Jazz Gunung | Indahnya Jazz, Merdunya Gunung 2013

Jazz Gunung. Nah… Merasa ambigu dengan judul postingan artikel kali ini? Sama sih. Kenapa yang merdu gunungnya? Bukan suaranya dia, dia, atau dia? Judulnya dulu deh pasti dilirik ambigu. Hehehe… Yup, benar saja, kali ini event tahunan yang sayang untuk dilewatkan akan segera kita kupas, seperti mengupas kulit mangga gadung khas Probolinggo. Aiiih, mentang-mentang lokasi Jazz Gunung di kawasan salah satu dataran tinggi di Jawa Timur ini. Hehehe.. Check this out 😉

Di bulan Juni, tepatnya tanggal 21 dan 22, waktu yang dipilih pihak penyelenggara event bergengsi tahunan untuk yang kelima kalinya membuat gunung ini paduan suara, hmm.. bukan, bukan.. Maksud saya event Jazz Gunung ini diselenggarakan untuk yang kelima kalinya. Nah, pemrakarsa event tahunan ini diantaranya Bapak Sigit, Butet Kertaredjasa, dan musisi berkelas Djaduk Ferianto. Tahun ini, event ini digelar di halaman Java Banana Lodge, di daerah Wonotoro, Probolinggo. Ketiga bapak-bapak berpikiran penuh ide kreatif ini pada awalnya ingin mencari sebuah inovasi, yaitu mengadakan konser dengan ala-ala pegunungan dan para penonton setianya disebut jamaah al-jazz-iah. Bapak Sigit, selaku pemilik Java Banana Lodge memiliki aset yang terbatas, maksud saya luas venue di Java Banana Lodge yang dipersiapkan untuk konser ini tidak seluas saya bisa bermain bola dengan bang karyok, sehingga seat pun menjadi terbatas dan tiketnya pun cukup mahal untuk saya. Namun salah satu hal yang eye catching pada konser ini adalah salah satunya dekorasi panggung. Emang ada apa sih? Ada bambu. Bambu doank? Ngga, bambunya disusun sedemikian rapinya oleh tangan-tangan terampil para seniman yang ternyata sama juga menyusun bambu di event Art Jog di tahun 2012 lalu.

Ngomongin soal cerita dibalik 2 lembar tiket yang ada di tangan saya nih. Ada beberapa cerita kayak FTV – FTV yang suka sliweran di TV nih. Jadi gini, harga satu bulan sebelum hari H, lebih murah 30% dibanding dengan tiket on venue. Otomatis jauh hari gini mengharuskan sistem transfer. Iya donk, 2013 masa mau kirim duit pakai merpati pos? Lama dan pastinya bisa nyasar. Transfer mentransfer selesai di mesin ATM sebuah Bank. Saya pun sempat meragu, beli, enggak, beli, enggak, beli ngga ya? Ibarat iklan gitu, pasti saya udah metik lembar demi lembar kelopak bunga. Dan mungkin saya bakal habisin 1 taman bunga hanya untuk memikirkan dan belum tentu mengambil keputusan. Hahaha.. It was kidding ya 😀 Saya sih mikir uang yang ada di tabungan aja sih, tapi akhirnya… eng.. ing… eng… saya pun beli. Memutuskan untuk membeli 2 tiket. Satu untuk saya, dan satu untuk lelaki saya. Eh bukan, seseorang yang saya sayangi, perempuan tulen pastinya. Yang tadi cuma bercanda ya 😀 Namun tiket yang berstempel hati tersebut harus saya ‘hibahkan’ untuk orang lain. Karena mendapat musibah kecelakaan. Jujur saya bingung dengan keadaannya, dan sekaligus kebingungan saya jadi double dengan tiket yang sudah terlanjur didepan mata. Sudah terbeli tentunya. Hingga H-2 saya masih bingung mencari para calon kandidat tiket berstempel hati ini. Hmm ngomong-ngomong, stempel hati maksudnya spesial buat saya ya, bukan asli ada stempel hatinya. Hehehe.. Oke lanjut. Nah kemudian saya mulai berpikir dengan teman-teman saya. Ah, namun banyak ini itu nya. Banyak telepati, eh maksud saya banyak bertele tele. Namun pada akhirnya setelah melewati beberapa penilaian juri, terpilihnya Rizal yang kebetulan mengajukan diri sebagai pendamping saya, untuk nonton Jazz Gunung, bukan untuk yang lain-lain ya. Hehehe…

