Puncak B29 Argosari Lumajang : Desa di Ujung Awan

Desa di Ujung Awan

Desa di Ujung Awan

Bermula dari waktu senggang yang weekend kali ini. Daniel mengajak kami untuk traveling ke puncak B29 Argosari Lumajang. Adakah yang tahu tentang B29 ? Apa itu dan ada di mana ?

Kedua pertanyaan itulah yang menjadi misteri yang mondar-mandir di dalam pikiran saya. Entah kebetulan, entah Tuhan menjodohkan saya untuk bisa ke B29. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, datanglah kesempatan yang langka itu.

Pada kali ini Daniel yang sudah mengunjungi puncak B29 membuat saya yakin untuk bergabung dengan yang lain. Terkumpullah 6 orang pada hari Minggu yang dengan langit yang bermatahari sayu berkumpul di depan Terminal Tawangalun. Hal yang membuat saya menahan tawa di pagi hari ini ada Mbak Ike yang ikut bergabung, tampak di laci motor maupun bagasi motor melimpah ruah dengan buah rambutan. Cukup hanya itu saja? | Tidak, masih ada makanan dan minuman yang lain di dalam tasnya.

Penuh dengan buah rambutan

Penuh dengan buah rambutan

Dengan mengendarai 5 sepeda motor, roda-roda ini menggilas aspal keluar dari Jember menuju kabupaten tetangga yang terkenal dengan buah pisangnya. Kabupaten Lumajang ini adalah tempat kelahiran dari travel writer yang bernama Agustinus Wibowo. Salah satu buku karangannya yang berjudul “Titik Nol” tentang makna sebuah perjalanan ketika dia sudah pulang ke rumahnya.

Dekat sebuah pura agung yang berada di Senduro, kami berteduh sejenak di sebuah warung untuk sarapan pagi. Menu pagi ini sangat enak dikecap pada lidah kami. Pecel madiun dengan sayuran yang masih segar dan semakin nikmat dengan peyek yang renyah. Bang Jhon yang terlihat kelaparan, menambah satu porsi pecel lagi untuk memuaskan lidah dan perutnya. Sarapan pagi ini terasa berbeda dari biasanya karena diselingi canda gurau tentang kelucuan travel story kami di beberapa tempat. Tampak pula Rina yang hanya diam dan sesekali tertawa, Rina adalah travelmate kami yang baru pertama kali bergabung.

Perut kenyang, kami melanjutkan petualangan terus melahap jalanan yang semakin menanjak. Ketinggian yang agak curam membuat sepeda motor kami menyerah. Untuk sepeda motor automatis harus mengorbankan karet V-belt yang memanas dan kampas rem yang semakin menipis. Sebuah pengorbanan untuk melihat keindahan yang belum kami ketahui dari ciptaan Yang Maha Kuasa.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Desa Argosari. Masih berada di Kecamatan Senduro. Lantas di manakah puncak B29-nya? Masih belum sampai juga. Jalanan semakin mendaki, sepeda motor kami pun menyerah. Beberapa dari kami harus turun dari sepeda motor dan mendorongnya. Meski jalanan ini cukup bagus untuk daerah yang terpencil namun semakin ke atas semakin ganas tanjakannya, tak hayal jika sepeda motor dari Rizal dan Bang Jhon jatuh. Selain tanjakan, jalanan licin bekas hujan adalah faktor penghalang utama menaklukkan medan ini.

Desa Argosari yang kami lewati

Desa Argosari yang kami lewati

Motorpun harus dituntun dan didorong

Motorpun harus dituntun dan didorong

Kabut dan dingin membentengi kulit kami dari sinar matahari yang tidak bisa menggoyahkan ketangguhan sang awan. Di desa terakhir kami menitipkan sepeda motor di sebuah rumah milik seorang warga yang baik hati. Kebetulan beliau menyediakan lahan rumahnya untuk tempat parkir. Beberapa anggota keluarga dan tetangganya membantu kami untuk melewati tanjakan yang licin karena basah karena hujan. Pengetahuan cerdik yang saya dapatkan dari sini adalah mereka menaburkan pasir pada jalan tanah yang licin tersebut dan anehnya motor kami bisa naik meskipun harus didorong. Padahal sebagai seorang pengendara sepeda motor, hal yang terlintas di benak saya adalah pasir dapat membuat motor menjadi tergelincir.

