Perjalanan ke Mahameru (Bagian 4) – Hidup dan Mati

Nada alarm handphone-ku yang sederhana menyatu dengan simfoni alam yang merdu. Aku terbangun me-non-aktifkan alarm sejenak dan berusaha memisahkan lekatan dari kedua pelupuk mata. Sahabat perjalananku ada yang masih merangkai mimpi indah dalam tidur lelapnya, ada pula sudah berjaga di luar rumah “kecil”-nya. Kalimati jam 11 malam, 5 Agustus 2013 kala itu.

Aku memberanikan diri keluar dari tenda sambil teringat kisah pendaki tangguh yang telah berpapasan pada saat matahari perlahan meninggalkan puncaknya. Pendaki wanita dari benua biru yang cukup banyak mengecap pahit manisnya kehidupan. Dia bersama sahabat-sahabatnya sesama pendaki di usia senja, dan tentunya ada guide yang mendampingi dengan sabar. Ada aroma kompetisi yang indah antara pendaki itu dan guide dalam hal pacu stamina, tentunya stamina dalam hal mendaki gunung.

Pundak dan punggungku akhirnya merasa merdeka. Beban dan backpack besar sudah tersusun rapi di dalam tenda. Walau tak sedingin di Ranu Kumbolo, udara di Kalimati malam ini cukup membuat dua baris gigiku saling bertabrakan. Aku berjalan menuju pos yang dihuni sebagian besar porter. Di sana mereka membuat api unggun, aku menyusup di antara para pendaki lain yang sedang menghangatkan diri. Asap api unggun melayang ke kedua bola mataku, tentu perih rasanya. Aku mencoba membelakangi api sambil memejamkan mata.

Ketika kedua jarum jam sudah tak bersudut lagi, kami segera berangkat. Minum dan beberapa makanan kupinggul di pundak, tak seberat seperti hari-hari yang sudah berlalu. Aku dan Kak Hanan berjalan dahulu, selang beberapa menit Lina membuntuti. Daniel dan Darwin ada di barisan paling belakang. Vero yang merasa mengantuk dan lelah lebih memilih untuk menyelami mimpinya lebih jauh di dalam peraduan sederhana.

Jalan setapak yang kami lalui lebih berbahaya dan membingungkan. Tingkat kemiringannya juga cukup terjal. Otot kaki dan stamina terkuras dengan cepat. Headlamp menjadi terang langkahku malam ini. Lina lebih memilih untuk kembali ke tenda karena merasa tertinggal cukup jauh dari teman-teman. Kak Hanan sudah jauh di depan. Hanya aku, Daniel, dan Darwin saja yang berjalan bersama. Di tempat ini, tas kecil yang kupikul dibawa oleh Daniel. Cukup mengurangi beban yang aku tanggung. Di suatu tempat yang bernama Arcopodo ini kami istirahat, letaknya 1,2 km dari Kalimati. Konon beredar cerita mistik yang angker di sini, namun tak kujumpai apa yang dimaksud. Sudah lama tak kuhiraukan cerita itu. Aku lebih tertarik cerita beberapa porter bahwa tokoh nasional yang bernama Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhirnya di sini pada usia 26 tahun. Entah benar, entah salah. Tak kugali kebenaran sejarah Soe Hok Gie itu sedalam aksi patriotisme-nya menentang rezim penguasa yang tidak benar.

Langkah demi langkah kembali dilesakkan ke tanah. Pepohonan sudah mulai  berlalu menjadi padang pasir lepas yang menanjak. Peralihan ini di sebut kawasan Cemoro Tunggal. Ketika sekawan ini masih berjalan dengan pelita dari bintang-bintang di langit. Udara gunung semakin dingin setajam pisau belati. Dongeng-dongeng dunia mulai merasuki pikiranku untuk tertidur. Hanya Darwin saja yang masih memiliki stamina lebih, mungkin karena bantuan trackpool. Daniel dan aku mulai melambatkan langkah.

Matahari sudah terbit dahulu sebelum aku mencapai puncak. Kak Hanan sudah menggigil kedinginan sambil melihat keindahan itu.

