Dieng Negeri di Atas Awan – Part Kawah Sikidang

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran anda tentang Kawah Sikidang? Kawah? Sudah jelas! – Apa lagi coba? Belerang? Benar!! – Dieng?? Emang tempatnya! – Ada kudanya?! Benar !!!

Ada yang mengusik pikiran saya ketika mendengar sebutan Kawah Sikidang. Sikidang yang berarti kijang atau rusa ini apa hubungannya dengan kawah vulkanik pada dataran Dieng. Penasaran juga? Mari kita simak ceritanya!

Dataran Dieng adalah kawasan pegunungan vulkanik purba. Sudah lama tidak aktif. Gempa kecil kadang menemani kehidupan penduduk di Dieng.

Okay cerita dimulai. Perjalanan kami sampai di Kawah Sikidang serta didampingi oleh Alif, seorang sahabat baru yang kebetulan tinggal tidak jauh dari sana. Tiket masuk yang kami beli saat berada di kawasan Percandian Arjuna ternyata juga berlaku untuk di Kawah Sikidang. Syukurlah tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk tiket masuk.

Kami memasuki kawasan tanah berkapur dengan suhu udara yang cukup hangat khususnya pada kawasan pegunungan. Tampak pula wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Saya melihat wisatawan yang berasal dari Jepang dengan kulit di tangan dan wajah yang mengelupas karena panas matahari. Brrrrrrrr sebuah pemandangan yang ekstrim. Saya pastikan diri dengan menggunakan jaket.

jember traveler kawah sikidang 01

Di tengah perjalanan ada kuda putih yang bagus. Lebih bersih jika dibandingkan dengan kuda – kuda yang berada di kawasan Gunung Bromo. Sejenak kami bertanya kepada seorang pria yang menjaga kuda itu.

Mas, itu kudanya buat apa kok dibiarkan di sini? – Ya untuk objek foto. Kuda ini kami sewakan untuk dinaiki dan kalian boleh foto. – Berapa harga sewanya, Mas? – Rp 10.000,- per orang – Waduh lumayan juga ya? Bagaimana kalau Rp 30.000,- untuk 4 orang. – Monggo silakan naik satu per satu!

jember traveler kawah sikidang 02

Yihaaaaaa kami bernarsis ria dari atas kuda putih yang bagus itu. Saya juga melihat ada beberapa pengunjung yang menyewa kuda untuk sampai di Kawah Sikidang. Memang harus ekstra hati – hati jika berjalan menuju kawah. Selain karena ada jalan setapak, adapula kawah – kawah kecil dengan air yang mendidih.

Kami menuju Kawah Sikidang. Cukup mudah untuk mencapai kawah, beda jauh jika kamu mau menuju Gunung Bromo maupun Kawah Ijen. Kawah ini dibatasi oleh pagar kayu agar pengunjung tidak ceroboh untuk mendekati kawah karena saya melihat sendiri kalau bibir kawah mudah longsor. Saya mencoba memutari kawah dan bau belerengnya sangat menyengat ketika berjalan ke arah asap kawah yang tertiup angin ke arah kami.

jember traveler kawah sikidang 03

jember traveler kawah sikidang 04

Daniel mencoba menaiki bukit kecil yang tak jauh dari Kawah Sikidang. Saya dan yang lainnya juga mengikutinya. Seperti biasa, bernarsis ria berlanjut dari atas bukit dengan background kawah. Saya melihat keluarga kecil yaitu bapak, ibu, dan dua orang anak bekerja sama untuk menaiki bukit kecil di tempat kami berada. Sebuah pemandangan yang cukup membuat hati saya gembira. Dengan background kawah, seorang bapak itu meminta saya untuk mengambilkan foto mereka. Saya juga tersenyum ketika mata saya menempel pada kaca yang ada di kameranya, terlihat bahwa hidup mereka bahagia bersama.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang

jember traveler kawah sikidang 05

Saya duduk sambil mengamati pemandangan Kawah Sikidang. Asap kawah masih membumbung tinggi. Tak jauh dari kawah yang tidak seberapa besar ini, ada yang aneh. Apa ya? Hmmmm… Kawah – kawah kecil yang saya lewati tadi tidak tampak di tempat semula tapi muncul kawah – kawah kecil di tempat yang lain. Oalah ternyata itu toh alasannya mengapa mereka menyebutnya Kawah Sikidang. Berarti sebutan Kawah Sikidang itu untuk keseluruhan dari kawah – kawah kecil dan satu kawah yang agak besar itu. Ouw ouw ouw. Sudah terjawab kalau begitu.

Kami memutuskan untuk turun dari bukit kecil itu. Saya dan yang lainnya sudah turun tapi Daniel masih membantu keluarga kecil itu yang juga hendak turun. Anaknya yang kecil dan sedikit gemuk ini cukup berbakti dengan membantu ibunya turun. Mereka turun dengan canda gurau dan hati yang riang.

Sampai di parkiran motor, kami melihat dua anak gimbal yang sedang bermain. Menurut kepercayaan masyarakat Dieng bahwa anak gimbal tersebut adalah titipan dari Dewa sehingga mereka harus memperhatikan anak – anak gimbal itu dengan baik.  Perjalanan di Kawah Sikidang sudah selesai. Selanjutnya mau kemana ya!! Tunggu kelanjutan ceritanya, masih di kawasan Dieng.

12 JT 19 08

Advertisements

3 responses to “Dieng Negeri di Atas Awan – Part Kawah Sikidang

    • Kl rute trip saya dr jogja-wonosobo-banjarnegara. Di dieng-nya yaitu mie ongklok(wonosobo)- sumur jatalunda-kawah sikidang-kompleks candi arjuna-telaga warna. Kebetulan kami naik motor karena info transportasi umumnya kami kurang paham

      • Itu dia kendalanya, informasinya masih belum lengkap kalau naik kendaraan umum…
        Mudah-mudahan nanti jika bisa cuti, bisa nikmatin view bagus dieng…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s