Bamboo Rafting di Amandit Loksado

Ketika kalian membaca bamboo rafting, apakah yang kalian bayangkan?

Ketika kamu mendengar kata Loksado, bisa tebak itu apa?

Tidak tahu kan?! | Sama kalau begitu, saya juga tidak tahu. *jabat tangan*

**********

Kisah ini bermula ketika ada promo tiket murah dari suatu maskapai penerbangan berwarna hijau. Plis! Jangan bayangkan kalau itu pesawat terbang milik Satpol PP karena berwarna hijau.

Saya lagi mengunjung Kakak Yulia di rumahnya. Eh komputernya sudah menyala. Wah kebetulan sekali ada destinasi menuju ke Kalimantan. Awalnya saya mendapatkan tiket dari Surabaya ke Balikpapan dan Banjarmasin ke Surabaya. Tiket pulang dari Banjarmasin sudah saya print dan tinggal bayar saja pakai ATM.

Namanya juga nasib, ketika saya mau print tiket berangkat dari Surabaya ke Balikpapan eh si printer mendadak error. Haduuuuhh harus bagaimana ini? *garuk-garuk kepala*

Ada dua solusi penyelesaian. Apakah itu?

Yang pertama booking tiket lagi untuk berangkatnya. Namun lagi-lagi nasib mulai kurang mujur, ternyata promo tiket ke Balikpapan-nya habis. | Busyet dah! Cepat banget habisnya! *tambah cepat garuk kepala*

Solusi kedua adalah membatalkan perjalanan tersebut. | Oh men!! Seumur hidup saya belum sekalipun menginjakkan kaki di Kalimantan. Masa kesempatan kali ini dilewatkan.

Kedua mata melotot ke monitor dengan masih menggaruk-garuk kepala. Bukan gatal atau banyak kutunya loh ya, tapi stress membayangkan kesempatan tersebut terbuang percuma.

Aha!!! Akhirnya saya dapat tiket promo. Kali ini saya harus merelakan destinasi di Balikpapan dan sekitarnya  karena saya cuma mendapatkan tiket promo Surabaya ke Banjarmasin.

Ok sip! Print tiket promo dan menuju ke ATM untuk membayar tagihan tiket pesawat.

Saya : Berangkat dulu ke ATM ya! Hahaha buat bayar tiket!

Yulia : Ya. Hati-hati di jalan.

Dengan hati gembira saya menuju ATM dan membayarnya. Ok sip! Saya akan ke Kalimantan.

Seketika keluar dari ATM, tiba-tiba wajah saya mendadak pucat.

Ini langitnya cerah kan! Tidak ada petir yang menyambar kan?!

Dengan langkah lemah gontai saya kembali ke rumah Yulia.

Yulia : Woi! Kenapa kok tidak gembira? Malah tidak bersemangat.

Saya : *hening*

Yulia : *jambak* Kamu kenapa Ron!

Saya : *tersadar* Apa?

Yulia : Kamu kenapa kok?!

Saya : Baru sadar kalau tiket yang saya beli bersamaan dengan deadline saya maju ujian skripsi.

Yulia : Hahahahaha. Mangkanya diperiksa dulu tanggal dan bulannya.

Saya mencuci wajah dahulu sebelum kembali pulang ke rumah saya.

Di sepanjang perjalanan cuma ada dua kata yang berputar-putar di kepala saya.

Kalimantan / Skripsi / Kalimantan / Skripsi / Kalimantan / Skripsi ???

Ahhhh!! Seperti makan buah simalakama. Harus memilih salah satu.

Tanggal keberangkatan sudah mendekati hari-H. Ahhhh!!! Pilih yang mana?

Saya langsung berkemas untuk berangkat. Dan….

Tante : Apa kabar skripsimu Ron?

Saya : Tuh tergeletak cantik di meja kamar.

Tante : Kerjaan kamu di kantor?

Saya : Bolos!!!!

Tante : Hati-hati di jalan ya.

Saya : *heran* Loh saya tidak salah dengar ya? Apa saya masih mengigau? Kok tumben tidak marah.

*****

Singkat cerita saya sudah mendarat cakep di Bandara Syamsudin Noor pada siang hari.

Bagaimana perasaan anda berada sendirian di pulau yang tidak anda kenali dan tidak ada sanak saudara atau teman? Bingung! Gelisah!

Sudah jelas jawabannya. Inginnya sih bersama dengan seorang teman atau seorang pacar waktu itu untuk traveling bersama supaya perjalanan ini menjadi ramai.

