Dieng Negeri di Atas Awan – Part Sumur Jalatunda

Setelah kenyang menyantap mie ongklok, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Alif. Kami pun juga melewati kawasan wisata Dieng. Ternyata rumah keluarga Alif masih agak jauh, lebih tepatnya di Desa Batur, Banjarnegara. Benar! Rumahnya sudah keluar dari Wonosobo. Suhu udara semakin dingin menjelang maghrib. Kami sampai di rumah Alif. Keluarganya dengan sukacita menyambut kedatangan kami.

Udara di daerah Batur ini dingin sekali. Pada saat kami ke sini adalah bulan puncak kemarau, di mana pada malam hari udara terasa sangat dingin. Ibu dari Alif menyediakan camilan dan teh hangat buat kami. Sebagian dari kami berdiri dari tungku kompor yang sedang ada bara api untuk menghangatkan diri. Sumpah dingin banget di sini. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Suasana di luar rumah sangat sepi tidak seperti suasana yang ada di perkotaan. Pada saat ini seluruh penduduk tidur semua. Saya yang menggigil kedinginan mengeluarkan selimut tebal dari tas dan berusaha tidur. Selamat tidur teman – teman .

Pagi harinya saya bangun dan suara adzan dari masjid berkumandang. Suasana yang sejuk menyegarkan jiwa dan raga saya. Pantas jika penduduk di sini memiliki usia hidup yang cukup panjang. Saya keluar dari rumah dan jalan – jalan mencari udara segar. Selamat hari merdeka Indonesiaku! Suasana perayaan kemerdekaan Indonesia juga terasa. Tampak beberapa bendera merah putih terpasang di depan rumah – rumah penduduk. Hai, selamat pagi matahari! Coretan lukisan yang indah  selalu tersaji di kanvas langit seketika sang surya menunjukkan wujudnya. Cahaya semakin terang dan udara semakin hangat, saya kembali menuju rumah untuk berkemas.

Perkampungan

Perkampungan

jember traveler SJ 07

Merah Putih di Dataran Tinggi Dieng

Merah Putih di Dataran Tinggi Dieng

Saat di rumah, Alif menerangkan secara lisan bagaimana memakai pemanas air yang ada di kamar mandi. “Nanti kalau mandi, itu ada pemanas air. Tinggal nyalakan saja nanti kalian mandi air hangat!” Syukurlah nanti bisa mandi air hangat. Ainun, Andre, dan Daniel sudah mandi air hangat. Nah giliran saya untuk mandi air hangat. Sesaat saya masuk ke kamar mandi, saya tidak menemukan tombol untuk menyalakan pemanas air elektrik itu. Wah bagaimana ini! Hmm ya sudahlah saya mencoba untuk mandi dengan air dingin yang ada di bak mandi. Byuuuuurrr!!!! Ratatatatatatatata… suara gigi saya menggigil kedinginan. Saya segera pakai sabun dan langsung byar byur byar byuuur dengan cepat sambil menahan rasa dingin. Lekas bilas dengan handuk dan berpakaian, saya langsung menuju depan tungku masak untuk menghangatkan diri. Fiuuuuuhhh…

Kami diberi sarapan oleh keluarga sederhana dan bersahaja ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas keramahan dari keluarga Alif ini. Sebelum berangkat untuk mengeksplor wisata yang ada di Dieng, Alif memberitahu kepada kita untuk membawa bekal batu yang agak besar untuk dibawa ke Sumur Jalatunda. Kami membawa saja batu yang agak besar untuk dibawa ke sana. Alif yang baik hati ini akan mengantar kami ke beberapa tempat wisata di kawasan Dieng.

