Garuda Indonesia Antarku Temukan Wae Rebo

Memiliki waktu hanya satu minggu di Nusa Tenggara Timur aku fokuskan untuk mencari informasi tentang destinasi impian. Wae Rebo yang berada di Pulau Flores. Beberapa hari sebelum berangkat aku mencari info tentang desa tersebut dari blog-blog namun tak kutemukan info yang cukup akurat. Akupun bertanya kepada sahabatku Ainun yang sudah pernah ke sana, namun informasinya juga belum sesuai yang kuharapkan. Ah sudahlah, biarkanlah menjadi keseruan tersendiri menuju ke Wae Rebo tanpa berbekal informasi yang cukup. Kupang adalah titik awal perjalananku menelusuri Nusa Tenggara Timur.

Mengapa Wae Rebo adalah destinasi impian?

Aku tertarik dengan rumah-rumah khas Indonesia khususnya yang berbentuk unik. Rumah yang berbentuk kerucut itu sangat menarik bagiku, aku juga tertarik dengan budaya luhur yang masih terjaga dengan baik di tempat yang terpencil.

Perjalananku pada kali ini ditemani oleh Fatah, salah satu sahabatku yang juga berasal dari Jember. Hari pertama di Kupang, kami menginap semalam di rumah Bapak Vasco Da Cruz. Beliau adalah pejabat di Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur yang berada di Kupang. Bapak Vasco adalah mertua dari Mas Wawan, teman Fatah. Berhubung rumah dinas Mas Wawan tidak cukup untuk kami berdua, ya ditumpangkan di daerah Soe. Saat ini juga kutemui sahabatku yang lama tak berjumpa, sekitar 10 tahun kami tak bertemu. Rudhy Gunawan. Dia adalah sahabatku sejak menimba ilmu bersama di SMAK Santo Paulus Jember, dua tahun kami berada di kelas yang sama. Tanah Timor ini menjadi ladang perantauannya.

Aku dan Rudhy Gunawan.

Aku dan Rudhy Gunawan.

Aku dan Fatah berangkat menuju Ende dengan menggunakan pesawat ATR 72-600 dari Garuda Indonesia. Pesawat berbaling-baling pada sayapnya tersebut memiliki kapasitas 70 penumpang. Pesawat bertuliskan “EXPLORE” pada samping badan pesawat ini merupakan komitmen dari Garuda Indonesia untuk mendukung transportasi domestik jarak dekat jika dilihat dari sudut pandang masyarakat yang berada pada kota yang memiliki bandar udara perintis. Tiket pesawat “EXPLORE” sudah kupesan sejak seminggu sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya aku menggunakan pesawat berbaling-baling dan berkapasitas sedikit dari Garuda Indonesia. Aku duduk di samping jendela dan dekat baling-baling pesawat. Jantung sudah berdegup kencang ketika pesawat mulai meninggalkan landasan Bandara Internasional El Tari Kupang. Beruntunglah perpaduan warna biru cakrawala dan laut yang tersemaikan oleh awan senada dengan warna Garuda Indonesia di balik jendela mengalihkan rasa cemasku. Pesawat yang kutumpangi terbang dengan tenang dan keramahan pramugari membuatku nyaman untuk tidur sejenak.

Pesawat ATR Garuda Indonesia.

Pesawat ATR Garuda Indonesia.

Pemandangan Indah dari Atas Pesawat ATR Garuda Indonesia.

Pemandangan Indah dari Atas Pesawat ATR Garuda Indonesia.

“Endeeeeeee….!!! Kota Bung Karno…!!!”, teriakku dalam hati dan berlari kencang saat sudah turun dari pesawat di Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman. Ini menunjukkan masih seperempat perjalanan menuju Wae Rebo.

Kota di Pulau Flores ini menjadi saksi bisu penting sejarah bangsa Indonesia dimana masa-masa pengasingan Bung Karno oleh Belanda. Di sinilah terdapat rumah pengasingan dan taman renungan tempat beliau menggagaskan Pancasila.

Abah dan Krisna menjemput kami di bandara dengan menggunakan sepeda motor. Di rumah inilah kami menumpang tidur sejenak untuk satu malam. Abah dan Umi adalah teman dari ayah Fatah, sedangkan Krisna adalah anak yang diasuh mereka. Abah meminjamkan sebuah sepeda motor untuk kami. Keluarga yang juga hangat dan baik hati.

