Gondola Pulau Timang dan Keramahan Nelayan

Hai gaes! Apa kabar? Ada yang sudah tahu Pulau Timang apa belum? Itu tuh wisata kereta gantung untuk menguji adrenalinmu! Kalau mau tau, ayo duduk manis dengarkan cerita dari kakak! Eeeehhh dikira pembaca dongeng!! Loh Pulau Timang itu di mana?

Lokasi Pulau Timang itu berada di Pedukuhan Danggolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. Perjalanan dari Jogja kota dengan mengendarai sepeda motor. Ya apa adanya lah ya, kalau ada motor ya digunakan aja. Kami berangkat pukul 6.30 pagi melewati Jalan Wonosari, Bukit Bintang, dan Kota Wonosari. Nah kita belok ke arah Pantai Wediombo. Tapi gak sampai bablas ke Wediombo-nya keles!!! Sebelum Pantai Wediombo itu kan ada Pantai Siung, lah terus jalan ke Pulau Timang di mana? Nah ini yang perlu KALIAN SIMAK BAIK-BAIK!

  1. Jika kalian emang mau get lost, ya udah ke sana aja sambil berbekal feeling dan ilham yang kalian terima.
  2. Jika kalian tanpa petunjuk yang jelas, kalian bisa tanya dengan penduduk sekitar. Sebelum Pantai Siung itu ada belokan yang ada lapangan berumput. Sepertinya sih lapangan bola. Tapi hati-hati kebablasan, jika kalian berkendara dengan kecepatan kencang. Harap maklum lah, petunjuk arahnya kecil bingit gaes!!! Mirip-mirip papan petunjuk arah yang biasa ada tulisannya “Rumah Ketua RT”. Hahaaha ya emang kecil.
  3. Smartphone for smart people! Nah ini yang aku suka dari smartphone, tinggal buka Google Maps doang search aja Pulau Timang, cari rute, ya tinggal ikuti aja. Kan ada fasilitas GPS!!! Tapi tetep kalau nyasar ya ujung-ujungnya nanya sama penduduk lokal. Kadang sih sebel juga sama travelmate yang punya smartphone tapi gak bisa pakai GPS, lah terus smartphone-nya buat apa? Motret sama sosmed doang?! Pliss deh, aku sering mbonceng temen naik motor sambil lihat GPS di handphoneku. Gookiiillll kan!

Jalanan berkelok-kelok seru untuk dijalani khusus buat kalian yang sudah Move On sih! Kami berteduh dulu di sebuah warung sambil membeli minuman mineral. HUJAAAANNN DERAAASSSS!!! Masa mau nekat nge-box ngikuti jalan sambil hujan-hujanan? Jalanan licin dan bisa basah kuyup. Meskipun move on tapi tetap harus safety riding gaes!! #CATET

5 km lagi kami (aku, Bang Yoseph, dan Reindro) akan sampai ke Pantai Siung, laaahh berarti kami kebablasan dong!! Anda benar!! *lempar pentol bakso buat yang jawab*

Kami putar arah ke arah Barat dan menemukan papan petunjuk kecil yang mengarahkan kami ke Pantai Timang. Awalnya jalanan masih beraspal, lantas kemudian beralih ke jalanan beton, dan yang terakhir adalah turunan dengan jalan dari susunan batu-batu kapur. Kalau kalian pakai kendaraan offroad sih aman-aman aja. Nah ini kita naik motor matic standar, ya bunyinya jadi jug gijag gijug gijag gijug seperti lagunya Juwita Bahar yang judulnya kereta malam. Tips dari aku nih, kalau naik motor menuju lokasi Pantai Timang, lebih baik pakai sarung tangan. Mengendarai motor melewati jalanan berbatu sambil menahan rem itu dapat membuat tangan kalian lecet atau luka.

Pintu Masuk

Pintu Masuk

Dua jam, iya dua jam. 8.30 kita sudah sampai di pos terakhir Pantai Timang, motor kami diletakkan di lahan parkir motor yang sudah disediakan. Emang lokasi ini biasanya dipakai untuk para mancing mania tradisional, jadi sebagian besar pengunjungnya yang mancing! Lah terus tujuan kita ke sini ngapain? Senin sampai Jumat itu waktunya kerja, weekend ya waktunya melihat dunia sekitar lah!!! Hahahahaha retorika banget!!

Pantai Timang dengan ombak yang kencang

Pantai Timang dengan ombak yang kencang

Sangat tertantang lah untuk naik gondola tradisionalnya tapi kita lagi kelaparan! Ya kita balik di gubuk yang ada tempat parkirnya tadi. Nah di sana ada Bapak Siswanto, Bapak Warsito, dan seorang bapak yang sudah sepuh. Mereka tidak segan-segan memberikan masakan hasil laut yang sudah dimasak.

Jember Traveler Pulau Timang 03

Jember Traveler Pulau Timang 04

Jember Traveler Pulau Timang 05

Tadaaaaaa!!!

Tadaaaaaa!!! Photo by : Yoseph Risi

Ayo makan! Sini makan bareng! Tapi apa adanya!

Wah tepat sekali dengan situasi perut kami yang lagi doyang dumang! Makan!!!!

