Karapan Sapi – The Spirit Of Madura

JT KS 05

Pada suatu hari saya mengunjungi Pulau Madura khususnya di Kabupaten Sumenep. Sabtu malam saya membeli makanan martabak telor, awalnya saya tidak tahu kalau di samping toko tersebut ada sebuah stadion khusus untuk karapan sapi. Kebetulan juga ada sebuah spanduk yang menunjukkan kalau besok pada hari Minggu pagi sampai siang ada penyisihan lomba karapan sapi menuju final. Di Pulau Madura ada 4 kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Babak penyisihan diadakan di masing-masing kabupaten, namun nanti babak final akan dilangsungkan di Pamekasan. Pemenangnya akan mendapatkan Piala Bergilir Presiden. Pada hari Minggu menjelang siang saya datang ke stadion tersebut. Saya membeli tiket masuk seharga Rp 5.000. Seperti yang sudah bayangkan di stadion tersebut sudah ramai peserta dan pengunjung selain itu cuacanya cerah, jadi saya membawa bekal minuman mineral untuk berjaga-jaga apabila haus di dalam stadion.

JT KS 01

JT KS 07

JT KS 06

Karapan sapi adalah olahraga asli dari Pulau Madura. Karapan sapi adalah perlombaan adu cepat lari antara sepasang sapi melawan sepasang sapi yang lain. Sepasang sapi tersebut menarik kereta kayu tanpa roda. Kereta kayu tersebut ditunggangi oleh joki. Sebagian besar para joki memiliki postur yang kecil agar meringankan beban sapi dalam berlari. Saat saya datang pertandingan belum dimulai, saya melihat ritual yang dilakukan oleh masyarakat Madura sebelum sapi tersebut berada di lintasan lari. Beberapa tetua adat membacakan doa sambil mengelus-elus pada masing-masing sapi. Para pembantunya mengurapi sapi-sapi dengan ramuan jamu agar sapi menjadi bugar dan berlari kencang. Sapi yang sudah didoakan kemudian diarak keliling memutar di sekitar tenda peserta untuk melakukan pemanasan.

JT KS 02

JT KS 04 JT KS 03

Pada suatu tenda, saya menemukan hal yang unik yaitu ada tenda yang berisikan seniman Madura yang bermain gamelan Madura yang bernama saronen. Komponen dari saronen hampir sama dengan gamelan Jawa yaitu ada gendang kecil, gambang, gong, dan terompet kecil namun corak ukiran dan tembang (lagu) –nya berbeda. Para pemain saronen memakai riasan muka dan memakai baju tradisional Madura.

JT KS 08

Akhirnya perlombaanpun dimulai. Terompet angin pun dibunyikan karapan sapi pun dimulai. Awalnya karapan sapi dimulai dengan sapi-sapi yang berukuran sedang kemudian pada acara pamungkas yaitu karapan sapi dengan ukuran yang besar. Menurut saya tradisi ini sangat ekstrim karena joki yang menunggangi sapi tersebut memegang ekor kedua sapi untuk mengendalikan dan membawa tongkat yang ujungnya ada paku kecil yang dipukulkan ke pantat kedua sapi agar dapat berlari lebih kencang. Namun setelah lomba, sapi-sapi tersebut akan diobati lagi. Karapan sapi ini juga berbahaya khususnya untuk joki yang belum berpengalaman karena saya melihat saat perlombaan ada satu team yang sapi dan jokinya terjatuh, joki tersebut pingsan di dalam arena pacu. Untungnya sudah ada team medis yang sudah disiapkan di dalam stadion.

Terik panasnya matahari pada perlombaan tersebut tidak menghalangi serunya karapan sapi, antusias masyarakat yang besar serta teriakan dukungan yang keras menambah keseruan di dalam stadion. Jantung berdegup kencang saat peserta berlomba dan penonton juga tak kalah deg-degan untuk mengetahui pemenangnya. Pemenang dari kabupaten tersebut dielu-elukan oleh masyarakat sekitar dan mereka menganggapnya sebagai pahlawan yang akan bertanding di babak final.

11JT0910

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s