Sejenak di Fort Rotterdam

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam. Hmmm seuntai kalimat di Kota Ujungpandang (Makassar) yang pernah terliang di telingaku saat di bangku sekolah. Walaupun tak cukup pintar dalam menimba ilmu namun kata itu masih terpahat dengan mempesona di candi-candi ingatanku.

Ini adalah salah satu pagi yang mengesankan dalam hidupku. Matahari yang terbit membelakangi Pantai Losari masih menyisakan berkas sinarnya. Sinar yang berkilauan saat menyentuh senyum sahabat-sahabatku menghangatkan kalbuku. Apalah arti matahari terbit jika kau nikmati sendiri? Apalah arti matahari tak sempurna namun memiliki banyak sahabat? Oh dunia memanglah tak sempurna. Oh dunia hanya tempat untuk bersyukur atas anugrah yang melimpah. Gumamku dalam hati saat mengikuti jejak sahabat-sahabatku menuju mobil yang telah kami sewa.

Perut yang sudah terisi oleh sajian masakan sebuah warung di salah satu sudut Pantai Losari menjadi bahan bakar tenaga dalam melakukan aktivitas di hari ini. Benar, waktu kami tinggal beberapa jam lagi di Kota Makassar ini. Hal tersebut dikarenakan kloter 1 dalam rombongan kami sudah terjadwalkan untuk kembali ke Surabaya melalui maskapai penerbangan Air Asia. Tentu saja, saat itu rute Makassar-Surabaya dan sebaliknya masih beroperasi.

Bapak sopir yang budiman masih setia dengan senyum sabarnya. Beliau mengantarkan kami ke Fort Rotterdam yang tak jauh dari Pantai Losari. Kedatangan kami seperti dua sisi mata uang. Loh kenapa? Ternyata kloter 1 dari rombongan kami sudah meninggalkan jejak kaki mereka di reruntuhan benteng ini sehingga antusias mereka pun biasa-biasa saja dan memilih untuk berfoto ria depan benteng. Sedangkan aku bersama kloter 2, memasuki benteng dan membeli tiket masuk.

Pintu gerbang masuk yang besar bernuansa bilah-bilah kayu dan bintik-bintik logam dengan warna hitam yang senada menjadi sebuah saksi sejarah yang menarik untuk diketahui. Benteng Ujung Pandang yang menyerupai seekor penyu ini dibangun oleh Kerajaan Gowa Tallo pada tahun 1545. Penyu adalah hewan yang dapat hidup di darat dan lautan. Jadi apa hubungannya penyu dengan Kerajaan Gowa Tallo? Penyu adalah simbol harapan Kerajaan Gowa agar berjaya di darat maupun lautan. Tentu, benteng yang orang Gowa sebut sebagai Benteng Panyyua itu bukan saja sebuah simbol harapan. Benteng ini adalah saksi bisu kejayaan pasukan katak Kerajaan Gowa selama satu abad lebih. Meski peralatan tempur tak secanggih pasukan TNI atau U.S. Navy SEAL, pasukan katak Kerajaan Gowa ini dapat mengamankan jalur perdagangan di Indonesia bagian Timur bahkan bangsa Eropa yang ingin menguasai pun gemetar ketika bendera Kerajaan Gowa berkibar mendekati kapal perang mereka. KEREN!

