Hangatnya Golden Sunrise Puncak Sikunir

Jumat sehat seperti biasanya kami luangkan waktu untuk olahraga. Masih sama dengan sensasi pijat plus-plus pada umumnya yang bikin senam jantung tapi berbeda yang kami lakukan ini sesuai dengan motto olahraga jaman jaya Indonesia di masa cerita wayang khas Nusantara dengan lakon Pak Soeharto dengan Keraton Cendana-nya. Men sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Katanya… Hehehe. Alih-alih sibuk memikirkan nasib rakyat, eh nasib diri sendiri gak keurus. Loh emangnya pemerintah atau anggota dewan kok mikir nasib rakyat tapi kok gak elit gitu tampangnya? Namanya juga aktivis, semuanya serba tipis. Boro-boro mikir elit, mikir tampang aja perut uda melilit. Ehhh. Aktivis mah gitu orangnya. Hehehehe.

Kami meneladani olahraga dari Mas Cristiano Ronaldo dan Cak Lionel Messi. Meski arena gladiator ukuran mini tak semini celana gemes, tak semegah Stadio Bernabeu Madrid atau San Siro Milan tapi rumput sintetisnya sudah sehijau rumput dari Pulau Sumba. Iya Pulau Sumba tempat syutingnya film Pendekar Tongkat Emas, bukan pendekar tongkat ali. Hahahaha itu mah nama obat greng!!! Lapangan futsal di Jalan Pandega Marta, Sleman, Jogja jadi saksi kesaktian kami. Namanya juga atlit karbitan, belum pemanasan aja sudah bergaya seperti atlit profesional. Nendang bola kenceng-kenceng kaya tendangan Roberto Carlos yang bolanya lari seperti formula one Ferrari. Kenceng wusshh wusshh bablas angine! Tiba-tiba terdengar suara “Aaaahhhh!!!”, itu bukan suara seorang pria yang melepas konak. Tolong jernihkan pikiran anda! Huehehehe. Tapi jeritanku karena otot paha yang cedera ketarik. Bukankah Mas Cristiano Ronaldo dan Cak Lionel Messi juga pernah cedera? Lagi-lagi namanya juga atlit karbitan.

Aku khilaf!!! Aku khilaf!!! Niat hati ingin sehat eh malah sakit. Dasar ceroboh! Gerutuku sambil jalan terpincang-pincang ala Al Pacino. Meskipun terpincang tapi masih tetap bermartabat. “Bagaimana kakinya Ron?”, tanya seorang teman. Tentu saja jawabannya “Ah gak apa-apa”. Hahahaha sombong!!! Padahal kaki kanan sakitnya minta ampun, gerutuku lagi dalam hati.

Di saat matahari terbenam aku mengirimkan message via Whatsapp ke Tyas bahwa Al Pacino ini membutuhkan koyo atau gel pereda nyeri. Dia ini awalnya kuanggap sebagai Srikandi dari Kerajaan Pancala yang perkasa menaklukkan medan perang. Salah! Ekspetasiku terlalu kurang mendasar. Setelah kulino, ternyata dia adalah Gatotkaca betina yang melibas gunung-gunung dan jalanan terjal di sejumlah kawasan di Pulau Jawa. Lebih perkasa dari seorang Srikandi, namanya juga Gatotkaca binti Bima. Iya Pak Bima dari geng Pandawa yang dengan kuku pancanakanya melibas hutan Wanamarta dalam sekejap. Blesss!!! Pohon-pohon di hutan Wanamarta bertumbangan! Memang kuku ini lebih tajam daripada band saw (gergaji mesin). Tolong digarisbawahi! Pak Bima ini bukan pelaku pembalakan liar kayu Perhutani yang ada di Situbondo.

Ting!!! Ada notifikasi Whatsapp yang hinggap di HP Samsung bututku. Eh ladala Gatotkaca betina ini cepat amat sudah sampai di depan kost ku dengan membawa koyo Salonpas dan Counterpain. Pertama-tama kutempelkan dua lembar koyo ini, kok belum terasa apa-apa. Ini kulit emang kulit badak atau emang koyonya kurang sakti mandraguna. Ah tambah aja dengan gel Counterpain. 5 menit! 10 menit! 15 menit! Emmmm rasanya nikmat sekali, nyerinya reda serasa ada balok es yang menempel di kulitku. Nyesss!!!