Tak ada sinyal di sini dan listrik pun hanya teraliri dalam beberapa jam saja. Di dalam rumah warga itu, anak kecil dan ibunya menyambut kami di sebuah dapur yang hangat. Dapur mereka masih tradisional, bukan dengan kompor gas maupun elektrik. Namun sebuah tungku dengan bahan bakar berupa ranting-ranting pohon yang dibakar. Meski asap pembakaran cukup membuat mata kami pedih, kehangatan tungku dan kehangatan keluarga kecil itu menghilangkan kedinginan kami dari cuaca di siang hari ini. Beberapa anggota keluarganya masih bercocok tanam di sawah dekat rumah. Saya pun menyapa mereka dari jendela rumah yang sederhana ini.

Untuk mencapai puncak B29, kami harus melewati jalanan sepanjang 1,5 km berliku dan menanjak dengan mengandalkan kedua kaki kami. Bagaimanakah dengan Mbak Ike yang berbadan subur ini? Sudah pasti tidak sanggup melahap jalan itu dengan berjalan kaki. Lantas bagaimana caranya supaya Mbak Ike bisa sampai puncak B29?

Jawabannya dengan ojek sepeda motor? Lah kok bisa? Saya pun penasaran. Sepeda motor seperti apakah itu yang bisa mengangkut Mbak Ike untuk bisa sampai ke puncak?

Sepeda motor ini seperti pada umumnya namun gear dan rantainya dirubah menjadi lebih besar sehingga memiliki power yang lebih untuk melewati tanjakan dengan kemiringan yang cukup besar. Cukup dengan itu saja? Bisa kah melewati jalan tanah yang licin? | Tidak bisa, mereka harus memodifikasi ban rodanya menjadi mode offroad dengan cara cerdas yang sederhana. Mereka menggabungkan tali dan rantai pada ban rodanya sehingga dapat melewati tantangan itu.

Ban Motor yang diberi tambahan

Ban Motor yang diberi tambahan

Sawah di dekat rumah Pak Saturman

Sawah di dekat rumah Pak Saturman

Jalan kaki dimulai. 1,5 km lagi.

Jalan kaki dimulai. 1,5 km lagi.

Mbak Ike naik ke puncak dengan ojek sepeda motor. Sisa 5 orang yang berjalan kaki menuju puncak. Di sinilah saya melihat keguyuban antar keluarga yang kompak bercocok tanam, bahkan anak-anak juga ikut mendampingi mereka meski hanya duduk sambil menunggu di dekat sawah. Bentuk sawah bukan mendatar maupun seperti terasering, namun tingkat kemiringannya lebih tajam dari pada terasering. Pada kali ini tanaman yang panen adalah kentang.

Menemani anak petani yang sedang menunggu keluarganya bercocok tanam di sawah

Menemani anak petani yang sedang menunggu keluarganya bercocok tanam di sawah

Bersama-sama melewati jalan setapak. Photo by : Rizal Febrianto

Bersama-sama melewati jalan setapak. Photo by : Rizal Febrianto

Jalan setapak menuju puncak

Jalan setapak menuju puncak

Membuka jalan yang tertimbun longsor

Membuka jalan yang tertimbun longsor

Desa terakhir ini memang tidak bisa dilewati truk maupun mobil pick up karena jalannya sempit dan tanjakan yang curam. Tentu saja mereka mengangkutnya bertahap dengan menggunakan sepeda motor mereka.

Berjalan kaki sejauh 1,5 km memang terlihat dekat namun berbeda jika medannya menanjak. Saya pun berjalan santai dan menikmati pemandangan yang indah ini.

Rumah di lereng pegunungan yang indah

Rumah di lereng pegunungan yang indah

Akhirnya kami sampai di puncak B29. Di sini ada tempat teduh untuk masyarakat Suku Tengger pada umumnya untuk menaruh sesajen mereka. Ada beberapa pilar tempat persembahyangan mereka pada puncak B29. Saya pun penasaran dan bertanya kepada penduduk setempat, mengapa puncak tersebut dinamakan dengan puncak B29. Tak ada satupun warga yang mengetahuinya. Informasi sederhana sedikit mengurangi rasa penasaran saya. Konon dahulu kala, puncak ini mereka sebut dengan puncak songo likur (baca : dua puluh sembilan *Bahasa Jawa*). Ketinggian dari puncak itu adalah 2.900 MDPL.

No comment :D

No comment πŸ˜€

kiri-kanan : Rizal, Aaron, Mbak Ike, Rina, Daniel, Jhon

kiri-kanan : Rizal, Aaron, Mbak Ike, Rina, Daniel, Jhon

Loh loh loh! Kok bisa dipakai oleh Suku Tengger. Berarti dekat dengan Gunung Bromo dong? | Ya, kalian benar. Dari puncak ini, kalian bisa melihat lautan pasir di antara Gunung Bromo dan Cemoro Lawang. Sebagian besar penduduk di desa ini adalah Suku Tengger pula. Ayo kita lihat seperti apakah itu!

