Dibalik Hujan Angin di Pantai Watulawang

Pantai Watulawang adalah pantai yang berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. Pantai ini berada diantara Pantai Indrayanti dan Pantai Pok Tunggal. Konon katanya di tepi pantai ada goa yang dipakai untuk upacara adat sadranan pada bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Goa tersebut memiliki pintu batu yang merupakan petilasan dari Prabu Brawijaya V.

*****

Perjalananku kali ini adalah yang pertama kalinya camping dengan wanita. Eitss jangan berprasangka yang enggak-enggak dulu dong. Wanita baik ini bernama Nana biasa aku panggil tacik (kakak perempuan). Hahaha. Waktu dulu masih awal-awal tinggal di Jogja, tacik ini adalah salah satu sahabatku. Beberapa tahun sebelumnya aku dan Hendri membesuk di rumahnya. Dia menderita sakit yang langka, otot tendon di kedua kakinya putus secara misterius. Entah kenapa, dokter yang merawatnya di Malaka mengatakan mungkin terkena virus entah apa yang menyebabkan itu saat dia melakukan perjalanan keliling Asia Tenggara bersama Sven kekasihnya. Pada akhirnya harus naik ke meja operasi agar bisa berjalan lagi. Beberapa bulan harus bermesraan dengan kursi roda sesekali dengan kruk. Aku dan teman-teman yang lain memberikan penghiburan dan semangat kepadanya.

Tacik ini sekarang sudah sembuh meskipun bekas jahitan menjulang tinggi dari mata kaki hingga belakang betisnya. Hobi naik gunung akhirnya diurungkannya. Tapi dia tetap tegar dan percaya diri. Wah keren sekali kan! Cobaan yang dirasakan tak menghalanginya untuk bersikap baik kepada orang lain. Nah tacik ini adalah salah satu orang yang menjadi panutanku. Cieeee!!!! *ntar dilempar coklat*

Sudah agak lama janjian untuk camping bareng sama teman-teman, eh ternyata hanya tacik ini yang bisa. Ya sudah berangkat sajalah. Kami pinjam peralatan dan tenda di komunitas mapala (pecinta alam) yang ada di kampusnya dulu. Biar kurus begitu dan sudah menjadi alumnus, nama tacik masih diperhitungkan di komunitasnya. Keren toh!!! *dapet coklat lagi*

Perjalanan dari Jogja kota menuju Pantai Watulawang kami tempuh sekitar 1,5 jam dengan mengendarai sepeda motor. Awan hitam tebal menyelimuti perjalanan ini di sore hari. Sesaat kami sampai di tempat parkir, cahaya cukup minim untuk menuju pantai untuk mendirikan tenda. Kami berjalan kaki menuju ke pantai, tentu saja aku berjalan pelan-pelan. Tuh tacik baru aja sembuh, kagak boleh jalan menanjak yang terlalu dipaksakan. Di bawah warung, kami mendirikan tenda. Seperti biasa sambil menunggu tertidur, curhat cas cis cus bla bla bla gak jelas. Hahaha.

Tanpa terasa kamipun tertidur di tenda itu. Di tengah malam tetiba lampu senter terang dari luar menerangi tenda kami dan berteriak bangun bangun bangun. Kami terbangun karena air hujan tembus ke dalam tenda, ya basah semua dah. Sudah kepalang basah kehujanan, tenda kami angkat menuju warung. Weerrrrr dingin gaes! Ternyata malam itu ada badai yang disertai hujan. Sebagian yang camping di sana juga berteduh di warung. Eh ladalah gantian ganti baju dulu, pemilik warung menyediakan kamarnya di atas kepada orang-orang yang camping untuk beristirahat. Jadi seperti ikan pindang yang tidur berbaris.

Rupa-rupanya badai semalam menyapu awan-awan yang menempel di langit. Pagi ini matahari dapat bersinar dengan leluasa. Tenda dan segala isinya dapat ditinggal untuk dijemur hingga kering sembari menikmati indahnya langit biru dengan hempasan ombak. Butiran pasir putih menambah indahnya pemandangan yang terekam di dalam lensa mataku. Ku sempatkan melewati goa yang ada batu sebagai pintu masuknya. Tempat ini disakralkan oleh penduduk sekitar jadi pengunjung diharapkan untuk menghormatinya.

Tenda basah yang dijemur

Tenda basah yang dijemur

Langit dan lautnya biru. *abaikan orangnya* hahaha

Langit dan lautnya biru. *abaikan orangnya* hahaha

Si tacik

Si tacik

Salah satu sudut goa

Salah satu sudut goa

Jember Traveler Watulawang 05

Jember Traveler Watulawang 06

Jember Traveler Watulawang 07

Jember Traveler Watulawang 08

Matahari mulai menanjak menuju puncaknya. Setelah semua yang dijemur menjadi kering, kami kembali pulang ke Jogja agar tidak terlalu panas selama perjalanan. Untuk merayakan perjalanan yang melelahkan ini, kami mampir di rumah es krim Mirota biar adhem dikit. Di luar panas cuy!

Selalu ada hal yang tak terduga saat kita melakukan perjalanan.

JT 2014 22June

Advertisements

4 responses to “Dibalik Hujan Angin di Pantai Watulawang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s