Tujuan kami yang pertama adalah sumur raksasa Jalatunda. Kami menitipkan motor kami di tempat parkir dan membayar tiket masuk. Harus mendaki undak – undak yang cukup menguras tenaga. Akhirnya kami sampai di suatu tempat peristirahatan yang sengaja dibangun supaya para pengunjung bisa menikmati pemandangan sumur raksasa tersebut. Konon ceritanya jika bisa melempar batu ke dinding seberang sumur maka doa permintaanmu akan terkabul. Menurut penduduk sekitar, sumur raksasa ini bernuansa mistis. Banyak dari mereka yang melemparkan batu namun batu yang mereka lemparkan jatuh langsung ke dalam sumur.

jember traveler SJ 01 jember traveler SJ 02

Sumur Raksasa Jalatunda

Sumur Raksasa Jalatunda

Tanpa basa – basi saya langsung melemparkan batu yang sudah kami bawa ke dinding seberang sumur. Cetaaasssss!! Plung!!! Begitulah suara batu yang saya lempar setelah menumbuk dinding kemudian jatuh ke dalam sumur. Teman – teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Ada yang mengenai dinding, ada pula yang langsung ke dasar sumur.

Beberapa saat kemudian datang seorang pemuda setempat yang membawa satu kantung yang berisikan batu – batu yang lebih besar dari batu yang kami bawa. Ternyata pemuda tersebut membawa batu – batu tersebut untuk dijual kepada para pengunjung yang ingin mencoba memecahkan tantangan dari mitos tersebut. Pemuda ini lebih detail menjelaskan mitos tentang sumur raksasa Jalatunda. Barang siapa yang dapat berdoa dan melemparkan batu  ke sumur Jalatunda maka niscaya permintaanmu akan terkabul. Untuk perempuan cukup melempar batu dan menumbuk dinding seberang sumur, namun untuk laki – laki harus melemparkan batu tersebut ke dalam Goa Satiya yang ada di seberang dinding sumur. Konon katanya di dalam goa tersebut pernah ada pertapa suci berbadan separuh naga dan sakti yang sedang bersemedi di sana.

Pada sisi lain saya juga pernah mendengar cerita mitos dari beberapa sumber yang pernah saya baca, yaitu sumur Jalatunda ini dibuat sebagai salah satu persyaratan yang harus diselesaikan oleh seorang pangeran yang bernama Bandung Bondowoso untuk menikahi Roro Jonggrang. Setelah sumur tersebut selesai Bandung Bondowoso turun ke dasar sumur untuk memeriksa, namun Roro Jonggrang dengan patihnya berusaha mengubur Bandung Bondowoso dengan batu. Roro Jonggrang dendam kepada Bandung Bondowoso karena telah membunuh ayahnya. Bandung Bondowoso berhasil menyelamatkan diri dengan kesaktiannya.

Saya mencoba mencari view yang lebih tinggi sehingga dapat melihat sumur raksasa dengan lebih jelas. Tampak pula pemandangan sawah terasering yang indah di sisi lain. Terasering ini terdapat pipa air yang panjang dan banyak. Ternyata pengairan sawah di daerah pegunungan ini diambilkan dari sumber mata air yang lebih rendah dari sawah.

jember traveler SJ 04

jember traveler SJ 06

jember traveler SJ 05

Ada beberapa hal yang mengusik pikiran saya tentang sumur raksasa Jalatunda yaitu bagaimana cara pertapa itu turun ke seberang dinding sumur dan masuk ke dalam gua; selain itu apa motivasi pemuda lokal itu menaiki undak – undak yang tinggi demi menjual batu, entah memanfaatkan mitos sekitar untuk keuangan diri sendiri atau entah untuk menjaga kelestarian mitos tersebut atau keduanya. Ah entahlah saya ambil sisi positifnya saja. Begitulah hikmah dari suatu perjalanan, selalu ada teka – teki yang belum terpecahkan. Suatu saat nanti akan terpecahkan sendiri maupun dipecahkan oleh orang lain. Kami segera turun menuju tempat parkir dan melanjutkan perjalanan

12 JT 19 08

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s