Eittss eeiittss eitttsss ini makanan apaan?!!

Menu makanan nelayan tradisional ini adalah IKAN PATIN, KERANG LAUT (percayalah teman, ini makanan laut yang fresh dan enak banget), dan BULU BABI (makanan ekstrim ini tinggal dibelah badannya dan di dalamnya ada dagingnya yang “cukup” enak dikonsumsi, kalau beruntung di dalam badannya ada telur yang cukup keras)

Ikan Patin, Kerang, Bulu Babi

Ikan Patin, Kerang, Bulu Babi

Sambil ngobrol eh kita baru tahu kalau mereka adalah pengelola gondola tradisional tersebut. Lantas bagaimanakah awal ceritanya gondola sederhana di Pulau Timang itu kisanak??!!

Pada tahun 1997 ada Bapak Sarkojo yang saat itu berusia 75 tahun. Beliau bekerja di proyek bangunan di dekat Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Beliau pulang kampung ke Gunungkidul dan bertemu dengan Bapak Siswanto. Muncullah ide dari Bapak Sarkojo untuk membuat gondola sederhana, ide tersebut berasal dari kereta gantung yang ada di TMII. Akhirnya Bapak Siswanto mau dan memodali pembuatan gondola dengan 3 tali tambang tersebut.

Sertifikat lahan tersebut adalah milik Bapak Siswanto. Beliau beserta 5 orang sahabatnya membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) khusus mengelola wisata gondola tradisional tersebut. 20% penghasilan dari sewa gondola tersebut disisihkan untuk kas Dusun Danggolo dan Dusun Luwengombo. Sisanya untuk pengelola, maupun perawatan dan penggantian spare part dari gondola tersebut.

Harga yang dipatok untuk sekali nyeberang adalah Rp 150.000 per orang untuk wisatawan lokal dan $20 per person for foreigner (baca = untuk wisatawan mancanegara). Mereka juga menyediakan paket Pulau Timang dengan harga Rp 12 juta-an untuk 20 orang sudah include 25 kg masakan lobster! Beliau menyarankan jika ingin menggunakan fasilitas gondola dan menikmati hidangan lobster secara ramai, karena harus melakukan persiapan pada gondola tersebut maupun dalam penyiapan lobster-nya. Yang tak kalah penting, mereka juga patuh dengan keadaan cuaca. Pada prinsipnya mereka berani memberikan fasilitas gondola dengan KEAMANAN YANG UTAMA karena tidak ada asuransi yang disediakan. Intinya kalau ada yang ngeyel dan nekat, ya RESIKO DITANGGUNG PENUMPANG!

Untuk contact person (KHUSUS TELPON DAN SMS SAJA) yang bisa dihubungi untuk ke Timang adalah sebagai berikut :

  1. Bapak Warsito   : 082322377626
  2. Bapak Siswanto : 082328161813

Okay buat pembaca yang sudah baca dari awal, nih aku kasih bonus saat yang tepat untuk melihat nelayan yang mencari lobster di Pulau Timang. Nelayan ini menaruh perangkap pada jam 4 sore, dan akan mengambil lobster tangkapannya pada jam 4 pagi.

Lobster ini adalah hewan musiman kawan! Umumnya di Pulau Timang, mereka dapat ditemukan pada bulan November sampai Februari. Jika pada puncak musim lobster, nelayan dapat menangkap lobster sampai dengan 30kg per hari. Wauuuwww kan!!

Eh sesaat kemudian Pak Siswanto bilang, “Kalau mau coba masakan lobster bisa mampir di rumah saya, mas! Menantu saya pintar membuat masakan dari lobster.”

Akhirnya kami tergoda untuk mencoba masakan lobsternya.

Mau tau cerita tentang masakan lobster ala Pulau Timang, silakan ditunggu ceritanya!

See ya!!

Jember Traveler 15 25Januari

Advertisements

27 responses to “Gondola Pulau Timang dan Keramahan Nelayan

  1. Pingback: Lobster Saus Tiram ala Keluarga Nelayan Timang | Jember Traveler Indonesia·

  2. Mahal broo klw 150…tanpa asuransi..km kecebur.. gmna? Bwah mu karang dan ombak yg besar.
    Mohon bgi pgelola tgakatkan safety nya..
    Thankss..

    • Sebelum anda mengatakan mahal, sebaiknya anda datang ke sana dulu untuk melakukan survey sehingga anda akan menemukan jawabannya sendiri.

      Itu adalah milik nelayan penangkap lobster, bukan untuk wisata. Jika pengunjung masih ingin naik, ya itu resiko yang harus siap diterima.

  3. nice info memang rencana desember mau kesini, kalau dilihat dari fotonya pantainya masih bersih dan alami seperti belum terjamah orang lain apalagi nggak ada orang yang jualan, mantab nieh jadi nggak sabar nunggu bulan desember, terimakasih untuk infonya

    • Setahu saya tidak ada. Saya dulu ke sana naik motor. Kalau misalnya sekarang sudah ada, mungkin nanti berhenti sebelum Pantai Siung.
      Dari jalan utama ke Pantai Timang masih jauh. Jalannya juga masih kurang bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s