Pantai Padang Padang yang Padang dan Menelisik Tebing Maut Uluwatu

Pada hari Minggu ini saya sedang menaiki delman untuk keliling kota dan tiba-tiba…

Hendri : Ini masih hari Sabtu Ron!! *Plak!!* Dan kita ini naik mobil!! *PlakPlak*

Saya : Haduuhh iya iya deh. Namanya juga kan supaya sedikit imajinatif.

Pada hari Sabtu yang cerah ini, kami serombongan melanjutkan perjalanan dari Tanjung Benoa menuju suatu tempat.

Memang sih misi kita sama-sama untuk mencari jejak Julia Robert dalam Film “Eat, Pray and Love”. Film tersebut memang diambil dari kisah nyata cinta dari seorang wanita yang bertemu dengan jodohnya di Pulau Bali. Buat yang mengaku sebagai seorang traveler, backpacker, atau semacamnya lah harus nonton film ini untuk referensi. Coba kalian bayangkan wanita dari Eropa harus melakukan perjalanan dari Eropa menuju Pulau Bali dan ternyata jodohnya juga sama-sama orang Eropa yang bernama Antonio Blanco. Kalau dipikir secara logika. Sama-sama dapat orang Eropa kan, mengapa juga sampai jauh-jauh buang duit, tenaga, dan waktu untuk jodoh? Sayang kan tuh sumber daya banyak dibuang.

Jujur sih sebagai orang awam saya juga ingin melakukan perjalanan dari Eropa – India – Indonesia, dll. Saya sering kadang merasa iri dengan orang-orang Eropa. Nilai mata uang mereka lebih besar daripada Rupiah yang saya cintai. Upah pekerja di sana juga lebih besar daripada di Indonesia. Hmm apalagi ya. Oh ini yang pasti buat traveler yang pekerja iri, orang-orang Eropa memiliki jatah libur yang lebih banyak daripada pekerja di Indonesia. Tuuuhh kan!! Siapa yang tidak iri!! Ayoo jujur! Jadi jangan kaget kalau orang-orang dari Eropa meninggalkan jejak pantatnya di tanah Indonesia. Lalu muncul sebuah pertanyaan ironi. Kapan kalian semua bisa menjejakkan kaki kalian ke tanah Eropa? *brb shutdown laptop butut!!

—————-BATAS CURHATAN SIRIK———————

Umumnya tim pencari jejak ini harus memiliki GPS dan peta untuk mendukung suksesnya sebuah pencarian. Tim saya ini sumpah tidak memerlukan alat bantuan tersebut.

Tau kah kenapa??

Ok fine. Saya sebutkan penyebabnya. Yang pertama kami sudah punya guide lokal yang bernama Dyan dan yang kedua kami sudah punya sopir mancanegara yang kenyang makan pengalaman. Jadi yang lain cuma tidur dan makan saja. *dijambak Dyan dan Hendri*

Tanpa terasa mobil kami sampai di parkiran dekat Pantai Padang Padang.

Hendri  : *Plak!!* Sudah kubilang kalau kamu cuma tidur saja, jadi tidak terasa perjalanannya! Kalau saya kan terasa! Saya yang nyetir!!

Tenang ya Pembaca. Hendri meskipun kelihatannya buas tapi hatinya sebaik Chabelita.*backsound lagu telenovela*

Saya yang tidak tahu tempat ini masih bingung, pantainya seperti apa sih? Apa lebih bagus daripada Pantai Papuma di Jember. Penasaran juga kan. Pasir pantainya juga belum kelihatan.

Dyan yang sudah pernah kemari mengajak kami untuk menuruni undak-undak kecil yang agak curam menuju garis pantai.

1 .. 2.. 3… Huaaaaaaa!!!! Yang berjemur padang banget!! #GagalFokus

Padang Padang ! ! ! Ha Ha Ha Ha

Padang Padang ! ! ! Ha Ha Ha Ha

Undak-undak kecil ini kami (baca: para pria) lahap hanya dengan hitungan detik demi melihat pemandangan “indah” ini yang tidak bisa dilihat di kota Jember. Banyak sekali wisatawan mancanegara wanita yang berjemur dengan menggunakan bikini two pieces. Tangan kami ke atas dan kompak dengan tarian ubur-ubur. Auwoooooo!!!!

——- BATAS TULISAN NALURI LELAKI ——-

Di tepi pantai sudah ada beberapa warung padang dengan menu berlabel dollar, jangan bayangkan dengan warung padang yang dengan harga murah atau warteg dengan masakan nasi pecel dan nasi campur andalan. Ingat bro!! Kita di kawasan internasional. Bali!!! Bali!!! Bali!!! Bali!!! Bali!!! Bali!!!

Saya tidak tahu kenapa pantai ini disebut dengan Pantai Padang Padang. Kalau dilihat etimologinya, ehem!! Wah jadi terasa intelek banget nih tulisannya. Mungkin pikiran saya langsung melayang tinggi jauh ke Kota Padang di Sumatra Barat, namun setelah benang layangan saya putus baru saya sadar kalau pantai ini tidak ada kaitannya dengan Kota Padang.

Kemungkinan yang agak masuk akal adalah bahwa pantai ini ditemukan oleh orang Padang. Emmm…  TIDAK!! TIDAK!! TIDAK!! TIDAK!! TIDAK!!

Kalau menurut analisa saya, kemungkinan yang sangat masuk akal adalah ada seseorang pria yang baru pertama kali di pantai tersebut sambil melihat wisatawan mancanegara yang berjemur seperti ikan pindang di tepi pantai. Pria itu senang dan melotot  sambil berkata, “ Ini pantai padang!! Padang!!”  Ada temannya yang juga pertama kali ke sana melihat reaksi si pria itu dan langsung menyimpulkan, “Oh pantai ini namanya Pantai Padang Padang!!”

