Hore Hore di Tanjung Benoa Watersport

Hahai apa kabar semua?! Lama juga tidak ketemu. Tanpa terasa sudah lama tidak update blog ini. Sarang laba-laba dan debu campur jadi satu. Sudah waktunya ambil sapu buat bersih-bersih. Fiuuuhh!

Tidak sengaja saya menata kembali koleksi foto yang sudah lama tergeletak dalam tumpukan kardus memori yang indah. Saya membuka folder perjalanan pada tanggal 28-29 Januari 2012 dengan teman-teman saat berkunjung ke Pulau Bali.

Jadul banget kan?! Hmm.. Jangan banyak bacot comment, lihat saja bagaimana trip ini! Pasti kalian semua akan iri melihatnya. Wekekekeke.

Kebetulan saat itu adalah trip dadakan dengan prinsip “Plan is No Plan”.

Artinya mboh apa?!

Trip yang tidak ada harapan schedule dan tujuan yang pasti. Yang penting berangkat dan seneng-seneng.

Wah Bali ya! Sepertinya bakal mengeluarkan sekarung daun duit dari dompet saya.

Penasaran dengan jumlah tabungan sendiri, saya bergegas menuju mesin fotocopy ATM. Sambil pasang tampang mesum  tampan saya tersenyum melihat isi saldo.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sabar yah! Maklum ceritanya udah tua lama. Jadi masih butuh waktu untuk mengingat. Minum jamu kuat buyung upik dulu supaya cepat ingat seperti jaman kanak-kanak dulu. #Generasi90an

Jadi dalam satu rombongan jamaah haji trip ini ada 3 kloter.

Kloter pertama yaitu Dian, Eja, dan Juju (bukan nama sebenarnya) sudah ada di Bali tinggal di kost Dian. Hmm ternyata mereka nyolong start duluan ngetrip.

Kloter kedua adalah Hendri. Dia berangkat dari Situbondo sendiri ke Bali dan istirahat sejenak ke suatu peristirahatan milik kantornya (yang nama kantornya tidak boleh saya sebutkan untuk pembaca di bawah 17 tahun dan belum memiliki KTP). Hendri adalah solo backpacker. Eh maaf dia bukan dari solo tapi dia dari Padang. Berarti dia adalah Padang flashpacker backpacker.

Wah ini bahas kloter ketiga yang ditunggu-tunggu oleh debt collector dari tadi. Maklum rombongan ini anggotanya baru puber selesai kerja langsung packing dan berangkat menuju Terminal Tawangalun.

.

.

.

.

Apa!! Minta disebutkan siapa aja yang ada di kloter ketiga?! MANA SUARANYAAAAA!!! *Sodorin microphone*

Ok ok. Saya sebutkan satu-satu. Anggotanya adalah saya #ehem , Mas Faisol, Danang, Sattar (Pengungsi dari Timur Tengah) dan Daniel.

Kami berkumpul di Terminal Tawangalun Jember pada Jumat malam. Ternyata hanya Sattar saja yang datang on-time sedangkan sisanya ngaret semua. #IndonesiaBanget

“Janc*uukk semua teman-teman yang janjian dengan saya!”, seru Sattar yang sudah agak fasih berbahasa Indonesia. Ternyata sudah 6 bulan belajar di Surabaya. #SalahPergaulan

Maklum lah hanya Sattar saja yang belum bekerja, 4 orang lainnya masih dandan berkemas-kemas setelah pulang kerja.

Bus jurusan Bali sudah ada di depan terminal. Kami berlima duduk di dalam bus.

Faisol : Sepertinya  ada yang ketinggalan?

Daniel : Apa mas?

Faisol : Aku belum makan!

All : Glodaaaaakk! Kita juga belum!

Untunglah Tuhan itu memang baik, Dia mendatangkan malaikat pedagang asongan yang berjualan jagung rebus. Asyik!! Malam ini kami berbagi jagung rebus di bus.

Pukul 9 malam bus belum juga berangkat. Hmm nunggu apa sih!

