Kura-kura Ninja Taklukkan Goa Pindul dan Kali Oyo

Goa Pindul

Goa Pindul

Kalian masih ingat kan dengan film kartun yang dulu nge-hit dengan judul Kura-kura Ninja? Kisah persaudaraan empat ekor kura-kura mutant yang terlatih dengan ilmu ninja. Tuh ekor atau orang sih nyebutnya, kok kagak enak deh disebut empat ekor.

Kita ganti empat orang kura-kura ninja. Ah aneh juga ternyata, masa kura-kura disamakan dengan orang. Empat kura-kura ninja saja deh. *saya putusin sendiri* Tok tok tok!! #SuaraKetokPalu

Mari saya kenalkan anggota dari kura-kura ninja yang tidak jelas ini. Saya sebagai Leonardo yang bersenjatakan pedang *di sini saya yang memimpin mereka, namanya juga yang nulis pasti paling bagus sendiri perumpamaannya hahaha* #KetawaIblis Mode On, Andik sebagai Michaelangelo yang membawa double-sticks serasa seperti memakai kipas yang berjalan seperti model Victoria Secret, Hardian sebagai Raphael yang pemalu dan bersenjatakan garpu seperti Elektra di film Daredevil, dan Andre sebagai Donatello yang membawa tongkat pemukul anjing pendekar Kaipang untuk memukul si Andik dan Hardian kalau nakal-nakal selama di perjalanan.

ki-ka : Raphael, Mickey, Leo, dan Don *sok jadi kura-kura ninja beneran*

ki-ka : Raphael, Mickey, Leo, dan Don *sok jadi kura-kura ninja beneran*

Awalnya kami semua ingin menghabiskan liburan Natal di Jogja. Tidak ada embel-embel Natal (baca: lupa) , intinya liburan  dan senang-senang. Andik dan Hardian berangkat dari Banyuwangi dengan naik bus Akas tujuan Giwangan (Yogyakarta). Pada sore hari di Jember, kami (Andre dan saya) bertemu mereka dan berangkat bersama dalam satu bus.

11 jam perjalanan (dari Jember) akhirnya kami sampai di Terminal Giwangan. Pantat jadi lurus kisut rata dengan kursi dan punggung pegal-pegal semua. Cuci muka dan menyelesaikan urusan yang berhubungan dengan toilet dan kamar mandi di terminal. Nah dari sini kami naik bus TransJogja untuk menuju rumah teman yang bernama Bang DJ. Ada hal yang sangat menyentuh nurani. Saya melihat ada sepasang suami istri tuna netra (buta) yang naik bus ini. Mereka memiliki gadis kecil yang imut dan normal. Gadis kecil yang polos ini menuntun kedua orang tuanya untuk duduk di kursi bus. Mereka terlihat bahagia tersenyum bersama, beberapa kali gadis kecil ini melemparkan senyumnya ke arah kami. Trenyuh dan terharu melihat pemandangan itu. Tuhan memang memberikan kebahagiaan dalam wujud berbeda-beda kepada umatnya, sekalipun umatnya memiliki kekurangan fisik atau apapun itu. Jadi bersyukurlah kamu kepada Tuhan dalam situasi dan keadaan saat ini.

Kami turun di lampu merah dan berjalan ke Jalan Mayjen Sutoyo tempat rumah kontrakan Bang DJ. Istirahat sejenak meluruskan punggung di kasur dan bergantian mandi. Bang DJ yang baik hati ini selain memberi tumpangan tidur juga membookingkan motor yang kami sewa.

Kami sarapan sekaligus makan siang dahulu kemudian menuju Wonosari tempat wisata Goa Pindul berada. Perjalanan ditempuh selama sekitar 2 jam.

Adakah yang bertanya? Siapa dari keempat orang ini yang pernah ke daerah Wonosari ini? Langsung saya jawab tidak ada!! *mampus, misi traveling nyasar*

Lalu bagaimana caranya kami bisa sampai di ini? Ya dua motor ini mengikuti papan arah yang berdiri cakep di perempatan jalan. Saya yang memimpin mereka karena saya yang mengusulkan untuk ke Goa Pindul setelah saya mendapat info dari internet. Semakin mudah akses dan informasi dari internet maka racun-racun traveling semakin tumbuh liar seperti jamur tai kebo yang memabukkan dan bikin ketawa-ketawa sendiri.