Bisa jadi!! Bisa jadi!! Bisa jadi!! Bisa jadi!! Bisa jadi!! Bisa jadi!! Bisa jadi!! Bisa jadi!! Bisa jadi!!

—- HARAP JANGAN TERSESAT DENGAN ARTI TULISAN DI ATAS—–

Di saat saya enak-enaknya “mengawasi ikan pindang” yang dijemur di tepi pantai. Tiba-tiba ada seorang model cewek dari Uzbekistan yang menarik saya dan berkata : “Aaron!! Take my pictures, please!!”

Hah!! *tampar sendiri* Dengan wajah lugu dan mulut melongo saya tertegun. Saya tidak sedang bermimpi kan?!!

Hei Aaron!! Ini saya Juju!!

Oalah kamu toh Ju!! #AntiKlimaks

Hmm rupa-rupanya saya jadi fotografer dadakan dengan Juju sebagai modelnya.

Serasa seperti model, Juju sudah pandai berpose di tepi karang dengan beralaskan pasir berwarna putih.

Juju terlihat lebih cantik dengan pantai dan karang seperti serasa di Phuket Thailand. “Sumpah saya belum pernah ke Phuket!”

Hasil Motret Dadakan

Hasil Motret Dadakan

Cuaca cerah sehingga membuat kulit saya yang coklat ini terlihat lebih eksotis (baca: item). Susah sekali membuat kulit saya terlihat sedikit cerah atau putih kekuningan. Harus terhindar dari sinar matahari langsung selama berbulan-bulan namun hanya dengan sehari tersengat matahari saja kulit ini langsung hitam.

Cukup lama memotret Juju / terpanggang sinar matahari. Saya kembali menuju teman-teman yang sedang duduk bersenda gurau di pasir yang teduh sambil mencicipi camilan dan mencicipi “keindahan” Pantai Padang Padang.

Touchdown at Padang Padang Beach

Touchdown at Padang Padang Beach

“Ayo kita segera kembali ke mobil!! Masih ada satu tempat lagi yang akan kita kunjungi hari ini,” seru Hendri.

Napas sudah ngos-ngosan saat menaiki undak-undak tadi. Memang undak-undakannya panjang dan tinggi. Selain itu tidak ada pemandangan “ikan pindang” yang ada di atas sehingga melahap undak-undak itu terasa sangat berat dan melelahkan.

Di parkiran kami bergantian menuju toilet untuk membersihkan diri dari bau ikan pindang.

Hah!! Maksudnya bagaimana?!!

Cuci tangan dan kaki dari pasir! Emang mikirnya apa coba?!!

Mobil kami akhirnya melaju menuju suatu tempat di Uluwatu yang namanya dulu saya tidak tahu dan sekarang lupa. Ya tidak tau apa.

Untuk memasuki kawasan ini kita harus memakai kain khas Bali karena disakralkan oleh umat Hindu. Harus berhati-hati saat membawa barang berharga di sini, bukan karena banyak pencopet atau perampok yang berbadan garang dan berwajah seram. Tetapi ada beberapa monyet liar yang tinggal di kawasan itu, monyet-monyet ini sumpah usil banget. Mereka (baca: monyet! Bukan kamu) suka mengambil barang-barang milik pengunjung.

Ada cara paling mudah jika barang kalian dicuri. Panggil monyet itu dan bilang, “Hai monyet ganteng! Kembalikan barang kakak dong!” Tak lama kemudian monyet itu mengembalikan barang kalian.

Tolong bangun dahulu! Ini monyet bukan pemain sinetron di tipi-tipi !! Satu cara termudah yang bisa kalian lakukan adalah “IKHLASKAN!!” kemudian kesal sambil mengumpat “Dasar monyet kamu!!” *seluruh monyet hening*

Jangan khawatir dengan keberadaan monyet di kawasan Uluwatu ini! Ada beberapa pawang monyet yang menjaga di sana dan membantu mengembalikan barang milik pengunjung yang dicuri.

Kami berjalan menyusuri tepi tebing yang tinggi ini dan langsung berhadapan dengan laut lepas. Saya sarankan untuk kalian jangan datangi tempat ini ketika anda baru patah hati. Benar-benar bahaya! Don’t try this at here!!

Di tepi tebing itu sudah ada beberapa monyet yang bertengger. Memang di tepi tebing itu sudah dibangun jalan dan tembok pembatas. Jalanan saat kami ke sini cukup ramai dan sebagian dari kami pergi ke suatu tempat yang agak sepi sambil berpose bersama di dekat tebing.

Kita di Uluwatu

Kita di Uluwatu

Ketika kami mau kembali ke mobil, saya melihat ada pertunjukan ekslusif yang ada di teater dekat tebing. Pertunjukan drama tari Rama Shinta yang sangat terkenal. Untuk memasuki teater tersebut dan melihat drama tari tersebut, kalian harus membeli tiket yang cukup aduhai begitu. Okay skip aja tidak perlu nonton.

Padang Padang ! ! ! Ha Ha Ha Ha

Panorama Uluwatu

Hari pertama berhore ria sudah mulai habis, kami menuju ke arah Kuta untuk mencari penginapan.

Cerita ini masih belum selesai. Tunggu yang sabar ya. 🙂

JT 12 January 28

Advertisements

One response to “Pantai Padang Padang yang Padang dan Menelisik Tebing Maut Uluwatu

  1. Pingback: Hari Terakhir Mencari Jejak Julia Roberts di Ubud | Jember Traveler Indonesia·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s