Beruntunglah saya sebelumnya sudah menghubungi salah satu penggiat komunitas traveling yang ada di Banjarmasin. Nama teman baru saya adalah Qory. Ternyata dia juga pernah menampung kedua teman saya yang berkunjung di  Banjarmasin.

Teman baru yang saya tunggu belum datang juga. Sambil menguap beberapa kali di pintu keluar bandara saya menunggunya. Hoaamm.

Saya mencoba tidur di lantai bandara tapi saya lihat kotor dan berdebu. Hassshhh terpaksa mengurungkan diri untuk tidur. Mata sudah sedikit terpejam, terpaksa saya mencari dinding untuk duduk bersandar. Lidah menjulur menunggu nyamuk datang. Hleeebb groookk grokkk. #tertidur

Dreeettt!!! Dreeettt!!!

Haaasshh!! Apa sih!! Ternyata Hp saya bergetar. Oh ternyata Si Qory yang menjemput saya sudah dekat dengan bandara.

Bandara ke Kota Banjarmasin berjarak sekitar 30km. Bagaimana kalau saya tidak tahu jarak itu dan mulai berjalan kaki demi mengirit uang? Sepertinya saya akan mengulangi pengalaman gerak jalan tradisional Tanggul – Jember yang berjarak 30km juga.

Saya langsung dijamu lalapan ikan bakar yang dijual di warung milik Qory. Sungguh baik sekali teman baru saya ini. Makanan terasa enak, apalagi disertai kehangatan dari keramahtamahan keluarganya. Padahal saya cuma orang baru (asing) yang menumpang. Ahhh #terharu

Ikan Patin Bakar

Ikan Patin Bakar

Ikan Nila Bakar

Ikan Nila Bakar

Tanah di daerah Banjarmasin ini adalah tanah rawa, jadi jangan kaget kalau rumah mereka seperti rumah panggung dan kadang-kadang jalanannya tergenang air.

Saya habiskan malam ini untuk tidur di rumah Qory. Good night!

******

Siang hari saya diantar menuju terminal karena saya akan pergi satu hari untuk mengunjung sahabat yang membanting tulang di sana.

Pantai Hambawang adalah tempat sahabat saya bekerja. Perjalanan saya tempuh dengan menggunakan angkotan umum dengan lama sekitar 4 jam-an. Wah seperti dari Jember ke Surabaya.

Sore harinya saya sudah sampai di Pantai Hambawang. Saya mulai penasaran dengan pantai atau laut di sana. Tak lama kemudian Faisol datang menjemput saya menuju rumah dinasnya.

Ya, namanya Faisol. Dia adalah sahabat saya yang dulu tinggal di Jember, sekarang bekerja keras di sana. Tidak ada pantai atau laut di Pantai Hambawang.

Bingung kan!! Iya! Saya juga bingung. Pantai Hambawang cuma sekedar nama tempat, bukan pantai dalam arti garis tepi laut yang sebenarnya. Jiaahhhh!!! #TepokJidat

******

Pagi ini kami berangkat dari Pantai Hambawang menuju Loksado dengan sepeda motor. Sekitar satu setengah jam untuk bisa sampai di sana. Saya langsung mendatangi tempat outbond yang menawarkan jasa wisata bamboo rafting.

Amandit Outbond

Amandit Outbond

Nama tempat ini Amandit di Kabupaten Loksado. Letaknya masih di kaki Pegunungan Meratus. Katanya sih di pegunungan ini dihuni oleh monyet berhidung panjang yang bernama bekantan. Yang jadi icon di Dufan itu kan? Ya anda benar. Monyet jenis ini bersifat pemalu. Karena terlalu malu sampai saya sama sekali tidak mengetahui keberadaannya. Hadah!!

Kebetulan hari ini sepi sehingga tidak nampak ada pengunjung yang ingin mencoba bamboo rafting, kebetulan basecamp outbond-nya juga tutup. Jauh-jauh dari Jember naik bus ke Surabaya, naik pesawat ke Banjarmasin, naik angkot ke Pantai Hambawang, naik motor ke Loksado dan hanya sia-sia saja. Haassshhh. #Nggigit Pohon Bambu#

Ya Tuhan, semoga perjalanan saya kali ini sungguh bermakna. Amin! *berdoa*

Tak lama kemudian muncullah seorang pengurus outbond dengan sepeda motor butut-nya.

Pengurus : Ada yang bisa saya bantu, Pak?

Faisol : Ini Pak. Mengantar teman saya yang jauh-jauh dari Jawa mau mencoba bamboo rafting.

