Batu Caves dan Cita Rasa India

Hanya berbekal kertas pemberian dari Andy, kami berempat melakukan ekspedisi ini. Kertas ini bukan sembarang kertas. Kertas ajaib yang berisi petunjuk supaya kami bisa sampai di lokasi harta karun Batu Caves. Wah kalau kertas ini hilang bisa bahaya kan! Jauh-jauh dari Jember. Kota yang tidak seberapa besar di Jawa Timur. Masa mau tersesat di negeri orang. Jelas gak lucu, horror banget lah!

Pagi yang cerah ini, kami sudah diberi suguhan khas Eropa dari Andy. Apakah itu?

Roti tawar dengan selai buah, ada telur dadarnya, serta teh hangat. Mau susu, dipersilakan mengambil sendiri di kulkas. Enak kan?! Hahaha gak Indonesia banget kan?! Saya benar-benar merindukan makan nasi pecel. Tiga hari ini di Malaysia, makannya hanya nasi lemak saja. #Gagal Jadi Bule

Kamipun berangkat menuju Stasiun Chow Kit yang ada di dekat apartment. Sayangnya Andy tidak bisa ikut karena ada pekerjaan. Ah tidak apa-apa lah, kita menumpang itu gak boleh nglunjak minta yang aneh-aneh kalau tuan rumahnya berhalangan. Yang penting kertas peta harta karunnya sudah ada di tangan.

Saya tidak tahu Batu Caves itu apa dan belum browsing dari internet juga. Yang membuat schedule perjalanan kami kali ini adalah Andre. Sedangkan saya kali ini tugasnya apa? Masa jadi boss yang leyeh-leyeh seperti peserta trip berbayar?! Tentu tidak! Kali ini tugas saya sebagai bendahara trip ini, yang mencatat semua pengeluaran sehingga segala yang berhubungan dengan utang piutang bisa jelas.

Ternyata cukup murah sekitar RM 3 (sekitar Rp 9.000) per orang untuk bisa sampai di stasiun dekat Batu Caves. Bukit-bukit kapur menghiasi panorama pagi ini. Aroma gedung pencakar langit berubah dengan nuansa India. Gaya arsitektur dan beberapa gaya busana orang India berwarna-warni. Wewangian sesajen dan bara api tercium di kawasan ini. Ternyata Batu Caves ini adalah kawasan pura (baca: tempat ibadah) umat Hindu. #BaruTahu

Untuk masuk ke kawasan ini kita tidak perlu membayar. Konon katanya kawasan ini didaulat sebagai kawasan wisata nasional di Malaysia sehingga pengunjung tidak perlu membayar sepeserpun untuk bisa masuk. Namun ada beberapa tempat di sini yang dikomersilkan seperti tempat Cobra Show dan Goa Gelap.

Kami melewati pura yang ada patung Hanoman. Di patung tersebut ada gambar Dewa Rama dan Dewi Shinta yang berada di dada Hanoman. Memang Hanoman adalah kera sakti yang menjadi ajudan dari Dewa Rama. Tapi anehnya, Hanoman dalam pewayangan di Indonesia diceritakan sebagai kera putih yang sakti. Namun patung dan pura sembahyang-nya berwarna hijau.

Patung Hanoman dan pura pemujaan di belakangnya

Patung Hanoman dan pura pemujaan di belakangnya

Kera adalah wujudku, kesaktian adalah anugrahku, pengawal dan sahabat sejati adalah aku. Sri Rama dan Dewi Sinta yang bersemayam di dalam hatinya adalah hadiah terindah bagi Hanoman.

Sesaat saya masih menikmati suasana di pura dekat patung Hanoman ini, saya terpisah sendiri dengan Andre, Ainun, dan Mbak Irma.