Tak lama kemudian bus berangkat, tapi………….

.

.

.

.

.

.

.

Bus berangkat menuju pom bensin yang ada di dekat terminal. Dan dan dan dan dan… Bus kembali ke dalam terminal.

Hahahasyeemmm!! Ternyata sopir bus-nya masih galau ya!

Mau berangkat jam berapa nih wooiii Pak Sopir! *Penumpang ter-PHP*

Sekitar jam 10 malam lebih sedikit, bus melaju berusaha move-on meninggalkan Terminal Tawangalun. Bus melaju ke arah Banyuwangi, saya melihat tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam bus (baca: sepi dan gelap). Apapun kondisinya, saya harus tidur seperti teman-teman. Saya tertidur sambil memangku dan memeluk tas. Posisi siap siaga agar tidak digrepe-grepe berpindah tangan barang saya ke orang yang tidak bertanggung jawab.

Rupa-rupa warnanya busnya melaju dengan kencang, kami sudah sampai di Pelabuhan Ketapang. Penumpang diharuskan turun untuk berenang masuk ke ruang penumpang yang ada di lantai 2 kapal titanic ferry.

Hore!! Bali!! Bali!! Bali!! Akhirnya kapal bersandar ke Pelabuhan Gilimanuk.

Saya : Sudah sampai Bali! Ayo kita pulang!

All: Aargggg!!

Hoaaamm ternyata masih ngantuk pemirsa! Tiba-tiba beberapa polisi memanggil kami semua.

Polisi : KTP!! KTP!! KTP!! Ayo mana KTP nya!

Sattar : Ampun Pak!! Saya waria eh bukan!! Jangan dirazia Pak!

Waduh mampus tuh Sattar yang warga negara asing ternyata bisa lolos dengan mudahnya. Ternyata di Negeri Alladin itu punya daya ketok magic yang unik.

Eh ternyata ada lagi yang tidak membawa KTP ke Bali.

Daniel : Aku tidak punya KTP! Hehehe. *Pasang tampak tak berdosa*

All : Waduh bagaimana ini?!

Tampaknya ada tukang ojek yang “baik” hati mengantarkan Daniel supaya tidak kena razia.

All : Fiuuhhhh! Syukurlah perjalanan lancar!

Kondisi jantung dag dig dug berangsur-angsur menjadi normal ketika semua naik bus lagi menuju Terminal Ubung di Denpasar.

Kami turun dari bus saat sampai di Terminal Ubung, saya terkejut saat melihat jam dinding yang tergantung manis di sebuah toko.

Saya : Wah cepat juga ya! Sudah sampai di Bali pada pukul 7 pagi!

Faisol : Oh iyo. Kok cepat ya?!

Daniel : Beh iyo cepat! Sopirnya nyetirnya kencang!

Saya : (baru sadar) Bukannya waktu di Jawa dan Bali selisih satu jam?!

All : Gubraaaakk!!

Faisol : Oh dobol goblookkk!!

Touchdown at Bali

Touchdown at Bali

Team gadungan petualang ini berusaha mencari Bapak Soedirman yang berdiri bertahun-tahun untuk menyimbolkan perjuangan Indonesia. #HormatGrak

Tampaknya kami kebingungan untuk mencari tempat peristirahatan yang disewa oleh Hendri. Ada 3 pilihan bantuan untuk mencari tempat Hendri, yaitu:

50 : 50 = 50% ketemu, 50% nyasar #Coret

Ask Audience = Emangnya orang-orang sini kenal sama Si Hendri #Coret

Pilihan bantuan terakhir tinggal satu saja yaitu “Phone a Friend”, hmm lantas siapa yang kami telpon.

. *mikir

.*mikir lagi

.*lagi-lagi mikir

.*baru terpikir

Hendri !!! Ya teman itu yang saya telpon, dan dia menyanggupi untuk keluar mencari kami. #terharu

10 tahun menit kemudian kami melihat sosok mascot ban Michelin yang berjalan dengan riang gembira. Jadi menambah semangat di pagi hari ini.