Seketika kami melewati lorong-lorong yang berada di samping gedung utama, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang membuatku penasaran. Mengapa Arung Palakka yang adalah Sultan Bone kok tega-teganya bersekutu dengan VOC (Belanda) ? Mengapa harus bersekutu untuk melawan Sultan Hasanuddin dari Gowa? Bukankah Arung Palakka adalah putra Nusantara juga? Benar, Arung Palakka adalah putra Nusantara juga. Namun dibalik semua itu, ada kepahitan dan dendam kesumat yang meracuni jiwanya. Kepahitan yang diciptakannya karena Kerajaan Bone yang ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa saat ia berumur 8 tahun. Ia beserta puluhan ribu rakyat Bone dibawa ke Gowa untuk dipaksa membangun kanal pertahanan Kerajaan Gowa untuk menahan gempuran VOC. Ia yang tumbuh dewasa bersama dengan pasukannya melawan Kerajaan Gowa hingga akhirnya harus mengakui kekuatan pasukan Sultan Hasanuddin. Arung Palakka beserta pasukannya melarikan diri ke Batavia (Jakarta). Arung Palakka menjadi orang yang diasingkan dari Suku Bugis Bone dan dari tanah kelahirannya sebagai orang yang terusir. Kepahitannya pun menjadi hitam pekat mengalir ke seluruh penjuru urat nadinya. Arung Palakka yang malang-melintang di Batavia bermetamorfosis menjadi petarung jalanan. Dengan sebilah badik tajamnya, ia tak segan-segan melibas leher lawan yang berani menantangnya. Arung Palakka beserta kawanannya menguasai kawasan di pinggir Kali Angke yang disebut Toangke (Orang Angke) dan menjadi salah satu kelompok yang ditakuti di Batavia.

Kaki kami melangkah melewati tepi lapangan berumput hijau dengan bunga-bunga yang mewangi dengan ujung jalannya terdapat tugu berpondasi sebuah lambang singa yang menoleh ke kanan. Kuat dugaanku itu adalah simbol dari negara Belanda yang dibawa oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kongsi dagang Belanda yang menjadikan VOC sebagai negara dalam negara karena dibiayai dan difasilitasi oleh negara serta memiliki keistimewaan untuk melakukan monopoli perdagangan di Asia. Tugu ini bukan cerita tentang VOC atau tentang kebesaran pasukan Belanda, tapi kisah perjalanan dari anak pedagang dari Rotterdam Belanda yang bernama Cornelis Janzoon Speelman.

Cornelis semasa mudanya belajar dagang di Pelabuhan Rotterdam yang berangsur-angsur mulai ramai dengan perdagangan rempah-rempah. Sebelumnya Belanda mengalami kelangkaan rempah-rempah khususnya lada yang harganya melambung tinggi, hal ini disebabkan oleh Portugis yang menguasai lada memilih untuk bekerjasama dengan Jerman dan Spanyol yang saat itu sedang berperang dengan Belanda. Cornelis di masa umur 16 tahun ia memutuskan menjadi pegawai VOC berlayar ke Hindia Belanda (Nusantara). Karir Cornelis terbilang cemerlang. Di tahun keduanya, ia sudah naik jabatan menjadi boekhouder saat tiba di Batavia. Tepat 3 tahun berkarir di VOC, ia kembali naik jabatan menjadi Underbuyer atau onderkoopman di tahun 1648. Nasib mujur terus menaungi Cornelis, di tahun 1649 ia memangku jabatan sebagai Sekretaris Dewan Hindia Belanda dengan tugas melakukan pelayaran ke Persia bersama Duta Besar Joan Cunaeus untuk bertemu dengan Shah Abbas II. Meskipun memiliki jabatan Buyer atau koopman saat kembali ke Batavia, Cornelis memutuskan untuk resign dari VOC. Ah rupa-rupanya ia jatuh hati pada putri dari Ontvanger-Generaal (Jenderal-Penerima) di Hindia Belanda. Petronella Maria Wonderaer adalah nama gadis belia berumur 15 tahun saat dinikahinya. Wah jaman dahulu ternyata ada pernikahan dini toh!

Sudah beristri, pasti punya kewajiban mencari nafkah dong! Cornelis berkarir di kantor juru tulis perusahaan dan kantor tata administrasi. Hingga tahun 1661, ia menjadi schepen van Batavia atau senator lokal. Nasib nahas mulai menjerat Cornelis. Niat tulus membeli berlian untuk belahan hatinya, eh istrinya tidak suka dan menolaknya. Istri yang baik pasti menolak pemberian tersebut jika tahu bahwa hadiah itu didapatkan dengan cara yang kurang benar. Ujung-ujungnya tindakan Cornelis ini diketahui oleh Pemerintah Belanda. Alih-alih akan diangkat sebagai gubernur, eh malah mendapatkan skorsing 15 bulan dan denda 3.000 gulden. Nama baiknya tercoreng dan membuatnya diperlakukan seperti orang asing. Oh kepahitan, oh lagi-lagi dendam, oh lagi-lagi gelap mata, oh lagi-lagi gelap hati.

