Cerita tentang Backpack-ku (#WeAreTravelBlogger)

Seperti makan sayur tanpa garam. Nah seperti itulah jika bepergian tanpa membawa backpack. Ceya! Sepo! Hambar! Gak ada rasanya. Bener gak?

Ketika saya lagi blogwalking eh gak taunya nyasar di www.whateverbackpacker.com , kebetulan ada new post yang mengajak pembacanya untuk menulis tentang backpack kesayangan. Kebetulan saya lagi buntu ide untuk menulis tentang apa. Biasanya blog saya berisi tentang travel diary saja, gak ada salahnya nulis tentang peralatan traveling saya. Khususnya tentang backpack-ku.

Satu pertanyaan penting sebelum membahas tentang backpack-ku. Apakah itu Ron?

Mengapa saya memutuskan untuk bepergian atau sekarang lebih nge-trend dengan sebutan traveling?

********

Saya mau bercerita terlebih dahulu pengalaman yang mengesankan untuk pertama kalinya traveling.

Pada saat saya masih berada di bangku SD tepatnya kelas 5. Berumur berapa tahun ya? Sepertinya umur 11 tahun. Saya diajak oleh tante yang mengasuhku dari kecil untuk pergi ke Gunung Bromo. Tante yang saya maksud adalah adik dari Ayah saya. Memang saya lebih dekat dengan tante daripada dengan kedua orang tua. Maklum Ayah bekerja di desa dan Sang Bunda bertahun-tahun bekerja di luar negeri.

Kebetulan pada waktu itu ada rombongan dari gereja yang akan pergi ke Bromo. Tante saya dan beberapa orang dewasa yang lainnya menjadi peserta rombongan itu. Melihat saya yang sedang kesepian di rumah, saya pun akhirnya diajak untuk memasuki bus wisata.

Lah saya jadi peserta yang paling muda dong? Yup benar kesimpulan Anda. Meskipun ada beberapa peserta dewasa yang membawa anak-anaknya namun mereka sudah SMP.

Bus wisata dari Jember berangkat ke kawasan Bromo pada sore hari. Saya duduk di sebelah tante, barang-barang keperluanku juga sudah disiapkan di dalam tas jinjing. Beruntung banget berada di samping tante yang baik hati ini. Di dalam bus ini, saya hanya mengenal tante saja. Untuk membunuh waktu selama di perjalanan, saya pun tidur terlelap terbuai belaian semilir angin.

Tiba-tiba tante membangunkanku pada saat bus berhenti di Pasar Sukapura. Saya yang masih mengantuk segera mengacuhkan perhatian tante. 5 menit, 10 menit, 15 menit kemudian saya berusaha bangun. Saya heran kenapa di dalam bus menjadi sepi, apakah mereka sedang tertidur semua?

Saya pun menjadi panik. Di malam ini, tidak ada sosok seorang manusia pun di dalam bus ini. Bukan hantu yang saya takutkan tapi saya benar-benar ketakutan tidak bisa pulang ke rumah #SokCool. Saya segera lari keluar dari bus dan langsung terkejut setengah mati ketika ada yang memegang saya dari belakang.

“Tenang nak! Ini bus-nya lagi ganti ban.”, kata pak sopir bus.

“Tante saya kemana Pak?”, ucap saya memelas.

“Oh mereka tadi jalan kaki dahulu, soalnya bus-nya tidak kuat tanjakan tinggi.”, kata pak sopir lagi.

“Tunggu aja di dalam bus, sebentar lagi bus akan nyusul mereka.”, kernet bus meyakinkanku.

Saya yang lugu ini masuk kembali di dalam bus dan memang benar kata pak kernet bus. Kereta roda empat yang sebesar gajah ini pun berangkat. Dengan sangat cemas, saya melihat ke jendela semoga melihat tante dan teman-temannya yang berjalan kaki.

