Belajar Bersyukur di Astana Imogiri

Pelarian adalah hal yang pernah orang lakukan di kala mereka menghadapi suatu masalah. Lari dari hal yang tidak diinginkan, lari dari tanggung jawab, lari dari hutang, dan yang pasti bukan lari marathon atau lari spint. Itu cabang olah raga woi! Nah mau cerita dikit nih. Pada waktu ke Jogja kemarin, saya sih tidak ada rencana untuk mengunjungi Astana Imogiri. Kebetulan aja saya baru saja menghadapi masalah di luar dugaan, pikiran carut marut kayak nasi goreng mawut. Uuhh lapar, ya yang sabar saja deh. Puk puk diri sendiri. Nah kebetulan juga sahabat saya yang ada di Jogja juga belum pernah ke sini, dan betul-betul sebuah kebetulan. Betul kan Mas Kiwil??! Betuuull !!

Astana Imogiri atau yang disebut sebagai Pasarean Imogiri atau Pajimatan Girirejo Imogiri adalah kawasan pemakaman raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram. Lokasinya di Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Tempat ini disucikan dan dikeramatkan, ya jelas dong yang dimakamkan juga kalangan raja-raja. Kami memasuki kawasan eh langsung berkenalan oleh salah satu abdi dalem dari Kasultanan Yogyakarta. Beliau menghampiri kami dan menjadi guide. Ternyata ada dua guide saat itu bertugas, yang pertama abdi dalem dari Kasultanan Yogyakarta dan yang kedua adalah abdi dalem dari Kasunanan Surakarta. Kedua kerajaan Jawa itu dulunya satu nenek moyang, nah sudah jelas mengapa mereka pemakaman itu menjadi satu.

Bapak abdi dalem yang mengantar kami menggunakan bahasa Jawa halus sehingga harus memaksa saya untuk bernoltagia dengan pelajaran bahasa Jawa saat di bangku sekolah. Dulu kurang bisa, sekarang lupa. Hmm ya masih ngerti lah. Menjadi abdi dalem adalah salah satu bentuk pengabdiannya, beliau magang di suatu tempat yang disebut bupati juru kunci selama 5 tahun baru diangkat. Cukup lama juga sih, jadi abdi dalemnya apalagi. Cukup lama juga sekitar 24 tahun.

Bapak Abdi Dalem dari Kasultanan Yogyakarta

Bapak Abdi Dalem dari Kasultanan Yogyakarta

Beliau mengatakan kalau bisa menghitung jumlah anak tangga dengan benar maka permohonan akan terkabul. Mitosnya sih begitu. Berhubung tujuan awal saya itu untuk menenangkan pikiran dan belajar dari tempat ini ya saya skip aja lah. Kami melewati anak tangga dari pemukiman menuju daerah dekat masjid, menurut Beliau bahwa jumlah anak tangga itu 32 anak tangga yang melambangkan tahun 1632 itu makam Imogiri dibangun.

Masjid

Masjid

Masih naik lagi 13 anak tangga ke pekarangan masjid, 1613 adalah tahun dimana Sultan Agung diangkat menjadi raja Mataram. Naik naik naik naik dan kami istirahat sejenak. Bapak abdi dalem ini menemani kami dan mengatakan kalau dari pekarangan masjid ke sini itu totalnya 45 anak tangga yang menandakan kalau Sultan Agung wafat pada tahun 1645. Saya melihat di samping anak tangga ada kuburan-kuburan warga dan kawasan pemakaman abdi-abdi dalem.  Nah ini dia yang cukup menantang, anak tangga terpanjang hosh hosh hosh 346 anak tangga coy!! Semangat!! Konon katanya pemakaman Imogiri dibangun selama 346 tahun. Wooowww!!!

Naik naik.. ke puncak anak tangga. Tinggi tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja. Banyak kuburan. #Nyanyi

Naik naik.. ke puncak anak tangga. Tinggi tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja. Banyak kuburan. #Nyanyi

Hosh Hosh Hosh... Perjuangan setelah mendaki tangga terpanjang

Hosh Hosh Hosh… Perjuangan setelah mendaki tangga terpanjang

Hap yes tangga terpanjang sudah selesai. Hah!! Masih ada tangga lagi!!! Sebentar ya pak, kami istirahat dulu. Nah di sini ada persimpangan ke kiri dan kanan. Kalau ke kiri adalah komplek pemakaman raja-raja dari Kasunanan Surakarta, kalau ke kanan adalah komplek pemakaman raja-raja Kasultanan Yogyakarta. Tidak semua anggota keluarga kerajaan yang bisa dimakamkan di sini, cuma sampai cucu saja. Kami naik lagi dan terlihat ada jembatan di tengah dua kolam. Ada kolam kecil dan kolam yang lebih besar. Anak tangga di sini berjumlah 9 anak tangga yang melambangkan Walisongo.