Si Gatotkaca betina ini mengajakku ke Candi Sukoh di Karanganyar. Sukoh? Hmm serasa tak asing di telingaku. Sukoh… Hmmm itu nama sahabat Avatar Aang dan juga seorang pangeran dari negara api. Langsung kutolak mentah-mentah tawaran itu. Kusarankan untuk menyusul Bang Yoseph dan Reindro yang sedang menyusuri Dieng. Bang Yos dan Reindro ini kemana-mana selalu berdua. Kerja berdua, kosan berdua, makan berdua, berantem berdua, tidur … ??? Intinya kedua orang ini selalu berdua seperti Thomson dan Thompson dalam Petualangan Tintin.

Loh loh tunggu sebentar! Atas dasar apa Tyas ini mengajak jalan-jalan ke tempat yang dingin? Rupanya cukup mudah membaca running text yang keluar dari pikirannya. Gatotkaca betina ini ingin menguji plat besi yang tertanam di dalam pahanya, kalau kena dingin apa sakit. Loh loh tunggu sebentar! Gatotkaca betina ini bukan cyborg Frankie temannya Luffy Si Topi Jerami kan? Ya tentu bukan. Sesakti-saktinya Gatotkaca pada akhirnya nyungsep juga. Otot kawat tulang besi Gatotkaca akhirnya kalah juga dengan kantuk. Dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Pringgodani di Purworejo, Gatotkaca ini mabur dan menabrak beton pembatas jalan. Oh sungguh malang Gatotkaca betina ini, selama 3 bulan penuh harus bercinta dengan sepasang tongkat dan dilarang untuk nge-trip. Wah pasti gerah juga seperti Angelina Sondakh yang sekolah di rumah tahanan KPK.

Sabtu menjelang sore kami berangkat dengan mengendarai motor dari Jogja ke Utara dengan pemandangan awan gelap yang ingin menangis. Suara dentingan gamelan Jawa khas Jogja lama-lama terdengar sayup dan menghilang. Hmm rupa-rupanya kami sampai di teras halaman dari Wangsa Syailendra. Gerbang menuju istana berarsitektur Budha Mahayana itu hanya menyapa kami yang hanya sekedar numpang lewat. Kok kami tidak kulonuwun melewati gerbang itu? Kok malah memilih jalan lain dengan hamparan hijau pematang sawah menuju Temanggung. Dengan tawa cengengesan, penumpang yang ada di depan punggungku itu mengatakan jalan yang ditempuh sudah benar. Kupercayai saja anggapan itu, harap maklum kalau aku kurang mengerti jalan di Jawa Tengah.5148

Dalam perjalanan dari Temanggung menuju Wonosobo, kutemukan seluruh penghuni Kebon Binatang Gembiraloka yang ada di Jalan Wonosari Yogyakarta. Benar sekali bukan sebuah fatamorgana di sore hari. Benar sekali tak kutemukan dalam penglihatanan atau dalam gelembung-gelembung udara anganku. Kutemukan seluruh penghuni Bonbin Gembiraloka dalam setiap kata yang terucap dari mulutku sebagai ungkapan kekesalanku. Perjalanan yang seharusnya lebih dekat ternyata menjadi jauh karena salah jalan. Eh cilakaknya penumpang ini mengaku kalau hanya sekali ke Dieng dan kurang tahu jalan. Wah wah paradoks sekali dengan tawa cengengesannya tadi. Jadi ini lakonnya orang buta menuntun orang buta. Duh duh duh piye iki? Yo wes dijalani saja meskipun lagi-lagi kutemukan penghuni bonbin di sepanjang jalan. Lagi-lagi kutemukan dalam ucapan mulutku.4248

Akhirnya hangatnya mie ongklok dan nikmatnya taburan bumbu kacang pada sate sapi menjadi penghibur perjalanan yang dingin ini. Kami istirahat di kawasan penghasil tempe kemul, Wonosobo namanya. Rupa-rupanya perjalanan ini sudah hampir sampai.

