Get Lost in Gili Trawangan

jt-gt-17.jpg

Awal perjalanan saya berawal dari Kamis pulang kantor di sore hari. Saya berangkat dari Kota Jember, Jawa Timur menuju ke Pulau Bali dengan menggunakan bus ekonomi. Perjalanan dari Jember ke Terminal Ubung, Denpasar, Bali membutuhkan waktu 11 jam. Sesampai di Denpasar saya sudah ditunggu Hendri teman perjalanan yang sudah sampai dahulu di sana. Kami pun langsung menuju ke Bandara Ngurah Rai untuk terbang menuju Bandara Internasional Lombok dengan menggunakan pesawat ekonomi. Penerbangan cukup mendebarkan karena kami duduk di sebelah pintu darurat dan dekat baling-baling. Apalagi ketika pesawat terbang melewati gumpalan awan yang cukup pekat, pesawat terasa naik turun dan suaranya cukup keras. Di dalam hati saya terus memanjatkan doa supaya kami sampai di tujuan dengan selamat. Ini adalah pengalaman pertama saya dan paling jauh ke arah Timur. Hal pertama yang saya lakukan setelah turun dari anak tangga pesawat adalah mengucap syukur sambil mengembangkan senyum yang lebar, minum air putih yang banyak, dan tak lupa untuk mengabadikan momen di dekat spanduk dan neonbox yang bertuliskan ”Welcome to Lombok”.

Kami pun menunggu teman saya yang ada di Lombok. Ewig adalah teman saya yang tinggal di Mataram, Lombok. Dia akhirnya menjemput kami dari bandara menuju rumahnya. Di tengah perjalanan kami mampir sejenak di Desa Sade tempat Suku Sasak tinggal dan desa mereka dijadikan desa wisata. Kami pun sampai di Mataram di rumahnya yang sederhana dan sikap yang hangat dari keluarganya membuat saya seperti berada di rumah saya sendiri.

Keesokan harinya kami diantar oleh Ewig menuju ke Pelabuhan Bangsal. Di sepanjang perjalanan saya melihat aspal jalan yang halus jika dibandingkan aspal yang ada Pulau Jawa. Di tengah perjalanan kami berhenti di Malimbu 1 untuk menikmati pemandangan laut biru dari atas bukit kemudian ke Malimbu 2. Akhirnya kami sampai di Pelabuhan Bangsal, kami pun membeli tiket penyeberangan seharga Rp, 10.000 menuju Gili Trawangan. Ewig juga ikut menuju ke Gili Trawangan untuk mengantar kita namun dia langsung berlayar lagi ke Pelabuhan Bangsal dan pulang ke Mataram.

Pelabuhan Gili Trawangan

Pelabuhan Gili Trawangan

Saya memang tidak tahu tentang Gili Trawangan, tidak mencari informasi, dan tidak ada jadwal acara supaya saya merasa merasa tersesat dan melupakan sejenak kesibukan sehari-hari. Saya turun dari kapal bermotor, melihat hamparan pantai berpasir putih dan turis dari mancanegara berlalu-lalang. Penginapan yang sudah berjamuran di pulau tersebut, ada sebuah masjid yang mengumandangkan adzan lohor di siang hari, ada juga tempat persembahyangan umat Hindu. Masyarakat yang berbeda keyakinan di pulau ini hidup rukun berdampingan.

Kami menanyakan lokasi tempat penginapan yang sudah kami pesan, mereka menjawab berada di sisi Barat pelabuhan. Di tengah terik matahari berjalan kaki menuju sisi Selatan ke Barat dan masih belum ketemu. Akhirnya kami bertanya lagi ke penduduk lokal dan menelepon pemilik penginapan, ternyata lokasi penginapan berada di sebelah utara Gili Trawangan. “OH MY GOOD, so far so hot!”, keluh kami. Kami harus kembali ke pelabuhan awal dan berjalan ke sisi Utara yang jauh. Tidak ada satupun kendaraan bermotor boleh berkeliaran di tempat ini, hanya ada penyewaan sepeda dan cidomo ( alat transportasi khas Lombok). Akhirnya kami menyewa sepeda untuk menghemat pengeluaran biaya. Menyusuri jalan di sepanjang pantai sisi Timur yang jauh dan panas.

Di pantai dekat PLTD PLN, rak sepeda saya rusak dan terjatuh, saya memutuskan untuk berteduh sejenak sambil membetulkan rak sepeda yang lepas. Hendri terus berjalan mencari penginapan tersebut. Setelah rak sepeda yang lepas saya pasang kembali, saya melanjutkan pencarian dengan mengayuh sepeda. Perjalanan sudah cukup jauh juga dan kulit saya terbakar sinar matahari. Sesaat kemudian ada pegawai penginapan yang menjemput dari belakang dengan menggunakan sepeda, syukurlah saya diantar menuju penginapan yang sudah kami pesan via online internet. Di penginapan saya tidak melihat Hendri, saya panik dan menelepon Hendri untuk kembali. Akhirnya Hendri kembali dan bertemu dengan salah satu pegawai penginapan. Hendri ke penginapan bersama Sandy (salah satu teman dari Jakarta). Penginapan tersebut tidak ada tanda masuk yang jelas karena terhalang izin dari pemerintahan setempat, pintu masuknya masih menjorok ke bagian dalam pantai dan tertutup pepohonan sehingga kami tidak melihat pintu masuk dan tersesat jauh.

