Ranu Kumbolo – Mata Air Nirwana

Sunrise di Ranu Kumbolo

Sunrise di Ranu Kumbolo

Pada weekend kali ini pada puncak-puncaknya musim kemarau. Cocok bagi penikmat alam dengan objek pegunungan dan savanna. Selain dimanjakan dengan panorama tumbuhan yang meranggas, juga cuaca yang cerah mendukung para penikmat alam untuk menuju tempat tersebut. Pada umumnya tempat itu akan susah dilalui pada saat hujan. Medan akan susah dilalui karena tanah yang berlumpur akibat hujan.

Pada seminggu sebelumnya saya diberi tahu oleh Daniel kalau dia akan pergi ke Ranu Kumbolo untuk mengikut gathering komunitas “Backpacker Indonesia”. Tanpa ragu-ragu saya memintanya untuk ikut bergabung untuk camping bersama.  Ternyata Daniel juga setuju kalau saya ikut karena Daniel membutuhkan motor saya untuk bersama-sama menuju ke sana. Ukuran ban motor saya lebih besar daripada ukuran ban motornya apalagi motor Daniel masih baru jadi masih takut motornya lecet. Hahaha ada aja alasannya, tapi tidak apa-apa. Selain itu biaya bensin yang terpakai nanti kami bagi dua. Masih tergolong trip yang murah dan irit.

Pada hari Jumat, saya diberitahu Daniel untuk menjemputnya pada pukul 7 pagi di rumahnya. Daniel juga berkata bahwa ada Rizal dan Dini yang mau ikut bersama. Saya berkemas dengan tas backpack yang saya isi dengan baju ganti, sleeping bag, selimut tebal dan satu botol air mineral 500ml.

Daniel dan Rizal membuat janji untuk berkumpul di suatu supermarket, namun Rizal yang sudah ditunggu hampir satu jam juga belum datang. Kami menuju di alun-alun Rambipuji untuk sarapan dahulu di sebuah warung makan sambil menunggu Rizal dan Dini. Kami disusul oleh Rizal dan Dini sehingga rombongan saya berjumlah empat orang. Perjalanan kami menempuh rute Jember-Lumajang-Senduro-Ranu Pane. Akhirnya kami berhenti sejenak di Lumajang untuk mengisi bensin sekaligus fotocopy KTP. Pada pos awal pendakian akan ditanyakan fotocopy KTP sebagai syarat memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Perjalanan selanjutnya sampai di Senduro. Pada tempat ini ada pura yang indah. Pura ini dipakai ibadah untuk umat Hindu, menurut cerita lokal bahwa umat Hindu di Indonesia seperti naik haji kalau sudah beribadah di sini. Sebelum ke arah pura itu,  kami berbelok menuju jalan pintas ke taman nasional itu. Kami memasuki hutan jati dengan jalan beraspal kurang baik dan berbatu-batu. Di dekat jembatan kecil, kami beristirahat sejenak. Kemudian kami memasuki kawasan hutan bambu. Wah keren hutan-hutan yang masih asli ini. Sampailah kami di jalan tebing batu dan di sanalah pintu masuk menuju Ranu Pane.

JT RK 01

JT RK 02

Di Ranu Pane, memarkirkan sepeda motor kemudian kami istirahat dan makan siang. Kami juga membeli makan untuk bekal nanti malam di Ranu Kumbolo. Kami membayar tiket masuk kawasan itu dengan syarat-syarat administrasi yang lengkap. Petualangan berlanjuuuutt!!!