Setelah melewati gapura selamat datang di Wonosari nanti ada persimpangan lampu merah yang ada papan penunjuk ke kawasan goa Pindul. Kalau kalian bingung nanti ya minta tolong aja dengan tukang ojek dadakan di persimpangan tersebut yang kerjanya mengantarkan tamu untuk menuju kawasan wisata goa pindul. Tentu saja pengunjung yang diantar (baca: ditunjukkan arahnya) oleh tukang ojek itu tidak perlu membayar jasa antar karena mereka mendapat tips dari kawasan wisata goa Pindul tersebut. Hahaha kasihan juga si pemilik kawasan wisata, namanya juga simbiosis mutualisme sama-sama untung. Tapi kalau memang ingin meringankan beban pemilik wisata ya kalian bisa hunting sendiri jalannya, kan masih bisa tanya-tanya ke penduduk lokal. Kadang kala nyasar adalah pengalaman traveling yang sangat berkesan. Tergantung sifat dari travelernya, termasuk traveler galau atau traveler move on.

Pada saat ini kami memilih paket wisata cave tubing Pindul seharga Rp 25.000,- per orang, river tubing Kali Oyo sejauh 2 KM seharga Rp 35.000,- per orang, dan sewa fotografer dengan harga Rp 125.000,- Paket tersebut sudah include 1 orang pemandu, jaket pelampung, ban untuk mengapung, sepatu anti air, helm, dan wedang khas Pindul. Harga tersebut saat kami ke sana (Wirawisata) pada Desember 2012. Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di www.guapindul.com

Peralatan tempur menaklukan Pindul sudah lengkap, saatnya kura-kura ninja beraksi. Kura ninja bukan sembarang kura-kura namun bisa merangkap sebagai model. *tsaahhh* 😀

Kura-kura Ninja Beraksi

Kura-kura Ninja Beraksi

Dari lokasi meeting point Wirawisata, kami diantar oleh pemandu kami (sebut saja sebagai Guru Splinter). Kami berjalan kaki menuju pintu masuk goa pindul. Petualangan dimulai!!!

Sepakat dengan Guru Splinter (baca: pemandu)

Sepakat dengan Guru Splinter (baca: pemandu)

Kami sudah duduk ganteng mempesona di atas ban karet untuk mengarungi Goa Pindul. Guru Splinter yang berpengalaman ini memakai peralatan standart dan headlamp namun tidak memakai ban karet tapi menarik kami dan memandu saat melintasi sungai yang melewati goa kapur ini. Eits sepertinya ada satu orang lagi yang belum saya sebutkan! Hmm siapa ya?! Oh iya si fotografer itu naik ban karet dan mengikuti kami.

Struktur dari goa ini bermacam-macam dan berwarna. Stalaktit dan stalagmit-nya bervariasi. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang berwarna putih, ada yang berwarna kekuningan, ada yang dipukul bisa mengeluarkan suara gendang, dan lain sebagainya. Wait wait ada yang tau perbedaan stalaktit dan stalagmit gak?! *Hahaha pasti lagi googling atau cari buku buat menjawab pertanyaanku*

Lokasi ini pernah dibuat syuting iklan yang keren oleh suatu merk rokok. Arus sungainya tenang dan situasi di dalam goa gelap. Jadi memang butuh ketrampilan yang mumpuni dalam memotret. Harus dengan speed yang cukup rendah untuk mengambil gambar, selain itu harus mengambang dan menahan arus. Justru karena itu, kami yang tidak handal ini menyewa fotografer. Selain bisa narsis difotoin, bisa juga mendengarkan instruksi dan cerita dari pemandu kami.

Kegelapan di Goa Pindul

Kegelapan di Goa Pindul

Ada yang harus diperhatikan saat di dalam goa ini. Kalian tidak boleh berbicara sembarangan karena goa ini dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Guru Splinter ini mengajak kami hening sejenak untuk berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa. Konon katanya, duluuuuuuuuuuuu beberapa orang bertapa di dalam goa ini untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Maksudnya untuk mengajak kita lebih dengan Sang Pencipta dan berharap doa kita dikabulkan.

Tak terasa ujung dari goa sudah habis, kami keluar dari goa dan berjalan naik. Bisa naik memakai tali atau pun naik melalui undak-undak. Guru Splinter mengajak kami berjalan terus sampai ketemu jalanan aspal yang bisa dilalui oleh mobil pick-up. Serasa seperti kambing yang siap disembelih. *embeekk* Kami naik di atas pick-up menuju Kali (baca: sungai) Oyo.

