Cerita Rakyat Terbentuknya Telaga Thowet

Jember Traveler Telaga Thowet 05

TELAGA THOWET yang terletak di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta ini memiliki cerita turun-temurun yang cukup menarik untuk kita dengarkan dengan seksama.

Saat ini, Telaga Thowet tercatat sebagai salah satu SUMBER MATA AIR yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Ekosistem sekitar telaga juga dikelola dengan baik oleh kelompok petani hutan dan penduduk di desa-desa penyangga. Air di telaga ini dipakai untuk irigasi pertanian, pemandian hewan ternak khususnya sapi dan kerbau. Bahkan ketika musim kemarau tiba, air di telaga dipakai untuk mandi oleh penduduk sekitar.

Namun tidak pernah kita duga, bahwa telaga ini adalah sumber mata air buatan MANUSIA pada beberapa generasi sebelumnya.

Pada dulu kala hingga saat ini, material Gunungkidul yang sebagian besar berasal dari batuan kapur  / karst yang menyebabkan kekeringan di saat musim kemarau. Apakah mereka menyerah? TIDAK! Meskipun saat itu penduduk di sekitar masih menganut animisme dan dinamisme, Sang Kuasa masih memelihara serta membekali manusia dengan kemampuan dan kreativitas yang cukup mengejutkan. Kenapa? Pada jaman dahulu, teknologi dan peralatan mekanik masih belum ditemukan.

Mereka menggunakan kreativitas dengan sumber daya yang ada untuk membentuk mata air. Salah satu kunci keberhasilannya juga karena GOTONG-ROYONG dari penduduk.

Kawasan yang akan dipakai telaga buatan adalah kawasan hutan dengan POHON BULU (orang awam yang tidak mengerti jenis-jenis pohon akan menyebutnya dengan pohon beringin padahal itu tidak benar). Pohon-pohon tua yang besar ini membuat daerah tersebut menjadi teduh dan menjadi daerah resapan air.

Pohon Bulu

Pohon Bulu

Ada sebuah palung yang menyebabkan air resapan tidak dapat ditampung. Penduduk sekitar saling menyumbangkan BERAS KETAN. Kok beras ketan? Ya, beras ketan itu dikumpulkan dan dipakai untuk menyumbat palung dan tentunya disertai oleh doa-doa yang mereka yakini saat itu.

Sumber utama telaga ini adalah dari air hujan. Lantas bagaimanakan cara membendung supaya air dapat ditampung dan tidak merembes keluar. Mereka bergotong-royong membuat bendungan dengan menata batu-batu kapur yang begitu banyaknya di saat kemarau dan merekatkannya dengan tanah. Bertahun-tahun kemudian air tertampung menjadi sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan desa-desa penyangganya.

Jember Traveler Telaga Thowet 03

Jember Traveler Telaga Thowet 02

Saat ini jalan menuju Telaga Thowet sudah “mudah” dijangkau karena sudah dibuatkan jalan meskipun beralaskan batu-batu kapur ukuran kecil. Penduduk beserta beberapa lembaga swadaya masyarakat ikut membantu kelestarian telaga.

—–

Dokumentasi ini diambil saat ARuPA (Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam) mendampingi pelajar DREaM International Students Summer Program dari Universitas Gajahmada Yogyakarta untuk mengunjungi kelompok petani hutan yang ada di Desa Girisekar untuk belajar tentang Ecopreneurship.

Peserta DREaM bersama narasumber

Peserta DREaM bersama narasumber

JT 14 12Aug

Advertisements

2 responses to “Cerita Rakyat Terbentuknya Telaga Thowet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s