Teruslah bersinar wahai sang surya. Para pendaki selalu menantimu. Photo by : Daniel Denz

Teruslah bersinar wahai sang surya. Para pendaki selalu menantimu. Photo by : Daniel Denz

Aku dan dunia. Photo by : Daniel Denz

Aku dan dunia. Photo by : Daniel Denz

Bayangan pendaki melawan diri sendiri. Photo by : Daniel Denz

Bayangan pendaki melawan diri sendiri. Photo by : Daniel Denz

Sekitar dua jam kami lepas dari Cemoro Tunggal, Daniel meninggalkanku sendirian. Dia mendengar bisikan porter yang lewat, bahwa harus segera naik ke puncak sebelum asap beracun keluar dari punuk Mahameru. Khilafnya aku tak membawa minum dan makanan secuilpun. Salah satu penyebabku tertinggal adalah karena rasa kantuk yang teramat berat, sehingga aku harus tertidur di sebelah batu gunung yang besar dan beralaskan pasir.

Tampak pendaki yang berjuang mendaki Puncak Mahameru. Aku tak mengenal namanya dan begitu pula sebaliknya. Aku merasa dia senasib seperjuangan dalam mendaki. Kami berdua juga kehausan sehingga dia dengan berani meminta sebotol air minum dari pendaki yang sudah turun. Staminanya habis bersamaan dengan air yang dia minum. Nafasnya sudah mulai berat dan tersengal-sengal. “Ngik..Ngik..Ngik..”, begitulah suara nafasnya. Perasaanku mulai semakin histeris jika membayangkan hal itu juga terjadi padaku. Aku pun panik dan juga takut. Panik bagaimana membantunya, takut mengalami hal yang sama. Tak kusadari ternyata teman sependakian ini memiliki banyak teman yang ada di sekitarnya. Ada pula yang sudah hampir mencapai puncak.

Mereka segera mencari tabung oksigen yang ada di temannya yang lain. Ternyata tabung oksigen kecil itu ada di temannya yang berada di atas. Dia segera turun dari pendakiannya dan menghampiri temannya yang ada di sebelahku. Aku terharu ketika mereka semua turun demi membantu seorang kawannya yang tak berdaya menghadapi kejamnya pendakian Mahameru. Bukan ambisi pribadi untuk mencapai puncak yang mereka kejar, namun persahabatan sejati yang mereka dambakan.

Aku teringat dengan kalimat yang cocok untuk persahabatan indah ini. “Sahabat sejati bukanlah orang yang menantimu di puncak, sahabat sejati adalah orang yang menemanimu untuk bersama menuju puncak.”

Bagaimanakah dengan aku? Adakah sahabat seperti kalimat yang kutuliskan di atas?

Kini ku melangkah sendiri ditemani kehausan dan lapar yang cukup menusuk kerongkongan hingga usus-ususku. Terik matahari juga mulai memudarkan semangatku untuk mencapai puncak. Tampak dari jauh, aku melihat Darwin dan Daniel sudah cukup lama berada di puncak. Aku pun terus melangkah seperti filosofi yang diajarkan ibu bijak saat berada di Cemoro Kandang. “Berjalanlah sambil melihat jalan yang ada di bawahmu, lambat laun kamu akan segera berada di puncak.”

Daniel membuktikan sudah sampai di puncak

Daniel membuktikan sudah sampai di puncak

Daniel dan Darwin kompak di puncak

Daniel dan Darwin kompak di puncak

Ketika daratan dan awan menyatu menjadi senyawa yang melegakan hari. Photo by : Daniel Denz

Ketika daratan dan awan menyatu menjadi senyawa yang melegakan hari. Photo by : Daniel Denz

Kalimat sederhana itu cukup melupakanku akan jalan menanjak yang masih jauh. Perlahan aku hampir sampai di puncak. Saat itu pula Daniel dan Darwin turun dari puncak. Aku pun kebingungan untuk ikut turun atau ke puncak sendirian. Air minum yang dibawa Daniel juga sudah habis. Apakah yang harus aku lakukan?

Sudah hampir sampai, masa aku harus menyerah. Aku percaya bahwa Tuhan akan selalu besertaku. Aku beranikan diri untuk mencapai puncak sendirian. Di tas kecil Daniel hanya ada biskuit coklat yang masih utuh. Biskuit-biskuit ini adalah harapan terakhirku menyambung hidup untuk mencapai puncak sendiri. Daniel dan Darwin sudah turun dan mata ini sudah melihatnya seperti kumpulan semut.

Akhirnya aku berhasil mendaki Puncak Mahameru. 1,5 km dari Arcopodo. Daratan sebesar lapangan sepakbola ini sudah mulai sepi. Hanya ada aku dan komunitas teladan yang sudah aku ceritakan pada artikel sebelumnya. Demi sebuah bukti bahwa aku sudah sampai di puncak, aku minta ke salah satu anggotanya untuk memotretku. Bukan demi eksistensi atau tinggi hati karena sudah sampai di puncak, namun beberapa Megabytes kecil ini mendokumentasikan kenanganku dalam mengarungi beratnya rintangan ini.

