Perjalanan ke Mahameru (Bagian 1) – Cahaya Baru

Sungguh disayangkan jika hanya  berdiam diri saja di rumah ketika ada long weekend. Itulah yang aku rasakan ketika merasakan lagi kepingan hati yang berserakan terhimpit tajamnya ilalang. Tak ada ajakan untuk mengajakku pergi sejenak untuk melepaskan kegelisahan mata hati. Selama masih hidup, insan manusia harus berlari lebih kencang untuk mencari kesempatan. Dengan menyusun beberapa huruf di telpon genggam, aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Daniel untuk ikut bersamanya menuju Mahameru. Kala itu, Daniel pernah berujar akan pergi menantang Mahameru. Mumpung bulan puasa, sedikit penikmat gunung yang mengunjungi Mahameru.

Ranu Pane akan terasa dekat jika kami lewati dari Jember melintasi Senduro. Dengan dalih menjemput 3 orang teman dari Jakarta, kami mengalah untuk berangkat bersama dari Malang. Paras wajah yang muram seketika di bus, mulai bercahaya ketika kami bertemu tiga kawan baru dari Jakarta yang ikut mengarungi jalan setapak menuju lintasan Film “5 cm” ini. Gelap malam ini terkalahkan oleh cahaya kegembiraan melihat dua sahabat lama yang tinggal di Malang. Pundhi dan Ibas di malam itu menghampiri kami, sejenak berbincang dan menyeduh segelas kopi.

Kawan baru kami bernama Darwin, Lina, dan Vero. Mereka sudah menginjakkan kaki di Malang di kala matahari sudah bersinar terik. Kami berlima berbelanja terlebih dahulu di sebuah toserba dekat Universitas Malang. Kedua kawan baru kami menyewa satu kamar di homestay yang tak jauh dari sana. Aku pun terhenyak seketika melihat Vero mengeluarkan backpack yang lebih besar dari milikku. Di dalam benakku mengatakan kalau kami berdua akan bertukar backpack tanda aku harus membawa beban yang lebih berat. Ucapku dalam hati, yang terjadi ya terjadilah! Kenyataan menantangku untuk menukarkannya dengan penuh pasrah.

Sudah saatnya kami beristirahat, kedua kawan baru yang wanita ini tidur di homestay. Aku, Daniel, dan Darwin menuju ke kontrakan Ibas. Untuk sementara waktu kami tidur di kontrakan sederhana dari sahabat yang murah hati ini. Bahkan Ibas dan Pundhi menuju tempat persewaan alat-alat untuk mendaki gunung. Headlamp, matras, sleeping bag, dan kompor kecil; itulah peralatan yang diambilkan. Tentunya kami yang menyewanya. Syukur kepada Tuhan karena sudah memberikan sahabat yang baik di Malang.

Bukan backpack saya, tapi saya yang manggul. Beraaattttt!!!

Bukan backpack-ku, tapi aku yang manggul. Beraaattttt!!!

Pagi yang ditunggu sudah tiba, kelima calon pendaki gunung ini kebingungan transportasi untuk menuju Tumpang. Tumpang adalah sebuah tempat yang akan kami lalui jika ingin ke Ranu Pane dari Kota Malang. Beruntunglah Ibas memiliki kenalan seorang supir taxi. Tak lama kemudian datanglah family car yang beralih fungsi menjadi taxi, Ibas dan kami pun kaget karena biasanya taxi berwujud mobil sedan. Keberuntungan menghinggapi perjalanan kami, taxi ini cukup lapang untuk membawa  5 orang dan bawaannya yang menggunung.

Sekitar 20 menit melaju, sampailah kami di Pasar Tumpang. Sebuah pasar tradisional yang lokasinya di daerah yang lebih tinggi dari Kota Malang. Jadi jangan salahkan angin gunung yang menembus jaket kami. Hal yang pertama kami lakukan adalah tentu saja membayar sewa taxi. Hahaha serius amat bacanya. Kami menuju ke balik Pasar Tumpang, di sana sudah adalah rumah persinggahan pendaki yang akan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Seorang wanita yang layak kami sebut “mbak” sering dihubungi oleh para pendaki. Beliau memiliki seorang ayah membanggakan yang memiliki pekerjaan membawa logistik dari Tumpang ke Ranupane dengan truk kesayangannya. Tak terhitung jumlah pendaki yang tertolong oleh ayah yang kenyang dengan pengalaman ini.

Di pasar itu kami sarapan sejenak sambil mencari keperluan logistik sebagai bekal hidup beberapa hari di daerah pegunungan kelak. Sekembali kami ke rumah persinggahan ini, sudah tersedia hidangan teh hangat dan beberapa makanan ringan. Sambil berbincang ringan pula kami menunggu seorang ayah yang baik ini menyiapkan truknya. Kami menitipkan beberapa barang yang sekiranya tidak kami perlukan supaya tidak menjadi beban di kala kami mengarungi jalanan yang menjulang nanti.

