Api Biru Kawah Ijen – Kawasan Wisata Internasional yang Eksotis

Api Biru bukan dari Kompor Gas

Api Biru bukan dari Kompor Gas

Siapa sih yang tidak kenal dengan kawah Ijen? Siapa?! Siapa?! Eh ada yang ngacungin jari?! Serius belum tau kawah Ijen?? Sumpeh looohh?!

Saudara-saudara!! *berasa seperti Jeremy Teti*

Ok lah saya beri pengetahuan singkat tentang kawah Ijen. Lokasinya ada di Kabupaten Banyuwangi letaknya di kecamatan baru hasil dari pemekaran wilayah. Eng ing eng!! Yaitu Kecamatan Licin. Konon katanya kita harus sangat berterima kasih dengan orang Belanda yang menemukan kawasan ini pada masa-masa penjajahan dahulu. Dank u wel! (Terima kasih banyak).

Ketinggian gunungnya sih 2.443meter di atas permukaan laut. Ketinggian itu masih relatif mudah kalau menurut pendaki yang udah kenyang makan gunung *Eh gunung apaan tuh?!*

 

Yang unik dari gunung berapi aktif ini ya jelas kawah atau danau asamnya yang mengandung belerang. Ibu mengandung itu selama 9 bulan lah, nah kalau danau asam ini mengandung sudah puluhan tahun lamanya. Bahkan usia kandungannya lebih tua daripada umur ibu mengandung saat ini. Loh loh kok jadi ngaco!! #skip

Menurut info internasional, tuh kawah Ijen ada api birunya. Dan katanya lagi, api biru tersebut hanya ada dua di dunia. Bro beroh!!! Salah satunya di Banyuwangi loh!! Di Indonesia loh!! Wah sumpah, saya pasti nyombongin tuh wisata Indonesia ke teman-teman saya yang belum ke sana dan ke wisatawan manca negara yang lain. Bangga dong dengan keindahan Indonesia.

Lokasinya ya relatif lebih dekat rumah. Masa orang-orang dari Australia, Eropa, Amerika, dll saja sudah pernah ke sana?!

Nah kamu *nunjuk yang baca* orang Indonesia kok belum?! #kompor

Nih saya beri rute ya kalau kalian mau ke sini:

Dari Surabaya ke Paltuding :

Naik mobil / motor : langsung aja ke arah Besuki (Situbondo) – lanjut ke Kota Situbondo – ke Selatan menuju arah Bondowoso – di pertigaan Prajekan (Bondowoso) ke kiri ada pintu masuk ke arah Ijen – lanjut ke beberapa pos milik Perhutani – Sempol – Paltuding

Naik transportasi umum : Cari bus ke Terminal Situbondo – ganti bus ke arah Bondowoso – turun ke pertigaan Prajekan – sewa ojek langsung ke Paltuding.

Dari Banyuwangi kota ke Paltuding :

Naik mobil / motor : ya langsung aja ke arah Desa Banyusari atau Paltuding di Kecamatan Licin.

Naik transportasi umum : sewa ojek aja kalau jumlah rombongannya sedikit dari Banyuwangi kota. Kalau rombongannya banyak bisa sewa mobil aja. Seandainya punya duit sekarung beras ya tinggal call aja biro tour dengan tarif internasional (baca: US Dollar) yang mahal.

Dari Jember ke Paltuding :

Naik mobil / motor : langsung berangkat ke arah Bondowoso. *Inget ya!! Bondowoso loh bukan Banyuwangi. Kalau lewat Banyuwangi sih boleh-boleh aja tapi muter jauuuuhh* Nah dari Bondowoso lewat Wonosari – Tapen – pertigaan Prajekan – Sempol – Paltuding.

Naik transportasi umum : Jember kota cari angkutan umum ke Terminal Arjasa, pindah bus ke arah Situbondo. *Eit jangan sampai turun di Situbondo ya!* Turun di pertigaan Prajekan – naik ojek sampai Paltuding.

