukan?!

Burung di muara. Photo by : Arif Angga Yudha

Burung di muara. Photo by : Arif Angga Yudha

Kerbau di muara. Photo by : Arif Angga Yudha

Kerbau di muara. Photo by : Arif Angga Yudha

Sekelompok orang ini berhenti di tepi muara yang tembus ke pantai yang berhadapan dengan lautan lepas. Pak Gio berlari sambil mengucapkan puji syukur kepada Tuhan karena cemara laut berumur enam bulan yang ditanamnya ternyata banyak yang bisa tumbuh meskipun ada beberapa yang mati mengingat tanaman tersebut ditanam di pasir besi. Tak lama kemudian hanya kami berempat yang tinggal di pantai sedangkan Pak Gio dan temannya kembali pulang. Kami berteduh di pasir. Terik panas dan angin yang membawa pasir membuat kakiku gatel untuk mencari tempat berteduh yang lain. Di saat teman-teman sedang beristirahat, aku jalan menyusuri pantai dan menemukan sebuah gubuk kecil yang dibuat oleh nelayan untuk istirahat. Wah pasti seru menginap di sini! Berhubung kami tidak membawa tenda. Camping kok gak bawa tenda. Gokil kan???

Pak Gio dan Cemara Laut

Pak Gio dan Cemara Laut

Balik menghampiri teman-teman dong! Yuk kita pindah di gubuk itu aja. Matahari terbenam yang ditunggu terhalang oleh awan tebal. Kami berjalan kaki ke gubuk dengan diiringi angin kencang membawa pasir. Gubuk sederhana ini menjadi rumah kami yang aman untuk malam hari ini.

Matahari Terbenam

Matahari Terbenam

Gubuk, Tempat Kami Tidur.

Gubuk, Tempat Kami Tidur.

Tetiba… PLOOOKKK!!! Ada yang jatuh dari atap ke dalam gubuk. Ulaaaarrrr!!! Beruntunglah kami semua tenang menghadapinya, kami bantu ular itu keluar dari gubuk dengan keadaan hidup dan baik-baik saja. Huahahaha ndredeg gaes!

Ular yang masuk di dalam gubuk

Ular yang masuk di dalam gubuk

Kopi hangat yang diseduh oleh Bang Jhon menambah keakraban kita sambil ngomong ngalor-ngidul dengan topik tentang Jember. Malam hari ini kami keluar gubuk sambil memotret bintang.

Langit Beribu Bintang. Photo by : Arif Angga Yudha

Langit Beribu Bintang. Photo by : Arif Angga Yudha

Sinar matahari sudah mulai tampak saat kami terbangun di pagi hari. Lari……!!! Hahaha kami tentunya keluar gubuk sambil mengabadikan momen ini. Pak Jamil datang dengan membawa sarapan, gorengan, dan kopi. Wah saat-saat yang tak diduga kan. Menjelang siang hari kami menyeberangi muara lagi untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.

Matahari Terbit

Matahari Terbit

Jadi apa sih manfaat dari adanya mangrove? BANYAK. Salah satunya adalah habitat untuk hewan, melindungi daratan dari abrasi laut, penambat racun dan lumpur, penyerapan karbon untuk mengurangi pemanasan global, dan harapan kami suatu saat nanti bisa menjadi tempat wisata dan penelitian bagi masyarakat Jember pada khususnya.Tempat ini suatu saat ini berpotensi akan menjadi ekowisata yang bagus beberapa tahun lagi jika konsisten merawatnya dan mendapatkan bimbingan yang tepat dari pemerintah maupun dari pihak manapun.

Wisata ini cukup murah yaitu sewa ban Rp 5.000,- dan jika ada yang ingin menanam mangrove cukup membayar Rp 5.000,- saja per bibit. Sangat murah jika dilihat keuntungan yang akan diterima di keesokan hari. Untuk yang ingin tau lebih lanjut bisa menghubungi Cak Oyong di 081358660110.

JT 2015 09-10May

Advertisements

8 responses to “Embrio Ekowisata Mangrove di Jember (+Video)

    • Kalau dari Puger, ikuti JLS (Jalur Lintas Selatan) ke Barat melewati mercusuar. Lurus terus ke Barat, setelah melewati jembatan pertama coba tanya dengan penduduk sekitar untuk mencari rumah bapak yang ada di artikel di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s