Pura dengan latar belakang Gunung Bromo

Pura dengan latar belakang Gunung Bromo

kiri-kanan : Bromo, Lautan Pasir, Cemoro Lawang

kiri-kanan : Bromo, Lautan Pasir, Cemoro Lawang

Di Puncak B29. Photo by : Jhon R. Tambunan

Di Puncak B29. Photo by : Jhon R. Tambunan

Sudah ada gambaran bukan! Tentang apa yang saya maksud! Memang harus menahan rasa dingin dan menunggu kabut berlalu untuk bisa mengambil gambar Gunung Bromo dan Cemoro Lawang. Hujan gerimis juga menguji kesabaran kami untuk melihat pemandangan yang indah dari puncak.

Tadi kami berjumpa dengan rombongan traveler dari Surabaya saat di puncak, mereka pulang terlebih dahulu. Mereka terlihat frustasi menunggu pemandangan yang indah itu masih tertutup oleh kabut yang tebal. Sejak ayam jantan berlarian untuk berkokok, mereka sudah tiba di puncak. Mungkin rasa rindu mereka akan rumah di Surabaya yang jauh itu lebih penting daripada bersabar menunggu pemandangan yang indah.

Hari sudah menunjukkan pukul 2 siang, tampak petani-petani yang ada di bawah puncak berteriak untuk pulang. Mungkin hujan akan segera datang lebih deras, firasat penduduk lokal itu lebih tajam dibandingkan kami yang hanya rombongan pendatang. Mereka berjalan bersama-sama dengan keluarga untuk kembali pulang ke rumah. Sebuah rumah sederhana yang memberikan rasa aman dan kehangatan bersama dengan keluarga. Itulah tujuan pulang dari petani-petani yang ramah ini.

Sawah di bawah puncak B29

Sawah di bawah puncak B29

Kami menyadari kalau hujan akan mengguyuri jalan. Kami pun bergegas untuk turun menuju rumah tempat kami menitipkan sepeda motor. Saya merasa kedinginan karena jaket tertinggal di rumah itu. Beruntunglah ada Rizal, sahabat saya ini memberikan jas hujannya untuk saya pinjam.

Rintik-rintik air dari angkasa dan dinginnya gemuruh kabut merintangi kami pulang ke rumah yang dimiliki oleh Pak Saturman itu. Tampak Mbak Ike dan beberapa orang sekitar yang sedang menunggu di depan rumah mereka. Mbak Ike hanya melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum terlebih dahulu karena sudah sampai dahulu tanpa merasakan lelahnya berjalan kaki.

Di dalam dapur yang hangat ini, sudah tersedia teh panas dan kentang rebus yang sudah disiapkan oleh istri dari Pak Saturman untuk kami nikmati. Bercanda gurau dan beramah tamah dengan keluarga pemilik rumah adalah hal yang pasti akan kami rindukan. Mereka dengan tulus memberikan kehangatan sebuah keluarga kepada orang yang baru pertama kali mereka kenal.

Sosok Ibu Saturman. Photo by : Jhon R. Tambunan

Sosok Ibu Saturman. Photo by : Jhon R. Tambunan

Buah-buah rambutan yang tidak habis itu, Mbak Ike berikan kepada orang-orang sekitar yang kurang mengenal dengan buah rambutan yang manis. Mungkin buah rambutan kurang cocok ditanam di daerah pegunungan. Dengan membayar Rp 5.000,- per motor kepada Ibu Saturman, kami segera pulang menuju Kota Jember. Sebuah ajakan yang tulus meluncur dari mulut Beliau untuk mengajak kami mengunjungi mereka lagi. Mereka akan mempersilahkan kami untuk menginap di rumahnya.

Lantas apakah makna pulang bagi saya? Mungkin pulang ke rumah adalah arti secara lahiriah seperti arti pulang milik traveler dari Surabaya maupun milik dari petani-petani di lereng B29. Arti pulang sesungguhnya bagi saya adalah ketika saya takjub bersyukur melihat ciptaan Tuhan dan mendapatkan kehangatan dari penduduk dari tempat yang saya kunjungi. Di situlah saya merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta dan merasa nyaman.

Syukur kepada Tuhan, saya telah beberapa kali menemukan makna pulang dari beberapa tempat yang saya kunjungi.

JT 14 09 02

Advertisements

126 responses to “Puncak B29 Argosari Lumajang : Desa di Ujung Awan

  1. Pingback: #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “Pulang” | TravellersID·

    • Om?? Krik krik krik. Akyu macih muda tauk. :))
      Naik mobil bisa sampai Desa Argosari, kalau mau ke desa yg lebih atas dan puncak B29-nya sepertinya belum bisa. Tanjakannya juara. Hahaha

  2. Apa ada jalur lain selain lewat lumajang terus naik ke senduro mas? Dari arah probolinggo misal, saya berangkat dari surabaya

      • Senduro itu kan kecamatannya kan ya mas? Kalo mau naik ke argosari nglewatin desa apa dulu ya??