“Teeeeettt”, suara klakson truk itu seraya memanggil wanita ramah di dekat kami. Mbak memberitahukan kalau truk sudah siap berangkat. Peralatan dan bekal kami periksa dahulu kemudian naik ke atas truk layaknya kawanan sapi yang siap dibawa untuk disembelih.

Truk tangguh ini mengajak kami menikmati keindahan rajutan tangan Tuhan. Beberapa kali awan menghilang dari mata langit sehingga kami dapat melihat Puncak Mahameru dengan leluasa. Berbekal hati gundah dan hancur, seakan-akan kepingan yang berserakan di masa lampau melekat menjadi utuh kembali. Hanya kebesaran Tuhan saja yang dapat menyembuhkan hati ini.

Kisahku dengan Mahameru akan dimulai

Kisahku dengan Mahameru akan dimulai

Darwin dan Daniel

Darwin dan Daniel

Hati dan wajah menjadi berbinar-binar karena Tuhan masih mengasihiku. Beberapa kali kami melewati perkampungan dan berpapasan dengan truk maupun jeep sewaan.  Sawah-sawah di pegunungan maupun hamparan lautan pasir menyegarkan jiwaku yang pilu. Tampak pula beberapa penjelajah gunung dari tanah benua biru yang berjalan kaki dari Tumpang menuju Ranu Pane, tak bisa aku lukiskan bagaimana jauhnya ditempuh dengan bermodalkan dua kaki.

Melewati perkampungan dataran tinggi melalui Lawang

Melewati perkampungan dataran tinggi melalui Lawang

Sawah di pegunungan

Sawah di pegunungan

Tampak puncak Mahameru di belakang persawahan

Tampak puncak Mahameru di belakang persawahan

Lautan pasir di balik Gunung Bromo

Lautan pasir di balik Gunung Bromo

Puncak Mahameru sebelum ke Ranupane

Puncak Mahameru sebelum ke Ranupane

Ranupane

Ranupane

Beberapa kali tubuh kami terguncang karena jalanan yang ditempuh roda truk ini tidak mulus seperti arena balap. Sekitar 45 menit kumerenung, terguncang, dan bersyukur anugrah dari Sang Khalik. Kami sampai di rumah salah seorang warga yang bersedia menjadi porter untuk kedua sahabat wanita kami. Mas Karno adalah porter yang beruntung menemani kami. Di pos pendaftarkan , kami membayar tiket masuk dan menyerahkan persyaratan administratif berupa fotocopy KTP, KK, dan surat keterangan sehat dari dokter.

Daftar tiket masuk

Daftar tiket masuk

Daftar harga retribusi

Daftar harga retribusi

Tak lama kemudian kami menunggu, datang pula Kak Hanan yang mengendarai motor dari Bondowoso ke Ranu Pane melalui jalanan di Senduro. Aku mengenal Kak Hanan dikala itu mengajariku fun diving di Pasir Putih Situbondo sehingga tidak perlu basa-basi untuk mengenalnya. Kak Hanan selain handal dalam menyelam, dia juga ahli dalam mendaki gunung.

Petualangan kami baru dimulai

Petualangan kami baru dimulai

Perjalanan kami sudah dimulai saat memasuki gerbang selamat datang di jalur pendakian. Pos-pos kami lewati dengan terengah-engah, khususnya bagi aku, Lina, dan Vero sumpah bukan modus. Wajar saja jika Kak Hanan, Darwin, dan Daniel berjalan lebih cepat. Ketiga orang ini adalah penggemar gunung, waktu luangnya diisi dengan mendaki gunung. Meski kurang terbiasa mendaki gunung, aku usahakan untuk tetap tersenyum. Mereka semua terheran-heran mengapa aku tersenyum. Selain untuk menutupi hati yang gundah, aku berusaha maksimal untuk menyebarkan semangat kepada mereka.

Vero

Vero

Lina

Lina

Kak Hanan

Kak Hanan

Bang Karno (Porter)

Bang Karno (Porter)

Pos 1 ke pos 2 seperti peregangan otot dan pemanasan. Pos 2 ke pos 3 adalah perjalanan yang terpanjang. Kami istirahat cukup lama di pos 3. Masih ada sinyal di sini walau sekedar membuat status maupun ganti DP di BBM. Setelah pos 3, adalah rute yang mulai menanjak. Setapak demi setapak kami melangkah menuju ke Ranu Kumbolo. Danau di ketinggian tempat awan-awan nirwana berada.

Pohon berlumut diselimuti kabut

Pohon berlumut diselimuti kabut

Jalur Semeru Pos 3

Jalur Semeru Pos 3

Bersambung

JT 13 4-5 08

Advertisements

7 responses to “Perjalanan ke Mahameru (Bagian 1) – Cahaya Baru

  1. Pingback: Perjalanan ke Mahameru (Bagian 2) – Mata Air Langit | Jember Traveler Indonesia·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s