Dini hari kami sempatkan menuju Danau Kelimutu yang berada di sebelah Timur kota. Matahari terbit menghangatkan danau yang indah itu seolah-olah merestui kami untuk melanjutkan perjalanan menuju Wae Rebo. Siang hari ketika matahari bersinar sayu terias oleh sapuan awan, kami berdua bergegas melewati jalan trans Flores dengan pantai yang berbatu-batu hijau dan biru lalu naik menanjaki dataran tinggi.

Danau Kelimutu.

Danau Kelimutu.

Kota Bajawa adalah tempat persinggahan kami selanjutnya. Sejauh 126 KM dari Kota Ende kami lalui dengan mengendarai sepeda motor selama 3,5 jam. Kami buta dengan kota ini, sama sekali tidak tahu dengan informasinya seandainya tidurpun, mungkin kami akan tidur mendirikan tenda di tempat yang dingin ini. Di Masjid Agung Al Ghuraba, kami beristirahat. Fatah sedang melaksanakan kewajibannya untuk sholat, aku yang beragama lain cukup menghormati dengan menunggunya di tempat parkir masjid. Ada seorang pria bernama Iqbal menyapaku. Tanpa kuduga, ia juga berasal dari Jember. Di sini aku belajar bahwa kita mempunyai saudara sekota kelahiran saat berada di perantauan yang jauh. Malam ini kami menginap di rumah kontrakannya yang hangat.

Pagi cerah berpayungkan langit biru, kami berencana untuk mengunjungi Desa Adat Bena sebelum menjalankan perjalanan. Iqbal sengaja mengantar kami karena sekalian memprospek petani-petani untuk membeli bibit padanya. Tak hanya Desa Adat Bena, saudara baru kami ini mengajak untuk mengunjungi Air Terjun Ogi, Danau Wawomudha, Manu Lalu dan lereng Gunung Inerie. Namun kami tak bisa berlama-lama di sekitar Bajawa, tengah hari ini berpamitan dengan Iqbal untuk menuju Ruteng.

Kampung Adat Bena.

Kampung Adat Bena.

Kami terlalu siang untuk berangkat. Jalanan menuju Ruteng melewati jalan yang berkelok-kelok dan berkabut tebal. Sore hari tak ada lampu jalan yang menerangi dan jarak pandang hanya sekitar 2-3 meter. Hawa dingin cukup mengusik kulit-kulit kami. Di Desa Sita, kami berhenti untuk menghangatkan diri. Semangkuk bakso cukup untuk menambah tenaga. Kami membeli jas hujan yang terbuat dari plastik untuk menghindari dinginnya kabut. Pelan dan berhati-hati, itulah cara kami menuju Kota Ruteng. Sekitar 4 jam kami berada di perjalanan.

Sekitar jam 9 malam, kami makan masakan padang yang berada di dekat kantor bupati Ruteng. Kami sekaligus menunggu Bang Fian. Beliau adalah teman dari Mbak Lita, teman kami dari Jember. Bang Fian datang dan mengantarkan kami untuk mencari penginapan. Syukurlah, akhirnya kami bisa tidur dengan nyaman. Bang Fian pergi meninggalkan kami karena keesokan harinya harus bekerja.

Hari bahagia ini menjadi petualangan yang sesungguhnya bagiku. Fatah yang mengemudikan motor dan aku menjadi navigator dengan bantuan GPS yang ada di handphone-ku. Kami sama sekali tidak tahu harus memulai dari mana. Di Ruteng, aku memutuskan untuk turun di jalan dan bertanya kepada dua orang polisi yang sedang bertugas. Beruntunglah seorang polisi yang bernama Bapak Dori mengantar kami melalui Satarmese yang diyakini jalan pintas menuju Wae Rebo. Bapak Dori adalah orang Timor yang sedang bertugas di Ruteng.

Bapak Dori dan Aku.

Bapak Dori dan Aku.

Kami mengikuti jalan yang lurus tanpa berbelok-belok hingga pada saatnya kami menuju lokasi yang sinyalnya kurang mendukung. Melewati jalan tanah berbatu dengan pemandangan langit biru yang beralaskan hamparan sawah cukup menyejukkan hatiku. Di setiap persimpangan jalan kami biasakan untuk bertanya kepada penduduk setempat agar segera sampai ke Wae Rebo. Perjalanan kami juga melewati jalanan di tepi pantai hingga ada papan petunjuk arah yang bertuliskan “Wae Rebo”. Rupa-rupanya pencarian kami akan berakhir. Wae Rebo terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai.