Ranu Pane

Ranu Pane

JT RK 04

JT RK 05

Pintu Masuk Pendakian

Pintu Masuk Pendakian

Sekitar jam 2 siang kami memulai perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Formasi berjalan kali ini dipimpin oleh Daniel, di belakangnya ada Rizal, Dini dan terakhir saya. Jalan setapaknya sudah berpaving. Saya kaget melihat papan informasi bahwa jarak yang harus kami tempuh dengan berjalan kaki sekitar 9-10Km.Gubraaaakkkk!!! Saya melotot dan menghela napas yang sangat panjang. Jalanan mulai berdebu, Rizal yang berbadan subur itu berjalan sambil menyeret tanah sehingga Dini dan saya yang di belakangnya terkena debu. Formasi akhirnya kami ganti yaitu Daniel-Dini-Saya dan terakhir Rizal. Saya melihat tas yang dibawa oleh Rizal cukup banyak yaitu kompor, baju ganti, makanan dan beberapa botol air mineral yang cukup berat. Saya menawarkan diri untuk membantu membawakan tenda yang disewanya dari tetangga sebelah. Pos I telah kita lewati, kami berjalan santai dan berhenti sejenak untuk istirahat. Daniel memberi semangat kepada kami dengan berkata, “Ayo jalan lagi, sudah dekat!” Wah perjalanan baru satu jam dan kami baru mencapai 25% perjalanan sudah dibilang dekat, di dalam hati saya sedikit menggerutu karena tidak sampai-sampai. Saya ambil positifnya dari “kebohongan” Daniel tersebut yaitu untuk menambah semangat saya selain itu kapan lagi saya ke sana berjalan kaki yang jauh. Daniel yang sangat bersemangat itu berjalan lebih cepat dan cukup jauh dari kami, dia menunggu di suatu pos untuk beristirahat. Satu jam kemudian kami sampai di Pos II, jam menunjukkan pukul 4 sore dan pemandangan di sekitar kami berkabut seperti di pagi hari. Suhu udara semakin dingin. Jalanan mulai menaik dan membutuhkan banyak tenaga yang banyak untuk mencapainya. Kami berjalan perlahan dan berhenti jika ada salah satu yang kecapaian.  Akhirnya kami sampai juga di Pos III, jalanan sudah tidak berpaving lagi. Jalanan mulai landai. Kami terus berjalan disertai panorama matahari terbenam yang indah. Jalan dari Pos III ke Pos IV terasa mudah dan dekat. Pada Pos IV kami bisa melihat apa itu Ranu Kumbolo yang indah. Ranu atau yang disebut dengan danau yang besar ini berada pada dataran tertinggi di Pulau Jawa. Tempat perkemahan masih di seberang Ranu Kumbolo. Kami dengan semangat berjalan menuju tempat perkemahan, terlihat savanna yang indah berhiaskan pepohonan di bukit-bukit kecil.

JT RK 07

JT RK 08

JT RK 10

JT RK 12

JT RK 13

JT RK 14

JT RK 15

Sunset di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Sunset di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

JT RK 11

Kami langsung mendirikan tenda di tempat perkemahan di antara tepi Ranu Kumbolo dan Tanjakan Cinta sekitar pukul 6 sore. Di sana sudah ada Imam Basuki dan Ramandha Pundi yang berangkat dari Kota Malang. Setelah mendirikan tenda, saya segera membuka sleeping bed dan membuka selimut yang tebal. Saya siap-siap beristirahat dan tidur. Di samping saya ada Daniel yang juga mau tidur. Dia tidur dengan menggunakan plastik pembungkus kulkas. Saya kaget dan bertanya kepada Daniel, “Kamu gak kedinginan tah? Kok tidur hanya dengan plastik saja?” Si Daniel pun menjawab, “Tenang saya sudah biasa camping di gunung dengan plastik pembungkus kulkas ini.” Saya berusaha mengingat-ingat teori ilmu pengetahuan alam pada waktu sekolah namun belum pernah membaca hal itu. Saya yang awam ini berusaha mempercayai komentar Daniel dan menunggu bukti nyata kalau plastik pembungkus kulkas itu bisa menahan hawa dingin. Suhu udara sekitar 9 derajat Celcius terasa dingin.