Eh ada yang nanya, kenapa sih ke Paltuding?? Ya Paltuding itu start awal dari jalur pendakian ke Ijen. Di Sempol dan Paltuding ada penginapan semacam losmen begitu jadi kalau butuh tempat istirahat bisa menginap di sana tapi jangan tanya berapa sewanya. Sumpah saya tidak ngerti ongkos sewanya dan emang belum pernah menginap di sana. Penginapan favorit saya sih di warung-warung yang ada di Paltuding. Gratis!! *ngemper*

Saatnya saya cerita tentang pengalaman yang ketiga *pasang jari metal serasa ikut kampanye Jokowi-Ahok*. Coba kalian bertanya pada teman saya yang bernama Daniel.

Saya : Nil Daniel, uda berapa kali kamu ke kawah Ijen pada tahun ini? (baca: Januari-Agustus 2013)

Daniel : Dua puluh kali *sambil ngacungin semua jari tangan dan kakinya dengan bangga*

Saya : *cuma bisa geleng-geleng dan angguk-angguk seperti lagu Too Pat yang judulnya Angguk-angguk Geleng-geleng.mp3 *

Pengalaman kali ini tergolong paling nyaman dari dua pengalaman saya ke Ijen. Mau gak nyaman gimana, sewa mobil dan sopir. Share budget Rp 105.000,- per orang dan tinggal tidur aja di dalam mobil. *Groookk!!*

Perjalanan dari Jember diawali dengan berhenti sejenak untuk minum susu rully di Pujasera jalan PB Sudirman. Tepat jam 11 malam kami bertujuh (6 alumni SMA dan adik kelas dan 1 orang sopir) berangkat.  Singkat cerita kami sampai di Paltuding.

Loh kok cepat amat?!

Ya sekarang jalan ke Ijen sudah sangat manusiawi coy. Kalau dulu saat melewati kawahan Perhutani, kalian harus menyalakan lagu rock sekencang-kencangnya. Sambil teriak : Rock you!! Rock you!!! (kalau di siaran JTV pasti didubbing dalam bahasa Jawa yaitu : Watu kon!! Watu kooonnn!!) Dok dok gebrak gubrak *suara kepala kejedot atap dan samping mobil*

Memang dulu jalanannya berbatu namun sekarang jalanannya sudah muluusss lusss.

Awalnya rombongan kami ada dua mobil jadi total 12 orang. Namun satu mobil nyasar entah kemana. Di BBM pending, ditelpon eh jaringan sibuk, ya uda kalau besok tidak ketemu juga nanti kita pasang di koran pencarian orang hilang. 😀

Kami fokus dengan rombongan satu mobil aja. Di Paltuding suhunya lumayan dingin dan gelap. Saya pakai jaket tebal, pasang headlamp, bawa senter tambahan, tas yang berisi minum dan sedikit camilan.

Ternyata di tanggal 17 Agustus 2013 banyak yang camping di Paltuding. Mereka akan merayakan hari kemerdekaan Indonesia di puncak Gunung Ijen dengan membawa bendera. Mungkin dengan membawa bendera merah putih ke puncak bisa menambah rasa kecintaannya terhadap Indonesia. Mantap deh yang penting nasionalismenya tumbuh subur di relung hatinya.

Tanjakan sejauh 3 km ini saya lalui dengan mudah. Tanah jalur pendakian sudah direnovasi agak para pengunjung bisa mendaki dengan mudah. Selain itu maklum lah, dua minggu sebelumnya saya mendaki ke puncak Mahameru dengan medan yang jauh lebih berat. #ehem #sombong #pamer

Di puncak rombongan saya tinggal tiga orang yaitu Alfons, Tommy dan saya sendiri. Si Steven, Eko, dan Siska masih berjuang mendaki.

Saya beri saran ke Alfons dan Tommy untuk segera turun ke pinggir kawah untuk melihat api biru sejauh sekitar 250meter. Horeee  kita sampai di api biru. Tapi hati kalau di kawasan ini. Sungguh-sungguh berbahaya. Harus respon dengan cepat saat menghadapi angin kawah yang membawa asap belerang. Pakailah masker untuk melindungi dari asap tersebut. Atau tahan napas lah ketika asap tersebut menerjang anda! Nah saat saya mendekati lokasi penambangan belerang, angin yang membawa asap belerang menghajar saya. Saya langsung membelakangi angin tersebut sambil menahan napas. Bahkan kentut pun saya tahan. #pret

