Perjalanan ke Mahameru (Bagian 3) – Sang Penerus

Lanjutan

Pagi ini angin berhembus dengan lirih menyambut hari baru. Kabut kehidupan masih menyelimuti tempatku berlabuh. Sang surya tak mampu menembus benteng kerajaan awan. Kedua biji mata ini melihat Ranu Kumbolo yang tertutup misteri menjadi menawan. Layaknya roda kehidupan, perjalanan kami harus segera melangkah maju menghadapi segala rintangan. Tak perlu takut karena tangan Tuhan memberi keselamatan.

Tenda-tenda diselimuti kabut di pagi hari. Photo by : Daniel Denz

Tenda-tenda diselimuti kabut di pagi hari. Photo by : Daniel Denz

Sarapan pagi. Photo by : Daniel Denz

Sarapan pagi. Photo by : Daniel Denz

Sarapan sederhana pagi ini dibuat oleh Lina dan Vero. Tentu saja tangan-tangan pria ikut membantu mempersiapkan kompor, membersihkan peralatan makan di dekat tenda, dan ada yang mengambil air dari Ranu Kumbolo baik untuk keperluan memasak atau untuk bekal kami melanjutkan perjalanan.

Refleksi Ranu Kumbolo

Refleksi Ranu Kumbolo

Perut kenyang, semua peralatan dibersihkan dan dirapikan. Pasak-pasak kami lepas, tenda kami lipat. Mas Karno yang semalam tidur di pos penjagaan bersama porter yang lain, datang membantu persiapan kami. Matahari mulai melangkah menuju atas kepala, kami melangkah melewati tanjakan cinta dengan sejuta mitosnya. Terlihat mudah didaki, sudut kemiringan tanjakan membuat otot-otot di pahaku mengeras.

Para pencari jati diri

Para pencari jati diri

Tanjakan yang dimitoskan dengan romantisme cinta

Tanjakan yang dimitoskan dengan romantisme cinta

Ranu Kumbolo dari tanjakan cinta. Photo by : Daniel Denz

Ranu Kumbolo dari tanjakan cinta. Photo by : Daniel Denz

Dari puncak tanjakan cinta, aku melihat keindahan Ranu Kumbolo yang bersanding di bawah lembayung langit biru dan pepohonan yang menjaga kelestarian. Di balik sisi yang lain, aku melihat ada 2 jalan setapak menuju Oro-oro Ombo. Jalan datar memutar atau jalan menurun langsung menuju tanah lapang. Aku lebih memilih mengambil resiko dengan menuruni bukit. Tepat di bawah bukit itu ada lapangan dengan bunga-bunga lavender berwarna keunguan.

Oro-oro Ombo

Oro-oro Ombo

Rangkaian bunga lavender

Rangkaian bunga lavender

Meski panas matahari memanggang sebagian kulit coklatku, aku merasa sejuk ketika melewati jalan setapak di tengah-tengah padang lavender. Para pendaki dari kota-kota yang juga segera melangkah bersama rombongannya. Pemandangan lepas seolah-olah berganti menjadi pepohonan raksasa. Manusia ini tampak bagaikan semut yang melintasi diantara pepohonan purba.

Di tengah padang lavender. Photo by : Daniel Denz

Di tengah padang lavender. Photo by : Daniel Denz

Pohon-pohon yang anggun ini meneduhkan perjalanan kami namun setapak demi setapak jalan yang kulalui semakin menanjak hingga sampailah di suatu tempat yang bernama Cemoro Kandang. Di sini aku meletakkan bebanku, kaki kusandarkan di pohon. Di sini aku melihat ada reuni unik suatu komunitas persaudaraan. Reuni mahasiswa dari suatu universitas di kota metropolitan bagian Timur. Mereka mengingat kenangan di saat masih mahasiswa. Pasangan dan anak-anaknya pun berjalan saling mengiringi seperti kawanan angsa yang selalu bersama keluarganya.

Cemoro Kandang

Cemoro Kandang

Gadis kecil yang berjalan bersama ibunya terlihat kesal berjalan jauh tapi tempat yang dituju belum sampai juga. Ibu yang bijak itu mencoba membujuk anaknya bahwa di atas sana ada pohon coklat yang manis dan perjalanan tinggal sedikit lagi. Bahasa anak saat ini memang berbeda dengan bahasa anak jaman dahulu, tentu saja gadis yang pintar ini tak menggubris perkataan “bohong” ibunya.

Sang Penerus

Sang Penerus

Aku juga melihat adik yang lebih kecil dilatih untuk berjalan jauh, anak kecil ini terlihat kecapaian. “Tinggal 10 langkah lagi kita istirahat”, ucap sang ayah. Namun di langkah yang kedua, bocah imut sudah berhenti sambil memeluk pohon. Orang tua yang hebat ini tidak ada yang menggendong anaknya, sesekali memberi minum dan memberi petunjuk cara bernapas yang benar untuk menghemat stamina. Mereka mengajarkan hidup yang keras, namun selalu mendampingi dengan sabar sambil merawat dan mencukupi mereka. Suatu komunitas yang kuanggap teladan.

Semangat yang telah pudar lalu menjadi kembali bersinar melihat itu. Bukan kesombongan karena aku berada di jalur pendakian ini, namun aku bersyukur mendapat hikmah yang Tuhan berikan dari mereka. Aku melangkah meninggalkan jejak-jejak kakiku yang jauh terhapus oleh jejak kaki pendaki yang lain. Sampailah di pos yang bernama Jambangan. Dari tempat kecil ini, aku dapat melihat Puncak Mahameru yang berdiri megah di singgasana tertinggi Pulau Jawa.

View dari Pos Jambangan

View dari Pos Jambangan

Perlahan-lahan aku menyambung langkah ini menuju camping ground terakhir. Tumbuh-tumbuhan mulai terlihat lebih pucat karena menghadapi derita hidup di lereng Mahameru. Entah kenapa beberapa pendaki menganggap tempat ini memiliki mistis yang kuat, aku hanya berpikir positif karena Tuhan selalu besertaku. Kalimati adalah nama kawasan ini.

View di Kalimati

View di Kalimati

Kalimati - Camping Ground terakhir. Photo by : Daniel Denz

Kalimati – Camping Ground terakhir. Photo by : Daniel Denz

Tenda-tenda kami berdirikan bersama di dekat pepohonan. Kawasan ini tidak terasa dingin seperti saat di Ranu Kumbolo. Makanan pun sudah disajikan untuk mengisi perut kami yang sudah lama berjalan. Tidur malam ini tenda kami diguyur hujan sehingga udara pegunungan semakin terasa lebih hangat. Pukul 9 malam kami harus segera terlelap karena pada pukul 12 malam kami harus bangun melanjutkan puncak dari perjalanan.

Rute pendakian hari ini :                                                                                                                                                                                    Ranu Kumbolo – 2,5 km Cemoro Kandang – 3km Jambangan – 2km Kalimati.
Bersambung

JT 13 08 05

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s