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo

Tanjakan Cinta

Tanjakan Cinta

Sekitar jam 8 malam kami makan bersama. Rizal yang membawa cukup banyak makanan segera menyalakan kompor untuk memasak. Saya memakan nasi bungkus dan ikan sarden kalengan. Setelah makan, kami berjalan-jalan ke tenda teman-teman yang lain. Tempat perkemahan saat ini cukup ramai karena ada gathering dari komunitas Backpacker Indonesia. Saya menghangatkan diri ke perapian yang dibuat oleh para pendaki yang berpengalaman. Mereka berjalan mendaki Tanjakan Cinta pada malam hari sambil mencari kayu bakar dari ranting-ranting pohon. Para pendaki ini berasal dari Kota Bandung yang menyisihkan uang sakunya untuk pergi beberapa kali ke Gunung Semeru. Wuikkksss hebat!!!

Kami kembali ke tenda masing-masing setelah badan sudah cukup hangat. Menjelang matahari terbit, saya dibangunkan oleh Daniel untuk segera bangun dan menikmati pemandangan yang indah. Pada saat itu Rizal bercerita kepada saya bahwa Daniel semalaman tidak bisa tidur karena kedinginan. Daniel dengan menggigil membangunkan Rizal untuk memasak air panas. Setelah air mulai panas, Daniel meminumnya kemudian pergi menuju api unggun. Saya juga bercerita kepada Rizal bahwa Daniel hanya memakai plastik pembungkus kulkas untuk selimutnya. Hahahahaha kami berdua tertawa melihat tingkah Daniel.

JT RK 19

JT RK 20

JT RK 21

JT RK 22

JT RK 24

JT RK 26

JT RK 29

JT RK 32

JT RK 31

JT RK 30

Waaaaahhhh keren!!! Saya melihat pemandangan yang indah mulai dari matahari sebelum terbit sampai ke matahari terbit dengan background Ranu Kumbolo yang berkabut. Pada pukul 6 pagi kami mendaki Tanjakan Cinta, konon menurut mitos orang lokal bahwa barangsiapa yang mendaki tanjakan tersebut sambil memikirkan orang yang dicintainya tanpa menoleh ke bawah maka orang yang dicintainya akan mencintai orang tersebut. Saya juga mencoba mitos tersebut namun saya gagal selain karena tanjakan dengan kemiringan yang sedikit curam itu menguras banyak tenaga dan saya menoleh ke belakang melihat teman-teman saya. Niat hati mau mengulangi tapi sudah separuh perjalanan. Saya akhirnya menuntaskan untuk menaklukan tanjakan itu. Saya turun terlebih dahulu karena saya masih mengantuk dan tidur dahulu ke dalam tenda.

JT RK 34

JT RK 33

JT RK 18

Camping Ground

Camping Ground

JT RK 28

Beberapa saat kemudian saya dibangunkan untuk sarapan bersama. Gathering komunitas itu kemudian berfoto bersama-sama. Kami semua bercanda gurau dan kemudian berkemas-kemas. Ada yang melanjutkan perjalanan menuju Puncak Mahameru, ada pula yang masih menginap di Ranu Kumbolo, dan ada yang memutuskan untuk pulang. Perjalanan pulang pun dimulai, kami semua berjalan kaki menuju Ranu Pane. Perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Ranu Pane relatif lebih mudah karena jalanan menurun jadi tidak menghabiskan tenaga. Drama di perjalanan menuju Ranu Pane terulang kembali. Daniel yang menjadi ketua memberi semangat dengan kalimat andalannya, “Ayo jalan lagi! Sudah dekat!” Namun di tengah perjalanan Daniel berhenti karena kecapaian. Hahahaha…. Rizal yang tertinggal jauh dari rombongan. Kami mengurangi kecepatan jalan kaki dan beberapa kali istirahat sejenak untuk menunggu Rizal. Beberapa saat kemudian Pundhi menyalip rombongan kami. Tidak lama kemudian Rizal menyusul kami. Ternyata Rizal kehausan di tengah perjalanan, Pundhi memberikan air minumnya ke Rizal. Air minum tersebut didapatkan Pundhi dari memasak air dari Ranu Kumbolo.

