Pagelaran Tari Klasik di Puro Pakualaman (Bagian 1)

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”, begitulah quote yang meluncur keras dari Bapak Ir. Soekarno yang merupakan pendiri bangsa Indonesia. Makna kalimat itu berlaku luas namun mencintai keluhuran Indonesia, setali tiga uang dengan “Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang mencintai kesenian dari dalam negeri.”

Pagelaran tari klasik adalah sebuah mesin waktu yang membawa kita ke jaman dengan kisah epik yang sarat dengan arti-arti dan moral yang tinggi. Sebuah puncak jaman yang berkebudayaan yang tinggi pula. Tari-tari klasik ini meskipun sudah langka namun masih terpelihara hingga saat ini, sebuah apreasiasi yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia tersendiri.

Pagelaran tari klasik adalah sebagian dari festival seni budaya klasik yang dihadiri oleh 8 keraton yang ada di Pulau Jawa.

Berikut adalah tari-tari klasik yang sempat aku saksikan meskipun hanya sedikit yang aku tangkap dari pengetahuan dan pemahaman yang tersirat dari tarian tersebut.

SELAMAT MENYAKSIKAN!

—–

  1. TARI BEDOYO BEDHAH MEDIUN

Tari Bedoyo Bedhah Mediun adalah tarian yang sekilas lembut namun penuh makna. Ide tarian diangkat dari epos Panembahan Senopati, Raja pertama Mataram Islam ketika menyerang wilayah Madiun pada abad XVI silam.

Bupati Ronggo Jumpeno, penguasa Madiun menolak bergabung dengan Mataram dan memilih memberontak.  Ronggo Jumpeno kalah dengan Panembahan Senopati dan mengajukan putrinya yaitu Retna Dumilah untuk maju berperang. Meski perempuan, Retna Dumilah bersenjatakan cundrik Kyai Gumarang mengamuk membabi buta menumpas pasukan Mataram.

Akhirnya Panembahan Senopati berhadapan langsung dengan Retna Dumilah, peperangan diurungkan karena muncul benih cinta diantara keduanya.

Filosofi dari tarian ini adalah jika angkara murka, dendam, dan kesombongan dapat dileburkan oleh kasih sayang tulus tanpa rekayasa. Pencipta tarian ini adalah Hamengku Buwono VII.

Selain tarian ini dengan tempo super lambat dan anggun, ada yang cukup menarik dari tarian ini yaitu ada dua orang “abdi dalem” yang duduk manis sambil melihat penari-penari yang sedang melakukan pertunjukan. Apa tugas dari “abdi dalem” ini? Mereka akan mendekati dan membetulkan tampilan penari-penari jika ada properti dan aksesoris yang jatuh dari tubuh penari. Penari akan terus menari sedangkan “abdi dalem” akan membetulkan properti dan aksesoris. Cukup sulit kan rasanya jadi “abdi dalem”!

Tari Bedoyo Bedhah Mediun – Mangkunegaran

Jember Traveler Tari Klasik 01

Jember Traveler Tari Klasik 02

Tari Bedoyo Bedhah Mediun – Kasultanan Yogyakarta

Jember Traveler Tari Klasik 03

Jember Traveler Tari Klasik 04

Seorang "abdi dalem" memasangkan aksesoris penari yang terlepas

Seorang “abdi dalem” memasangkan aksesoris penari yang terlepas

  1. TARI BEKSAN JALER LANGER DRIYO dari PAKU ALAMAN

Tari Lelangen Beksan Jaler tersebut bersumber ide dari naskah Langen Wibawa yang berasal dari era KGPAA Paku Alam IV (1864-1878) dan KGPAA Paku Alam V (1878-1900) yang memuat berbagai catatan tari.

Tari tersebut digubah untuk menjunjung tinggi keluhuran nilai-nilai tradisi khususnya yang diungkapkan di dalam tari yang dibawakan oleh tujuh penari laki-laki.

Jember Traveler Tari Klasik 06

Adu Keris

Adu Keris

Jember Traveler Tari Klasik 08

BERSAMBUNG

Advertisements

10 responses to “Pagelaran Tari Klasik di Puro Pakualaman (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s