Paradoks dengan positive thinking-ku. Perjalanan yang hampir sampai ini menjadi rupa-rupa warnanya ala lagu balonku. Perjalanan ini membuatku sedih ketika liriknya meletus balon hijau. Dorrrr!!! Bukan ban bocor. Bukan pula motornya mogok. Tapi perjalanan ini disambut dengan suntikan kabut tebal dan tamparan hujan yang deras. Hujan pun berhenti, kemudian turun lagi, dan seterusnya seperti kisah cabe-cabean yang pacaran putus nyambung putus nyambung. Eh di pertengahan jalan kami harus menepi ke kiri. Ada apa ya? Ini bukan jembatan timbang kan? Saat ku toleh ke bawah, oh rodanya masih dua bukan empat, enam, atau sepuluh. Saat ku toleh ke belakang, oh ternyata aku tidak membawa gerobak. Huehehehe. Ban masih OK, motor juga masih OK, surat-surat berkendara juga lengkap. Cuma pos pemeriksaan pintu masuk. Untuk memasuki negeri di atas awan ini dikenakan tiket masuk. Untungnya ada rombongan yang juga naik sepeda motor yang membayar tiket masuk dengan tarif rombongan. Namanya juga Si Kancil anak nakal dengan berbagai ide, aku merapat di belakang rombongan dan melaju tanpa membayar tiket masuk. Hahahaha. Kancil !!! Kancil !!! Kancil !!!

Jalanan masih terus menanjak meski kabut dan hujan deras menerpa tetap saja harus mengendarai dengan kecepatan rendah. Motor matic buat goncengan di jalanan emang gitu dah. Sesekali berteduh, mengisi bahan bakar, sambil mendekatkan diri ke api unggun tempat beberapa pemuda berkumpul. Sesekali berhenti di meeting point pendakian Gunung Prau untuk sekedar minum wedang jahe. Oh ini toh negeri di atas awan! Kawasan komunitas rasta teman dari Bob Marley dan Steven and Coconut Trees. Komunitas yang identik dengan rambut gimbal dengan musik reggae yang mengajak tubuhmu untuk bergoyang dalam fantasiku. Di negeri ini komunitas rambut gimbal juga dipuja dengan cara yang berbeda. Rambut gimbal mereka adalah alami bukan hasil rambut digulung yang dipanggang. Pemilik rambut gimbalnya adalah seorang anak-anak yang dipuja sebagai orang suci layaknya Batara. Lantunan lagunya berasal dari saxophone dan ornamen musik khas jazz di atas awan. Hmmm sayang sekali untuk dilewatkan.5296

Hingga kemudian sampailah kami di kawasan serba lima ribu. Sumpah bukan pasar yang sedang banting harga dan banjir diskon! Untuk masuk bayar lima ribu, bayar parkir lima ribu, dan untuk mendirikan tenda juga bayar lima ribu. Sampailah kami di sebuah danau yang indah dengan kilauan cahaya bintang. Bukan Ranu Pane atau Ranu Kumbolo. Danau tertinggi di Dieng ini bernama Danau Cebong yang terletak di Desa Sembungan. Selesai juga perjalanan mengendarai sepeda motor dari Jogja pada jam 3 sore hingga jam 9 malam. Punggung sudah seperti reruntuhan Candi Arjuna saat pertama kali ditemukan. Pantat sudah terasa pegal, bahkan untuk goyang dumang pun sudah tak sanggup. Kutemukan tenda tempat Bang Yos dan Reindro di camping ground. Akhirnya!!! Fiuuhhh!!!5429

Nikmatnya kopi panas. Hmm!! Kicauan ketiga temanku dari luar tenda serasa dongeng yang diceritakan oleh Bu Kasur mengantarku tidur. Aku tidur di dalam tenda terlebih dahulu sambil merapikan kotak-kotak Tetris di punggungku.5433

Pukul 02.00 dini hari. Aku terbangun, terdengar suara gaduh dari luar tenda. Apa yang mereka lakukan di luar sana? Bukan rasia pasangan mesum kan? Toh surat-surat identitas lengkap dan kami tidur berempat dalam bungkus sleeping bag masing-masing. Kulihat Thomson, Thompson, dan Gatotkaca betina juga terlelap di dalam tenda. Ah biarkan saja suara gaduh itu seperti gonggongan suara anjing saat kafilah terus berlalu.