Kami tiba di homestay yang di dekatnya terdapat perpustakaan dan sekolah dasar yang sepertinya baru saja dibangun. Dengan meminta izin kepada pengurus homestay, motor kami titipkan di halaman parkir. Untuk menuju ke Kampung Adat Wae Rebo harus melakukan pendakian sejauh 9 KM. Cuaca yang berkabut menemani perjalanan kami. Awal-awal pendakian, jalanan dibentuk oleh batu-batu besar yang disusun. Cukup menguras tenaga. Ada pula gubuk kecil tempat pengrajin yang sedang merangkai ijuk untuk menutupi Mbaru Niang, sebutan untuk rumah adat Wae Rebo.

Ijuk-ijuk untuk Pembungkus Rumah Mbaru Niang.

Ijuk-ijuk untuk Pembungkus Rumah Mbaru Niang.

Udara segar dan suara-suara hewan hutan cukup menghiburku, rupanya Fatah mendaki lebih cepat. Aku yang tertinggal mengikuti jejak langkahnya sambil menikmati perjalanan. Kali ini jalan sudah berganti dengan jalan setapak dari tanah. Sesekali aku melihat pengunjung yang sudah turun. Sesekali pula aku melihat warga Wae Rebo turun. Anak-anak kecilnya juga membantu orang tua membawa hasil hutan mereka. Aku sedikit trenyuh melihatnya, mereka membantu orang tuanya ataupun mendapatkan pengetahuan dari luar desa harus turun sejauh 9 KM dan mendaki sejauh 9 KM untuk kembali pulang. Semua itu mereka lakukan dengan riang gembira tanpa beban.

Anak-anak yang Turun dengan Tersenyum.

Anak-anak yang Turun dengan Tersenyum.

Patok-patok yang bertuliskan jarak di samping jalan menyapaku hingga kutemukan Fatah di dekat jembatan yang dibuat dari anyaman bambu tanpa paku. Dia menungguku karena perjalanan sudah dekat. Kami tiba di sebuah gubuk kecil dimana kami harus mengetuk kentongan sebagai tanda bahwa ada pengunjung yang sudah dekat di Kampung Adat Wae Rebo agar mereka juga bisa bersiap-siap menyambut kami.

Jembatan Bambu.

Jembatan Bambu.

Gubuk Penanda Tamu akan Datang.

Gubuk Penanda Tamu akan Datang.

Saat memasuki kampung adat Wae Rebo setelah 4 jam melakukan pendakian, aku melakukan kesalahan dengan memotret-motret rumah mereka. Aku ditegur oleh seorang pemuda yang bernama John. Meskipun tak tercantum dengan jelas dalam pemberitahuan tertulis namun itu kurang diperkenankan karena yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah mengunjungi ke rumah Gendang untuk melakukan upacara penghormatan leluhur (Waelu’u). Upacara berlangsung secara sederhana, kami ditanya tentang maksud dan tujuannya mengunjungi tempat ini. John sebagai wakil kami dalam upacara tersebut, kami memberikan sedikit yang kami miliki sebagai simbol datang dengan persaudaraan. Tetua adat berkata-kata dengan bahasa adat dan John yang membalasnya secara simbolik. Kamipun diperbolehkan melakukan aktivitas di tempat terpencil ini karena kami juga dianggap sebagai warga Wae Rebo. Anehnya seketika kami keluar, kabut yang menyelimuti juga berangsur-angsur menghilang.

Kabut Tebal Ketika Kami Datang.

Kabut Tebal Ketika Kami Datang.

Berikut denah Mbaru Niang : (Sumber : id.wikipedia.org)

  • tingkat pertama disebut lutur digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga
  • tingkat kedua berupa loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari
  • tingkat ketiga disebut lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan
  • tingkat keempat disebut lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan,
  • tingkat kelima disebut hekang kode untuk tempat sesajian persembahan kepada leluhur.
Denah Mbaru Niang (sumber: id.wikipedia.org)

Denah Mbaru Niang (sumber: id.wikipedia.org)

Aktivitas anak-anak yang ada di sini cukup beragam. Ada yang bermain sepakbola dengan bola plastik dan ada yang sedang bermain dengan karet gelang. Sebut saja permainan dengan karet gelang itu adalah sebutan “tiup karet gelang”. Permainan ini cukup unik dan sederhana dilakukan oleh 2 orang atau lebih. Masing-masing anak memiliki satu karet gelang, setiap giliran mereka meniup karet gelangnya dan pemenangnya adalah karet gelang yang mereka tiup berpindah tempat di atas karet gelang lawan.