Jadwal Ziarah ke Makam

Jadwal Ziarah ke Makam

Jembatan di antara dua kolam

Jembatan di antara dua kolam

Nah di sini saya mendapat filosofi yang menarik tentang kawasan pemakaman Imogiri ini. Hidup itu seperti kawasan Imogiri ini, tangga-tangga yang jumlahnya sedikit dan bertahap itu adalah tangga kehidupan dimana kita belajar dasar-dasar kehidupan, tangga yang panjang adalah tangga perjuangan yaitu keadaan manusia harus berjuang untuk mencapai puncak kehidupannya. Lalu ada persimpangan, mau ke manakah kamu akan melangkah? Ke kiri kah? Ke kanan kah? Atau tetap berjalan lurus? Kalau berjalan lurus kita akan melewati jembatan penyucian dengan meninggalkan dosa besar dan dosa kecil yang dilambangkan dengan kolam besar dan kolam kecil. Sampai pada akhirnya kita kembali ke sisi Yang Maha Kuasa. Saya takjub bagaimana selama 346 tahun membangun kawasan pemakaman dengan menggambarkan perjalanan manusia dan menunjukkan kepercayaannya kepada Allah. Kok bisa!! 346 tahun loh bangun!! Coba bayangkan!!

Kami kurang beruntung karena datang pada bulan puasa. Kawasan pemakaman ditutup untuk umum pada saat itu. Dan untuk bisa masuk ke area pemakaman raja kita harus memakai pakaian adat Jawa seperti pakaian Bapak abdi dalem ini dan melepas semua perhiasan. Maksudnya untuk menghormati raja-raja yang sudah wafat. Sesaat mau naik dan masuk ke gapura, ada yang ganjil karena ada anak tangga yang stukturnya berbeda dari anak tangga yang lain. Ternyata itu adalah salah satu makam dari penghianat kerajaan yang membocorkan rahasia kerajaan kepada VOC, pada jaman penjajahan Belanda dulu itu. Memang sengaja dimakamkan di sana agar rakyat pada saat itu tidak berkhianat sekaligus menghormatinya sebagai sesama manusia. Ingat bro sis, tidak sembarangan orang bisa dimakamkan di sini.

Makam Mendiang yang menghianati Sultan

Makam Mendiang yang menghianati Sultan

Kami melewati gapura dengan corak bangunan Hindu. Kami duduk di pendopo milik Kasultanan Yogyakarta, uniknya pendoponya berada di sisi kiri dan berdampingan dengan kawasan pemakaman Kasunanan Surakarta. Oalah ternyata pendopo dan kawasan pemakaman dari dua kerajaan ini dibuat bersilangan.

Papan Makam Pahlawan Nasional

Papan Makam Pahlawan Nasional

Pendopo Kasunanan Surakarta

Pendopo Kasunanan Surakarta

Pendopo Kasultanan Yogyakarta

Pendopo Kasultanan Yogyakarta

Gerbang Pintu Masuk ke Makam Sultan Agung yang tergembok

Gerbang Pintu Masuk ke Makam Sultan Agung yang tergembok

Sambil beristirahat, bapak abdi dalem ini menceritakan detail kawasan pemakaman Imogiri ini dari awal dengan gamblang dan detail. Tapi dengan menggunakan bahasa Jawa halus. Haaakkdeess.. Saya mencoba mencatat hal yang penting dari beliau ceritakan namun kemampuan otak saya untuk translate tidak mampu menandingi kecepatan bercerita beliau. Ya sudahlah saya biarkan imajinasi liar saya membayangkan kawasan tersebut. Saya senang sekali membayangkan kawasan ini, saya bisa membayangkan bagaimana ruang-ruang di balik gapura yang tergembok itu seperti berlari di dalam labirin.

Tempayan pemberian dari Kerajaan Sriwijaya (Palembang)

Tempayan pemberian dari Kerajaan Sriwijaya (Palembang)

Tempayan pemberian dari Kerajaan Samudra Pasai (Aceh)

Tempayan pemberian dari Kerajaan Samudra Pasai (Aceh)

Tempayan pemberian dari Kerajaan Ngerum (Turki)

Tempayan pemberian dari Kerajaan Ngerum (Turki)

Tempayan pemberian dari Kerajaan Syam (Thailand)

Tempayan pemberian dari Kerajaan Syam (Thailand)

Saya banyak melewatkan cerita dari Bapak abdi dalem karena saya kurang mengerti dengan bahasanya, mungkin kalau saya mengerti semua ya artikel perjalanan saya ini bakal jadi panjang. Ceritanya lanjut sampai sudah turun tangga aja ya? Ok ceritanya sampai bawah tangga loh. Di sini ada ibu yang cukup berumur menjual wedang uwuh. Nah wedang ini bukan sembarang minuman hangat biasa. Minuman ini ramuan dari beberapa tanaman yang baik untuk kesehatan. Minuman ini khas dari Yogyakarta khususnya dari Imogiri. Harga 1 resep racikan Cuma Rp 1.500,- bro. Coba kalian beli di luar sini mungkin harganya paling murah Rp 15.000,- bahkah saya sempat browsing kalau ada yang jual dengan harga Rp 250.000,-. Wait wait dari Rp 1.500,- looohh!!

Kami diantar lagi kembali ke daerah pemukiman oleh Bapak abdi dalem. Wuiihh bapak ini baik banget pemirsa! Kami bersalaman dan mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau. Bagi teman-teman yang ingin mengetahui tentang pemakaman Imogiri lebih lanjut JANGAN SEKALI-SEKALI HUBUNGI DOKTER TERDEKAT tapi bisa baca di http://id.wikipedia.org/wiki/Pemakaman_Imogiri atau ya paling afdol memang harus datang ke sana sendiri. Sampai jumpa lagi ya.

JT July 13 2013

Advertisements

2 responses to “Belajar Bersyukur di Astana Imogiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s