Pendakian Pertama di Kawah Ijen

Blue Flame

Blue Flame

Satu minggu sebelumnya saya dan daniel sudah membuat perjanjian untuk pergi ke Kawah Ijen. Sehari sebelum berangkat, Ika dan Fatah memberi kabar jika mereka ingin bergabung bersama kami.

Pada hari Sabtu pukul tujuh malam kami berkumpul di outlet Jember Banget untuk berangkat bersama. Ternyata Mbak Eja yang sedang menjaga outlet juga ingin ikut bergabung bersama kami. Pada pukul delapan malam, outlet tutup dan Mbak Eja pulang untuk mengambil beberapa barang. Setelah datang, kami makan sebentar di Pujasera Sudirman.

Tepat pukul sembilan malam kami berangkat dari Kota Jember. Kami berlima berangkat dengan mengendarai tiga sepeda motor. Sesaat di Kota Bondowoso, kami berhenti sejenak di sebuah mini market untuk istirahat dan membeli bekal. Tanpa terasa kami sudah memasuki kawasan Gunung Ijen. Dingin, gelap, nuansa jalan yang sepi ikut menemani petualangan kami. Jalanan yang beraspal kini berganti dengan tanjakan dan berbatu. Kami berhenti pada suatu Pos I milik perkebunan nasional. Di sini kami menghangatkan badan di dekat perapian.

JT KI 09

JT KI 01

Perjalanan pun berlanjut. Rasa ngantuk dan dinginnya angin malam harus kami lawan sepanjang perjalanan sebelum mendaki Gunung Ijen. Akhirnya kami sampai pos terakhir dimana harus memulai mendaki pada pukul dua belas malam. Kami istirahat sebentar pada suatu warung untuk membeli minuman penghangat badan dan menghangatkan diri di dekat tungku perapian dari pemilik warung. Kami pun harus membayar tiket masuk dan membuat surat pernyataan sebelum mendaki gunung.

Beberapa saat kemudian ada rombongan dari peserta Ijen Festival datang di pos terakhir. Turis dari lokal maupun dari mancanegara turut berpartisipasi meramaikan event tersebut. Di sana kami bertemu dengan Andre, Hendri, dan Sattar. Mereka adalah sahabat kami yang ikut serta sebagai peserta Ijen Festival yang diadakan oleh Pemkab Bondowoso. Kami mendaki dahulu sebelum rombongan mereka. Dengan rasa kantuk yang sudah mulai memberatkan mata, saya paksakan untuk terus berjalan.

Pendakian yang lumayan tinggi menguras stamina dan membuat otot kaki terasa pegal. Kami berhenti sejenak jika ada anggota yang sedang kecapekan, dan pada saat itu saya manfaatkan untuk tidur sebentar. Para penambang belerang sudah bersemangat sambil membawa alat penerang dan keranjang pikul.

JT KI 06

JT KI 05

JT KI 04

JT KI 03

Akhirnya kami sampai juga di puncak Gunung Ijen. Kami melihat api biru dari puncak gunung. Api biru tersebut berasal dari tempat penambangan belerang. Pemandangan yang luar biasa indah menyegarkan mata kami yang sudah mengantuk. Untuk melihat api biru dari jarak dekat maka harus didampingi oleh seorang penambang karena jalannya sempit dan curam. Daniel mendirikan tenda pada tempat kami berada. Kami tidur berdampingan supaya badan terasa hangat.

JT KI 07

JT KI 08

JT KI 02

Rombongan dari Ijen Festival sudah sampai di puncak juga. Sebagian dari sahabat kami ikut istirahat d tenda. Matahari sudah memunculkan wujudnya di pagi hari. Kami ikut berfoto-ria dengan peserta Ijen Festival sebelum mereka turun gunung.

Kami mengikuti para penambang belerang yang turun membawa hasil ke sebuah tempat penimbangan. Berat hasil tambang belerang yang mereka pikul untuk satu kali turun sekitar 60-70 kilogram. Saya sudah mencoba memikul dan saya belum mampu untuk mengangkatnya. Mereka juga kreatif dengan memahat belerang kecil menjadi bentuk kura-kura dan gunung. Harga souvenir tersebut berkisar Rp 3.000-Rp 6.000 per buah.Mereka memanfaatkannya untuk ditawarkan kepada pengunjung yang sedang menikmati Gunung Ijen.

Souvenir

Souvenir

Kalkulasi pendapatan seorang penambang belerang (tahun 2012):

1 hari = 2 kali naik turun gunung

1 kali menambang 60 kg (rata-rata)

1 kg = Rp 600

1 kali menambang = Rp 36.000

1 hari = 2 x Rp 36.000 = Rp 72.000

1 bulan (30 hari) = Rp 2.160.000

Pendapatan tersebut tergolong tinggi jika dilihat dari tempat mereka tinggal. Namun resiko yang harus mereka terima juga sangat besar seperti jatuh ke jurang, terserang penyakit dalam, pundak mereka memar menahan beban, bahkan tulang punggung mereka ada yang sudah bergeser dari tempatnya. Resiko yang besar tersebut tidak mereka hiraukan demi menghidupi diri sendiri dan keluarga mereka. Salut dan terharu ketika saya mendengar kisah para penambang belerang.

JT KI 10

JT KI 12

Sebelum di pos terakhir saya melihat rombongan wisatawan asing yang sedang mendaki gunung. Umur mereka sebagian besar 60 tahun. Mereka terlihat ceria dan bersemangat, fisik mereka juga masih sehat dan bugar. Hal itu menambah semangat saya yang jauh lebih muda dari mereka.

JT KI 13

JT KI 14

Di pos terakhir kami beristirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan pulang. Rasa lelah dan ngantuk semakin berat, akhirnya kami berhenti di Pos I untuk tidur. Tak terasa kami tidur hampir selama dua jam. Kami kembali melintasi jalanan berlubang dan berbatu-batu. Terik panas matahari siang menyinari perjalanan kami. Pada sesaat kemudian kami berhenti di warung bakso yang ada di dekat stasiun lama Bondowoso untuk makan siang sekaligus istirahat.

Kami menyantap semangkuk bakso dengan lahapnya. Pada akhirnya kami kembali berkendara menuju rumah masing-masing di Jember. Sungguh perjalanan yang seru dan menguras tenaga. Saya bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan menikmati keindahan karya alam yang diciptakan-Nya.

10JT0612

Advertisements

11 responses to “Pendakian Pertama di Kawah Ijen

  1. kalau berangkat siang atau awal pagi kita tidak bisa melihat blue flame yang seronok lah. kita bawa tenda untuk tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s