Akhirnya kami sampai di Ranu Pane, kami istirahat sejenak untuk makan dan mandi di pemandian umum. Kami pulang ke Jember dengan rute yang kami lalui pada saat berangkat yaitu Ranu Pane – Senduro – Lumajang – Jember. Setelah melewati Senduro, saya dan Daniel menunggu lama di suatu pom bensin karena kami tidak melihat Rizal dan Dini. Telepon seluler mereka juga tidak bisa dihubungi. Setengah jam kemudian ada SMS masuk di handphone Daniel, ternyata sepeda motor Rizal ban rodanya bocor sehingga harus mencari tukang tambal ban untuk memperbaikinya. Di tempat ini sinyalnya susah sehingga komunikasi kami sedikit terhambat. Saya menunggu di pom bensin sambil tiduran dan menyandarkan kaki ke atas tas saya agar darah tidak menumpuk di kaki dan mengurangi rasa pegal. Beberapa saat kemudian Rizal dan Dini datang. Kami pun melanjutkan perjalanan. Di Lumajang kami berhenti untuk makan malam di suatu warung makan. Saya men-charge handphone saya yang batrainya sudah habis itu ke di rombong tempat kami makan. Wah ternyata banyak pesan BBM (Blackberry Messenger) yang masuk ke handphone saya namun isinya hanya broadcast message semua. Hahahaha… Begitulah suka duka memiliki Blackberry di kala jomblo. Selesai kami makan bersama, perjalanan pulang pun dilanjutkan. Di tengah perjalanan, di daerah yang disebut Tanggul. Saya dan Daniel tidak menjumpai Rizal dan Dini. Daniel yang sangat kecapaian meminta saya untuk meninggalkan mereka. Ternyata Daniel yang senior dan sangat berpengalaman itu punya rasa capek yang lebih daripada saya. Di Jember kota, saya mencoba jalan ke arah tempat makan di daerah kampus untuk bertemu Andreas dan Ainun, namun Daniel yang saya kira tertidur itu tiba-tiba menjitak kepala saya dan meminta memulangkannya terlebih dahulu. Hahaha…

Pada trip kali ini saya tidak mengetahui medan yang ditempuh. Seharusnya saya harus latihan fisik terlebih dahulu sebelum ikut berpetualang. Perjalanan yang melelahkan terbayarkan oleh pemandangan yang sangat indah di Ranu Kumbolo. Seketika saya hening sejenak, saya menyesal. Saya menyesal kenapa tidak dari dahulu mengenal dan pergi ke tempat yang indah ini. Seketika juga saya menyayangkan kenapa tidak lanjut ke Puncak Mahameru padahal tinggal setengah perjalanan lagi. Tuntutan masuk kerja mengharuskan saya untuk menunda keinginan saya itu. Perjalanan kali ini belum berakhir namun masih akan terus berlanjut baik ke tempat ini lagi atau ke tempat yang lain karena umur manusia tidak akan cukup untuk melihat seluruh keindahan ciptaan Tuhan yang banyak ini. Keep traveling!!!

8-9JT0912

Advertisements

15 responses to “Ranu Kumbolo – Mata Air Nirwana

  1. sudah baca tapi belum komen. hehe. 10 km? wahhhhhhhhhh!! lumayan jauhnya! hahaha! managed to detect another word here.. Jomblo.. bila mau tamatkan status itu? boleh berkenalan?

    =P

  2. sepertinya buka tapi belum pasti juga. coba kamu hubungi sekretariat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru buat info lebih pastinya. Untuk mendaki harus mendaftar dahulu jauh – jauh hari ke sekretariat, aturan barunya seperti itu.

  3. Saya berencana ke Ranu Kumbolo bersama keluarga. Mohon informasi kira-kira mobil pribadi bisa sampai ke Ranu pane atau tidak? Kalau tidak bisa sampai ranu pane, sebaiknya bagaimana skenario perjalanan yang terbaik? untuk informasi, kami dari Semarang. Thanx.

    • Aku sarankan untuk memakai mobil dengan ban besar atau hardtop.
      Alternatifnya sewa jeep atau naik truk. Kalo info persewaannya aku kurang mengerti.
      Ke Ranupane bisa lewat Senduro Kabupaten Lumajang atau Lawang Kabupaten Malang. Lebih dekat lewat Malang.

  4. Pingback: Cerita Dari Ranu Kumbolo | callharis.com·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s