Perjalanan ke Mahameru (Bagian 2) – Mata Air Langit

Lanjutan perjalanan ke Mahameru

Bagian 2 – Mata Air Langit

Tanda panah mengarahkan kaki-kaki kami untuk melangkah lebih jauh. Debu – debu perlahan merasuki saluran napas tanpa izin. Gambaran singkat yang dapat aku sampaikan tentang jalanan setapak menanjak setelah pos 3 ini. Asam laktat mulai melumuri otot-otot sehingga aku pun mulai berhenti dan berjalan lebih lirih. Kabut dingin kesepian meraba-raba kulitku, namun keceriaan di wajahku tampak belum memudar.

Pohon-pohon berlumut menjadi saksi bisu perjalanan kami. Ketiga sahabat kami sudah melaju dengan cepat seperti kawanan rusa yang dikejar raja rimba. Perlahan 4 orang ini juga melangkah. Tertunduk mengikuti jejak sepatu pendaki perintis jalan setapak. Tanpa kedua srikandi ibukota ini sadari, ritme langkah mereka mulai melambat tanda jalanan lebih menanjak lagi. Seorang porter yang sedang menjalankan puasa itu berusaha menahan dahaga dan bersabar menunggu kedua srikandi tersebut.

Dingin melanda menyembunyikan suara alam

Dingin melanda menyembunyikan suara alam

Jalan setapak melewati ranting berlumut

Jalan setapak melewati ranting berlumut

Butiran keringat mulai menembus pori-poriku. Tajamnya dingin pengunungan hancur oleh suhu tubuhku yang lebih panas. Akupun melepaskan jubah pelindungku yang tebal, kuletakkan di atas backpack sewaan yang tak kuketahui berapa harganya. Apa gerangan yang ada di dalam backpack, aku tidak memperdulikannya. Ketika itu Daniel membagi logistik ke beberapa backpack, aku pun tak mengacuhkannya. Di benakku terdalam, hanya ada kata memanggul dan memanggul saja. Sesekali kuletakkan backpackku yang mulai terasa mencabik kedua bahuku.

Semilir angin gunung merasuki pikiranku untuk kembali ke Ranu Pane, tak ku hiraukan penghuni gunung itu meski badan manusia ini berpeluh. Insan yang lemah ini mencoba mengalihkan pikirannya dengan menikmati keindahan yang ada di dekat langkah kakinya. Tak khayal jika keberadaannya berada di akhir barisan.

Bunga kuning entah namanya

Bunga kuning entah namanya

Daun merah entah namanya.

Sebut saja daun merah.

Tak lama kemudian Pos 4 sudah terlihat, pohon tua raksasa yang berdiri megah di dekatnya seakan melambaikan daunnya dan memanggilku datang untuk menyampaikan kabar jika camping ground sudah beberapa jengkal lagi. Aku pun rindu dengan pohon tua itu meski seumur hidupnya berada di sana, pohon tua yang menghibur pendaki Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Pohon tua yang ada di bawah pos 4

Pohon tua yang ada di bawah pos 4

Pohon tua yang kurindukan

Pohon tua yang kurindukan

Ranu Kumbolo sudah terlihat dari bingkai mata ini yang masih berbinar. Tampak pula di depan beberapa sahabatku ada di seberang lembah.  Kupercepat langkahku meski kedua kaki ini tak sanggup mengejarnya. Kuturuni lembah di sisi kanan Ranu Kumbolo sesuai jalur pendakian kemudian menaiki lembah di sisi yang lain menuju camping ground Ranu Kumbolo. Aku memandang Lina dan Vero yang sudah ada di papan petunjuk Ranu Kumbolo. Perlahan mendekati mereka lalu melaju bersama menghampiri keempat pendaki gunung yang tangguh lainnya.

Ranu Kumbolo berkabut menutupi misteri keangkerannya

Ranu Kumbolo berkabut menutupi misteri keangkerannya

Menuruni lembah sisi kanan Ranu Kumbolo

Menuruni lembah sisi kanan Ranu Kumbolo

Bunga lavender di lembah sisi kanan Ranu Kumbolo

Bunga lavender di lembah sisi kanan Ranu Kumbolo

Entah mengapa Daniel menyebut namaku dari jauh supaya aku berjalan lebih cepat. Hanya backpack sewaan yang sudah usang ini yang dibutuhkannya. Dia membukanya dan terbelalaklah kedua mata ini sambil mengelus dada. Selain keperluan pribadiku sendiri, masih ada tenda, kompor, tabung-tabung gas kecil, dan semua bahan masakan tersembunyi di dalam backpack. Daniel hanya bisa tersenyum kepadaku sambil berujar, “Ah ini ringan kok?”. Aku hanya bisa membatin berusaha mengumpulkan kesabaranku ketika tersadar masuk dalam jebakan betmen.

Tanpa terasa dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo kami tempuh dengan berjalan kaki selama 4 jam. Tenda dibentangkan dan pasak-pasak kecil tertancap di bumi pertiwi. Tiga tenda kecil kami dirikan sebagai rumah sederhana di dekat Ranu Kumbolo. Daniel satu tenda dengan Kak Hanan, aku dengan Darwin, Lina dengan Vero. Itulah pembagian tenda untuk hari ini dan berikutnya.

Kabut dingin kembali datang menghampiri. Lina dan Vero sedang mempersiapkan masakan di penghujung matahari terbenam. Pria-pria ikut membantu mempersiapkan kompor gas dan peralatan makan. Ada pula yang mengambil air dari Ranu Kumbolo untuk dimasak. Entah dari mana air Ranu Kumbolo ini berasal, aku kurang memperdulikannya. Mungkinkah dari embun yang terbawa oleh kabut dan awan, begitulah yang terlintas dalam lamunanku kala itu.

Suasana makan malam

Suasana makan malam

Suhu malam ini sekitar 8oC, cukup dingin untuk pendaki pemula. Sesekali kami menghampiri api unggun milik pendaki tetangga yang lain meski hanya sekedar menghangatkan tubuh. Kabut lebat menutupi keindahan gugusan bintang Bima Sakti dan angkasa raya.

Rumah ku menginap

Rumah ku menginap

Kabut dingin pun menyerang tendaku

Kabut dingin pun menyerang tendaku

Aku pun kembali ke tenda untuk istirahat dan berusaha tidur. Dingin malam ini sudah merasuk ke dalam tulangku. Koyo-koyo panas kulekatkan di kaki dan tanganku. Selimut tebal dan sleeping bag menjadi pelindungku. Terdengar suara jeritan di sebelah tendaku. Vero yang tak terbiasa hidup di pegunungan, tak bisa tidur karena kedinginan. Kak Hanan yang memiliki respon cepat, segera memberikan sesuatu yang hangat dan diambil oleh Vero. Aku tak tahu apa yang diberikannya, entah selimut entah sleeping bag. Aku hanya bisa mendengarkannya karena indera jendela duniaku telah kuistirahatkan.

Selamat malam Ranu Kumbolo. Selamat malam alam semesta raya. Selamat malam Sang Pencipta.

Bersambung

JT 13 08 04

16 responses to “Perjalanan ke Mahameru (Bagian 2) – Mata Air Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s