Hari Terakhir Mencari Jejak Julia Roberts di Ubud

EAT PRAY LOVE

EAT PRAY LOVE

Ketika saya masih kecil, jujur saya kurang suka dengan film-film yang diperankan oleh Julia Robert. Namanya juga masih kecil, saya juga sama seperti anak kecil lainnya yang suka nonton film kartun dan superhero.

Menginjak usia remaja, majalah yang jadi favorit pada waktu itu adalah “Bobo” sama “Gadis”.

Tolong satu kalimat di atas jangan diasumsikan bobo sama gadis !!

Kita lagi bahas majalah tau! *AngkatAlis*

Pernah sih gak baca dari kedua majalah itu tentang review film yang dibintanginya yaitu “Pretty Woman”. Film ini yang melambungkan namanya di jagat dunia hiburan saat itu. *katanya*

Menginjak dewasa, saat pemerintah sudah membolehkan stasiun televisi swasta tayang di kotak kaca (baca: TV) pemirsa di rumah. Pernah disiarkan film romantis yang berjudul “Notting Hill”, wih keren juga nih cerita dan bintang utamanya. Siapa dulu bintang utamanya? | Julia Roberts kan!

Nah, saat udah kerja. Eh Julia Roberts membuat kehebohan syuting film di Bali. Film “Eat Pray Love” yang notabene diangkat dari memoir atau kisah nyata dari Elizabeth Gilbert yang dalam perjalanannya mengembara mencari keseimbangan hidup dan cinta.

Coy coy! Tuh Julia Roberts kan aktris dengan honor termahal di dunia. Datang ke Indonesia pula.  We-O-we banget kan!

Ngomong-ngomong, sudah kah saya membaca buku dan nonton film dari “Eat Pray Love” ?

Belum pernah. Hehehe. :p *MengakuDosa*

……………………………..

Akhirnya langkah roda-roda mobil kami berhenti di sebuah parkiran yang teduh, di mana kah kami berada?

Konon tempat ini pula yang jadi tempat pengambilan gambar film itu.

Yak! Kami berada di kawasan yang disebut dengan “Monkey Forest”.

Hah! Monkey Forest apa nih? Baru pertama kali juga saya di sini.

Ngapain aja Si Elizabeth Gilbert ke sini?

Apa Jese Nunez menunggunya di hutan ini?

Ah lupakan dulu deh soal itu! Enjoy our trip!

Kami segera membeli tiket masuk. Untuk apa? | Ya jelas untuk bisa masuk lah, masih tanya pula. *haiz

Tampak keindahan dari pohon-pohon rindang yang besar dan beberapa pahatan ukiran batu dengan beberapa bentuk binatang.

Namanya juga Monkey Forest, sudah pasti banyak monyetnya. Tenang saja jika kalian di sini, monyet-monyetnya sudah jinak dan mudah bersosialisasi dengan manusia.

Bli-bli (baca: kakak pria Bali) yang menjadi pawang monyet sudah siap sedia membawa tongkat dan makanan monyet.

Di tengah halaman ada sebuah sumur kecil yang biasanya dipakai para monyet untuk minum air.

Di sini tampak keisengan saya dan Faisol.

Saya : Mas. Mas! Itu ada pisang. Taruh di belakang tas Danang saja, biar nanti dihampiri monyet.

Faisol : Hehehe ada juga idemu, Ron! *taruh pisang di tas Danang*

Beberapa menit kemudian.

Saya : Loh kok monyetnya belum menghampiri juga?

Faisol : Sepertinya usaha kita belum berhasil.

Saya : Hmmm, ya sudah biarkan saja.

Beberapa menit kemudian.

Danang : Heh! Heh! Monyet! Monyet! *kaget*

Tanpa disadari seekor monyet hinggap di belakang Danang.

Faisol dan saya : Hmmmffff *tahan tawa*

Kami menuruni undak-undak. Ada sebuah sumber mata air yang berisi banyak coin. Mungkin sih, ini semacam sumber mata air permintaan. Jika kalian percaya dengan melemparkan coin ke dalam sumber itu, maka permohonan kalian terkabul.

Dengan berjalan kaki kami menyusuri jalan yang lain di kawasan ini. Ternyata di dalamnya ada pura tempat sembahyang penganut agama Hindu.

Nah di sini kalian harus melilitkan kain berwarna ungu di pinggang anda sehingga menutupi kaki. Entah apa maksudnya. Tapi yang pasti, itu untuk menghormati mereka dan menjaga kesakralan tempat ibadah mereka.

Namun akses untuk masuk pura cuma sampai halaman pelataran saja. Jadi, kalian tidak bisa masuk ke dalam pura. Tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam pura. Khusus saat ada upacara keagamaan saja akses untuk umat beragama Hindu yang bisa masuk. | Di dalam pikiran saya, itu salah sebagai bentuk perlindungan untuk kenyamanan umat dalam beribadah. Jadi kita hormati saja mereka beribadah.

Di belakang kawasan Monkey Forest terdapat rest area yang bisa dipakai oleh pengunjung untuk bisa beristirahat sambil bercanda gurau dengan monyet-monyet.

Tiba-tiba. Whussss!!!! *beberapa monyet mengejar Hendry*

Sontak saja kami semua tertawa melihat Hendry yang berbadan subur ketakutan dikejar oleh monyet.

Ada apa gerangan? Apa diantara kami yang usil mengerjai Hendry?

Hahaha tentu tidak!

Ternyata Hendry iseng-iseng menutup tas pinggang dengan kaosnya. Beberapa monyet yang penasaran berusaha mencari tahu dan berlari mengejar Hendry.