      • Senduro nama kota dan kecamatan. Dari senduro sudah ada papan petunjuknya. Paling mudah, cari dulu pura agung, kemudian naik lagi mengikuti jalan.

    • ada mas lewat kecamatan sumber, (dari arah terminal kalau ke bromo kan terus keselatan ini belok kiri arah lumajang), perempatan lampu merah pasar wonoasih probolinggo keselatan

      • @Mas Slamet : Nah itu. Saya start nya dari Jember, belum pernah dari Probolinggo.

        Kalau boleh tau, itu ke Selatan sampai ketemu apa? Maaf, soalnya infonya kurang detail. Biar pembaca di blog yang lain bisa menemukan jalan yang jelas dan benar.

        Btw terima kasih banyak infonya, semoga bisa membantu temen-temen dalam mencari lokasinya. Sering-sering berbagi informasi ya mas.

  3. Mas minggu besok aku ke sini nih. Kira2 kalo pake vespa kuat ga yah nglewati tanjakannya sampe ke parkiran rumah warga?
    Oh ya trus itu mulai masuk dr awal gapura selamat datang kira2 jam berapa? Pgn dpt view yg bagus kaya di fotomu..
    Tp pgn ngecamp juga jd niatnya hikingnya pas malem. Gimana menurutmu?

    • Kalau vespa pasti tidak kuat melewati tanjakan. Motor mio dan motor sport (non trail) saja tidak kuat naik sampai parkiran, harus tambahan didorong manual.

      Dari gapura desa sudah dekat, mungkin sekitar 20-30 menit.

      Menurutku hikingnya sore saja, sehingga bisa istirahat sambil menunggu sunrise.

  4. Masbro, mo napak tilas nih..mohon info lokasi pecel madiun di senduro itu tepatnya dimana? Matur nuwun..

  5. mantap postingannya, kalo boleh kasih no. hpnya mau tanya biar lebih jelas, soale rencananya awal november mau kesana

  6. Wah…info yang sangat bermanfaat sekali. Saya pengen ke B29 trus nyari-nyari info eh kesasar di blog yang keren ini. Salam kenal Bro.

  7. Gan..klo naik kendaraan umum kesana ribet gak??ada rencana backpackeran kesana nih..tp pke kendaraan umum..
    Thx sharingnya

  8. dari jember juga nih gan, jalan rusak cukup parah gak gan ?
    dan ada tempat parkirannya gak ?
    rencana mau kesana akhir bulan ini hehe

  9. wuhhhh . . tgl 07-02-2015 kmren saya hbis drii B29 . . subhanallah luar biasa pemandangannya.. meskipun medan nya menantang , tpi lega cZ di puncak sangat (y)

  10. Mas Aaron
    minta info biaya penginapan d B29,,
    Klo boleh minta no hp/pin BB, mau nanya lebih banyak,,,
    Bulan mei nanti saya mau berkunjung k sana,,,

  11. Mas bro! Driver travel. Klo bawa elf long parkir dimana? Atas informasinya kami ucapkan matur nuwun

  12. liat post kak aaron jadi gigit jarii..pengen buru2 kesana.
    oh yah kak disana ada penyediaan penginapan juga enggak. rencana awal bulan depan k sana pake mobil travel nympe engak di sana? heheeh salam kenal putri sidoarjo

    • Jarinya jangan digigit mbak.
      Setahuku penginapan rumah warga.
      Kalau mobil mungkin cuma sampai pusat desa, kemudian ganti ojek untuk sampai ke dusun terakhir dan puncaknya.

  13. Nice info gan.dr dulu pengen k b29 kagak pernah kesampe’an.smoga bisa kesana dlm waktu dekat ini.aamiin.bantu doa nya y bozz aaron setiawan.hhe..

  14. Mas, dari B-29 bisa turun tembus ke lautan pasir lanjut ke Bromo?.
    Nanggung kalau cuma ke B-29 saja soalnya…

  15. Mas boleh gabung gak ??? Pengen ikut traveler …… Saya d sidoarjo mas ….. Ini pin bb saya 2791976e !!! Trima kasih …

  16. That is very fascinating, You are an overly skilled blogger.
    I’ve joined your rss feed and sit up for looking for more of your
    excellent post. Additionally, I’ve shared
    your website in my social networks

  17. Pingback: Puncak B29 Argosari di Musim Kemarau | Jember Traveler Indonesia·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s