Cottage

Cottage

Singkat cerita kami beristirahat sebentar di tempat penginapan. Hari sudah menjelang sore, kami pun mulai bergegas mengayuh sepeda menuju ke sunset point. Kami memilih jalur alternatif dari sisi dalam pulau yaitu melewati kebun kelapa dan tempat tinggal penduduk setempat yang jalanannya lebih teduh dan rindang. Jalur alternatif tersebut berujung di dekat tempat penangkaran penyu dan dekat juga dari pelabuhan. Kami makan siang sebentar di rumah makan dengan menu makanan lokal yang cukup murah di sana. Kami menuju ke sunset point sambil menunggu matahari terbenam. Di sana sudah banyak orang yang menunggu matahari terbenam, kami berhenti di ujung pantai tempat bekas restoran modern yang tidak terpakai lagi. Kami pun menikmati pemandangan detik-detik turunnya matahari.

JT GT 3

Sunset Point

Sunset Point

JT GT 6

JT GT 7

JT GT 8

Setelah matahari terbenam, kami menyusuri jalan di sepanjang pantai Timur dan Utara yang relatif lebih dekat menuju penginapan kami. Sesampai di penginapan kami langsung terjun ke kolam renang air payau yang merupakan fasilitas penginapan sambil menikmati lagu. Penginapan tersebut serasa milik pribadi karena tidak ada orang lain lagi selain kami yang menginap di sana. Kemudian kami mandi dan bersiap-siap menuju central (pusat pulau) untuk makan malam.

JT GT 9

JT GT 10

Di central ada pasar malam, penduduk lokal menjual hasil menangkap ikan dan menjualnya untuk dijadikan makanan. Kami mencoba salah satu makanan yang ada di pasar malam. Pasar malam begitu ramai orang yang makan dan bercanda gurau, gumpalan asap dari pembakaran ikan tidak mengganggu kenikmatan menyantap masakan hasil laut. Kemudian kami menuju suatu tempat hiburan malam dan satu-satunya yang ada. Andi teman saya dari Surabaya yang sekarang bekerja di salah satu penginapan di Gili Trawangan sudah menunggu kami di tempat hiburan untuk bersilaturahmi. Musik yang kencang mengajak kami untuk berjoget bersama. Ternyata tempat hiburan di sini tidak identik dengan minuman keras, para pengunjung lebih menikmati alunan lagu dan berjoget bersama. Turis mancanegara, turis domestik, dan penduduk lokal berkumpul menjadi satu untuk bersenang-senang. Mereka berbaur bersama sehingga tidak ada perbedaan. Saling tertawa dan berjoget bersama membuat mereka menjadi senang.

Kami pun mengabadikan momen di tempat hiburan tersebut. Hari sudah menjelang tengah malam, kami berpamitan dengan Andi dan pulang ke tempat penginapan meskipun acaranya masih belum selesai. Kami mengayuh sepeda masing-masing melewati sisi dalam pulau yang gelap dan tidak ada lampu atau obor api. Sandy meminta untuk berada di tengah rombongan karena takut gelap. Saya dan Hendri tertawa mendengar permintaan Sandy. Hendri memimpin rombongan dengan menyalakan lampu dari telepon genggamnya, Sandy ada di tengah, dan saya ada di belakang. Butuh cukup perjuangan melewati jalan yang gelap untuk kembali ke penginapan, kami pun sempat tersesat karena memilih jalan yang salah kemudian kembali jalan yang benar. Sandy pun sempat hampir terjatuh melewati jalan yang berbatu. Perjuangan dan pengalaman yang seru di malam hari. Akhirnya kami beristirahat di penginapan dengan tidur yang nyenyak.

Pagi hari kami berjalan kaki menuju pantai sekitar untuk menikmati udara pagi. Udara yang segar dan bebas dari polusi membuat saya betah berada di Gili Trawangan. Perut kami lapar karena belum sarapan, akhirnya kami kembali ke penginapan. Potongan buah-buahan, telur goreng, roti bakar, dan jus buah sudah menanti kami. Tanpa basa-basi kami menyantap dan menghabiskannya dengan lahap. Kami pun mandi bergantian dan bersiap-siap meninggalkan penginapan.

Siang hari kami meninggalkan penginapan dan bersiap kembali ke Pulau Lombok. Sandy ternyata memilih untuk menginap satu hari lagi di tempat penginapan yang berbeda. Saya dan Hendri mengembalikan sepeda ke tempat persewaan sepeda di central dan membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Di dekat pelabuhan kami makan siang dulu sebelum menyebrang ke Pelabuhan Bangsal. Kami berlayar menuju Pelabuhan Bangsal, di sana sudah ada Ewig yang menjemput kami kembali ke Mataram.

Singkat cerita kami diantar ke Bandara Internasional Lombok untuk kembali ke Bali kemudian naik bus menuju Kota Jember dan Hendri kembali ke Kota Situbondo. Gapura dengan tulisan ”Selamat Datang di Kota Jember” adalah tempat yang saya rindukan ketika berada di perjalanan jauh. Pengalaman baru yang seru dan teman-teman baru, saya juga mendapat ilmu budaya dan keramahan penduduk lokal dari Pulau Lombok, pemandangan alam yang indah. Liburan panjang sudah selesai., sudah saatnya saya mulai kembali ke aktivitas semula bekerja dan kuliah pada hari Senin. Mungkin pada saat libur yang akan datang, saya akan kembali mengunjungi Pulau Lombok.

Cidomo

Cidomo

JT GT 13

JT GT 14

Penangkaran Penyu

Penangkaran Penyu

JT GT 16

12JT18-1905

Advertisements

9 responses to “Get Lost in Gili Trawangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s