Dieng Negeri di Atas Awan – Part Telaga Warna

Okay cerita dilanjutkan. Sumur Jalatunda sudah, kompleks percandian Arjuna sudah, perjalanan dari Kawah Sikidang kita lanjutkan ke Telaga Warna. Ternyata menuju Telaga Warna cukup jauh, kami menikmati perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Loh loh loh itu ada anak gimbal lagi yang sedang bermain dengan temannya. Teman – teman berhenti untuk mengabadikan momen dan saya saya saya saya diminta untuk menjaga motor – motor mereka. Haizzz ya sudahlah setidaknya saya sudah melihat langsung seperti apa anak gimbal itu meskipun belum bisa mengambil gambar mereka.

jember traveler telaga warna 01

jember traveler telaga warna 02

Beberapa menit kemudian, kami sampai di lahan parkir di depan pintu masuk kawasan wisata Dieng. Ayo bayar tiket masuk!! Bayar tiket masuk!!! Ada kumpulan bunga yang indah ketika kami melewati pintu masuk. Tak jauh dari sana, ada tempat ibadah dan kamar mandi. Saya sempatkan untuk membasuh wajah, tangan, dan kaki. Weeerrrrrrrrr airnya juga dingin. Ada perempatan dimana kalau ke kanan kita ke arah Dieng Volcanic Theater, ke kiri arah Telaga Warna, dan lurus entah ke mana. Hayo mau ke mana dulu nih? Si Alif berkata kalau ke Dieng Volcanic Theater lagi ramai pengunjung lebih baik kita ke Telaga Warna dahulu.

jember traveler telaga warna 07

jember traveler telaga warna 06

Kami belok ke kiri, ada pohon besar yang tumbang berada di pinggir telaga. Kami mengambil beberapa gambar. Jalan kaki… Jalan kaki lagi… Sampai di suatu spot untuk menikmati pemandangan Telaga Warna dari jarak yang dekat. Tampak gradasi warna hijau tosca, biru, dan putih bening. Gradasi itu karena Telaga Warna mengandung belerang, air telaganya pun hangat. Ada beberapa pengunjung yang memberanikan diri untuk turun ke telaga.

Telaga Warna

Telaga Warna

 

jember traveler telaga warna 03

jember traveler telaga warna 05

Lurus terus berjalan kaki mengikuti jalan setapak. Ada cabang di tengah jalan setapak, kami berjalan di cabang jalan yang rendah karena jalan yang naik itu menuju perkampungan warga. Kami sampai di rerumputan seperti rawa kecil, rerumputan ini yang memisahkan Telaga Warna dengan Telaga Pengilon. Unik!! Begitulah yang saya herankan dengan kedua telaga tersebut. Cuma terpisahkan oleh rerumputan namun Telaga Pengilon masih jernih dan tidak tercampur belerang. Dengan saling bercanda gurau kami berjalan kaki menyusuri tepi Telaga Pengilon dari sisi yang lain. Ada yang semakin membuat saya yakin kalau kalau air dari Telaga Pengilon memang jernih. Saya melihat ada generator yang dipakai untuk menyalurkan air dari telaga menuju perkampungan warga.

jember traveler telaga warna 08

Telaga Pengilon

Telaga Pengilon

jember traveler telaga warna 10

jember traveler telaga warna 11

jember traveler telaga warna 12

Di dekat sana ada beberapa goa yaitu Goa Semar, Goa Jaran, dan Goa Sumur. Konon katanya goa – goa itu dipakai untuk tempat pertapaan atau persemedian. Cukup menguras tenaga berjalan mengikuti jalan kecil itu. Tak lama, kami sampai di perempatan yang awal. Oh jadi tembus ke Telaga Pengilon. Objek yang terkenal ini sudah selesai kami kunjungi.

Kami mengakhiri perjalanan di Dieng bersama Alif yang baik hati ini. Terima kasih Alif. Sampai jumpa di kesempatan yang akan datang. Alif kembali pulang ke rumahnya. Kami melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Di Jogja, kami mengantarkan Daniel ke rumah saudaranya. Di sini kami berpisah dengannya karena Daniel masih ingin tinggal lebih lama di Jogja. Team power renjes tinggal tiga orang yaitu saya, Andre, dan Ainun. Melewati Stasiun Tugu kami menuju ke rumah kontrakan Mas DJ. Pintu rumah kami buka, hemmm masih ada tokek besar yang sedang diam manis di dinding persis di atas ranjang. Ainun ngobrol dengan Mbak Vivi. Saya dan Andre duduk di dekat ranjang sambil mengisi batrai handphone. Tak lama kemudian terdengar suara “Klotaaaaaakkkk!!!” ternyata tokek jatuh ke lantai. Spontan Andre langsung melompati saya dan berlari keluar dari rumah. Saya yang juga kaget mengambil handphone dan ikut berlari. Huwaaaaaaaa!!!!!!

Mbak Vivi dan Ainun kaget melihat tingkah kami berdua. Andre langsung menceritakan apa yang terjadi. Seketika itu Mbak Vivi memanggil teman kontrakannya yang berasal dari Meksiko yang juga seorang dalang. Hah??!! Dalang??!! Iya dalang yang main wayang itu. Memang bahasa Indonesianya kurang fasih namun bahasa Jawa halusnya muaannntaaaapppp lancar puoolll. Eit eit eit kembali ke topik sebelumnya tentang tokek. Ternyata tokek malang yang terjatuh ini sudah meninggal dua hari yang lalu namun masih menempel di dinding. Si dalang mengambil tokeknya dan saya menggali tanah untuk menguburnya. Fiuuuhhhhh sudah beres. Akhirnya kami bisa beristirahat. Keesokan paginya Ainun merayakan Idul Fitri di sini. Mohon maaf lahir dan batin ya, Nun!!! Kami bertiga berpamitan dengan penghuni rumah kontrakan yang supeeerrr baik hati ini. Perjalanan kali ini berakhir, kami kembali ke Jember dengan bus.

Banyak pelajaran dan sahabat baru yang kami dapatkan dalam perjalanan ini. Tunggu saya di perjalanan yang akan datang ya.

12 JT 19-20 08

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s