Pukul 03.30 dini hari. Aku kembali terbangun. Kali ini terdengar sayup suara jangkrik dari dengkuran teman-temanku. Hmm hanya aku saja yang akan mendaki Puncak Sikunir. Thomson dan Thompson sudah kecewa dengan sunrise di Sikunir, kemarin mereka mendaki di saat awan gelap mendung menutupi layar bioskop pertunjukan matahari terbit. Kuberanikan diri untuk berusaha mendaki sambil membawa permen dan sebotol air minum 600mL. Perlahan-lahan kuikuti jalur pendakian, meskipun terlihat mudah hanya 2.565 mdpl tapi kalau didaki dengan kaki yang cidera itu ya cukup menantang juga. Jalur pendakian sudah mulai padat, jalan setapak pun layaknya anak-anak itik yang berbaris rapi. Aku berhasil juga naik ke puncak Sikunir. 5427

Loh mataharinya mana? Layar bioskop pertunjukan matahari terbit belum dimulai. Mungkin terlalu dini untuk sampai di puncak. Ya tidak apa-apa lah, aku duduk di sebuah batu sambil tertidur tertiup angin dingin semilir. Brrrrr! Dinginnya menembus jaketku dan menggigit pori-pori kulitku.

Pukul 05.00 pagi. Rona-rona langit berubah menjadi kemerahan pertanda bioskop dengan judul “Golden Sunrise Puncak Sikunir” sudah dimulai. Kulihat notifikasi di handphone-ku, hmm ada yang comment dari teman di Path yang meragukanku naik ke Puncak Sikunir. Dia lupa bahwa aku adalah Al Pacino seorang gangster Italia-Amerika dalam film trilogi The Godfather. Meskipun jalan terpincang tapi tetap bermartabat. Hahahaha kurang ajar!

Di saat sinar matahari mulai membuka matanya dan memelukku dengan sinarnya hangat, tetiba ada seorang gadis yang meminta izin untuk duduk di sebelahku. Kursi batu tempat menonton bioskop ini hanya untuk berdua. Gadis berkulit putih berparas cantik ini kuketahui bukan Sinta dari Kerajaan Mantili, melainkan dari Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran. Tak ku tanyakan siapa namanya. Entah mengapa di gelembung pikiranku tertuliskan sebuah kisah video klip “Aku yang Tersakiti” dengan latar belakang di Monkey Forest Ubud saat Judika memotret Duma Riris dengan Ijonk, dan aku jadi monyetnya. Hahaha sialan!

Kusudahi saja dengan meninggalkan tempat dudukku yang nyaman ini dan memulai melangkahkan kaki untuk turun menuju Danau Cebong. Matahari sudah melambung tinggi ke angkasa pertanda film sudah berakhir. Original Sound Track (OST) film ini mengalun lembut ke gendang telingaku saat berada di dekat Danau Cebong. Bukan lagi suara reggae khas Bob Marley, bukan lagi suara saxophone Jazz di Atas Awan, namun alat musik tradisional dan perkusi dengan tembang-tembang populer khas Jawa.

Hotel berbintang seribu tempatku merapikan kotak-kotak Tetris dari punggung sudah terbuka, simbol penghuni yang lain sudah terbangun. Saat kuhampiri tenda itu, kopi dan mie instan sudah siap dimasak. Wuih nikmatnya hangat sinar matahari dengan senyuman para sahabat.5222

Menjelang sunrise

Menjelang sunrise

Garis sinar matahari sudah tampak

Garis sinar matahari sudah tampak

Golden Sunrise Sikunir

Golden Sunrise Sikunir

Salah satu sudut keramaian pengunjung di Puncak Sikunir

Salah satu sudut keramaian pengunjung di Puncak Sikunir

Pemandangan di sela menuruni bukit

Pemandangan di sela menuruni bukit

Orkestra lokal

Orkestra lokal

Pertunjukan perkusi

Pertunjukan perkusi

Danau Cebong

Danau Cebong

Reindro, Aaron, Tyas, dan  Yoseph

Reindro, Aaron, Tyas, dan Yoseph

JT 2015 04-05April

Advertisements

One response to “Hangatnya Golden Sunrise Puncak Sikunir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s