Pengurus : Mari saya antar ke hulu sungai!

Saya : Pak! Pak! Harga sewanya berapa?

Pengurus : 300ribu Pak! Tapi berhubung kalian cuma berdua saya boleh disewa Rp 250.000 saya.

Saya : Wuiks. Uang di dompet tinggal 100ribu saja, di dekat sungai ini tidak ada ATM. #mbatin

Faisol : 150rb saya yang bayar, kamu bayar sisanya saja Ron!

Saya : Syukurlah kalau begitu. Kapan lagi bisa mencoba bamboo rafting, tidak apa-apa sekali-kali mahal.

Keberangkatan

Keberangkatan

******

Seorang pemandu bamboo rafting sudah tempat keberangkatan. Dia sudah menyusun bambu-bambu menjadi sebuah rakit dan sebuah tempat duduk kecil di tengah rakit.

Bapak Pemandu Kami

Bapak Pemandu Kami

Namanya Faisol yang Pemalu :))

Namanya Faisol yang Pemalu :))

Wisata ini bernama bamboo rafting. Sebuah wahana wisata yang menggunakan rakit untuk menyusuri sungai yang jernih ini. Kapasitas rakit bisa sampai 8 orang. Jadi sewanya lebih murah dari pada kalau cuma berdua.

Air Sungai yang Jernih

Air Sungai yang Jernih

Bagaimana dengan arus sungainya?

Arus sungai bervariatif, mulai dari yang tenang, agak deras, dan deras sekalipun juga ada.

Sungainya jernih. Burung-burung liar bersautan dari atas pohon Tampak pula anak-anak yang ceria sedang berenang dan mencari ikan di sungai. Mereka tampak lebih sehat daripada kami berdua. Udaranya sejuk segar, jadi tidak perlu meminum air mineral yang mengandung O2 atau tabung oksigen. Cukup tinggal beberapa hari di sini, kalian bisa lebih awet muda. Meskipun mereka masih kecil-kecil, perutnya sudah berotot. Bagaimana dengan kami berdua? Perut sudah menggembul (baca : agak buncit). Perlu rutin berolahraga lagi.

Arus Sungai yang Deras

Arus Sungai yang Deras

Bambunya sampai tak terlihat

Bambunya sampai tak terlihat

Daripada cuma diam saja di atas rakit, kami mencoba untuk mengayuh bambu. Air sungai sungguh segar. Kadang saya harus berdiri dan duduk agar badan seimbang. Kadang harus jongkok supaya terhindar dari pepohonan yang menjulur ke sungai.

Belajar mengayuh ahh

Belajar mengayuh ahh

Di atas rakit, Saya dan Faisol menyambi dengan mengobrol. Ya mengobrol tentang pengalaman hidup dan peluang kerja. Sungai yang kami lalui kira-kira memiliki panjang 10km.

Suasana yang menyegarkan

Suasana yang menyegarkan

Butuh berapa lama untuk melalui? Sekitar 2 jam-an. Memang cukup lama. Arusnya kurang menantang jika dibanding arus Sungai Pekalen di Probolinggo namun sungai ini memiliki keheningan dan kesegaran yang jadi kelebihan tersendiri dibandingkan di Jawa.

Mau tau keseruan videonya?? Check it out!

Perjalanan kami selesai, sudah sampai di dekat hilir sungai. Pemandu rakit tadi membongkar bambu-bambunya kemudian mengangkutnya dengan sepeda motor dan kembali ke hulu. Lah terus bagaimana dengan kami?

Tadi saat berangkat, kami diberitahu untuk naik ojek dengan membayar Rp 7.000 per orang.

Ternyata untuk sampai ke hulu dengan sepeda motor hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja. Jarak dari hilir ke hulu jika melalui jalur darat cuma 5km. Ya pantesan Pak!!

Seperti halnya dengan kehidupan, untuk mencapai suatu tujuan ada bermacam-macam cara atau jalan. Semuanya butuh waktu dan proses. Hidup manusia kadang terasa sangat lama namun nyatanya hanya singkat. Jadi gunakanlah waktu dengan hal yang baik.

Cukup puas dengan pengalaman tak terlupakan ini, kami kembali ke Pantai Hambawang.

JT 13 0608

Advertisements

12 responses to “Bamboo Rafting di Amandit Loksado

  1. hahaha, saya juga kalau ada yang ngomong soal sungai di kalimantan pasti kebayangnya buaya.
    tapi seru juga ya kayaknya, bolehlah sekali-kali ke sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s