Permainan Tiup Karet Gelang.

Permainan Tiup Karet Gelang.

Kami masuk ke dalam rumah yang biasa dipakai untuk bercengkrama dengan pengunjung yang lain. Makanan ringan dan segelas kopi hangat membantu mengakrabkan pemuda setempat dan antar pengunjung. Aku pun melangkah keluar untuk menikmati kehidupan di luar rumah hingga pada akhirnya aku dipanggil lagi oleh Fatah untuk kembali masuk ke dalam rumah. Aku kurang menggubrisnya karena sedang mengambil gambar dan beberapa tulisan untuk orang yang kusayang. Fatah kembali menghampiriku dan mengajakku masuk. Oh ternyata aku membuat kesalahan, sikapku membuat pemuda dan pengunjung yang tadi menungguku untuk makan. Ternyata kebiasaan mereka adalah makan bersama, jika ada satu orang yang belum datang maka mereka tidak diperkenankan untuk makan. Wah budaya ini cukup kuapresiasi dengan baik.

Masakan yang nikmat ini dibuat oleh “warga dapur”, sebutan bagi ibu-ibu yang berada di rumah belakang. Rumah kecil itu berfungsi sebagai dapur dengan tungku bakaran sederhana. Aku mengisi daftar pengunjung dan aku adalah pengunjung dengan nomor urut 1.171. Ada pula surat pernyataan tamu atau pengunjung. Surat pernyataan itu berisi bahwa pengunjung wajib mengikuti upacara penghormatan leluhur ketika datang, berkontribusi memberikan sumbangan sejumlah Rp 200.000,- bagi yang langsung pulang dan Rp 325.000,- bagi yang menginap, dan yang terpenting adalah pengunjung wajib menghormati etika yang berlaku.

Warga Dapur.

Warga Dapur.

Kami semua selesai makan lalu aku kembali keluar melihat anak-anak bermain. Sebagian dari kami ikut bermain bersama anak-anak. Aku lebih menikmati untuk mengamati kehidupan masyarakat setempat. Ada yang sedang menjemur biji kopi. Sepertinya kopi buatan mereka cukup menarik untuk dibawa pulang ke rumah. Aku pun mengajak John untuk menemaniku membeli kopi arabika dan kopi robusta di rumah yang menjual oleh-oleh. Selain kopi, di sana juga ada kerajinan seperti gelang, kain tenun, dan beberapa kerajinan lainnya.

Menjemur Biji Kopi.

Menjemur Biji Kopi.

Kain Tenun.

Kain Tenun.

John dan aku.

John dan aku.

Kopi Hasil Olahan Masyarakat Wae Rebo.

Kopi Hasil Olahan Masyarakat Wae Rebo.

Tetiba John kembali menyapaku dan berpamitan untuk pergi memetik kopi ke hutan. Waktu juga menunjukkan pukul 5 sore. Kami juga harus pulang karena esok lusa sudah harus kembali lagi ke Kupang dengan pesawat dari Garuda Indonesia. Seperti awal diterima dengan baik di rumah Gendang, kami juga harus berpamitan dengan sopan.

Destinasi Impianku, Wae Rebo.

Destinasi Impianku, Wae Rebo.

Kali ini jalanan sejauh 9 KM kami tempuh selama 2 jam karena hanya turunan saja. Kami pun bergegas kembali ke Ruteng dengan jalan yang sudah gelap dan dingin. Syukurlah GPS-ku mendapatkan sinyal agar bisa kembali ke penginapan. Jalan pulang kami berbeda dari jalan semula. Kami melewati Dintor yang ternyata memutar agak jauh namun sinyal terus mendukung. Sekitar 3,5 jam selama di perjalanan, akhirnya sampai juga di penginapan untuk tidur semalam.

Syukur puji Tuhan perjalanan kami berjalan dengan lancar hingga kembali ke Kupang. Kami  berterimakasih kepada Abah dan sekeluarga atas kehangatan yang diberikan. Terima kasih pula kepada Garuda Indonesia yang sudah mengantarkanku menemukan destinasi impianku ke Wae Rebo.

Bandara H. Hasan Aroeboesman.

Bandara H. Hasan Aroeboesman.

Garuda Indonesia blog competition

JT 2015 22-28 Juni

Advertisements

4 responses to “Garuda Indonesia Antarku Temukan Wae Rebo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s