Jember Traveler Api Biru Ijen 02

Pipa Pembakaran Belerang

Pipa Pembakaran Belerang

Penambang, Fotografer, dan Model Dadakan jadi Satu

Penambang, Fotografer, dan Model Dadakan jadi Satu

Bocah Cakep dengan Background Blue Fire. Itu saya coy!!! *ehem*

Bocah Cakep dengan Background Blue Fire. Itu saya coy!!! *ehem*

Tak lama kemudian Steven dan Eko sampai di bibir kawah mengabadikan moment di dekat api biru. Saya dan Alfons sudah naik dulu ke atas sambil menunggu terang matahari.

Kawah Ijen setelah Sunrise

Kawah Ijen setelah Sunrise

Puncak Gunung Ijen (Baca: motretnya)

Puncak Gunung Ijen (Baca: motretnya)

Sampai di puncak, eh rombongon mobil kedua baru sampai. Waaahhh kalian melewatkan moment indah melihat api biru!!! Mereka lagi bernarsis ria di puncak. Ya sudah saya dan Alfons turun ke Pos Bundar (pos menimbang belerang) yang juga menjual kerajinan yang terbuat dari belerang pastinya.

Kerajinan Belerang @Rp 5.000,-

Kerajinan Belerang @Rp 5.000,-

Cocok untuk orang yang terkasih. Apalagi kalau jarang mandi. hahaha

Cocok untuk orang yang terkasih. Apalagi kalau jarang mandi. hahaha

Nah saat ini saya mendapat hidayah. Sepanjang perjalanan saya dan Alfons ini dihiasi candaan dan obrolan yang kocak sehingga tidak terasa lelah. Di saat turun ada seseorang yang jatuh terpeleset. Saya dan Alfons ikut menggoda dia. Ketika saya berteriak menggodanya, eit saya terpeleset dan kaki kiri terkilir. Hampir jatuh ke jurang pula. Saya bertahan dengan berpegangan dengan satu tangan di batang pohon.

Saya: Fons!! Fons!! Tolong fons!!

Alfons : Hahahaha!! Gak!! Gak!! Gak!! Pasti kamu akting bercanda kan!!

Saya:  Serius ini!! Brakkk!! *mulai turun terpelosok ke jurang*

Untungnya Alfons dan dua orang pendaki yang lain yang lewat segera menarik saya jalur dari tepi tebing. Syukurlah Puji Tuhan, saya masih diberi keselamatan. Hahaha… Horroorrrr!!!! Hidayah dari kejadian ini saya diingatkan untuk tidak boleh bercanda sembarangan, apalagi di kawasan yang cukup angker itu. Kaki saya belum bisa digerakkan. Saya mengurut ankle kaki kiri sendiri dengan balsem. Ya sudah kami istirahat dahulu.

Alfons segera mengambilkan tongkat. Tongkat pemukul anjing dari Pengemis Kaifang *emang nonton film pendekar rajawali* 😀

Alfons : Sahabat yang narik saya dari pinggir tebing

Alfons : Sahabat yang narik saya dari pinggir tebing

Tongkat dari ranting pohon itu membantu saya berjalan turun sampai Paltuding. Perut lapar memaksa kami untuk bertandang di warung makan. Warungnya tepat di depan jalur pendakian. Ya kalau fengshui-nya disebut tusuk sate. Dengan semangkuk mie instan, saya timpuk tuh cacing yang lagi paduan suara di lambung saya. Saya sempatkan tidur dengan menyandarkan kepala ke meja. Meja bukan sembarang meja, tuh meja ping pong punya pemilik warung.

Setelah bangun, kami menunggu teman-teman di depan awal jalur pendakian. Sambil cuci mata melihat wisatawan mancanegara berlalu-lalang, tampak dua orang wisatawan mancanegara (cewek) yang kesal karena mereka baru sadar dikerjain oleh suatu biro wisata. Patut kalian ketahui, biaya masuk ke lokasi pendakian itu FREE alias gratis. Yang bayar cuma parkir aja atau sumbangan sukarela saat lapor di pos Sempol. Nah tuh wisatawan harus membayar Rp 100.000,- dengan karcis berstempel. Hati-hati ya teman-teman!!

