Air Terjun Coban Pawon di Gucialit

Lokasinya di Lumajang. Namanya Coban Pawon atau biasa disebut dengan Air Terjun Antrukan Pawon. Kok bisa disebut dengan “pawon (bahasa Jawa = dapur)” ? Nah ini dia yang buat aku penasaran dan harus meluangkan waktu ke sana.

Meski telat tahu bahwa perjalananku dengan teman-teman pada beberapa bulan yang lalu itu diliput oleh wartawan dari sebuah web dari Kota Pisang. Tentunya bahagia dan bangga meski hanya secarik foto yang terpasang. Walaupun dalam foto tersebut aku berperan sebagai unnamed, tidak masalah buatku karena memang aku kurang seberapa suka menjadi orang terkenal. *SokArtis*

Nah kalau mau membaca artikelnya, nih aku beri link nya.
http://www.lumajangsatu.com/halkomentar-1264-pemuda-gucialit-ingin-air-terjun-antrukan-pawon-jadi-wisata-andalan-6.html

Kebetulan sekali ada ajakan dari Daniel. Pada beberapa artikelku banyak disebut nama Daniel kan? Ya, dia memang hobby-nya ngayap tiap minggu. Bahkan kalau dituangkan dalam blog, pasti buaaanyaaakk artikelnya.

Dari Jember kami berangkat 5 orang (Daniel, Syifa, Eko dan temannya, dan aku) dengan menggunakan motor menuju Kabupaten Lumajang. Ada tambahan satu teman perjalanan lagi saat berada di pertigaan Gucialit, namanya Qory.

Gucialit adalah sebuah nama kecamatan dari Kabupaten Lumajang. Kecamatan ini dihuni juga oleh Suku Tengger. Secara geografis memang terletak di dekat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di sana juga ada perkebunan Kertowono. Sebuah perkebunan teh yang sudah mengekspor hasil olahannya hingga keluar negeri. Teh cap “Gajah Kertowono” itulah hasil andalannya. Wah keren nih produk lokal sudah go internasional.

Di dekat perkebunan itu kami berhenti pada sebuah rumah kecil milik salah satu pemuda yang giat mempromosikan keindahan alam di sekitarnya. Aku salut dengan semangatnya mengenalkan keindahannya kepada orang lain.

Beberapa pemuda tersebut juga berkeluh kesah dengan wisata alam mereka yang tidak terbudidaya dengan baik oleh pemerintahnya, bahkan kawasan alam yang indah itu malah dikerjakan oleh kabupaten-kabupaten sekitar. Memang sih sama satu Indonesia, namun identitas lokal juga wajib diperjuangkan. Begitulah khayal yang terpintas dari lubuk hatiku. (Note : maaf jika ada yang kurang berkenan)

Dengan senang hati pemuda-pemuda Gucialit ini mengantarkan kita ke sebuah air terjun. Masih beberapa kilometer dari rumahnya. Kami menitipkan sepeda motor di rumah penduduk lokal. Jalan kaki lagi sejauh 2-3 km dari rumah penduduk itu. Jalan yang becek dan licin membuatku beberapa kali terpeleset.

Seperti inilah yang namanya Coban Pawon. Terjawab sudah kenapa disebut dengan “pawon (baca: dapur)” karena bentuk air terjun dan goanya seperti tungku perapian yang biasa dipakai memasak di dapur. Airnya segar dan cukup deras. Ranting-ranting kayu dari hulu ada di sekitar air terjun. Airnya juga terlihat lebih keruh karena musim penghujan membawa endapan tanah.

Coban Pawon

Coban Pawon

Sungai yang sudah terbentuk dari air terjun

Sungai yang sudah terbentuk dari air terjun

Jangan tanya siapa!

Jangan tanya siapa!

View di balik air terjun, Tampak beberapa teman yang berteduh di bawah goa

View di balik air terjun, Tampak beberapa teman yang berteduh di bawah goa

Cukup puas meng-explore air terjun tersebut, hujan menemani perjalanan kami kembali ke rumah penduduk setempat. Jalan lebih licin dan beberapa dari kami terpeleset.

Air terjun terasa segar menyentuh pori-pori kulit

Air terjun terasa segar menyentuh pori-pori kulit

Naik sebuah tanjakan dengan bantuan tali

Naik sebuah tanjakan dengan bantuan tali. Photo by : Daniel Denz

Rombongan penikmat Coban Pawon

Rombongan penikmat Coban Pawon. Photo by : Irawan Gucialit

Kami menuju air terjun buatan yang tak jauh dari sana. Berhubung air terjun buatan itu dipakai untuk motret model, ya kami kembali ke rumah pemuda Gucialit itu saja. Daripada membuang-buang waktu yang berharga. Dan ternyata, sudah disiapkan makanan yang cukup banyak di rumah sederhana itu. Aku terharu dengan keramahtamahan keluarganya.

Air terjun buatan dekat perkebunan

Air terjun buatan dekat perkebunan

Hari sudah menjelang malam, kami pejalan dari Jember beralih pulang ke rumah masing-masing. Bukan hanya membayangkan kembali tentang Coban Pawon yang indah, namun juga ada semangat yang indah terpancar dari pemuda-pemuda Gucialit. Standing ovation buat kalian sahabat baruku di Gucialit, Lumajang.

TAMAT

JT 14 12Jan

Advertisements

16 responses to “Air Terjun Coban Pawon di Gucialit

  1. Setau gw ya ron, in sundanese ‘gucialit’ means kendi kecil. Is that any correlation with the scenery that you have seen before? Utawi gucialit punika nggambaraken weteng panjenengan? Huehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s