Oh itu Hendri !!! *Mendadak Hening*

Sambil mengantri giliran mandi, kami akhirnya bisa meletakkan punggung di kursi dan sebagian tidur di ranjang. Cukup singkat kenangan kami di sini. *Emang ngapain aja*

5 orang gak jelas ganteng-ganteng ini bertambah jadi 6 orang. Dengan naik angkot kami menuju kost-kostan Dian yang letaknya di dekat Rumah Sakit Sanglah. #Loh!

Dian siapakah ini? A. Dian Sastro | B. Dian Nitami | C. Suster Dian | D. Pasien Dian | E. Semuanya Salah

Di dekat rumah sakit, kami menghampiri pedagang yang menjual nasi kucing.

Pliss jangan didenotasikan nasi untuk kucing yang sesungguhnya ya! Tapi nasi bungkus dengan harga yang cukup murah, cocok untuk kucing garong kami yang sedang kelaparan.

Tak lama kemudian muncul Eja yang bukan kami cari sepanjang waktu seperti mencari orang hilang. Dengan motor butut-nya Dian, dia datang dengan senyum meringis dan bilang “Hehehe!”

Eja ini sungguh baik hati. Dia mengantarkan kami ke kost-nya Dian. Dengan mengendarai motor, dia menggiring kami kawanan kebo yang berjalan kaki. Sungguh tidak fair!! | Aku perempuan hoi! *Dijambak Eja*

Lain lagi saya katakan kalau Dian ini baik hati. Dia sudah menyiapkan mobil rental yang akan kita pakai untuk jalan-jalan bersama. *Siap-siap dapat Colonel Sundae dari Dian*

Setelah “Dilihat Diraba Diterawang!” ternyata ada yang tidak beres dengan mobil rental tersebut.  Lecet-lecet bertebaran di badan mobil dan salah satu ban-nya kurang angin. Untuk mengantisipasi jika ada masalah, kami mendokumentasikan gambar mobil tersebut sebelum kami pakai.

Mobil sudah siap, teman-teman sudah masuk mobil semua. *Pintu Mobil Ditutup*

All : Juju mana!!!! *Teriak*

Ternyata orang Uzbekistan ini meskipun rata-rata cantik tapi kalau dandan sampai lama banget. #hooam

All : ARGGGGGHH!!!

Perjalanan baru dimulai, Hendri yang berdada besar ini dengan setia menyetir. Dia memberhentikan mobil ke pinggir jalan untuk menolak menambah angin di ban yang kempes.

Hendri yang sudah terbiasa mengantarkan teman-temannya, mengantar kami menuju Tanjung Benoa. Saya secara pribadi juga tidak tahu mau ngapain aja di Tanjung Benoa. Dibuat surprise aja deh.

Singkat cerita, kami sampai di suatu tempat yang menawarkan olahraga air laut. Ternyata ada seorang penyelam handal yang menjadi guide kami. Penyelam wanita yang supel memandu kami. Harga yang ditawarkannya cukup miring karena Hendri sudah menjadi pelanggan tetap di sini.

Ada 3 macam olahraga air yang ditawarkan. Yang pertama seperti banana boat atau ikan terbang, yang kedua adalah parasailing, dan yang terakhir adalah scuba diving.

Meskipun harga yang ditawarkan sudah miring tapi lumayan menguras kantong saya. Akhirnya saya lebih selektif memilih. Pilihan saya jatuh pada olahraga air pertama dan scuba diving.

Kelompok pertama olahraga air adalah saya, Daniel, Danang, dan Sattar. Saya dan Daniel duduk di depan, sedangkan Danang dan Sattar duduk di belakang.

START!!! Kapal boat menarik perahu karet kami. Joss!!

Tak ada suara diantara kami. Mimik wajah pun biasa saja. Seketika kapal boat berbelok dengan kencang. Suara Sattar memecah kebuntuan.

