Orkestra Karawitan “Gelar Sandhing Gendhing” 2014

Yogyakarta boleh disebut sebagai kota budaya. Tak bisa dipungkiri jika budaya sudah mengalir di denyut nadi masyarakat.

Taman Budaya Yogyakarta – 9 Mei 2014. Dengan tema “Gemilang Nuswantara”. Orkestra karawitan ini pada mulanya kugambarkan dalam angan sebagai duel atau kompilasi dari beberapa ahli gamelan. Bahkan di ranah publikasi sosial media yang diusung adalah 5 orang ahli gamelan dari beberapa kabupaten di Yogyakarta. Namun saat ku duduk di barisan paling depan, semua anganku salah. Pemain gamelan ini adalah generasi penerus bangsa yang sedang menimba ilmu di bangku sekolah. 5 set gamelan sudah tertata dengan rapi, concert hall akan menjadi panggung pertunjukan dari 150 anak yang ingin menyalurkan rasa cinta budaya.

Sembari menunggu penonton yang datang, seorang bocah kecil di tengah panggung sedang mengalunkan dentingan gender (salah satu alat musik pukul pada gamelan) dengan lembut seakan mengajak pengunjung untuk mendekat ke panggung. Salut dengan para penonton yang datang, mereka berjuang meneteskan keringat hanya untuk mengantri menunggu pintu terbuka. Usaha yang membuahkan hasil ketika merasakan kesejukan di dalam gedung yang sudah berhiaskan mesin penyejuk ruangan.

Pembukaan

Pembukaan

Lampu-lampu panggung bergantian redup dan terang selayaknya pertunjukan seni budaya. Aku temui ada beberapa anak dari warga keturunan bangsa benua biru yang ikut serta menjadi pemain gamelan. Keceriaan mereka bertebaran menghibur insan kesepian di tanah perantauan sepertiku. Seakan mengajakku bermain dan tertawa bersama dengan senyum hangatnya.

Sinden cilik

Sinden cilik

Mereka terbagi dalam beberapa kelompok sesuai kelompok paguyuban di mana mereka belajar. Setiap kelompok mendapatkan porsi pertunjukan sendiri. Tak ada unsur kompetisi, para pemain gamelan yang masih usia dini memainkan pertunjukan dari hati mereka yang tulus.

Orkestra karawitan ini tidak hanya dikemas hanya dalam gendhing (alunan lagu) dari gamelan. Adapula tari-tarian dan nyanyian dalam bahaya Jawa.

Jember Traveler Orkestra Karawitan 03

Jember Traveler Orkestra Karawitan 04

Jember Traveler Orkestra Karawitan 05

Seakan masih mengingat warisan nenek moyangnya. Dari iringan alunan musik, ada anak kecil yang bermain wayang kulit. Terasa lucu ketika irama khas wayang kulit muncul dari kaki kanan yang menghentakkan logam dan kayu di sebelahnya, dalang kecil yang menggemaskan ini berliuk-liuk memainkan wayang kulit dan bak seorang dalang maestro sekelas Pak Manteb.

Dalang Cilik

Dalang Cilik

Aku terharu ketika ada gadis kecil yang termuda memainkan instrumen alat musik Jawa itu. Usia memang masih belum merasakan pahitnya kehidupan namun sudah handal bermusik. Ada rasa malu yang melilit benakku, gadis kecil itu jauh lebih hebat mencintai budayanya daripada aku.

Pemain Termuda berasal dari Bantul

Pemain Termuda berasal dari Bantul

Gelak tawa menghiasi ketika para lakon orkestra ini menyajikan sejuknya iringan gamelan dengan drama komedi yang ditampilkan semurni mungkin. Riuh tepuk tangan penonton terkumandang di setiap pertunjukan mereka berakhir.

Jember Traveler Orkestra Karawitan 08

Konsep acara ini digagas oleh Pardiman Djoyonegoro. Dari selebaran saat pendaftaran gratis di depan pintu, aku menemukan maksud dari tema Gemilang Nuswantara. Melalui gamelan, karya luhur anak bangsa dalam semangat mencapai kebesaran dan keluhuran martabat Nuswantara. Nuswantara tak lagi dunia namun Semesta. Layak dan sepantasnya gendhing bersanding tak lagi bertanding.

Komposer-komposer muda yang berpartisipasi adalah Jumrad (dari Komunitas “Bergoyo Menoreh” Kulonprogo), Saryanto (dari Komunitas “Tirta Kencana” Bantul), Chotiet (dari Komunitas “Gumalanging Tekad” Sleman), Roni (dari Komunitas “Ajisaka” Gunungkidul), dan Anon (dari Komunitas “Carajawen” Kota Yogyakarta).

Penggagas dan Komposer

Penggagas dan Komposer

Ketika orang umum mendengar tentang pertunjukan gamelan, mereka pasti melukiskan dalam benaknya sebagai obat tidur yang membuat mata terpejam. Aku heran dengan paradigma itu. Mereka kurang mengenal budaya negerinya sendiri atau budaya yang tak mengenal mereka.

Semoga tulisan sederhana ini memacu pembaca untuk mencintai budayanya sendiri. Sangat disayangkan ketika budaya dari tangis peluh para lelulur ini diambil oleh bangsa lain, bahkan suatu saat kelak mereka belajar budaya sendiri di negeri orang lain.

Sudahkah kalian mencintai budaya bangsamu sendiri?

Jember Traveler Orkestra Karawitan 10

TAMAT

JT 14 09May

Advertisements

4 responses to “Orkestra Karawitan “Gelar Sandhing Gendhing” 2014

  1. Aku cinta budaya bangsaku, tp apa dia juga cinta ama aku? Aaah, aku takut cintaku bertepuk sblh tangan, nanti aku jd galau trus pndh ke yogya.. #eehh kyanya mirip cerita seseorang 0_o”

  2. Keren..masih banyak generasi muda yg minat main gamelan sekaligus melestarikan budaya..itu kemarin lucu banget anak kecil yg pake kostum spiderman.. 😀
    btw salam kenal, JT..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s