Merinding di Candi Ijo

“KANGEN JOGJA” dan “KAPAN KE JOGJA LAGI?” adalah kedua tagline yang membuatku melayangkan sebuah lamunanku akan kenangan indah di Jogja. Kota ini pertama kali mengenalkanku tentang filosofi pengorbanan cinta yang tulus, kearifan dan keramahan masyarakat lokal yang menjadi sahabatku, makanan khas yang membuat lidah saya berkata “Laa.. La.. La.. La.. La…”, dan tentu mengajarkanku tentang pentingnya sejarah dan berbudaya.  #GarisBawah

Secuil pelajaran di atas yang tidak diajarkan di bangku sekolah, kuliah, dan kerja ini yang membuat saya semakin hari semakin haus. Cara belajar yang unik karena mengharuskan saya untuk melepas parasut dan terjun langsung ke sumber ilmu. Tak salah ketika saya mengakui kalau saya “KANGEN JOGJA”.

**CURHAT KEGUNDAHAN**

Berbekal BB jadul dengan karet body yang sudah lepas semua, jari-jari tangan saya menari-nari ke keypad BB untuk mengirimkan pesan ke seorang sahabat yang tidak suka nama aslinya dikenal di dunia maya. Dia lebih memilih disebut dengan nama “Langit”. Bahkan beberapa teman barunya yang berkunjung ke Jember juga menyebutnya Langit. *krik krik krik*

STOP! Emang apa isi BBM saya? Ya intinya saya punya rencana ke Jogja. Apalagi coba!

Balasan BBM akhirnya datang juga. Langit berkata kalau sudah pindah kost. | Lah saya harus ngampung tidur di mana? | Tenang aja, kost barunya masih bisa ditumpangi. | OK sip! Weekend ini saya berangkat.

Jumat malam sepulang dari kantor, saya bergegas pulang ke rumah dahulu untuk packing keperluan saya di sana. Kebetulan teman-teman dari Jember juga ikut ke sana untuk menyaksikan Waisak. Berhubung saya sudah terlanjur membuat janji dengan Langit maka saya meminta maaf kepada teman-teman jika tidak bisa bergabung bersama.

Jam digital di ruang tunggu terminal Tawang Alun menunjukkan pukul 14.30 dan saya cukup kaget melihatnya. Jam di telepon genggam saya menunjukkan pukul 21.00. Hmm jam digital ini kok belum dibetulkan ya! Ah biarkan saja lah, saya memasuki bus jurusan Jogja yang baru saja tiba. Setelah membayar tiket ke kondektur, saya duduk sambil memeluk tas hitam. Seperti prinsip teman-teman lainnya terutama aliran traveling dengan menggunakan bus, “Setelah bayar, langsung tidur.”

Saya perkirakan sampai di Janti (Jogja) sekitar pukul 7 pagi sesuai dengan apa yang saya diskusikan dengan Langit. Langit hanya bisa menjemputku sekitar jam 7 karena jam 8 dia ada urusan di kantornya. Namun sekitar jam 3 bus ini berhenti di tempat makan daerah Sragen. Pak sopir tua ini ternyata kelaparan, penumpang semua turun untuk istirahat makan maupun hanya sekedar minum teh hangat. Ada pula penumpang yang memanfaatkan waktu istirahat tersebut untuk menunaikan sholat.

Jam berapakah saya sampai di Janti? Ternyata sewaktu saya tidur, di Probolinggo dan di Solo macet. Entah ada apa sehingga arus jalan pada malam hari begitu ramai. Saya sampai di Janti sekitar jam 9 pagi tepat dengan Amplaz (Ambarukmo Plaza ) buka.

Sudah tau konsekuensinya kan? Langit tidak bisa menjemput saya. Baiklah kalau begitu, dari Janti saya berjalan kaki ke Amplaz. Hitung-hitung olahraga berjalan kaki. Masih kumus-kumus saya dengan pede-nya memasuki Amplaz. Tempat pertama yang saya tuju adalah toilet untuk membuang air kecil. Tak lupa saya sikat gigi dan cuci muka di wastafel. Inginnya sih mau sekalian mandi, namun tidak ada kamar mandi. Hahaha. Adanya cuma toilet, WC, dan wastafel.

Sambil menunggu Langit selesai bekerja, saya sarapan pagi di gerai fastfood tempat kenangan dulu. Namun Langit belum datang juga. Ah tidak apa-apa, gak enak juga merepotkan sahabat sendiri yang sedang bekerja. Selesai makan, saya duduk di kursi trotoar di depan Amplaz.

Udaranya sejuk dan angin semilir berhembus dari lalu lalang kendaraan, membuatku tidur terlentang di kursi taman kecil itu tanpa memperdulikan pejalan kaki yang lewat maupun Satpam yang bertugas menyeberangkan pengunjung. Sekitar jam setengah sebelas siang, tiba-tiba ada mobil yang meng-klakson keras di depanku. Ah siapa sih yang berisik mengganggu saya tidur? Saya melihat Langit membukakan jendela pintu mobil dan memanggil saya. Dia tertawa melihat saya tidak menghiraukan PING! PING! PING! di BBM dan tidak mengangkat telponnya demi tidur di kursi seperti seorang gembel. *Jitak Langit*

Mobil klasik ini membawaku untuk ke kost barunya. Intinya Si Langit ingin pamer kost barunya. #ups Langit memang orang yang sederhana, bukan kost mewah yang disewa. Namun kost yang sejuk dan lebih bersih. Wah kalau hal ini saya bener-bener salut dah.

