Lantunan Darma Waisak di Candi Sewu

Detik-detik Waisak

Detik-detik Waisak

Waisak. Tahun 2013. Ketika hari raya umat Budha tiba, semua mata tertuju pada sebuah candi megah yang berada di Kabupaten Sleman, Jawa Tengah. Candi Borobudur yang menjadi salah satu keajaiban dunia ini menjadi semakin padat pengunjung. Hari suci untuk memperingati kelahiran, mencapai kesempurnaan, dan wafat dari Sang Budha ini layak disimak dan dihormati ketika mereka beribadah.

Sering kali upacara keagamaan ini disalahgunakan oleh biro-biro tour yang kurang bertanggungjawab, mereka menjual banyak trip untuk mengeksplor Waisak itu sendiri. Tanpa memberi batasan yang jelas kepada pesertanya sehingga mengganggu umat yang beribadah. Candi Borobudur juga memiliki batas maksimum jumlah pengunjung, karena candi tersebut memiliki daya tertentu untuk menahan berat dari pengunjung.

Jauh dari mata dunia, perayaan Waisak juga di berlangsung pada sebuah kompleks candi kuno yang bernama Candi Sewu. Semua orang mungkin sudah mengenal mitos Candi Sewu ini dari pelajaran saat di bangku sekolah. Meski jumlah candi yang riil sebanyak 249 candi, namun disebut Candi Sewu berdasarkan legenda cinta Pangeran Bandung Bondowoso yang berusaha memenuhi syarat dari Lara Jonggrang dengan membangun seribu candi.

Kompleks candi ini terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Sejarah mencatat bahwa kompleks candi agama Buddha ini dibangun kira-kira pada abad ke -8 masehi oleh Rakai Panangkaran dari kerajaan Mataram kuno dan kemudian diperluas oleh Rakai Pikatan dari dinasti yang berbeda. Pada abad ke-9 Rakai Pikatan juga membangun Candi Prambanan untuk umat beragama Hindu. Berdampingannya Candi Sewu dan Candi Prambanan menunjukkan bahwa umat Buddha dan umat Hindu hidup harmonis dan saling bertoleransi beragama.

********

Candi Sewu

Candi Sewu

Sahabat saya, Langit namanya. Dia mengajak saya untuk melihat perayaan Waisak di Candi Sewu. Menurutnya, perayaan di sana lebih sepi pengunjung dan biro-biro tour komersil yang kurang bertanggungjawab. Kami bisa mengamati dan mengikuti prosesi perayaan Waisak dengan tenang.

Sebagian besar yang datang ke sini adalah orang keturunan Jawa. Memang sejak zaman Mataram kuno dahulu, Candi Sewu menjadi pusat agama Buddha sebelum Candi Borobudur didirikan. Bahasa yang dipakai pada ibadah ini juga masih kental dengan bahasa Jawa halus yang dicampur dengan bahasa Indonesia. Mereka tampak khusuk dan tenang beribadah dan memakai busana berwarna putih. Dan para biksu sudah duduk berbaris di depan sambil memulai ibadah.

Umat-umat yang menunggu detik-detik Waisak

Umat-umat yang menunggu detik-detik Waisak

Tepat di depan pintu masuk Candi Sewu, ada patung Buddha yang berdiri megah di atas persembahan-persembahan yang tertata dengan manis. Sampai akhirnya seorang biksu senior menyampaikan darma. Meski saya non-Buddha, saya berusaha maju mendekati umat yang ada di dekat para biksu untuk mendengarkan darma.

Patung Buddha dan beberapa persembahan

Patung Buddha dan beberapa persembahan

Persembahan di depan patung Buddha

Persembahan di depan patung Buddha

Gunungan persembahan

Gunungan persembahan

Lilin-lilin harapan

Lilin-lilin harapan

Suasana menjadi hening dan hanya seorang biksu saja yang berbicara. Ada tiga point penting yang Beliau sampaikan :

1. Beranakcuculah yang banyak

Anda bingung kan? Saya awalnya kaget. Secara singkat, maksud dari ucapan itu adalah mengingatkan mereka yang terlalu sibuk dengan bekerja.  Tanpa memperdulikan diri sendiri sehingga hanya memilih berkarir dan menganggap memiliki anak adalah menambah beban saja.

2. Rajinlah beribadah

Beliau menasehati kita harus rajin beribadah dan fokus saat beribadah. Masa nonton atau menyalurkan hobby berhari-hari tidak capai namun jika beribadah yang hanya beberapa saat saja sudah mengeluh.

3. Positive thinking

Pada kali Beliau menyampaikan bahwa hidup kita harus selalu diberi inputan yang baik sehingga pada suatu saat nanti kita berbagi kebaikan kepada orang lain. Hal ini dapat membuat kita menjadi sejernih mata air yang segar.

Biksu menyampaikan darma

Biksu menyampaikan darma

Air doa untuk dipercikkan ke umat

Air doa untuk dipercikkan ke umat

********

Tari tradisional mengiringi detik-detik Waisak

Tari tradisional mengiringi detik-detik Waisak

Prosesi perayaan Waisak pun dilanjutkan, beberapa biksu sibuk memercikkan air “berkat” kepada umat-umatnya. Saya yang duduk di sana juga mendapatkan percikan air itu. Tak lama kemudian saya mendekati Langit yang berada di depan pintu masuk Candi Sewu. Langit mengatakan bahwa tidak boleh satu orang untuk memasuki kompleks candi sampai ibadah selesai. Persembahan-persembahan akan dibawa oleh para biksu menuju candi utama dari kompleks itu.

Biksu memercikkan air

Biksu memercikkan air

Umat-umat berpulangan setelah perayaan Waisak selesai. Hal yang saya salutkan yaitu adanya tari-tari tradisional yang masih dilestarikan.

Pertunjukan tari tradisional

Pertunjukan tari tradisional

JT 13 25 05

Advertisements

5 responses to “Lantunan Darma Waisak di Candi Sewu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s