Cahaya Menara Kembar Petronas Malam Itu

Kereta MRT ini mengantarkan kami sampai di Stasiun Chow Kit. Yup! Sore ini, awan terlihat mendung dan matahari kurang berseri. Kami sudah kembali lagi di Kuala Lumpur. 10 menit kemudian datanglah seorang yang sangat baik hati menjemput kami dengan berjalan kaki.

Kami tidak menyebutnya dengan panggilan “Pak Cik” seperti selazimnya orang Melayu. Beliau berasal dari Eropa maka “Mister” adalah yang terlontar dari mulut kami namun sebutan itu ditampiknya dengan sopan.

“Panggillah saya Andy, seperti biasanya orang memanggilku!”, seru Andy.

Ya namanya adalah Andy, nama yang cukup umum untuk nama-nama orang yang hidup di bola bumi ini. Namun sifatnya yang baik hati yang tidak cukup sama jika dibandingkan dengan orang lain. Andy mengantar kami berempat ke dalam apartment-nya di lantai teratas kedua dari puncak gedung. Tanpa dipungut biasa sepeserpun. Tak terhitung juga berapa negara dan berapa kali Beliau mengelilingi dunia dari satu negara ke negara yang lain, selain itu tak terhitung pula berapa banyak traveler yang ditolongnya untuk tinggal di bilik rumah kecilnya saat berada di Kuala Lumpur. Memang beliau adalah seorang Pioner dari komunitas Couchsurfing. Sebuah wadah komunitas traveling yang tidak hanya tentang jalan-jalan dan menumpang tidur, namun komunitas yang dapat menciptakan hubungan persahabatan yang erat antar traveler baik sesama traveler dalam negeri dan juga traveler luar negeri.

Jadi bagaimanakah kami bisa mengenal Andy? Baiklah saya ceritakan secara singkat bagaimana persahabatan yang indah ini terjalin.

Awalnya Andreas berhasil mendapatkan trip ke Sepang satu tahun sebelumnya, pada saat di Kuala Lumpur dia menghubungi Andy melalui couchsurfing.org dan mereka pun bertemu dan berjalan bersama menyusuri jalanan di Kuala Lumpur. Beberapa bulan kemudian giliran
Andy yang datang ke Jember dan menginap di rumah Andreas. Andy dan beberapa teman saya ikut berjalan menuju Kawah Ijen. Dan saat ini giliran kami berempat (Andreas, Ainun, Mbak Irma dan saya) yang mengunjungi Andy di Kuala Lumpur. Saya juga tidak menyangka memiliki sahabat dari luar negeri. Melalui couchsurfing, mata saya terbuka bahwa masih banyak orang di tempat yang jauh jaraknya  bisa menjadi seorang sahabat.

*****

Menara Petronas dan KL Tower dari jendela apartment

Menara Petronas dan KL Tower dari jendela apartment

Dari jendela apartment-nya, kami dapat melihat menara Petronas dan KL tower dengan jelas. Saya tidak dapat membayangkan berapa banyak uang yang diinvestasikan hanya untuk satu apartment dengan view yang indah ini. Kami berempat hanya bisa menirukan gerakan dari Too Phat dengan lagu Angguk-angguk Geleng-geleng. #tertegun

Sesaat kami beristirahat, ada satu wanita dari Eropa juga yang ditolong Andy untuk menginap di rumahnya. Dalam satu malam, Andy membantu 5 orang untuk singgah dan memberi petunjuk jika mau kemana-mana. #salut

Tanpa basa-basi, Andy segera mengajak kami ke menuju menara Petronas. Kami turun menuju Stasiun Chow Kit dan berhenti di stasiun yang dekat dengan menara tersebut. Lumayan berkeringat saat berjalan kaki menuju menara. Menara yang megah ini lebih indah jika malam hari, cahaya lampu menjadi keindahan tersendiri yang tidak dapat ditemukan di negara lain. Saat kami di sini, sudah banyak pengunjung yang mengabadikan moment ini untuk mengambil gambar bersama.

Kita lagi di depan menara kembar Petronas

Kita lagi di depan menara kembar Petronas

Menara Petronas tampak dari bawah

Menara Petronas tampak dari bawah

Menara Petronas dari tampak dari belakang

Menara Petronas dari tampak dari belakang

Seketika ku melepaskan pandanganku ke angkasa, inikah landmark yang menyatukan penduduk Malaysia. Kuturunkan busur mataku ke samping, cahaya menara ini menarik wisatawan dari berbagai penjuru untuk menjadi sebuah senyawa yang indah.

Kami pun berjalan memasuki menara kembar Petronas hingga berada di belakang menara tersebut. Tampak air mancur berwarna-warni yang menari indah di kegelapan malam itu. Sungguh indah pemandangan ini. Tampaknya sedikit orang yang tahu tentang air mancur dari kolam buatan ini, sehingga mereka hanya fokus untuk berfoto bersama dari depan menara saja.

Di depan air mancur

Di depan air mancur

Tarian air mancur

Tarian air mancur

Keindahan pemandangan ini membuat kami lupa untuk makan malam. Tiba-tiba moment ini terusak karena suara krucuk-krucuk dari perut saya.

Andreas : Luwe tah? (baca: lapar ya?)

Saya : Iyo, ageh ngomongo arek-arek ben ndang mangan! (baca: ya, segera bilang ke teman-teman supaya segera makan) *sambil mengelus perut*

Andy yang memiliki respon tinggi ini segera membawa kami ke kawasan yang bernama Bukit Bintang. Kawasan ini cukup ramai dengan pedagang kaki lima. Aneka makanan dan jajanan bertebaran di sepasang jalan. Banyaknya pilihan makanan membuat kami bingung mau makan di mana dan makan apa. Saya dan Andre langsung menunjuk ke salah satu warung yang terlihat ramai namun Andy mencegahnya karena makanan tersebut haram dikonsumsi oleh Ainun dan Mbak Irma. Ah iya lupa kalau mereka berdua tidak boleh makan yang mengandung “ngok” (baca: babi). Kami pun akhirnya makan chinese food namun koki-nya adalah orang Melayu. Tampaknya cukup enak karena warung ini adalah langganan Andy.

Salah satu air mancur di kawasan Bukit Bintang

Salah satu air mancur di kawasan Bukit Bintang

Jalanan di Bukit Bintang

Jalanan di Bukit Bintang

Gelap langit terhiasi dengan aneka ragam warna lampu yang meramahkan kawasan Bukit Bintang. Air Mancur yang indah menyejukkan pencari jati diri yang haus akan cerita kehidupan.

Hari menunjukkan jam 11 malam. Kereta MRT sudah tidak beroperasi, stasiun sudah tutup. Dari Bukit Bintang, kami berjalan kaki menuju apartment-nya Andy. Memang cukup jauh, saya pikir sekaligus menurunkan makanan yang baru saja makan.

Di apartment­, saya tidak segera tidur. Saya melihat menara kembar Petronas dari jendela kamar. Cukup indah dinikmati pemandangan itu. Saat itu pula saya merenung tentang kebaikan yang bersinar dari seorang Andy, teladan itulah yang akan saya bawa pulang beberapa hari lagi.

Menara Petronas malam hari dari apartment

Menara Petronas malam hari dari apartment

JT 13 14 02

Advertisements

6 responses to “Cahaya Menara Kembar Petronas Malam Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s