Ada juga tiga orang teman Langit dari Jakarta juga ingin melihat ibadah Waisak di Borobudur. Demi ketiga temannya itu, Langit memperpanjang kost lamanya dan meminjamkan sepeda motornya. Gak salah kan saya pilih sahabat yang baik.

Tanda Masuk ke Candi Ijo

Tanda Masuk ke Candi Ijo

Setelah mandi dan istirahat sejenak meluruskan punggung, Langit dan saya meluncur ke Alun-alun Kidul untuk menjemput mereka. Saya dikenalkan dengan ketiga teman baru. Sebut saja Ahong dan kawan-kawan. Tanpa babibu-babibu kami langsung pergi ke Candi Ijo. Tempatnya cukup jauh dari kota dan melewati kawasan Ratu Boko. Akhirnya mobil ini sampai di parkiran Candi Ijo. Tidak perlu membayar tiket masuk maupun bayar parkir. Langit mengajak saya untuk mengisi buku tamu sambil membawa selembar uang sewaktu-waktu ada pungli yang membudaya. Langit dan saya terkejut ketika kami hanya diminta untuk mengisi daftar tamu saya. Petugas penjaga candi ini jujur dan dengan senyum ramah mempersilahkan kami untuk berkeliling sendiri menuju candi. #salut

Candi Ijo ini terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman yang masih dalam wilayah Yogyakarta. Letaknya berada di lereng bukit dan perbukitan yang sejuk. Candi ini adalah peninggalan dari Kerajaan Medang atau yang disebut Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Sudah jelas kan corak dan candi ini untuk ibadah masyarakat Hindu. Pasti tulisan ini akan sangat panjang kalau mau membahas cerita dan sejarahnya tentang Candi Ijo dan keseruan Kerajaan Mataram Kuno. Lantas mengapa disebut Candi Ijo? Jawabannya simple banget, karena candi tersebut terletak di atas bukit yang bernama Gumuk Ijo.

Reruntuhan candi

Reruntuhan candi

Tampak kalau Candi Ijo ini ada beberapa lokasi yang sedang dipugar. Maklum lah, seluruh candi kebanyakan ditemukan dalam keadaan runtuh. Kami pun menaiki undak-undak menuju candi utama. Rerumputan di sekitar candi tampak terlihat hijau rapi, hal ini menunjukkan kesungguhan dalam melestarikan candi tersebut dan memotong rumput secara teratur. Tempat sampah sudah tersedia di beberapa titik sehingga kawasan candi terlihat lebih bersih. Wah salut dengan pengelola dan timnya.

Awan mendung menyelimuti pemandangan di sekitar bukit. Angin menjelang senja menambah sensitif kulit saya akan dingin. Saya mencoba mengeksplor candi-candi di kawasan tersebut, mengililingi dan memasuki candi. Suatu ketika di salah satu candi, saya mencoba memotret sesajen yang ada di sana. Tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri, saya pun mencoba memotretnya. Camera saya yang batrainya full ini tiba-tiba mati. Wah ini mungkin tanda kepada saya untuk bersikap lebih sopan karena tempat itu adalah tempat suci untuk beribadah. Aroma sesajen semakin menyengat di hidungku. Saya pun keluar dari salah candi tersebut dan bergabung dengan teman-teman. Ketakutan dengan berlagak cool.

Candi Utama

Candi Utama

Candi utama di belakang tiga candi kecil yang diduga untuk memuja Brahma, Wisnu, dan Syiwa

Candi utama di belakang tiga candi kecil yang diduga untuk memuja Brahma, Wisnu, dan Syiwa

Patung Lembu Nandini pemberani tunggangan Batara Siwa

Patung Lembu Nandini pemberani tunggangan Batara Siwa

Relief Makara ( Hewan mitologi berkepala gajah dan berekor naga )

Relief Makara ( Hewan mitologi berkepala gajah dan berekor naga )

Pahatan di atas pintu masuk candi

Pahatan di atas pintu masuk candi

Kami pun duduk di dekat anak tangga sambil menikmati kesejukan dan pemandangan pesawat terbang yang landing ke Bandara Adi Sucipto. Meski tidak dapat menikmati keindahan senja karena matahari tak mampu menandingi keperkasaan awan.

Sunset dari kawasan candi

Sunset dari kawasan candi

Selimut kegelapan sudah menutupi bumi Yogyakarta, kami kembali ke kota untuk mengatasi kelaparan.

JT 13 25 05

Advertisements

18 responses to “Merinding di Candi Ijo

  1. Perjalanan yg sgt menarik, apalagi dgn sahabat. Besok maen ke cndi2 lainnya lagi gan, ada beberapa candi yg ditemukan di daerah turi. Mungkin klo digali, seluruh jogja ini cagar budaya..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s