Hati terasa lega ketika bus berhasil menyusul dan mengangkut mereka menuju Pos Cemoro Lawang. Dini hari kami berjalan kaki menuruni jalan menuju lautan pasir. Pada waktu itu persewaan jeep (mobil hardtop) masih sedikit, sebaliknya dengan rental kuda cukup banyak. Bahkan ada kuda yang terperosok ke dalam lubang di jalan aja dibiarkan saja. (‘._.’)\(._.) Puk puk kudanya. Sabar yah

Saat berada di lautan pasir, kabut menyelimuti dan menambah kegelapan pandangan jalanan. Langkah saya yang masih kecil ini tertinggal oleh tante saya. Berjalan terus yang ada di benakku. Saya mengikuti rombongan yang membawa senter. Kadang saya bertemu rombongan satu bus, kadang bertemu rombongan yang tidak saya kenal. Siapa saja yang membawa lampu senter pasti saya ikuti. Berpindah-pindah mengikuti rombongan yang tidak saya kenal sesuai ritme saya berjalan. Ke kanan ke kiri, maju dan balik lagi.

Saya melewatkan matahari terbit di dekat undak-undak Gunung Bromo. Di saya melihat tante dan temannya sedang antri di toilet. Tante tidak ikut naik karena sudah merasa kelelahan. Saya yang terlihat segar disuruh untuk menaiki undak-undak sampai puncak dan menghitung jumlah anak tangga. Aaron kecil ini hanya fokus menghitung jumlah anak tangga sendiri tanpa memperdulikan orang lain dan apa yang adapuncaknya.

Tantangan selesai, tante saya yang menunggu sudah menyiapkan kuda sewaan dengan pemiliknya di bawah undak-undak. Saya dinaikkan ke punggung kuda dan diantarkan sampai di Pos Cemoro Lawang. Lho tantemu di mana Ron? Tentunya terpisah lagi. Untunglah ada beberapa anggota rombongan yang menemaniku. Saya menunggu lama sambil terjemur matahari sampai hampir gosong. Kedatangan tante dan temannya yang berjalan kaki sangat saya harapkan. Pada saat itu belum bisa SMS, BBM, Wasap dan sejenisnya lah. Handphone aja belum ada.

Ternyata mereka berada di pusat oleh-oleh yang berada di balik tempat saya berada. Hati saya merasa senang saat bertemu, tidak ada rasa jengkel sedikitpun karena ditinggal.

********

Pada saat ini saya merasa bersyukur diberi “pelajaran” berharga tersebut dari tante. Pelajaran apa saja?

  1. Pasti ada keseruan tak terduga di setiap perjalanan
  2. Wawasan tentang tempat-tempat indah yang baru saja jumpai
  3. Kebudayaan dan perilaku masyarakat setempat
  4. Belajar mengetahui batas kemampuan diri sendiri
  5. Yang terpenting adalah belajar bersyukur dan mengenal Tuhan melalui ciptaan-Nya.

Tas punggung atau yang sekarang lebih umum dikenal sebagai backpack sudah saya kenal pada saat awal-awal sekolah. Kalau ransel untuk traveling atau yang disebut backpack, baru saya miliki ketika kelas 2 SMA.

Seperti apakah backpack kesayanganku? Ini coba kalian lihat.

Backpack-ku

Backpack-ku

Ada 3 backpack yang menemani perjalanan saya.

  1. Backpack warna putih biru ( by Westpark )

Nah ini backpack tertua saya sekaligus yang pertama saya miliki. Sejarahnya sih kebetulan tante saya yang beli saat jalan-jalan di matahari dept. store Jember. Ada diskon besar-besaran. Harganya sekitar Rp 35,000. Murah kan!

Pada saat itu saya bertanya kenapa kok membeli tas itu, padahal saya kan jarang bepergian ataupun naik gunung. Sebuah jawaban singkat keluar dari mulut tanteku, “Akan banyak pengalaman seru dengan tas ini pada suatu saat nanti”.

Kata-kata itu masih teringat di kepala ketika saat ini saya gemar ber-traveling. #terharu

Beberapa tahun kemudian backpack ini menemaniku di beberapa tempat indah di Indonesia seperti Karimun Jawa, Gili Trawangan, Pulau Menjangan, dan yang paling berkesan saat menemaniku camping di Ranu Kumbolo pertama kali.