Wah bagaimana ini?! Saya ditinggal sendirian. #Panik

Ah saya meng-eksplore sendiri aja, anggap aja me time. #MenenangkanDiri

Ternyata Andre dan Ainun sedang mengikuti upacara pernikahan Bangsa Tamil yang ada di pura tengah. Lah terus Mbak Irma di mana? Biarin aja deh, nanti juga ketemu sendiri.

Wah suasananya sejuk dan cukup mengesankan. “Dunia” yang baru saya kunjungi pertama kali.

”Woi!!”, teriak orang di belakang saya sambil menarik kaos saya.

”Hah!!!”, saya terkejut dan berusaha lari. Kaos saya ditarik semakin kencang, saya pun menoleh ke belakang.

Saya : Oalah kamu toh Mbak Irma!!

Mbak Irma : Jangan ditinggal dong!

Saya : Perasaan saya yang ditinggal deh.

Mbak Irma : Sini fotoin saya.

Saya : Hasshhhh!!! Sedikit aja ya.

Mbak Irma : Fotoin saya di sini juga.

Saya : Hadaaahhh nambah fotonya.

Mbak Irma : Fotoin lagi di sini.

Saya : Sudah ya Mbak. Saya lagi ingin menikmati suasana ini sendiri. *ngacir*

Kawanan burung merpati memadati jalanan di depan patung besar. Mereka menghampiri pengunjung dan masyarakat lokal yang memberi mereka segenggam biji jagung.

Untunglah kami bertemu Ainun dan Andreas lagi di depan patung besar Dewa Murugan sehingga saya terbebas menjadi fotografer amatir dadakan. Hahahaha.

*****

Siapakah Dewa Murugan ini? Ada yang tahu?!

Katanya sih Dewa Murugan ini adalah Dewa Hindu yang dipuja oleh orang Tamil. Dewa ini adalah Dewa perang dan pelindung dari negeri Tamil. Nah info singkatnya sih begitu.

Mau tau seperti apa wujud dari patung Dewa Murugan ini?! Check it out!!

Patung Dewa Murugan

Patung Dewa Murugan

Dengan tombak, Aku berperang melindungi bangsa Tamil. Emas adalah cahaya kejayaan untuk bangsa Tamil yang memujaku.

*****

Mbak Irma, Andreas, Ainun, dan Aaron

Mbak Irma, Andreas, Ainun, dan Aaron

Kami pun menaiki anak-anak tangga yang banyak dan tinggi. Cukup membuat otot-otot kaki menjadi tegang. Alih-alih cukup lelah menaiki anak tangga, saya mengamati beberapa umat Hindu yang juga naik untuk beribadah di pura atas. Ternyata mereka menaiki anak tangga dengan berjalan zig-zag. Wah saya jadi ingat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam saat di sekolah dulu, ini kan pelajaran tentang bidang miring. Ada yang masih ingat tentang pelajaran ini?! Hahaha pasti ada yang sudah lupa. Secara singkat sih begini. Kalau menaiki medan yang tinggi, kita seharusnya berjalan zig-zag untuk mengurangi beban yang disebabkan oleh gaya gesek karena ketinggian serta beban oleh gaya grafitasi bumi. Duaarrr!! Seingat saya sih begitu.

Anak tangga

Anak tangga

Anak-anak tangga ini akhirnya dapat kami lampaui dengan baik. Aroma menyengat merasuk di hidung kami, goa tersebut dihuni oleh kelelawar. Ainun yang kelelahan akhirnya duduk di salah satu kursi.

Pahatan di dinding goa

Pahatan di dinding goa

Patung-patung di dalam goa

Patung-patung di dalam goa

Saya sangat antusias dengan lukisan dan pahatan yang ada di dinding goa ini sehingga saya berjalan sendiri menikmati keindahan ini. Saya terus memasuki goa itu sampai pada tempat ibadah utama yaitu Sri Valli Deivana Murugan Temple Batu Caves.  Lukisan dan pahatan tersebut menggambarkan kehidupan umat Hindu khususnya bangsa Tamil. Untuk masuk ke dalam tempat ibadah, kita diwajibkan untuk melepaskan alas kaki karena itu adalah tempat suci. Melihat saya yang antusias itu, Andre mengikuti saya untuk mengambil beberapa gambar. Mbak Irma yang juga kelelahan mencoba duduk sambil mengambil snack kacang dari dalam tasnya. Apakah yang terjadi?