Ah uda lah, dosa mereka sendiri yang nanggung. Setidaknya saya sudah memberi info yang sebenarnya kepada para pendaki yang baru pertama kali mau menaklukkan Gunung Ijen atau pengunjung lain yang sudah lama tidak mengunjungi ke sana.

Tak lama kemudian Steven, Tommy, Eko, dan Siska sudah kembali. Kasihan banget dengan Siska. Niatnya sih mau turun lihat api biru, namun tidak diizinkan oleh  penambang belerang. Alasannya sih karena Siska sendirian dan tidak membawa lampu senter, kalau mau Siska harus membayar Rp 100.000,- untuk diantar ke lokasi penambangan oleh para penambang belerang. Saya setuju sih dengan penambang tersebut, sangat berbahaya untuk turun ke bawah karena jalannya yang sedikit terjal dan gelap.

Kami pulang dan menuju pemandian air panas di Blawan, Bondowoso.

Ada beberapa hal yang membuat saya salut dengan perkembangan di kawasan Ijen ini dibandingkan beberapa tahun yang lalu:

  1. Penambang belerang sudah lebih dimanusiawikan dengan diikutkan Asuransi Jiwa dari Jamsostek.
  2. Penambang belerang diberi job (pekerjaan) ganda sebagai pengrajin ukiran belerang dan sebagai guide untuk mengantarkan wisatawan.
  3. Jalur menuju Paltuding sudah diaspal dengan mulus, selain itu jalur pendakian dirapikan sehingga pendaki bisa mendaki dengan mudah.
  4. Ada beberapa penambang belerang dan beberapa penjaga pos di Paltuding yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Keren coy!!

JT August 16-17 2013

Advertisements

38 responses to “Api Biru Kawah Ijen – Kawasan Wisata Internasional yang Eksotis

    • Saya sarankan untuk pergi berkelompok kalau malam. Supaya bisa saling menjaga.
      Kalau dari pengalaman saya, perjalanan malam relatif aman. Hanya saja agak gelap dan dingin.

  1. Saya rencana jalan solo dari surabaya by bus.
    Baiknya lewat situbondo atau banyuwangi ya?
    Thanks

    • Kl dari surabaya. Lebih baik turun terminal situbondo. Nanti pindah naik bus yg arah bondowoso. Bilang aja ke kondekturnya, turun di pertigaan ijen. Nah dr pertigaan, kamu bisa naik ojek buat ke ijen.

  2. pas barengan acaranya Aremania Banyuwangi d paltuding. itu bukan cuma bawak bendera merah putih, bawak bendera arema juga gan. banyak.

  3. Kereeeenn!
    Besok saya mau kesana, tapi sama orang tua, jadinya gk bisa sekalian camp dan berangkat dini hari utk nututi blue fire.

  4. Mau tny kalo naik kereta dari surabaya mending turun jember (4jam) atau banyuwangi (6,5jam) untuk ke ijen?

  5. Asyik banget. Apa sampai sekarang jg gak ada tiket masuk ke kawah ijen? Apa petunjuk sepanjang jalan dari banyuwangi ke ijen jg jelas? Soalnya jalan malam kalo gak tau arahnya gak ada yg bs ditanya.
    Makasih bro..

  6. Mo nanya dongs.. wajib ga sih harus sewa mobil jeep sedangkan kita bawa mobil sendiri ke ijen sekarang?

    • Gak wajib itu, karena tidak tercantum dalam peraturan daerah. Beberapa minggu lalu pernah masuk di koran Jawa Pos. Kalau itu adalah ulah oknum. Lebih baik dilaporkan ke kepala desa / dinas pariwisata / pihak yang berwajib.

  7. gan , insyaallah gua dan teman”tanggal 14-18 agustus mau ke bali, ijen, baluran , green bay.
    nah itu buat tempat ngecamp yg aman + nyaman dimana ya ?
    terus punya kenalan rental mobil elf yg murah ga gan ?
    bales ke email aja rgilang4212gmail.com

  8. Eh thanks banget brada, bahasa yang dipake sumpah ringan banget dan mudah di cerna, jadi minat banget kesana eh tapi peralatan wajib buat kesana apa aja si ? Info dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s