Okay, di hari pertama tanggal 21 Juni 2013, Blambangan Art School (Banyuwangi), Cantrek, Balawan & Batuan Ethnic Fusion, Bandanaira Duo, Sierra Soetedjo, dan Yovie Widianto Fusion menunjukkan perform mereka. Namun acara yang ini saya lewatkan, karena saya membeli tiket untuk tanggal 22 Juni saja. Karena tuntutan kerjaan saya. Jumat saya masih harus berada di kantor, duduk di meja dan penuh dengan laporan-laporan yang harus saya kerjakan. Barulah Sabtu saya bisa sedikit hore-hore. Nah setelah saling berkoordinasi panjang lebar dengan partner menonton saya kelak, Rizal, kami memutuskan untuk berangkat dari Jember Sabtu pagi. Di dalam pembahasan koordinasian saya dengan Rizal. Kami juga membaha tentang budget kami berdua yang terbatas. Saya pun mengalami overbudget di bulan ini karena kebanyakan jadwal jalan-jalan. Kami pun berdua berangkat dengan kesepakatan harus saling mengikat pinggang, alias harus saling irit. Ah, ditambah pula dengan kenaikan BBM yang awalnya Rp. 4500,- menjadi Rp. 6.500,-. Tak apalah, ini semua proses. Saya terima dengan lapang dada saja, karena mau lapangan futsal saya ngga kuat. Hehehe…

Tepat pukul 14.15 WIB, kami sudah sampai di pintu masuk acara, namun penonton masih belum diperbolehkan masuk karena check sound masih sedang berlangsung oleh pengisi acara. Kami pun lantas menukarkan tiket masuk di stand panitia dan mendapatkan brosur berisi direct map lokasi dan para pengisi acara. Awal saya menerima lembar demi lembar hasil tukar tiket saya dengan panitia, saya nampak asing, kertas yang saya terima tebal, besar, dan sepertinya bukan kertas brosur pada umumnya. Nah, benar saja, ini kertas dari kantong ajaib Doraemon ! Ngga juga sih, hehehe.. Ini kertas multifungsi, tahan air dan sengaja diperuntukkan bagi penonton untuk melindungi dari hujan. Gimana pasangannya? Multifungsi juga nggak? Siaga juga nggak? Jadi kalah nih pasangan-pasangan yang super cuek, kalah perhatian sama kertas brosur nih yee.. Uhuk.. Hehehe.. Tujuan brosur ini pun bukan tanpa wacana, namun mengingat cuaca yang lagi nggak tentu. Hari itu, berkabut dan mendung jadi partner langit. Kami sejenak beristirahat dan masuk pada jam 16.00 WIB. Menunggu beberapa jam bikin pegal juga. Segera saya dan Rizal mencari tempat duduk dengan view yang lumayan. Nah, di acara ini saya melihat sebuah patung sebagai simbol Jazz Gunung, yaitu seorang pria dengan berpakaian adat Jawa sambil meniup sebuah saxophone. Keren sekali !

Gelang Tanda Masuk

Gelang Tanda Masuk

Patung Simbol Jazz Gunung

Patung Simbol Jazz Gunung

Pengunjung Mulai Memenuhi Venew

Pengunjung Mulai Memenuhi Venue

Penampilan pertama hari ini diawali oleh Tahez Komez Project yaitu band etnik dan jazz yang berasal dari Malang. Perform mereka begitu memukau, tak kalah menarik seperti ketiga pemandu kocak yaitu Butet Kartaredjasa, Alit dan Gundi. Ketiga pembawa acara ini membuat dinginnya pegunungan menjadi sedikit lumer oleh gelak tawa penonton. Lanjut pada penampilan kedua oleh kelompok musik Etnik Kramat Madura. Kelompok yang berasal dari Pulau Madura sesuai namanya ini, cukup unik perform nya, Selain karena musiknya yang riang, para personil kelompok musik ini juga bervariasi, mulai dari anak-anak yang beranjak dewasa, hingga yang beruban juga ada lho, maksud saya kakek-kakek. Eiitss.. Jangan salah, meski kakek begini, namun beliau sangat mahir memainkan terompet khas set gamelan dan sangan pandai menari. Saronen dan patrol merupakan sumber dihasilkannya musik yang energik ini.

Tahes Komez Band

Tahes Komez Band

Kelompok Musik Etnik Kramat Madura

Kelompok Musik Etnik Kramat Madura

Trio MC Alit, Gundi dan Butet Kartaredjasa

Trio MC Alit, Gundi dan Butet Kartaredjasa

Nah, selain itu, ada pula ‘tahap formal’ didalam acara ini. Apa itu? Sambutan. Sambutan identik dengan sesuatu yang formal bukan? Didalam acara ini, ada sambutan dari pendiri Jazz Gunung, Bupati Probolinggo, dan staff Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreati8f. Nampaknya ditahun ini, Jazz Gunung mampu mencuri hati dan perhatian pihak kementrian, berbeda dengan tahun sebelumnya. Setelah sambutan selesai, Kulkul band menunjukkan aksinya. Band yang membawakan musik khas dari Pulau Dewata ini menggabungkan musik jazz dengan alat musik tradisional Bali. Empat orang diantaraa grup musik ini yang berasal dari Pulau Bali yang memainkan gambang, gamelan khas Bali. Lagi enak-enaknya saya menikmati sajian musik dari Kulkul, langitpun mulai sedikit menangis, hujan gerimis perlahan membasahi kami yang terbalut musik. Brosurpun berfungsi, ada yang melipat menjadi topi. Ada pula yang sudah siap sedia dengan jas hujan. Namun bersyukur, langit menangis tak lama, hujanpun reda, dan muncullah purnama. Kuasa Tuhan atas alam yang indah ini. Event ini nampak diringi oleh alam dengan sempurnanya. Saya acungkan pemandangan dan suasana ini, empat jempol saya. Hehehe…

