Matahari Pagi Lok Baintan

“Besok jadi ke Lok Baintan?”, itulah SMS yang membuat saya merasa gundah saat berada di Pantai Hambawang,  Barabai, Kalimantan Selatan.

Harus saya jawab bagaimana? Jika tidak, kapan lagi saya bisa mengunjungi pasar terapung yang dulu populer sebagai iklan dari sebuah televisi swasta, apalagi saya sudah jauh-jauh dari Jawa dan entah kapan bisa mengunjungi Kalimantan Selatan lagi.

Lantas bagaimana jika saya “ya”? Jika ya, saya harus menyewa klotok (perahu) seharga Rp 200.000 dari Banjarmasin menuju Lok Baintan dan cadangan uang di ATM juga mulai menipis. Dilema. Hasshh. *acak-acak rambut*

Sabtu sore saat perjalanan dari Pantai Hambawang menuju Banjarmasin, saya akhirnya menjawab SMS itu dengan jawaban : “Qory, besok pagi kita ke Lok Baintan. Biar saya yang sewa klotok-nya. Ajak siapa saja yang mau ikut!”

Cling! *suara ringtone SMS* Ada SMS balasan : “Oke, besok klotok sudah menunggu jam 4 pagi.”

Matahari sudah tertidur lelap menunggu kedatanganku di Lok Baintan. Malam ini saya kembali menginap di rumah Qory. Kebetulan besok yang ikut menjadi satu klotok dengan saya adalah Qory dan adiknya.

*****

Hari Minggu sudah tepat jam 4 pagi, saya kelabakan karena baru terbangun. Saya keluar kamar. Qory dan adiknya masih tertidur lelap. Tamu yang tidak tahu diri ini membangunkan kedua pemilik rumah ini.

Kami segera bergegas menuju sungai yang ada di dekat kantor DPRD Kalimantan Selatan. Di sana sudah ada nelayan yang sudah siap sedia untuk mengantar kami.

Yep!! Lok Baintan!! I’m coming!!!!

*****

Matahari masih belum membuka matanya. Lampu-lampu di tepi sungai dan di klotok yang menjadi pelita dalam awal perjalanan ini.

Berangkat sebelum matahari terbit

Berangkat sebelum matahari terbit

Saya melihat rumah-rumah kayu yang ada di tepi sungai. Mereka sudah memulai aktivitasnya dengan penuh semangat menyambut sang mentari.

Meski udara di pagi hari ini cukup menyengat tulangku, saya sangat bersyukur bisa melihat proses matahari terbit dan kehidupan perkampungan di sekitar sungai.

Matahari mulai terbit

Matahari mulai terbit

Suara adzan bergema

Suara adzan bergema

Aktivitas sudah tampak

Aktivitas sudah tampak

Hanya 45 menit kami sudah sampai di pasar terapung tertua di Kalimantan ini. Meskipun pemerintah daerah sudah menghimbau para pedagang di Lok Baintan untuk berdagang di dekat kota, namun tradisi mencari nafkah di sini membuat mereka sedikit mengacuhkan himbauan tersebut. Ada pula yang mengikuti himbauan tersebut berdagang di sungai dekat kota namun mereka kembali lagi ke Lok Baintan jika hari menjelang siang.

Sebagian besar pedagang adalah wanita. Mereka menggunakan klotok dayung kecil dan di tengahnya ada barang dagangan. Wanita-wanita tangguh ini memang sebagian besar sudah usia senja. Namun semangat pagi adalah salah satu tradisi mereka. Pagi-pagi sudah menghias wajah supaya terlihat lebih cantik.

Setelah berdandan mereka pun bersiap

Setelah berdandan mereka pun bersiap

Pedagang yang menuju Lok Baintan

Pedagang yang menuju Lok Baintan

Budaya barter  masih melekat di pasar ini, meskipun uang juga sudah masuk meramaikan transaksi jual beli. Ketrampilan bernegosiasi juga diperlukan dalam pasar tradisional ini. Beberapa pedagang memang sudah memberi daftar harga untuk dagangan, namun bernegosiasi adalah seni berdagang yang tetap mereka gemari. Hasil dari berkebun seperti pisang, jeruk, dan lainnya mereka bawa ke pasar ini, ada pula beberapa makanan tradisional yang menjadi pemanis lidah pengunjung.

Pasar tradisional sudah padat

Pasar tradisional sudah padat

Aktivitas jual beli juga berlaku untuk para pedagang

Aktivitas jual beli juga berlaku untuk para pedagang

Kami memakai klotok motor yang lebih besar melewati kerumunan klotok-klotok dayung kecil. Saya kasihan dengan beberapa pegadang yang bersenggolan dengan klotok kami yang lebih besar. Mereka sama sekali tidak marah, mungkin itu sudah biasa bagi mereka.

Adik Qory memanggil salah satu pedagang kue basah khas Lok Baintan. Pedagang itu berada di tengah kerumunan klotok-klotok. Apakah yang akan kami lakukan? Haruskan salah satu dari kami turun dan menyeberang melewati klotok-klotok? Itulah pertanyaan yang terbersit di alunan pikiranku.

Kue basah khas Lok Baintan

Kue basah khas Lok Baintan

Hal yang tak terduga menghiasi bola mataku. Pedagang itu berusaha keluar dari kerumunan dan bersemangat menghampiri klotok kami. Harga kue basah itu cukup murah. Bukan sekedar materi yang menjadi motivasi bagi pedagang ini, namun dapat melengkapi kebutuhan kecil dari orang yang membutuhkan adalah kepuasan tersendiri bagi mereka.

Berfoto dengan salah seorang pedagang yang ceria

Berfoto dengan salah seorang pedagang yang ceria

Matahari di Lok Baintan bukanlah dari sinar sang surya yang sesungguhnya. Matahari di Lok Baintan ada di senyum tulus dan semangat perjuangan para pedagang pasar terapung tradisional ini.

 

JT 13 0609

 

Advertisements

18 responses to “Matahari Pagi Lok Baintan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s