Di Ranu Kumbolo saya merasakan backpack ini melekat di punggung saya selama berjam-jam dengan berjalan kaki, padahal saya tidak tahu Ranu Kumbolo itu tempat seperti apa. Dan tidur menggigil kedinginan di dalam tenda pada puncak kemarau (suhu terekstrim yang saya alami yaitu -1o C ) dengan berbantalkan backpack ini.

Backpack jadul ini menemaniku untuk pertama kalinya keluar negeri ke Malaysia. Uwow banget kan?? *TepukTanganSendiri*

  1. Backpack warna hitam ( by Tracker )

Backpack ini lebih nyaman disebut tas punggung. Ada slot untuk laptop juga. Tas ini lebih sering saya pakai jika bekerja meskipun isinya hanya dompet, handphone dan charger aja.

Berapa cost yang harus saya keluarkan? GRATIS!

Saya mendapatkan tas ini dari seminar di Bank Indonesia cabang Jember, nah kebetulan ada souvenir berupa tas ini sekaligus ada label jahitan yang bertuliskan “BANK INDONESIA”. Keren kan? Hahaha padahal bukan pegawai dari Bank Indonesia.

Tas ini cukup berkesan karena sering saya bawa untuk jalan-jalan ke Jogja atau hanya sekedar mengunjungi pacar (dulu).

Harus beberapa kali dijahit karena terlalu sering dipakai dan membawa beban berat ketika traveling. Tas ini cukup ekonomis. Loh kok bisa? Ya, karena saya membawa tas ini jika traveling saat keuangan lagi ekonomis pula. Hanya cukup untuk baju ganti dan peralatan mandi saja. TIDAK ADA OLEH-OLEH! Kasihan dulu saya paksa untuk diisi oleh-oleh dan beberapa kali robek. L

  1. Backpack warna abu-abu hitam ( by Eiger )

Ketika saya pulang ke kampung halaman, tampak kakak pertama saya yang mudik juga. Kakak yang terlihat paling acuh ini tiba-tiba memberikan beberapa barang yang membuat saya terkejut.

Dengan santainya dia bilang, “Tuh ambil barang-barangku!”. Sambil menunjuk ke lemari baju. Mungkin karena saya gemar traveling, kakak saya memberikan barang-barangnya.

Barang-barang itu meliputi backpack 40L, sleeping bag saat panas, sleeping bag saat dingin, dan matras.

Dalam hati saya berkata, “Ada apa nih? Serius nih gak bohong”. Saya hanya mendekati lemari sambil bertingkah cool dan biasa aja, padahal di dalam hati seneng banget. Lalalayeyeye

Berapakah harganya? Saya sendiri sungkan untuk menanyakan harganya kepada kakak. Anggap saja saya dapat gratis! Eh emang gratis ya? Hahaha. Maap map kelewat bahagia.

Saat bersama backpack ini, kenangan saat di mana yang berkesan?

Ada 2 jawaban, yaitu saat pertama kali solo traveling ke luar pulau tepatnya Pulau Kalimantan daerah Banjarmasin dan Loksado.

Yang kedua saat trekking jauh menuju Mahameru, saat itu saya melepas kegalauan hati di sana. Di sana pula saya merasakan serunya seharian berjalan kaki, kedinginan (lagi), tidur di lereng Mahameru, dan serunya ditinggal teman-teman saat kelaparan dan haus ketika mendaki pasir untuk bisa ke puncak gunung Mahameru.

********

Nah seperti itu lah keseruan traveling saya dengan backpack. Bagaimana dengan kisah kalian? Pasti lebih seru bukan!

whatever i'm backpacker

JT

Advertisements

43 responses to “Cerita tentang Backpack-ku (#WeAreTravelBlogger)

  1. Wah kata-kata tantenya cukup membangunkan untuk motivasi, keren! Pengalamannya juga banyak, pengen deh rasanya bisa mengelilingi Indonesia 😀

    -www.ridhannaa.blogspot.com-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s