Cornelis yang dikucilkan dari pergaulan VOC mau tak mau berpikir keras untuk mencapai ambisinya untuk menjadi penguasa. Ia bertemu dengan Arung Palakka dan Kapiten Jonker membentuk aliansi layaknya Three Musketeers demi untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. Ketiga petarung gelap hati ini sama-sama berangkat dari kepahitan dan dendam karena menjadi orang yang terasing untuk memulihkan nama baiknya. Aliansi ini menjelma menjadi kekuatan yang mematikan, bahkan VOC sendiri merasa ketakutan.

Pada tahun 1666, Cornelis memimpin armada perang untuk melawan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin Si Ayam Jantan dari Timur. Kedatangan Cornelis juga didampingi oleh pasukan Arung Palakka yang sejak lama menyimpan dendam pada Sultan Hasanuddin. Tandem ini berhasil mengalahkan Kerajaan Gowa dan memaksa Sultan Hasanuddin untuk menandatangani Perjanjian Bongaya di Desa Bongaya Gowa pada 18 November 1667. Perjanjian ini sebenarnya adalah pengakuan kekalahan Kerajaan Gowa atas VOC. Wah wah perjanjian modul PHP ternyata. Perdagangan rempah-rempah dimonopoli oleh VOC, kerajaan dan bangsawan diminta untuk membayar upeti yang mahal, dan benteng-benteng pertahanan Kerajaan Gowa yang masih kokoh berdiri juga diambil alih. Salah satu benteng yang diambil oleh VOC adalah Benteng Ujung Pandang, Cornelis mengganti namanya menjadi Fort Rotterdam. Hmm sebuta-butanya hati, rupa-rupanya Cornelis rindu dengan tanah kelahirannya. Rindu dengan kota yang berasal dari lumpur yang dibendung. Rindu dengan kehangatan tawa sahabat kecil dan keluarga. Rindu dengan kota yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya saat berdiri di dek kapal Hillegersberg menuju Hindia Timur.

Ambisi mengusai Nusantara bersama kedua sahabatnya itu membuat Cornelis melupakan anugerah terindah yang dimilikinya. Cornelis melupakan keluarga tercinta. Petronella tak kuat lagi menanggung deritanya sendiri. Johan Speelman malang yang berumur 11 tahun harus merelakan kedua orang tuanya yang bercerai pada tahun 1675.

Ketiga petarung beserta pasukannya yang besar ini memiliki andil yang besar dalam masa keemasan VOC. Banyak kerajaan-kerajaan yang takluk pada mereka. VOC tak kuasa lagi untuk mengangkat Cornelis sebagai Gubernur Jendral pada 1681. Namun kejayaannya hanya sebentar hingga akhirnya skandal korupsinya terungkap luas ke massa hingga petinggi-petinggi Kerajaan Belanda. Pada 1684, Cornelis Janzoon Speelman menghembuskan nafas terakhirnya di Batavia sebagai seorang penjahat bangsanya sendiri dan seluruh harta bendanya disita. Sungguh malang dan berakhir tragis. Kisah hidupnya harus ditutup dengan lembaran hitam yang kelam.

Tak terasa perjalanan kami dari atas benteng dan tiba di depan Museum La Galigo yang interiornya dirawat dengan baik. Museum ini terdapat catatan sejarah dan barang peninggalan sejarah dari daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Waktu pula yang menghentikan perjalanan kami di Fort Rotterdam. Kami harus mengantarkan teman-teman ke Maros untuk kembali pulang ke rumah masing-masing di Jawa Timur.

Dinding benteng

Dinding benteng

Pintu masuk benteng

Pintu masuk benteng

Salah satu lorong benteng

Salah satu lorong benteng

Taman dengan rumput yang hijau

Taman dengan rumput yang hijau

Bunga kertas di salah satu sudut benteng

Bunga kertas di salah satu sudut benteng

Tugu kecil berlambang singa

Tugu kecil berlambang singa

Gedung di dalam benteng

Gedung di dalam benteng

JT 2013 23September

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s