Perjalanan ke Mahameru (bagian akhir) – Berbunga

Lanjutan perjalanan kali ini semakin mudah. Kami berenam kembali ke Ranu Kumbolo, tentunya sudah tidak didampingi oleh Mas Karno sang porter. Perjanjiannya hanya membantu mengantar sampai di Kalimati saja. Jalan menuju  Oro-oro Ombo terasa dekat. Kami melihat kawanan porter yang berjalan cepat seperti kijang, meliuk-liuk melewati jalan setapak sambil memanggul beban di pundaknya.

Istirahat sejenak di Jambangan

Istirahat sejenak di Jambangan

Pada kali ini, Kak Hanan dan Darwin juga berjalan lebih awal menuju Ranu Kumbolo. Di padang bunga lavender, aku masih teringat dengan dua jalan untuk kembali. Kali ini aku mengambil jalan memutar yang lebih landai. Hari ke-tiga di Taman Nasional ini, kami menyisingkan lengan tuk mendirikan tenda lagi untuk istirahat dan menginap semalam lagi.

Walau bintang tersipu malu terlihat, bulan juga belum dalam wujud yang sempurna. Hidangan sederhana ciptaan kedua putri itu cukup mengobati perut yang sudah tak berdaya. Suhu udara di Ranu Kumbolo tidak terasa dingin seperti hari pertama menginap. Tidak ada jeritan lagi yang keluar dari tenda Lina dan Vero.  Malam ini kualitas tidurku cukup baik.

Pagi yang cerah menyejukkan hari kami yang sudah berjuang keras menghadapi diri sendiri dan jalur pendakian. Kabut masih menjadi momok bagi para pemburu matahari terbit, bias warna jingga terkalahkan dengan keegoisan kabut. Di kala matahari mulai menanjak, Ranu Kumbolo terlihat eksotis seperti cawan raksasa yang mendahagakan rusa.

Sukacita sudah melewati tantangan

Sukacita sudah melewati tantangan

Aku dan Daniel mencari spot yang sekiranya menarik di mataku. Kaget dan kagum tergambarkan dari wajahku, Kak Hanan di pagi yang cukup dingin segera berenang di Ranu Kumbolo. Memang dilarang oleh Taman Nasional karena di balik keindahan danau alami itu sudah merenggut beberapa nyawa pendaki yang kurang bisa mengukur kemampuan pribadinya. Kak Hanan kuakui dikaruniai anugrah fisik yang kuat oleh Sang Pencipta.

Sang surya sudah menampakkan wujudnya

Sang surya sudah menampakkan wujudnya

Ranu Kumbolo yang terhangatkan cahaya matahari

Ranu Kumbolo yang terhangatkan cahaya matahari

Persahabatan selalu menyinari dingin kehidupan

Persahabatan selalu menyinari dingin kehidupan

Kesejukan Ranu Kumbolo terasa dingin di hati

Kesejukan Ranu Kumbolo terasa dingin di hati

Aku kembali melanjutkan tidurku di dalam tenda. Matahari mulai menghangatkan tenda. Tak kusadari sahabatku yang lain sarapan pagi. Aku tidak mendapatkan makanan karena mereka mengira aku sudah makan. Semua makanan sudah habis, peralatan memasak juga dibersihkan. Apakah yang harus aku lakukan? Kami juga sudah siap-siap untuk pulang.

Hanya ada beberapa bungkus sereal yang kumakan dalam keadaan mentah. Asin dan aneh yang terasa di indera pengecapku. Aku menganggapnya sebagai keseruan di dalam perjalanan. Setidaknya ada air Ranu Kumbolo untuk pelepas dahaga di jalan.

Berenam Bersahabat Bersemeru

Berenam Bersahabat Bersemeru

Kak Hanan kembali ke Ranu Pane dengan jalur pendakian yang biasanya dilewati oleh porter yang handal. Jalur pendakian yang dia pilih memang pendek namun memiliki sudut kemiringan yang cukup untuk merobek otot-otot kaki. Jalur pendakiannya akan berakhir tepat di depan Pos pelaporan. Sedangkan lima orang sisanya melewati jalur pendakian yang sudah ditentukan.

Ketua rombongan yang waktu itu diwakili oleh Daniel, harus melaporkan diri ke pos penjagaan Ranu Pane bahwa seluruh anggotanya sudah berhasil kembali dengan selamat. Kami menuju rumah Mas Karno, sudah disiapkan hidangan sederhana warga desa di perbatasan Lumajang dan Malang itu. Makanan yang enak dan banyak tak sanggup kami habiskan. Di sini kami berpisah dengan Kak Hanan yang berkendara menggunakan sepeda motor.

Karcis pengunjung. Note : Harga bisa berubah

Karcis pengunjung. Note : Harga bisa berubah

Karcis berkemah. Note : Harga bisa berubah

Karcis berkemah. Note : Harga bisa berubah

Himbauan dari taman nasional yang harus dipatuhi

Himbauan dari taman nasional yang harus dipatuhi

Truk yang mengangkut kami kembali ke Tumpang sudah siap berangkat, kali ini ada beberapa pendaki lain yang ikut sehingga tidak terasa sepi seperti waktu berangkat. Di Tumpang, kami mengambil beberapa barang di rumah singgah dan segera kembali ke Malang dengan angkot. Kami segera mencari penginapan untuk ketiga sahabat baru dari Jakarta yang akan kembali esok hari.

Syukurlah ada teman dari Pundhi yang bernama Sapu. Aku juga tidak mengerti teman-temannya memanggil dengan sebutan Sapu. Satu hal yang aku pelajari adalah sebutan yang terlihat “kotor” itu adalah ungkapan persaudaraan yang erat dengan para sahabat. Sapu membantu mengembalikan barang-barang yang kami sewa.

Kami berlima mandi bergantian di sebuah penginapan. Pesta keberhasilan, persahabatan, dan perpisahan sederhana kami rayakan di sebuah depot chinese food. Malam itu juga, Daniel dan aku kembali menuju Jember dengan menggunakan bus.

Syukur dan puji aku haturkan kepada Tuhan, atas penyertaan-Nya aku sudah diberi kesempatan tentang arti hidup yang tak kutemui di bangku akademik. Kejutan selalu ada di setiap perjalanan, sahabat baru dan pelajaran hidup adalah candu bagiku dalam melakukan sebuah perjalanan.

Satu pesanku untuk para pembaca sekalian. Jika ingin mengetahui pelajaran-pelajaran hidup, lakukanlah sebuah perjalanan!

Selamat tinggal rangkaian keindahan singgasana Mahameru

Selamat tinggal rangkaian keindahan singgasana Mahameru

TAMAT

JT 13 06-07 08

About these ads

7 responses to “Perjalanan ke Mahameru (bagian akhir) – Berbunga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s