Akhirnya sampai puncak juga.

Akhirnya sampai puncak juga.

Lapangan luas di puncak

Lapangan luas di puncak

Gugusan dataran tinggi terlihat dari Puncak Mahameru

Gugusan dataran tinggi terlihat dari Puncak Mahameru

Dehidrasi semakin mengeraskan otakku. Aku mulai menuruni tanjakan pasir yang besar dengan beberapa batu yang beranekaragam. Aku makan beberapa biskuit di kala beristirahat sejenak. Sesekali aku turun dan terperosot. Pasir-pasir mulai masuk ke dalam sepatuku. Telapak kaki semakin perih ketika pasir-pasir itu memberi gesekan dan melepuhkan kulit. Sesekali pula kakiku membentur batu-batuan yang keras. Sakit sekali rasanya ketika lututku beradu dengan batu. Harus sabar dan sangat berhati-hari. Tanjakan pasir ini cukup sulit untuk dituruni. Jika terlalu terburu-buru turun maka laju gravitasi tubuh dan pasir sulit untuk dikendalikan. Batu-batuan dan jurang sudah menanti pendaki yang tidak waspada dengan keselamatannya sendiri.

Sepertinya jalanku turun berbeda dengan rute awal aku mendaki. Namun aku berada di jalur pendakian yang benar. Syukurlah aku mulai memasuki kawasan Cemoro Tunggal, pahitnya tanjakan pasir sudah mulai hilang. Meski sesekali aku memakan biskuit yang ada, dehidrasi parah membuat kulit bibirku pecah. Entah apa yang kupikirkan, aku mulai tertawa dan bernyanyi sendiri. Entah kenapa ada jejak foto selfie yang terekam di memory card camera yang kubawa. Begitulah ketika dehidrasi memutus akal dan logika.

Di kala kehilangan khidmat

Di kala kehilangan khidmat

Barisan pepohonan antara Cemoro Tunggal dan Arcopodo

Barisan pepohonan antara Cemoro Tunggal dan Arcopodo

Aku berjalan lagi di Arcopodo, tampak Daniel dan Darwin yang tidur melepas lelah. Aku terheran-heran, bukannya mereka sudah jauh. Kenapa aku berhasil menyusulnya. Usut punya usut, aku mulai bertanya kepada mereka. Darwin yang polos bercerita jika mereka salah jalan sehingga harus memutar kembali menuju jalur pendakian yang benar. Jalur awal yang mereka tempuh mengarah ke jurang. Syukurlah Tuhan masih membimbing langkah mereka. Daniel hanya bisa terdiam ketika itu, dan ketika ditanya oleh orang lain dia akan berusaha menyangkalnya. #Warning #TopSecret (Cukup pembaca yang tahu dan jangan coba-coba bertanya padanya)

Kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati yang sama-sama dehidrasi. Tenda-tenda di Kalimati seperti air danau yang dirindukan rusa. Adrenalin mengalir kencang ketika warna-warni tenda sudah berada di jangkauan mata. Puji Tuhan, kami sudah sampai di tenda. Berteduh di tenda adalah penghibur perjalanan ini, air mineral dalam botol adalah pelepas dahaga yang tak terkira nikmatnya.

Makanan sudah disiapkan buat kami oleh Lina dan Vero. Kak Hanan sudah satu jam yang lalu kembali mengambil air dari sumber mata air yang tak kuketahui tempatnya. Stamina Kak Hanan memang super. Kegiatan sehari-harinya yang telah melatih fisik Kak Hanan dengan matang. Selepas makan, kami tidur di tenda untuk beberapa jam.

Menjelang siang hari, kami meringkas tenda dan segala peralatan. Sattar, sahabatku dari Iran yang menimba ilmu di Jember baru sampai di Kalimati. Tenda yang kupinjam tak mau diambilnya, dia lebih memilih tidur bersama porter daripada tidur di dalam tenda. Itulah terakhir kali aku melihat Sattar yang kini sudah kembali ke negaranya.

Keenam pendaki ini berjalan kembali menuju Ranu Kumbolo.

Bersambung

JT 13 05-06 08

6 responses to “Perjalanan ke Mahameru (Bagian 4) – Hidup dan Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s