Bedog Art Festival 2014

Bedog Art Festival. Kupacu kuda besi kesayangan menghempas angin setelah matahari menutup mata. Jalanan aspal hitam dan lampu lalu lintas menyapaku di tengah hingar bingar kendaraan. Kendaraan yang sudah lama berlabuh di lahan parkir, sang tuan yang sedang mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mencari sekantung emas kini akan kembali pulang ke istana kecilnya. Cahaya lampu kota mulai memancarkan harapan, menghangatkan Jogja yang dilanda kebengisan dingin kemarau malam hari.

Jogja yang dari dulu kala terkenal dengan keramahan dan tempat sandaran hati, tak kutemui malam itu. Entah sibuk atau enggan menemaniku juga tak kuketahui dengan pasti, biarlah misteri itu menjadi harta karun yang tenggelam di dasar palung samudra kehidupan. Bunga di atas karang pun dapat mekar dengan indah tanpa ada yang menanamnya. Layaknya bunga itu lah dahagaku akan pengetahuan budaya. Aku membulatkan hati untuk menonton pertunjukan skala internasional itu seperti sebatang kara. Seakan hidup itu seperti aku, aku, aku dan dunia.

Ringroad barat menjadi saksi kegagahan kuda besi putih ini, lokasi yang akan kukunjungi adalah sebuah sanggar tari yang bernama Banjarmili yang berada pada jalan Kradenan. Sebuah perkawinan yang meriah antara manusia dengan alam yang terpadu menjadi seuntai kesenian tari dengan panggung artistik alami.

Sengaja kulewatkan waktu meletakkan punggung yang seharian berdiri tegak hanya tuk melangkah lebih awal mendapatkan singgasana kecil terbaik dalam menikmati Bedog Art Festival. Dengan melayangkan selembar uang dengan gambar tarian nusantara, aku menitipkan kuda besi di lahan warga yang pada saat itu beralih fungsi menjadi sebuah lahan parkir. Pintu masuk sudah ada berada di depan kedua mataku, warga sekitar menjajakan makanan dan minuman. Bedog Art Festival menciptakan lahan kecil di depan gerbang masuk Studio Tari Banjarmili tak ubahnya sebuah pasar malam yang hangat dengan senyuman. Sebuah senyuman kehangatan Jogja.

Panggung alam ini berada di tepi Sungai Bedog dengan sebuah mata air yang lestari dan ditumbuhi dengan aneka pohon yang mencegah tamu misterius yang bernama tanah longsor. Malam ini, tepi sungai menjadi sebuah langit berbintang seraya berada di negeri dongeng luar angkasa. Hamparan bintang tersirat dari lampu-lampu senthir, sebuah botol minyak tanah bersumbu yang dulu kala sebagai pelita jiwa orang-orang yang belum tercemari oleh listrik.

Dua sejoli mengabadikan moment bersama dengan background panggung yang indah, tak heran jika pertunjukan itu dipadati oleh mereka yang sedang memadu kasih di pagelaran romantis yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Bedog Art Festival 2014 menginjakkan usianya yang keenam tahun.

Martinus Miroto. Ya, nama itu adalah seorang master tari dan koreografi yang sekaligus sebagai founder dari Bedog Art Festival. Tak perlu diragukan lagi eksistensi Beliau dalam kancah tari internasional. Bakat besar tari mengantarkannya menimba ilmu tari serta menampilkan tari-tarian di seluruh penjuru dunia. Miroto Dance Company yang diciptakannya pada 1986 sudah tak asing lagi di telinga penikmat pertunjukan tari dunia.

Rangkaian pertunjukan kesenian di Jogja (baca : Festival Kesenian Yogyakarta / FKY) sebagian besar dinikmati oleh pecinta seni dengan cuma-cuma, semua itu berkat adanya support dana keistimewaan dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak hanya memanjakan warga yang aktif menjadi peserta dan penikmat seni, juga mengajak sahabat dan saudara dari segala penjuru daerah untuk kembali datang ke Jogja. Bukan menawarkan keriuhan kota metropolitan yang penuh dengan polutan, Jogja adalah narasi sebuah kota yang nyaman.

Bedog Art Festival menyajikan tari kontemporer dan tradisional, konsep selaras antara budaya modern dengan kultur budaya yang asri. Festival ini diselenggarakan 2 hari namun aku hanya bisa mengunjungi pada hari pertama karena keesokan harinya aku pergi untuk menyapa cakrawala di atas awan. Berikut adalah sedikit hasil tangkapanku dalam Bedog Art Festival 2014.

Panggung Bedog Art Festival

Panggung Bedog Art Festival

Pembukaan oleh Bapak Miroto

Pembukaan oleh Bapak Miroto

 

Tari pembuka dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Jember Traveler Bedog Art Festival 03

Jember Traveler Bedog Art Festival 04

Solo performance dari New Zealand

Jember Traveler Bedog Art Festival 05

Jember Traveler Bedog Art Festival 06

Dari Korea Selatan :

Jember Traveler Bedog Art Festival 07

Jember Traveler Bedog Art Festival 08

Jember Traveler Bedog Art Festival 09

Kolaborasi peserta dari Solo dan pemusik dari Korea Selatan :

Jember Traveler Bedog Art Festival 10

Jember Traveler Bedog Art Festival 11

Tari kontemporer “GAUN” :

Jember Traveler Bedog Art Festival 12

Jember Traveler Bedog Art Festival 13

Kolaborasi dari Korea Selatan dan Australia :

Jember Traveler Bedog Art Festival 14

Jember Traveler Bedog Art Festival 15

Dari Bali :

Jember Traveler Bedog Art Festival 16

Jember Traveler Bedog Art Festival 17

Penutupan dari Pacitan, Jawa Timur :

Jember Traveler Bedog Art Festival 18

Jember Traveler Bedog Art Festival 19

Jember Traveler Bedog Art Festival 20

JT 14 06Sept

Advertisements

11 responses to “Bedog Art Festival 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s