Yulia : Hendry! Tas pinggangnya jangan ditutupi!

Hendry yang kalut langsung menunjukkan tas pinggangnya kepada monyet.

Tamat sudah rasa penasaran dari monyet-monyet yang mengejarnya.

Hendry yang masih kaget berusaha duduk sejenak dan minum air mineral untuk menenangkan diri.

Hahahaha… Ada-ada saja.

Monkey Forest cukup berkesan bagi kami (khususnya bagi Danang dan Hendry) xD

Monkey Forest

Monkey Forest

Monyetnya mana?

Monyetnya mana?

UPS!!! Kamu bingung ya kok tiba-tiba cerita saya sampai di sini? | Saya yang nulis aja juga ikut bingung. *huh*

Maka dari itu, sempatkan untuk baca dulu dari awal ya 😀

Part 1 Tanjung Benoa

Part 2 Pantai Padang Padang dan Uluwatu

Part 3 Bebek Bengil Ubud

…………………………….

“ Ubud!!!! “, seru dari Juju.

Bukannya di Monkey Forest itu kita sudah berada di kawasan Ubud?! *satu mobil hening*

Dyan : Oh orang desa!

All : Hahaha

Juju : *hening*

Juju masih belum paham dengan bahasa Indonesia.

Ya! Saat ini kami berada di kawasan yang dapat melihat langsung terasering (sawah berundak-undak) dan pengairan tradisional Bali yang disebut subak.

Kita sebagai bangsa Indonesia boleh sedikit berbangga hati karena sistem pengairan yang bernama subak ini diakui UNESCO sebagai warisan dunia. *ihiiirrrr

Konon di sini pula, Si Julia Roberts beristirahat sambil menunggu waktu syuting film.

Memang suasananya asri dan nyaman. Jadi jangan kaget jika di kawasan ini banyak wisatawan mancanegara yang bersepeda di sini.

Agar kawasan ini ramai, penduduk lokal sudah menjajakan hasil kerajinan mereka dan tentunya beberapa makanan.

Ubud

Ubud

……………………….

Saat perjalanan kembali menuju Denpasar, suasana di dalam mobil memanas.

Ada apa sih kok panas?

Ada yang sedang membakar di dalam mobil? | ah ngaco

Ada yang sedang bertengkar?! | tapi adem ayem nih

Ciiiiiitttttt!!!! Tiba-tiba Hendri menepikan mobil  dan membuka kap depan mobil.

Nah ini penyebabnya, freonnya abis! | Emang kulkas kok pakai freon?

Ah saya kurang paham dengan mobil. Biar Faisol, Daniel, dan Hendry saja yang menanganinya.

Yang lain ke mana? Hahaha jalan-jalan menyusuri toko-toko souvenir.

Saya melihat Danang membeli 2 botol air mineral. Faisol segera memasukkan air mineral tersebut ke dalam suatu tabung di mobil bagian depan.

Rupa-rupanya AC mobil sudah berfungsi seperti semula.

Faisol : Ayo segera naik! Supaya kita tidak kemalaman!

…………………………….

Juju menambah liburannya dengan menginap di kost Dyan. Lalu bagaimana dengan Sattar?

Sattar masih ingin mengeksplore Pulau Bali untuk satu minggu lagi. Entah Sattar akan ngemper di mana. Yang pasti Sattar betah banget dan sangat antusias untuk tinggal sementara di Bali.

Harap maklum saja sih. Memang Bali menjadi salah satu kawasan internasional yang didambakan untuk dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Bahkan Julia Robert aja datang ke sini. Dan beberapa sesi pemotretan dan liburan model papan atas dari Victoria Secret aja di Bali.

Mobil sewaan sengaja dititipkan di kost Dyan, kami (kecuali Sattar, Dyan dan Juju) bergegas menuju depan pasar untuk mencari angkot. Besok senin sudah bekerja kembali.

Hmm angkot yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Terus kita harus bagaimana?

Jalan kaki dari Denpasar ke Gilimanuk? Terus berenang melintasi Selat Bali?

Dyan : Naik taxi aja deh kalian!

Dengan menunjukkan “kejantanannya”, Si Dyan langsung memberhentikan dua taxi Blu*ebird.

Dyan : STOP!! STOP!! STOP!!

Wah ternyata salah satu sopir taxi adalah kenalan dari Dyan.

Dyan: Sampai ketemu lagi ya teman-teman?

All : Terima kasih Dyan! Sampai jumpa lagi!

Taxi yang mengangkut kami hanya mengantarkan sampai Terminal Ubung saja. Hahaha emang kami orang yang menyia-nyiakan uang supaya taxi mengantarkan kami sampai Jember? Ya jelas bukan lah.

Selain itu, sebagai informasi saja. Taxi dari Pulau Bali dilarang untuk menyeberang ke Pulau Jawa. Katanya sih sudah SOP dari perusahaan jasa taxi.

Di Terminal Ubung kami segera menaiki bus tujuan Jember.

Sudah bisa menduga kan apa yang kami lakukan di dalam bus!

Kami membuat kegaduhan dan hore-hore lagi. *coret*

Kami di dalam bus tertidur lelap karena tenaga sudah habis. *contreng*

Selain menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang, dua hal yang saya rindukan adalah ranjang tidur saya yang berisi kapuk dan bando jalan yang bertuliskan “Selamat Datang di Kabupaten Jember”.

Harus berakhir dulu trip dengan motto plan is no plan kali ini. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s