Kulkul Band

Kulkul Band

Kemudian ada musisi ‘wah’ yang giliran menunjukkan performnya. Djaduk Ferianto, Idang Rasjidi, & Jen Shyu begitu menghipnotis penonton dengan indahnya. Kolaborasi mereka dikemas dengan menarik dan rasanya pun ciamik, apik. Djaduk sebagai dirigen dan bermain perkusi. Idang Rasdjidi sebagaI keyboardist jazz kondang yang sangat berpengalaman. Jen Shyu sebagai vocalist, pemain kecapi dan sitar khas Cina. Perform mereka yang high skill disuguhkan dengan estetikanya, disertai candaan diantara musisi menjadi daya hibur tersendiri untuk penonton. Tak kalah penting, seorang Gita Wiryawan yang seorang menteri sekaligus musikus dengan aliran yang sama jazz, turut andil bagian di perform ini sebagai pemain keyboard. Sungguh luar biasa !

Jen Shyu, Djaduk Ferianto, & Idang Rasjidi

Jen Shyu, Djaduk Ferianto, & Idang Rasjidi

Tak ketinggalan, Rieke Roslan & band ikut meramaikan event Jazz Gunung ini. Tubuh mungil Rieke dengan suara khasnya yang berayun di telinga membuat penonton ingin ikut bergoyang. Liriknya yang khas simpel dan easy listening pun bergelanyut diantara para nada dalam lagu yang ia bawakan. Sangat menikmati sekali rasanya dengan event ini. Belum lagi penutup. Barry Likumahuwa Project yang sangat mahir dalam bass skill, menyuguhkan personel lengkap dengan adu skill diantara para personelnya. Tentunya hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi penonton yang mulai kedinginan karena hari sudah semakin malam.

Rieke Roslan

Rieke Roslan

Barry Likumahuwa Project

Barry Likumahuwa Project

Dan yang patut saya beri applause adalah segala unsur musik etnik atau musik tradisional yang ada pada setiap penampilan para musisi yang secara langsung maupun tak langsung membuat penonton jadi lebih mencintai Indonesia. Event ini begitu menarik dan berarti bagi saya secara pribadi. Memperkaya ilmu akan budaya Indonesia dan mengeksplorasi pengetahuan negeri kita ini,

Selepas acara ini, pada pukul 22.00 WIB kami bertujuan untuk ke pom bensin Sukapura. Bukan beli bensin ya, namun untuk makan. Didalam perjalanan yang saya lalui, cukup membuat saya dan Rizal sedikit jantungan. Tiba-tiba rem motor saya blong karena minyak rem sedikit membeku, dan belum turun ke pengereman. Sejujurnya sih agak sedikit tegang, dan mengharuskan saya berkendara pelan dan lebih berhati-hati. Syukurlah, kami sampai di warung dekat SPBU. Tak menunggu lama, mie kuah kami pesan di Ibu penjual untuk menghangatkan tubuh kami.

Kemudian Ibu penjual pun bertanya,”Mau naik ke Bromo ya?”. “Sudah turun Bu,”jawab kami. “Ini mau lanjut nginep di hotel mana?” tanyanya kemudian. Kami pun menjawab,”Bukan di hotel bu, ini di sebelah.”. “Di penginapan sebelah itu?”,tanyanya penasaran. Sedikit malu-malu kemudian kami menjawab,”Bukan Bu, ini di meja lesehan samping warung.”. “Oalah..”, jawab Ibu itu keheranan.  Maklum saja, uangnya tinggal buat isi bensin aja. Hehehe…

Setelah kami berdua memutuskan untuk beristirahat, keesokan paginya sekitar pukul 05.00 WIB, kami berdua bangun tidur dan bersiap diri untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju Jember. Sampai di Leces kami sempat berhenti sejenak menikmati keindahan matahari terbit. Di daerah Leces, kami sempat singgah sejenak di pom bensin untuk beristirahat, dan ternyata kami ketiduran. Hehehe… Lumayan satu jam. Kami memang capek dan kurang istirahat sepertinya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan senang, karena diberikan kesempatan untuk menyaksikan dan menikmati event keren semacam ini. Menonton event yang layak ditonton setiap tahun meskipun kondisi dompet yang lagi kritis. Hehehe.. Serukan duniamu dengan menjelajah yang belum kamu tau ! Salam traveling 😀

Sunrise di Jalanan Leces

Sunrise di Jalanan Leces

13JT 22 06

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s