Sattar pun berteriak : Auwww auwwww auuwwwww *Teriak dengan nada feminim*

Saya juga berteriak ke Sattar : Banci !! Banci !! Banci !! Banci !!

Daniel : Hahahaha ada-ada aja anak-anak ini!

Danang : Hahahaha beh beh beh beh!! Asin! *mulutnya tersiram air Laut*

Kelompok kedua ini hanya Faisol dan Yulia, ditambah lagi Hendri yang mendapat jatah gratis dari watersport-nya.

START!! Cuss!!

Faisol dan Yulia sudah berteriak senang. Hanya satu saja penghuni perahu karet yang diam tanpa ekspresi duduk di belakang. Ternyata oh ternyata Hendri si pokemon air yang takut dengan kedalaman.

Hahaha padahal kan pakai pelampung. Konyol banget.

Ngeng!! Ngeng!! Ngeng!!

Ngeng!! Ngeng!! Ngeng!!

Olahraga selanjutnya adalah parasailing. Hanya saya, Hendri, dan Sattar saja yang tidak mencoba. Saya kali ini bertugas untuk memotret mereka yang terbang ke angkasa sambil ditarik oleh kapal boat.

Huwaaa foto-fotonya lebih bagus daripada saat olahraga air yang pertama!! Kalau tahu lebih awal saya pasti akan memilih bermain parasailing.

Singkat saja cerita soal parasailing. ——-TAMAT———

Parasailing

Parasailing

.

.

.

.

.

.

Nah ini yang paling saya suka. Olahraga air yang ketiga adalah scuba diving. Hanya 3 orang yang mencoba ini, yaitu saya, Faisol dan Juju. Fin, sabuk pemberat, dan tabung LPG udara kami ambil. Dengan kostum ala-ala funtastic four kami diberi pengarahan bagaimana menyelam.

Berikut adalah pengetahuan dasar yang harus diketahui oleh penyelam, yaitu:

1. jempol diarahkan ke atas, menunjukkan kalau penyelam akan naik ke atas permukaan

2. telunjuk dan ibu jari tangan disatukan menunjukkan huruf “O” , hal ini menunjukkan kalau penyelam dalam kondisi yang baik-baik saja.

3. Jika masker wajah kemasukan air laut, maka penyelam harus  memegang dahi dan meniupnya dengan hidung

4. Jika telinga berdengung, segera tekan hidung dan meniup dengan kencang. Karena telinga menyesuaikan dengan tekanan air.

Kapan lagi saya ikut diving, akhirnya kami bertiga sepakat untuk menyewa kamera underwater untuk mendokumentasikan pengalaman kami.

Memang kami bertiga ditemani oleh setiap pemandu, tidak perlu bisa berenang untuk mencoba tenggelam di dalam air. Namun rasa gugup membuat saya menelan beberapa teguk air laut. Uhuk uhuk… Weeeerr.

Sebuah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan.

Kalau kalian menanyakan bagaimana perasaan saya. Saya tidak akan menjawab “senang!” tapi “senaaaaannnnngggggg buangeeett!!”

Hayoo bagaimana dengan kalian, kapan mau mencoba?!! Hehehe *SenyumLicik*

Scuba Diving

Scuba Diving

Hore-hore di Tanjung Benoa ditutup dengan makan siang yang sudah disediakan oleh tempat yang kami sewa.

Lunch

Lunch

Sungguh saya berterimakasih kepada Tuhan YME karena sudah memberi kesempatan, kesehatan, dan rezeki. Selanjutnya say thanks to Hendri dan Mbak Penyelam tersebut!

Team Hore di Tanjung Benoa Watersport

Team Hore di Tanjung Benoa Watersport

Suasana gembira ini belum berakhir, kami melanjutkan perjalanan ke suatu tempat yang lain.

Tunggu kelanjutannya ya!

🙂

JT 12 Januari 28

Advertisements

2 responses to “Hore Hore di Tanjung Benoa Watersport

  1. Pingback: Hari Terakhir Mencari Jejak Julia Roberts di Ubud | Jember Traveler Indonesia·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s