Embeekk!!! Embeekkk!! Embeeekk

Embeekk!!! Embeekkk!! Embeeekk

Mobil pick-up ini mengantar cuma sampai di tempat parkir saja alias kami harus berjalan lagi menuju Kali Oyo. Jalanannya memang tanah tapi mata saya tiba-tiba menjadi segar dan bening bukan karena melihat cewek cakep. Tapi di samping jalan terdapat sawah dan kebun kayu putih yang baru pertama kali saya lihat. Jadi kalau kalian lagi masuk angin atau gatal-gatal kegigit nyamuk saat di sini, tinggal cabut tuh kayu putih terus ambil getahnya terus diolesin ke kulit *sok tau banget*

Kebun Kayu Putih

Kebun Kayu Putih

Cuaca siang kali ini cukup berawan jadi mendukung kami supaya tidak menjadi eksotis lagi. Terutama untuk Raphael dan Michaelangelo yang rajin perawatan krim pagi dan malam maupun lulur dari purba sari.

Arus Kali Oyo ini ternyata cukup deras pemirsa. Jadi harus hati-hati dan waspada terhadap dinding sungai yang terbuat dari batu karst. Apakah yang menarik dari Kali Oyo ini??

Di tengah Kali Oyo ada satu spot untuk uji adrenalin anda. Apakah itu?! Ada dua titik bagi para wisatawan untuk terjun ke sungai dari suatu ketinggian. Yang pertama di jembatan kayu dengan ketinggian sekitar 7 meter. Dan titik kedua yaitu dari tebing tepi sungai dengan ketinggian 10 meter lebih dikit.

Tentu saja kawanan kura-kura ninja ini harus terjun dari tepi tebing untuk membuktikan kejantanan kami. Akhirnya kami sudah sampai di atas tebing dan siap untuk terjun ke sungai.

Mejeng di atas ketinggian :D

Mejeng di atas ketinggian 😀

Leo : Wah tinggi juga ternyata, ketika saya melihat ke bawah ke arah sungai. Hiyaaaaaattt!!! Byuuuur!! Auccchh!! Saya mendarat, eh terjun dengan posisi pantat dahulu yang menyentuh air sungai. Rasanya sakit banget, saya harus menahan napas sebentar untuk menahan rasa sakit itu. Perlahan-lahan saya berenang menuju seberang sungai.

Saya adu nyali lompat dari ketinggian 10 meter

Saya adu nyali lompat dari ketinggian 10 meter

Mickey akhirnya berlari dengan gemulai dan terjun ke sungai. Memang sih yang jatuh duluan itu kakinya, tapi wajah dan telapak tangannya membentur air sungai kemudian. Bagaimana perasaan anda jika anda terjun dan wajah anda langsung menyentuh air sungai??? Mickey keluar dari sungai dengan berubah wajah menjadi kepiting rebus. Fotografer kami tidak henti-hentinya untuk ketawa melihat kejadian itu.

Tinggal Don dan Raphael yang belum terjun. Mereka tampak ragu-ragu dan ketakutan untuk ikut terjun. Leo dan Mickey dengan kompaknya berteriak ke mereka: Banci!! Banci!! Banci!! Banci!! Banci!! *serasa cheerleader dengan mengangkat pom pom*

Don dah Raphael tambah terlihat panik bahkan mereka terlihat hampir terjun bersama sambil bergandengan tangan. Namun usaha tersebut kandas karena kaki mereka masih terdiam kaku di atas tebing.

Akhirnya ada sepasang kekasih yang terjun ke sungai mendahului mereka. *huwaaaa bikin mupeng aja*

Merasa gengsinya terkoyak abis, Si Don memutuskan terjun ke sungai dengan gaya yang feminim. Bagaimanakah dengan Raphael?? Dengan kaki yang gemetar akhirnya tidak ikut terjun dan kembali turun melalui tangga. Raphael memang memiliki suatu kelainan yaitu jika lagi stress maka hidungnya akan mimisan mengeluarkan darah. Selempang “Banci of the day” layak disematkan kepada Raphael, seperti itulah kata yang keluar dari mulut Mickey. Hahaha…

Gagal lompat hahaha

Gagal lompat hahaha

Guru Splinter yang unyu-unyu ini membawa kami menuju garis finish dari Kali Oyo yang sejauh 2 Km. Kami membawa kembali ban pelampung  naik ke atas mobil pick-up dan beraksi seperti awal. *embeeekk embeeekk*

Kami dikawal menuju menuju meeting point awal. Terima kasih kepada Guru Splinter dan mas fotografer yang saya lupa namanya. Byar byur byar byur kami mandi berganti di kamar mandi. Sambil meminum satu gelas wedang khas Pindul, saya menunggu hasil foto liputannya.

Sudah lulus dari Goa Pindul hahaha

Sudah lulus dari Goa Pindul hahaha

Segala urusan tetek bengek udah kelar. Kami kembali ke Yogyakarta kota. Perut lapar gara-gara seharian dihajar arus sungai. Pengalaman seru dan cukup menguji adrenalin. Bagaimana dengan kalian uda pernah coba atau belum? Hehehe

JT Desember 22 2012

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s