“Huwaaaaa!!!”, jerit Mbak Irma ketika dikejar beberapa ekor kera setelah melihat kacangnya. Mbak Irma yang ketakutan berlari ke arah saya. Waduh!! Saya ya ikut berlari juga sambil berkata ke Mbak Irma untuk menyembunyikan kacangnya ke dalam tas. Syukurlah kera-keranya juga berhenti mengejar kami sehingga saya bisa menikmati pemandangan ini lebih lama.

******

Saya pun turun anak tangga dulu untuk melihat ke kawasan Goa Gelap. Eh ternyata Mbak Irma membuntuti saya dengan dalih ingin difotokan di sana. Hassshhh!!! Baiklah tapi jangan sering-sering minta foto. Hemm hemm hemm.

Ada 2 paket yang ditawarkan di Dark Cave (Goa Gelap) ini yaitu education tour (45 menit berjalan kaki dengan tarif : dewasa RM 35, anak-anak di bawah 10 tahun RM 28) yang kedua adalah adventure tour (durasi 3 jam dengan tarif : dewasa RM 80 dan anak-anak di bawah 10 tahun RM 60).

Kawasan Goa Gelap

Kawasan Goa Gelap

Ternyata cukup mahal untuk masuk ke dalam terowongan di Goa Gelap. Ya saya hanya sampai di pintu masuknya saja kemudian kembali menyusul Andre dan Ainun yang berada di depot masakan India. Kebetulan siang ini perut saya kelaparan.

Ayo Mbak!! Turun nyusul arek-arek.

*****

Restoran India

Restoran India

Daftar Menu

Daftar Menu

Ternyata Ainun dan Andre sudah ada di depan depot tersebut. Let’s go!! Ayo masuk dan pesan makanan!

Kami tidak tahu ini makanan seperti apa? Ya kami pesan sendiri-sendiri tapi berbeda menu. Makanan khas India yang bernama Thali jadi pilihan saya, Andre memilih makanan utama dan Thosai, Ainun memilih nasi goreng, sedangkan Mbak Irma memilih mie goreng dengan teh tarik kesukaannya (Hah!! Gak salah pesan tah!). Menurut saya sih, harga masakan ini sedikit agak mahal juga. Namun harga itu sesuai dengan pelayanan yang disajikannya. Meskipun pelayan dan kami kurang bisa berkomunikasi, maklumlah kami sama-sama tidak mengerti bahasa yang berbeda itu. Bahasa Indonesia tidak bisa, bahasa Inggris juga tidak bisa, pelayannya cuma bisa melayani dengan sabar dan senyum. Mereka lebih fasih dengan bahasa Tamil-nya.

Thali

Thali

Hijau daun pisang menjadi singgasana. Rempah-rempah yang menyejukkan perut dan menghangatkan tubuh. India adalah asalku. Ya, cita rasa ini bernama thali.

*****

”Perut kenyang, kita pulang.” Begitulah pepatah kuno untuk pengembara. Hahaha.

Kami kembali menuju stasiun dan pulang ke Kuala Lumpur. Tepatnya di Central Market karena sudah ada Andy yang menunggu kedatangan kami. Wah di mana itu? Kami pun tidak tahu. Lah terus bagaimana dong?

Bersambung

JT 13 02 15

Advertisements

4 responses to “Batu Caves dan Cita Rasa India

  1. wah keren juga pura-nya, sepertinya terawat dg baik. patungnya mirip banget dg yang banyak ditemukan di India.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s